cerita proyek riset 7 system leadership study

Memulai kegiatan ‘ngejar setoran’ di Institute of Educational Leadership (IEL) di Universiti Malaya (UM) pada Mei 2014 adalah keterlibatan dalam proyek riset internasional. Sebelum bergabung ke Universiti Malaya, saat proses wawancara seleksi dosen sebelumnya, direktur IEL (setara ketua jurusan kalau di Indonesia) yaitu Prof. Dr. Alma Harris sudah meminta untuk menangani satu bagian dari proyek riset ini. Dari namanya yang 7 systems, maka proyek ini memang melakukan riset di 7 negara berbeda. Berhubung tren riset dunia saat ini tidak bisa sekedar mengandalkan riset di satu negara, namun juga produk riset ilmiah yang dicari juga adalah studi komparasi di berbagai negara akan isu tertentu. Apa yang akan dijelaskan di artikel ini adalah berbagai pengalaman dalam kegiatan di riset 7 systems leadership study ini sampai kepada penerbitan artikelnya tentang pelatihan kepala sekolah di Indonesia.

Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Pendidikan Indonesia, Pendidikan Malaysia, UM, Universiti Malaya | 3 Komentar

Kembali menulis di blog ngejar setoran

Sudah lebih tiga tahun kerja sebagai dosen di Institute of Educational Leadership (IEL), Universiti Malaya, dan ‘puasa’ dari nulis di blog ini. Sebagian karena sibuk dengan blog lain (yaitu blog rasch model), sebagian karena banyaknya setoran yang harus diselesaikan baik di Malaysia maupun di Indonesia, sebagian lagi memang ‘khilaf’ untuk update di blog ini. Sekarang saatnya untuk kembali ke jalan yang lurus, dan mencoba mengkomunikasikan apa adanya.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Pendidikan Malaysia, UM, Universiti Malaya | Meninggalkan komentar

Cerita persiapan studi di luar negeri

Satu hal lagi dari keberadaan blog ini bagi saya adalah banyaknya orang yang kirim email tentang permintaan info beasiswa ke luar negeri (khususnya ke Australia, New Zealand dan Malaysia) dan minta nasehat serta strategi bagaimana supaya bisa survive studi di luar negeri. Tadinya kedatangan email-email itu menggembirakan, namun lama-lama pegel juga nulis satu demi satu jawaban yang kadang tidak jauh beda isinyaOleh karena itu bagusnya ditulis saja sekalian jadi salah satu artikel, sehingga nanti bisa disuruh baca sendiri dan akhirnya bisa memberikan pertanyaan yang lebih spesifik dan cerdas. Tentu ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya khususnya studi di luar negeri yang saya pernah berkunjung, yang nota bene sistem pendidikan sekular di Australia dan New Zealand (tempat saya studi pasca sarjana) dan di Malaysia (tempat saja kerja jadi dosen) mungkin  ada sedikit kemiripian dengan studi di  Eropa atau Amerika Utara, namun kalau pendidikan non-sekular (seperti yang pergi ke Mesir atau Arab Saudi)  saya memang tidak tahu sama sekali.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Pendidikan Indonesia, Student | 16 Komentar

Cerita Indikator Kinerja Utama (KPI) bagi perguruan tinggi

Pada tanggal 1 Juli 2013, Pak Hendra Gunawan, guru besar matematika ITB, artikel opininya terbit di harian Kompas, yang berjudul “Mendambakan PT Berkualitas” (artikel bisa dibaca disini). Aspek yang dibahas oleh beliau adalah tentang kualitas dosen dan produktivitasnya dalam hal riset dan publikasi dan memberitahukan ke pembaca bagaimana posisi negara kita dibanding negara lain di Asia. Tentu hal yang berbeda jauh bila dosen kita disandingkan dengan dosen di Jepang dan China (seperti diulas Pak Hendra), namun ukuran perguruan tinggi berkualitas tentu bukan hanya dosennya saja. Akan sangat baik bila melihat ukuran kualitas tersebut diterapkan di satu universitas di Malaysia, yaitu apa yang biasa disebut dengan Key Performance Indicator (KPI atau Indikator Kinerja Utama).  Dengan kata lain ini akan memberikan informasi lebih lengkap dan mengetahui dimana posisi kebanyakan universitas kita berada dibanding PT di negara jiran.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Pendidikan Indonesia, Pendidikan Malaysia, UTM | 2 Komentar

Seleksi masuk jadi mahasiswa S1 ke universitas di Malaysia

Satu hal yang tidak terhindarkan dari blog ini bagi saya adalah banyaknya pertanyaan melalui email dan facebook mengenai proses seleksi masuk menjadi mahasiswa ke universitas di Malaysia.  Hal ini menunjukkan pagerank blog ini di google untuk beberapa kata kunci masuk daftarnya sehingga juga menambah traffic ke blog ini juga. Disamping menjawab beberapa pertanyaan spesifik melalui email, ada baiknya juga memberikan penjelasan mengenai proses seleksi supaya bisa memberikan gambaran tentang hal itu dan bisa menyiapkan diri bagi yang berminat studi di Malaysia.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Pendidikan Malaysia, Student, UTM | 113 Komentar

Cerita Endowment Fund

Ada pepatah yang mungkin pernah anda dengar, bila ingin membangun suatu kota/daerah dirikanlah sekolah, namun bila ingin membangun suatu negara dirikanlah universitas. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya peran univesitas dalam pembangunan suatu negara/bangsa di dunia modern ini. Disamping strategis, universitas juga tentu memerlukan biaya penyelenggaraan dan investasi yang tidak sedikit, yang membuat penyelenggara serta pengelolanya kelimpungan untuk sekedar bisa impas; belum lagi kalau dituntut untuk bisa kompetitif di tingkat dunia. Dunia pendidikan tinggi kita pernah melakukan satu eksperimentasi yang sifatnya ‘keluar pakem’ dengan BHMN, walau kemudian undang-undangnya dianulir oleh mahkamah konstitusi, yang ciri khas yang diinginkan-nya adalah ‘kemandirian’ dalam hal finansial. Namun peninggalan eksperimentasi ini lebih banyak meninggalkan rasa sakit hati pada publik dengan naiknya biaya kuliah di perguruan tinggi negeri secara signifikan serta beberapa ‘inovasi’ yang memberikan kesan hanya golongan kaya saja yang bisa menikmati pendidikan tinggi. Perkembangan lain yang terjadi di negeri jiran sedikit berbeda, tiga tahun ini berbagai univesitas negeri di Malaysia aktif menggalang dana supaya bisa lebih mandiri dan bebas secara finansial di masa depan, yang dikenal dengan endowment fund.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Pendidikan Malaysia, UTM | 4 Komentar

RSBI: Problems seen in hindsight

Tulisan di The Jakarta Post, Jumat, 11 Jan 2013.
.
Bambang Sumintono, Kuala Lumpur | Opinion | Fri, January 11 2013, 9:23 AM
.
On Tuesday, the Constitutional Court (MK) declared the international-standard school pilot project (RSBI) to be unconstitutional. This should be a big wake-up call for the of Education and Culture Ministry with regard to educational policy in the country.From my perspective, Article 50 of Law No. 20/2003 on the national education system was not really the root of the problem. It does not have to be implemented in the immediate future if infrastructure is not yet ready, for example, but the content of the RSBI program itself was the source of the problems that caused NGOs and civic groups to file for a judicial review of the law.The fourth amendment of the 1945 Constitution, which stipulates that at least 20 percent of state budget should be allocated for education, gives the education ministry the resources needed to finance many programs, including the RSBI which was initiated in 2007. Baca lebih lanjut
Dipublikasi di Pendidikan Indonesia | Meninggalkan komentar