Cerita penghematan anggaran di universitas negeri di Malaysia

Ada beberapa pertanyaan susulan sehubungan dengan beberapa artikel yang ada di blog ini sebelumnya. Tentu yang menarik selalunya yang ‘ngeri-ngeri sedap’ seperti urusan penghasilan, status kepegawaian dan juga ada yang bertanya kenapa jurusan tempat saya bekerja mengalami perubahan drastis dalam tiga tahun ini. Tulisan ini mencoba menggambarkan kondisi aktual yang ada di Malaysia secara umum, juga tantangan ke depannya disaat geliat perbaikan prestasi begitu mencuat dibanding universitas-universitas top di negara Asean lain dari segi persentase pertumbuhan publikasi misalnya.

Kondisi aktual ekonomi Malaysia dalam dua tahun ini sebenarnya tidak seindah yang ada di Indonesia. Berhubung penghasilan negara berkurang, salah satu sebabnya karena harga minyak mentah dunia yang jatuh lebih dari 50% pada 2015-2016 lalu; juga terkena kelesuan ekonomi global, dampak lanjutannya adalah pengurangan APBN Malaysia jadi sangat terasa.   Berbagai penghematan dilakukan misalnya subsidi minyak goreng dicabut (padahal Malaysia adalah produsen minyak sawit kedua di dunia), subsidi transportasi umum dikurangi, beberapa proyek besar ditunda dll; saat yang sama upaya nambah penghasilan negara pun dilakukan seperti penerapan sistem pajak baru (namanya Good and Service Tax atau GST), dimana hampir semua transaksi yang melibatkan jasa dan barang di Malaysia kena pajak 6%; harga bahan-bakar minyak mengikuti tren harga dunia (baca: kenaikan harga BBM).

Apa yang terjadi pada universitas negeri di Malaysia adalah upaya penghematan belanja negara yang sifatnya drastis. Pada tahun 2006 dengan diterapkannya kebijakan Universitas Riset oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, ada lima universitas negeri papan atas-nya mendapat limpahan duit yang sangat membantu untuk mengembangkan universitas-nya. Khususnya untuk kegiatan riset dan publikasi, dimana perkembangan volume publikasi Malaysia melesat luar biasa  setelah tahun 2006 itu (secara persen mengagumkan). Dengan tersedianya duit khusus untuk riset tadi, digunakan bagi beli alat dan bahan yang diperlukan untuk riset kelas dunia, melakukan kerjasama dengan universitas top dunia yang menghasilkan publikasi,  dana riset bagi setiap dosen dan merekrut banyak research assistant, memberikan tunjangan bagi dosen yang mau belajar dan riset ke universitas luar negeri (post-doctoral dan sabbatical leave), bahkan memberikan insentif yang lumayan kalau bisa publish artikel ilmiah dalam jurnal terindeks di ISI.  Namun kondisi itu berubah pada saat pergantian tahun anggaran dari 2015 ke 2016.

Grafik di  bawah misalnya menjelaskan perubahan anggaran pada 2016 (dibandingkan dengan 2015) yang drastis terjadi di beberapa universitas negeri di Malaysia. Di Universiti Malaya misalnya (paling kiri), perubahannya cukup besar juga, lebih dari 1/4 anggaran ‘menguap’ yang merupakan terbesar dari aspek persentase di grafik ini.

budget2015_2016

sumber gambar: http://www.zairil.com/with-budget-cuts-of-up-to-27-how-will-our-universities-become-world-class/

Pada perubahan 2015-2016 itu yang saya rasakan, suasana kerja masih aman-terkendali saja, tidak banyak gejolak dan isu beredar di dalam kampus. Namun yang saya dengar di kampus universitas negeri lain membuat khawatir, misalnya isu yang beredar adalah  bila kampus universitas negeri lain tetap berjalan seperti apa adanya, maksimum kampus tersebut hanya dapat beroperasi dalam delapan bulan saja. Maka langkah drastis yang perlu dilakukan adalah berbagai penghematan anggaran yang dianggap  bisa dipotong langsung dalam waktu yang cepat, yaitu apalagi kalau bukan memberhentikan pekerja tidak tetap. Di universitas negeri di Malaysia, sama seperti halnya di kita, ada dua type status kepegawaian yaitu pegawai tetap dan pegawai kontrak, keduanya adalah skim pegawai negeri di Malaysia. Bedanya yang pegawai kontrak dipekerjakan dalam batas waktu yang singkat (misal per satu tahun) dimana semua dosen asing masuk kategori ini; sedangkan yang tetap baru akan berhenti saat mencapai usia pensiun. Beberapa rekan dosen Indonesia yang kerja di universitas negeri saling berbagi info perkembangan status kepegawaian mereka via email atau group whatsapp, ada yang memang berhenti secara alamiah, yaitu saat kontrak habis tidak diperpanjang lagi; ada juga yang mengalami nasib pahit, yaitu dipotong di tengah kontrak kerja yang masih berlangsung (setiap kontrak kerja selalunya ada klausul bahwa salah satu pihak bisa menyatakan kontrak kerja diputus, baik oleh pegawai maupun pemberi kerja, biasanya dengan pemberitahuan sebulan sebelumnya). Pemberhentian ini tentu tidak hanya terjadi pada dosen/peneliti Indonesia atau asing lainnya, namun juga melibatkan banyak dosen dan pegawai lokal (warga Malaysia).

Mau tidak mau memang ini menunjukkan kualitas good corporate governance universitas negeri di Malaysia. Bila universitasnya dikelola dengan cara yang baik dan hati-hati, maka goyangan berbentuk pengurangan anggaran bisa cepat diantisipasi dan kapasitas dasarnya tidak terpengaruh.  Yang terjadi memang, ada universitas yang mengurasi staf dosen asing sampai lebih dari 50% dari jumlah yang ada sebelumnya. Untuk dosen yang asal Indonesia, sebenarnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk dimanfaatkan bagi universitas di Indonesia. Dimana beberapa universitas swasta di tanah air memang merekrutnya dan bisa membantu untuk berbagi tentang budaya riset dan publikasi ilmiah dengan dosen-dosen lainnya. Pengalaman mereka bekerja dan bergelut di universitas luar negeri akan sangat berharga untuk diketahui dan diterapkan di Indonesia.

Saat akan berakhirnya tahun 2016, ternyata tren pengurangan anggaran masih terus belanjut dan menghasilkan berbagai perubahan lainnya. Data resmi dari pemerintah Malaysia bisa dilihat digrafik di bawah ini:

Public-uni-Budget-2017

sumber gambar: http://www.themalaymailonline.com/malaysia/article/budget-2017-public-universities-suffer-almost-20pc-spending-cut

Grafik di atas memang ‘membingungkan’ bagi mereka yang percaya bahwa investasi pendidikan tidak boleh dipotong dalam keadaan krisis separah apapun. Tapi kenyataan yang ada, lebih banyak universitas yang kehilangan duit anggaran dan artinya kehilangan pegawai yang bisa meningkatkan reputasi universitas. Terlihat lebih banyak yang kehilangan duit daripada yang bertambah nominal anggarannya, kenapa begitu? yah pemerintah Malaysia yang punya jawaban pastinya.

Berbagai suara protes mengemuka dan menunjukkan kesusahan yang terjadi, yang tentu mengagetkan publik Malaysia. Misalnya satu artikel menjelaskan bahwa diperkirakan ada 6000 dosen di Malaysia yang diberhentikan dalam masa dua tahun pengurangan anggaran ini (sumber: https://moshed.com/6000-pensyarah-diberhentikan-berikutan-masalah-kewangan-universiti-awam). Diperkirakan pada tahun 2015 ada 35 ribu dosen yang bekerja di 20 buah universitas negeri di Malaysia (baik yang tetap maupun kontrak), kondisi terakhir hanya 29 ribu saja yang masih aktif (pengurangan sekitar 17%). Banyaknya dosen yang diberhentikan ini tentu disayangkan dan muncul suara bahwa dalam laporan rangking universitas dunia tahun-tahun mendatang bisa terjadi tren yang ada, berubah tidak sesuai harapan.

Bila diringkas pengurangan dana anggaran pemerintah untuk universitas negeri di Malaysia dalam dua tahun ini salah satunya bisa dilihat di gambar di bawah ini:

pengurangan angaran 2015_2016_2017

sumber gambar: http://www.thestar.com.my/news/nation/2017/01/08/its-getting-tougher-for-um-varsitys-academic-staff-hit-by-government-funding-cuts/

Perubahan drastis ini jelas mengagetkan top management universitas, untuk Universiti Malaya (UM), kehilangan 42% duit anggaran dalam dua tahun tentu situasi yang rumit. Maka yang tabu dilakukan UM pun akhirnya terjadi juga: pengurangan pegawai kontrak.  Selain tentu berbagai upaya penghematan drastis lainnya, semisal tidak menyediakan lagi insentif penerbitan, sabatical leave tidak ada, anggaran untuk ikut konferensi internasional makin seret, maupun penghematan alat-tulis kantor dan biaya konsumsi rapat. Seorang rekan dosen dari satu unit riset bidang kesehatan bercerita, dua tahun lalu dia punya enam proyek riset yang mempekerjakan 10 orang riset asisten yang juga mahasiswa S3; namun saat ini riset yang masih tetap jalan kurang dari setengahnya, demikian juga riset assisten yang masih ada jadi kesepian karena yang lain memang diberhentikan. Setiap jurusan dan fakultas juga diminta untuk belajar mencari duit sendiri dengan kepakaran yang dipunyai serta untuk lebih agresif menawarkan jasa. Tujuannya jelas, karena memang dana operasional universitas 90% lebih memang dari pemerintah, sedangkan ‘penghasilan’ dari uang kuliah mahasiswa ataupun jasa konsultan belum begitu banyak; dan dana lain seperti endowment fund, belum men-tradisi dan belum signifikan kontribusinya.

Pilihan yang berat bagi Universiti Malaya tentu adalah tentang dosen asing. Sebagai universitas paling bereputasi tinggi, UM memang terdepan dalam rekrutmen dosen asing. Statistik tahun 2014 seperti gambar di bawah ini menjelaskan hal tersebut:

international staff di UM Jumlah total dosen UM pada akhir 2015 adalah sejumlah 2158 orang; dari jumlah itu 1430 adalah dosen tetap, dan 728 adalah dosen kontrak. Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah dosen internasionalnya sebanyak 354 orang (sekitar 16% dari total dosen), atau hampir setengahnya dari jumlah dosen kontrak yang ada. Pengurangan 42% anggaran  memang menyebabkan banyak dosen kontrak yang diberhentikan secara alamiah (kontrak tidak diperpanjang) tentu dengan berbagai alasan semisal karena produktivitas ilmiah yang biasa saja, rasio dosen asing yang berlebih di jurusan tertentu, maupun kepakaran yang dipunyainya tidak unik (dikuasai juga oleh dosen lokal); dan banyak juga dosen asing yang memilih untuk berhenti kerja karena mendapat tawaran kontrak kerja yang lebih menggiurkan di universitas atau lembaga lain (disamping merasa tidak pasti prospek kedepannya bila tetap di Malaysia). Bila melihat tabel di atas tentang komposisi dosen internasional di Universiti Malaya berdasar kewarganegaraannya, posisi dosen orang Indonesia sudah bukan  ke-7 lagi. Beberapa teman dosen dengan cap paspor garuda di fakultas lain sudah kembali ke tanah air, paling tidak empat orang yang saya kenal baik memang sudah pindah kerja ke Indonesia.

Kurang lebih itulah yang terjadi di jurusan tempat saya bekerja, dimana dosen asing yang asalnya lima orang, saat ini tinggal saya sendiri yang masih setia disini. Melihat cerita pengurangan dosen di universitas lain dan drastisnya pengurangan anggaran, maka tetap bisa bekerja dalam situasi sekarang memang suatu keberuntungan.  Bila ditanyakan penghasilan, maka dosen kontrak yang internasional/asing dalam hal gaji dan tunjangan tidak berbeda sama sekali dengan yang pegawai tetap atau pegawai kontrak yang warga negara Malaysia. Bila penghasilan lebih tinggi tentu akan menimbulkan hal yang sensitif lainnya; bila memang ada nominal penghasilan yang berbeda, biasanya memang bila si dosen asing itu memang mahluk langka, misal karena beliau adalah international academic icon, dengan produktivitas dan reputasinya bisa bikin merinding kalau diceritakan.

Bagaimana kedepannya? Ini tentu yang menjadi pertanyaan krusial berhubung target dari kementrian pendidikan tinggi Malaysia  berharap peningkatan rangking universitas nomor wahid di Malaysia ini. Saat yang sama beberapa dosen-dosen top yang jago dalam riset dan publikasi sudah pindah kerja, apalagi bila kepakarannya susah untuk dicarikan penggantinya; tentu akan menyulitkan peningkatan prestasi riset dan publikasi yang direncanakan.  Sepertinya dampak pengurangan anggaran ke universitas negeri di Malaysia dalam hal rangking universitas baru akan diketahui pasti dalam dua atau tiga tahun kedepan, berhubung ranking tahun berjalan pun biasanya paling aktual berasal dari pencapaian yang diperoleh setahun atau dua tahun sebelumnya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UM, Universiti Malaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s