Pengalaman kolaborasi riset 7 System Leadership Study

Ada beberapa catatan yang mungkin bisa berguna saat terlibat dalam kolaborasi riset 7 System Leadership Study (7SLS), selain yang sudah diceritakan di blog ngejar setoran ini sebelumnya. Yang akan dijelaskan di artikel ini adalah tentang komunikasi dan koordinasi riset, mengembangkan jaringan dengan peneliti lain di luar Malaysia serta menggunakan teknologi, dan refleksi kolaborasi riset itu sendiri.

Seperti sudah dijelaskan di artikel blog ini sebelumnya, 7 System Leadership Study (7SLS) awalnya adalah riset di tujuh negara tentang persiapan dan pengembangan kepala sekolah (factsheet bisa dilihat disini) yaitu Malaysia, Indonesia, Singapura, Hong Kong, Australia, Russia dan Inggris. Tim inti 7SLS ada di Malaysia, yaitu di Institute of Educational Leadership, Universiti Malaya. Awalnya tim inti ini berisi tiga orang dosen dan dua orang mahasiswa S3; karena keperluan kerja lapangan di Malaysia dan minat yang lain, maka juga kemudian melibatkan alumni S3 (yang sudah menjadi dosen di universitas lain), beberapa mahasiswa S3 lainnya, bahkan juga mahasiswa S2, dan terakhir di 2016 lalu totalnya mencapai 13 orang. Rapat riset 7SLS ini biasa diadakan setiap dua minggu sekali dan dipilih hari Senin petang untuk update perkembangan yang terjadi. Salah satu foto rapat riset adalah di bawah ini (tahun 2016 lalu):

IMG_20170510_235111

Apa yang menjadi bahan diskusi adalah review literature terbaru tentang isu-isu penyiapan dan pengembangan profesional kepala sekolah di berbagai negara dari jurnal kepemimpinan pendidikan atau jurnal pendidikan lainnya, dimana fokus pada jurnal ISI (Web of Science) dan Scopus, yang kemudian dikumpulkan di satu satu akun Google Drive yang hanya bisa diakses oleh anggota tim riset.

Dikusi yang paling alot dan berseri adalah dalam penentuan instrumen riset. Dari awal disepakati bahwa akan menggunakan pendekatan mixed method, langkah berikutnya adalah menampilkan berbagai kuesioner yang kemungkinan bisa digunakan untuk konteks pendekaran kuantitatif (quantitative method). Berbagai kuesioner tentang penyiapan kepala sekolah, pelatihan kepala sekolah, penilaian kepala sekolah, pengukuran kualitas kepemimpinan pendidikan dll dibahas dalam rapat riset dan menjadi bahan debat seru. Tentu saja menentukan mana yang terbaik bukan pekerjaan enteng, terlebih karena variabel dan konstruk di dalamnya berbeda-beda, juga konteks dan lokasi dimana kuesioner dibuat juga berbeda, sehingga tidak bisa asal jeplak saja dipilih salah satu. Sampai akhirnya pada keputusan untuk mengadaptasi kuesioner dari Kouzes and Posner, dimana hak penggunaannya memang sudah dimiliki.

Tahapan berikutnya adalah tentang isu pengukuran, analisis kuesioner nanti mau pake pendekatan apa, apakah teori klasik atau pemodelan rasch. Berdasar pertimbangan ilmiah akhirnya memang dipilih bahwa pemodelan rasch lah yang lebih tepat karena berbagai aspek reliabilitas bisa dijelaskan (reliabilitas person dan item; juga tingkat separasi item dan person yang menunjukkan pengelompokkan keduanya) dan validitas yang bisa didapat sampai ke tingkat aitem (tidak hanya berhenti di tingkat konstruk/dimensi seperti halnya dalam teori klasik). Adaptasi pada kuesioner yang dilakukan adalah menyederhanakan skala peringkat (rating scale), supaya lebih tepat (bila skala peringkat lebih dari tujuh bukan berarti makin presisi sebetulnya, justru makin membingungkan responden dalam memberikan pilihan, dalam pemodelan rasch hal ini bisa dibuktikan dengan yang namanya rating scale diagnostic yang akan menunjukkan threshold antar peringkat).  Tambahan lainnya adalah menyesuaikan data demografis sesuai kepentingan riset, dimana di negara peserta akan mempunyai perbedaan kriteria yang ditanyakan.

Adaptasi yang juga penting adalah keputusan untuk menambahkan beberapa pertanyaan terbuka (open ended) dalam kuesioner.  Hal ini dimaksudkan supaya bisa mendapatkan data kualitatif secara langsung, yang bisa memberikan indikasi untuk tahapan selanjutnya yaitu pendekatan kualitatif (qualitative method). Mendapatkan data kualitatif sebanyak jumlah responden kuantitatif tentu data yang sangat kaya untuk analisis lebih lanjut. Juga disadari, ada kemungkinan di beberapa negara skenario pemgumpulan data yang terjadi hanya data tertentu saja yang bisa dikumpulkan, dan ternyata memang kondisinya  sesuai perkiraan; sehingga mengumpulkan data melalui kuesioner bisa mendapatkan banyak data empirik yang diperlukan.

Penyebaran kuesioner dilakukan secara manual maupun elektronik (google form). Info ini disebarkan ke berbagai koordinator di tiap negara yang menjadi fokus 7SLS. Setiap kueisioner yang masuk kemudian langsung dilakukan data entry dan data di simpan di Google Drive, tercatat data dari Malaysia, Indonesia, Australia, dan Russia yang memberikan data kuantitatif dari kuesioner 7SLS ini. Sedangkan untuk Singapura dan Hong Kong, karena susahnya mendapat ijin riset, sampai akhirnya mendapatkan akses namun hanya untuk melakuan wawancara. Dengan menggunakan instrumen berupa interview protocol, yang juga sudah disiapkan sebelumnya; yang tidak lain adalah pengembangan dari soal-soal pertanyaan terbuka dari kuesioner kuantitatif. Ini seolah menjadi gambaran akses kepada sistem pendidikan terbaik (menurut TIMSS dan PISA), yaitu Singapura dan Hong Kong, untuk peneliti dari luar negaranya memang sangatlah susah.

Sesaat data sudah mulai terkumpul, maka kerja tim riset 7SLS menjadi lebih fokus. Setiap koordinator riset di tiap negara melakukan analisis pendahuluan, dan menyiapkan draft laporan temuan yang didapat. Apalagi setelah ada tawaran bahwa hasil riset tiap negara bisa  ditampilkan dalam edisi khusus satu jurnal ISI yaitu Asia Pacific Journal of Education. Upaya pembuatan draft artikel ilmiah menjadi fokus utama, dimana kepustakaan yang sudah dikumpulkan dimanfaatkan dan koodinator riset antar negara diminta untuk menjelaskan rincian isi artikel dalam rapat riset dan mendapat tanggapan dari tim riset lainnya. Proses ini terus berulang antara Januari-April 2015 lalu. Dimana ketua tim riset, yaitu Prof Alma Harris, juga perlu untuk memantau perkembangan artikel yang dibuat oleh tim negara lain yang diluar Malaysia (yaitu Australia, Singapura dan Hong Kong).

Saat prestasi riset ini muncul ke permukaan, seperti dijelaskan di artikel sebelumnya, berbagai pihak menunjukkan minat dan dengan senang hati mau diajak dan terlibat di dalamnya. Apa yang dilakukan pun tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah dilakukan sebelumnya, yaitu melakukan kajian pustaka dalam konteks negara mereka tentang penyiapan dan pelatihan kepala sekolah, serta tentu menggunakan instrumen riset yang sama supaya bisa dikatakan bahwa ini memang mempunyai relevansinya. Tercatat, negara lain yang mengikuti adalah China, Vietnam, Pakistan, dam Belanda yang membuat tim riset sendiri untuk hal itu. Keterlibatan negara lain dalam riset 7SLS ini lebih karena jaringan yang dimiliki oleh anggota tim riset.  Hal yang tidak terhindarkan dalam hal itu adalah, rapat senin petang tidak hanya diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia saja, namun juga dengan teleconference seperti dua foto di bawah ini:

Koordinasi riset melalui telekonferesi seperti ini memang banyak keterbatasan, berhubung kualitas hubungan internet (bandwith) maupun isu yang dibicarakan kadang susah dimengerti secara langsung oleh kedua pihak. Namun ini adalah suplemen yang bisa digunakan selain komunikasi elektronik lain yang rutin dan saling bekerjaran, yaitu via email dan whatsapp. Komunikasi melalui telekonferensi biasanya membicarakan secara umum tentang perkembangan riset  yang sudah didapatkan, sedangkan untuk urusan koordinasi data analisis misalnya, lebih banyak memanfaatkan email.

Bila melihat pengalaman dalam kegiatan riset 7SLS ini, apa yang bisa kita pelajari sebenarnya sangat mudah ditiru. Yang pertama tentu adalah ide risetnya sendiri. Riset tentang penyiapan, seleksi dan pelatihan kepala sekolah di tiap negara sebenarnya bukan hal yang baru, semua negara pernah melakukannya dengan berbagai variasinya. Apa yang membedakan dengan 7SLS adalah menggabungkan analisis dari berbagai system yang berbeda (disebut system, karena di tiap negara pun kadang mempunyai pengaturan berbeda, misalnya seperti di Australia atau Russia yang menggunakan sistem federal). Riset yang menampilkan langsung tujuh negara berbeda tentu mempunyai nilai jual temuan yang lebih dibandingkan hanya satu negara. Apalagi bila negara yang dilibatkan adalah negara yang jarang muncul dalam riset kepemimpinan pendidikan (educational leadership), seperti Indonesia, Malaysia dan Russia. Terlebih lagi ini menggabungkan riset di negara maju dan negara berkembang sekaligus, sehingga bisa melakukan analisis seperti policy borrowing, apakah memang terjadi, seperti apa adaptasi kebijakan terjadi? apakah hasilnya sesuai keinginan? Bila kita melihat tren riset dunia sejak 2000-an, maka kita tahu TIMSS serta kemudian PISA merupakan contoh yang tidak bisa dibantah yang menjadikan riset pendidikan sangat populer, karena uji empirik mereka mempunyai nilai jual yang menarik, dengan menampilkan hasil dari berbagai negara. Dengan nilai jual riset inilah sehingga jurnal seperti  Asia Pacific Journal of Education tertarik untuk menampilkan secara utuh tentang riset 7SLS dimuat dalam satu edisi khusus, dimana satu artikel untuk satu negara.

Yang kedua adalah hal yang sifatnya mendasar dan esensial dalam riset: mengumpulkan kepustakaan. Kegiatan ini sekarang relatif lebih mudah dilakukan, khususnya dengan bantuan google scholar misalnya, sehingga bisa diidentifikasi mana saja artikel ilmiah yang relevan dan bisa dijadikan patokan. Berhubung google scholar meng-indeks apapun yang ada di internet, maka kita harus berhati-hati, jangan sampai malah mengutif dari artikel jurnal abal-abal yang akan menurunkan mutu tulisan dan riset secara drastis. Oleh karena itu menggunakan database ilmiah yang besar seperti Scopus, maupun yang paling berkualitas seperti Web of Science (ISI), adalah hal yang wajib dilakukan untuk memetakan apa yang telah dilakukan oleh peneliti lain dalam bidang riset ini. Tentu ada potensi lain yang bisa didapat saat big picture dalam bidang tertentu didapatkan berdasar kumpulan artikel ilmiah yang relevan, ini bisa menjadi suatu artikel yang sifatnya review of research, satu jenis artikel yang bila lolos dan terbit dalam jurnal, selalunya akan mendapat sitasi yang paling banyak. Pekerjaan mengumpulkan ini selanjutnya adalah menyimpannya secara sistematis, saat ini tersedia software seperti Endnote atau Mendeley yang memudahkan kita menyimpan dan mengorganisir (reference manager) ini disertai komentar dan catatan tambahan. Namun manfaat yang paling utama yang bisa didapatkan adalah memberikan catatan kritis terhadap artikel yang didapat. Seorang pakar bercerita, ‘rahasia’ kenapa Hong Kong University menjadi satu dari 20 universitas top dunia saat ini adalah, dimana sekitar 1970-1980-an dosen-dosen lokal yang masih muda diminta untuk membuat critical review satu artikel ilmiah per minggu secara rutin dan dipresentasikan dalam  rapat internal jurusan, yang dibimbing oleh dosen asing yang bule dari Amerika, Eropa dan Australia. Kegiatan sharing rutin begini secara langsung mengasah ketajaman analisis dan bisa memetakan kekuatan-kelemahan artikel ilmiah dalam bidangnya, sehingga tahu dimana knowledge gap harus diisi dan saat yang sama hapal struktur artikel jurnal yang berkualitas, gaya selingkung jurnal, serta contoh argumentasi dan ekspresi artikel ilmiah yang nantinya bisa diterapkan dalam karya mereka sendiri. Dalam bidang kepemimpinan pendidikan, Hong Kong merupakan anomali di Asia, dimana produktivitas dalam riset dan publikasi tidak ada yang bisa menandingi.

Yang ketiga adalah diskusi intens dalam metodologi dalam ilmu sosial seperti pendidikan. Fakta ilmiah dalam dunia riset internasional adalah makin beragamnya metodologi riset yang digunakan. Di beberapa tempat di kita kadang hanya satu metoda saja yang paling dianggap ‘digjaya’, yaitu kuantitatif dengan alat analisis yang nyaris tidak banyak berubah setelah 30 atau 40 tahun yang lalu. Berkembangnya pemodelan rasch (silahkan lihat blog rasch model) melengkapi kelemahan yang terdapat dalam metoda kuantitatif yang menerapkan teori klasik, misalnya dalam hal mengidentifikasi jenis data dan menerapkan analisis statistik inferensial secara tepat sesuai jenis datanya; juga dalam hal pengujian instrumen dalam menjelaskan aspek reliabilitas (yaitu tentang angka/statistik yang tergantung jumlah), maupun aspek validitas (yaitu tentang argumen, bukan hanya sekedar pamer angka). Metoda kualitatif pun sudah sangat beragam, tidak hanya sekedar studi kasus (case study), namun juga ada narative study dan grounded theory (dalam grounded theory pun banyak cabang sampai ke jenis konstruktivis). Jenis analisis yang diterapkan pun tidak sekedar dengan content analysis dan cara manual, bisa melakukan thematic analysis dengan memanfaatkan software qualitative data seperti Atlas.ti atau Nvivo. Apalagi bila menggabungkan best of both worlds kualitatif dan kuantitatif dalam bentuk mixed method reseach design, yang seharusnya dilihat sebagai memanfaatkan keunggulan dari kedua metoda yang ada (dan bukannya dianggap keanehan ilmiah). Artinya pilihan pendekatan dan disain riset diperdebatkan dan melihat berbagai alternatif yang ada secara tepat, karena tanpa metoda yang pas hasil analisis mungkin akan tetap ‘mengambang’, hambar-datar-tanpa getar.

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman terlibat dalam kegiatan riset multi-nasional, yang sebetulnya berbagai peluangnya selalu ada, khususnya dalam bidang sosial dan pendidikan. Apalagi pakar dunia tahu kalau  riset multi-nasional yang tidak melibatkan Indonesia, maka hasil yang didapat mungkin tidak ‘terlalu seru’, berhubung kualitas negara kita yang penting dalam aspek politik (negara demokrasi terbesar keempat), jumlah penduduk dan keragamannya (juga jumlah muslim terbesar), maupun  kekuatan baru secara ekonomi selain posisi geografis yang penting. Maka, rajin-rajin lah mencari tahu kesempatan riset tersebut, nambah pengalaman dan network ke depan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UM, Universiti Malaya. Tandai permalink.

4 Balasan ke Pengalaman kolaborasi riset 7 System Leadership Study

  1. Asep Sapaat berkata:

    Good Reflection, refleksinya edun pisan, Pak Bambang. Meski saya tak hidup di dunia akademisi, tapi saya mendapatkan lesson learnt yang bisa dipraktikkan dalam keseharian saya. Hatur nuhun 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s