Sedikit cerita publikasi di Universiti Malaya-2

Ada beberapa yang berkomentar dan bertanya tentang artikel sebelumnya, kenapa harus jurnal yang di-index Web of Science (WoS), seberapa lama adaptasi ke sistem seperti ini dan tentu bagaimana reaksi dosen disana dengan hal ini. Ini beberapa hal menarik yang perlu disajikan di bagian kedua ini, sekaligus juga menggambarkan perkembangan prestasi publikasi ini dalam konteks di dalam Malaysia dan di sekitaran Asean. Yah semoga saja bisa dapat gambaran komprehensif tentang hal ini.

Alasan digunakan Web of Science/ISI sebagai indeks jurnal yang harus dituju untuk publikasi bagi dosen dan mahasiswa, yah karena memang jurnal-jurnal yang terindeks didalamnya sangat bergengsi dan elit. Sebagai gambaran, kalau kita cek ke Scimago, yang datanya dari Scopus, maka total jurnal pendidikan (dalam kelompok social sciences) ada sebanyak 1066 jurnal; namun jumlah jurnal pendidikan yang diindeks oleh Web of Science hanya sebanyak 220-an saja. Artinya yang dipilih sangatlah selektif, hanya yang memang best of the best. Dari 220-an jurnal pendidikan di indeks Web of Science tadi, semuanya juga di indeks oleh Scopus; artinya kalau sudah diindeks oleh Web of Science maka dengan sendirinya juga masuk index Scopus.

Elitnya jurnal di Web of Science ditunjukkan dengan nilai impact factor (IF), makin tinggi nilainya maka makin bergengsi. Walau banyak yang kurang setuju dengan ide IF ini, namun ini adalah bukti empirik kepopuleran jurnal. Impact factor dihitung berdasar banyaknya sitasi dalam kurun waktu tertentu. Dalam bidang pendidikan misalnya yang paling tinggi IF-nya adalah Review of Educational Research  (IF 5,235 dari penerbit Sage), kemudian Learning and Instruction (IF 3,692 dari Elsevier); yang menulis artikel di jurnal seperti itu biasanya memang top researcher dunia dengan pengalaman riset se-abreg. Seperti pernah disitir oleh teman saya, bila kita punya artikel yang publish di jurnal hebat tadi, maka kita ikut ketularan ‘hebat’; ilustrasinya, hal ini seperti seseorang yang mengklaim dia kaya raya, padahal sesungguhnya hartanya itu milik orang tuanya (artikel kita yang publish di jurnal belum tentu di sitasi sebanyak artikel yang lain, tetapi orang akan menganggap ini juga pasti artikel yang keren abis).

Hal yang tidak terhindarkan bila artikel kita tembus di jurnal Web of Science atau ISI adalah, artikel itu akan punya kemungkinan lebih besar disitasi dibanding terbit di jurnal Scopus biasa misalnya. Makin tinggi sitasi yang didapat artinya memang makin bereputasi, makin diakui kepakaran peneliti atau terlihat hebat institusi induknya. Tentu sitasi pun bisa ‘dipermainkan’, maksudnya meminta orang lain untuk mensitasi dan timbal baliknya kita pun mensitasi dia, ataupun cara yang dianggap kurang etis mensitasi diri sendiri secara berlebihan (self-citation); oleh karena itu ukuran urusan sitasi ini memang dianggap berkualitas bila memang disitasi oleh pihak luar yang mengakui memang karya ilmiah itu layak dikutif karena relevansinya dan kualitasnya. Dalam konteks ranking universitas jumlah sitasi ini tidak bisa dibantah sebagai ukuran kualitas, baik dalam ranking universitas dunia ataupun rangking di tingkat fakultas. Artinya daya bantu sitasi memang luar biasa, tidak salah bila memang fokus ke Web of Science sangat tepat untuk menunjukkan mutu universitas.

Sejak kapan fokus ke WoS/ISI ini? kurang lebih Universiti Malaya sudah sepuluh tahunan bermain dalam arena ini, dan telah mengubah pola permainan yang ada di universitas secara mendasar. Ada yang memang sudah establish dalam hal ini (seperti tiga fakultas yang disebut di artikel sebelumnya), yang lain masih beradaptasi dan beberapa sudah bergerak dan terus mengatur strategi.

Untuk bisa memberikan gambaran produktivitas publikasi dalam ISI journal ini, maka perbandingan dengan universitas lain bisa menjadi ilustrasi yang menarik:

ISI_RU_Malaysia1

Terlihat bahwa pada tiga tahun pertama (2006-2008)  kebijakan universitas riset di Malaysia dilaksanakan, Universiti Sains Malaysia (USM yang lokasinya di Pulau Penang), mengungguli dari segi publikasi, namun setelah itu UM seolah tak terkejar (yang dikasih tanda warna beda, tabel bagian paling atas). Selain info banyaknya publikasi, juga ditampilkan info jumlah sitasi (tabel kedua), banyaknya sitasi per publikasi, maupun H-index di tingkat universitas (h-index mudahnya adalah ukuran kualitas, makin tinggi artinya makin terkenal/populer/hebat, bila h-index-nya nol maka artinya memang tidak punya publikasi sama sekali).

Tentu juga menarik bila ditampilkan dalam bentuk grafik, sehingga tren terlihat lebih nyata:

ISI_RU_Malaysia2

kurva setelah 2014 terlihat menurun, karena belum semua artikel yang terbit pada 2015 sudah terindex secara komprehensif dalam database. Terlihat bahwa tren untuk UTM (Universiti Teknologi Malaysia) menunjukkan kecenderugan meningkat yang dratis sejak tahun 2010.

Selain bercermin prestasi dengan universitas top lain-nya di Malaysia, maka juga diperbandingkan dengan berbagaui universitas hebat di negara jiran-nya Malaysia. Grafik di bawah menyatakan banyaknya artikel yang terbit di jurnal-jurnal ISI:

ISI_Asean2

yang dijadikan perbandingan adalah dua universitas di Singapura, dua universitas di Thailand dan satu universitas di Indonesia.  Bila melihat grafik di atas menunjukkan bahwa UM sudah mau menempel ke dua universitas top di Asean yaitu NUS dan NTU, sedangkan yang berada di bawahnya sepertinya mau melipir dulu. Yah mungkin ini bisa jadi sumber rujukan bagi Dikti untuk bisa berbuat sesuatu.

ISI_Asean1

Tabel di atas memperlihatkan bahwa UM sudah bermain di jumlah ribuan untuk artikel di jurnal ISI, kebetulan wakil universitas dari Indonesia belum sampai kesana. Dalam aspek sitasi pun sudah menyentuh belasan ribu, yang masih jauh kalau mengejar dua universitas di singapura yang sudah ke level puluhan ribu sitasi totalnya per tahun.

Bagaimana dengan reaksi dosen yang diwajibkan untuk terbit dalam jurnal ISI ini? yah namanya hal baru tentu akan mengagetkan. Pada beberapa bidang ilmu, dimana jumlah jurnal ISI yang melimpah, maka alternatifnya banyak; namun untuk disiplin lain tentu ini akan menyulitkan karena ini berafrti persaingan sangat ketat untuk bisa di-review dan akhirnya diterima (accepted). Bidang seperti sains, teknik, teknologi dan kedokteran, maka bila mempunyai artikel yang bagus, bisa memilih mana jurnal ISI yang potensial bisa menerbitkannya. Namun bila kepakaran sang dosen dalam Bahasa Melayu atau Bahasa Arab, maka rasanya tidak ada jurnal ISI yang bisa menampungnya, artinya fokus risetnya harus sedikit berbeda, misal lebih kepada pengajaran, dan artikel ilmiahnya pun harus dalam English; suatu proses yang tidak semudah mengatakannya.

Setelah menjelaskan tentang publikasi di Universiti Malaya diatas, tentu sekarang beralih ke sittuasi dan kondisi di tanah air. Arah yang dituju ke mana? Semenjak adanya edaran Dikti pada tahun 2012 lalu, telah membangkitkan isu publikasi ilmiah di jurnal secara luar biasa. Pengetahuan tentang database jurnal, khususnya Scopus menjadi hal yang umum bagi dosen dan mahasiswa pasca sarjana. Berbagai insentif pun disediakan baik oleh universitas, oleh dikti bahkan oleh LPDP bila ada dosen yang sukses artikelnya tembus ke jurnal Scopus atau dalam konteks LPDP dalam jurnal ISI dan sekaligus mempunyai sitasi. Sehingga jurnal-jurnal yang diindeks Web of Science pun sudah mulai diketahui dan ‘kengerian’  untuk publikasinya di dalamnya menjadi urband legend. Apalagi sejak tahun 2016 akhir berhembus isu pemberhentian tunjangan profesi bila memang tidak produktif dalam publikasi.

Dari seorang teman mendapati bahwa arah kebijakan oleh kemenristekdikti pun akan mengarah seperti yang terjadi di Malaysia (foto di bawah). Secara perlahan saat Scopus mulai ‘jenuh’, maka tuntutan kualitas mau tidak mau akan bergeser ke jurnal ISI. Artinya siap atau tidak, tantangan ini akan dihadapi oleh peneliti dan dosen di tanah air.

kriteria di Indonesia

Bila manajemen kemenristek dikti sudah siap dengan anggaran dan pengawasannya, kemungkinan pengubahan arah ini bisa lebih cepat datangnya (kurang dari 6 tahun). Yah tentu generasi baru peneliti dan dosen yang akan berhadapan dengan hal ini, dan berbagai upaya akan dilakukan supaya bisa mencapai target yang ditetapkan. Misalnya kerjasama dengan pihak luar negeri tidak hanya sekedar basa-basi MoU atau kunjungan (wisata) ilmiah lagi, namun hal kongkret kerjasama riset yang berujung pada publikasi di jurnal ISI. Bisa jadi saat yang sama universitas di Singapura dan Malaysia, level permainannya bukan melulu ke jurnal ISI lagi, tapi ke kualitas kepakaran individu peneliti yang ditujukkan dengan nilai H-index.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Publikasi Jurnal, UM, Universiti Malaya. Tandai permalink.

2 Balasan ke Sedikit cerita publikasi di Universiti Malaya-2

  1. Agung Purnomo berkata:

    terima kasih pak Bambang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s