Sedikit cerita publikasi di Universiti Malaya-1

Dalam berbagai kesempatan kalau diskusi dengan akademisi Indonesia, satu hal yang jadi bahan diskusi tentang kerja sebagai TKI di negeri jiran adalah tentang riset-publikasi serta tentu saja satu isu ‘sensitif’, yaitu tentang penghasilan. Untuk memuaskan yang bertanya, tentu indahnya bila menjawab hal itu dengan apa adanya dan jujur tentang kedua hal tersebut (maksudnya bukan setiap pertanyaan punya jawaban tunggal, yaitu kata “jujur“, misalnya, berapa kisaran gaji perbulan, jawabnya pun “jujur“, he he he). Pengalaman saya bekerja tiga tahunan di Universiti Malaya memang kedua hal ini berhubungan, apa yang akan dijelaskan di tulisan ini tidak lain menjelaskan tentang konteks riset-publikasi yang mungkin ada hubungannya dengan penghasilan sebagai dosen.

 Sebenarnya urusan ‘sensitif’ yang dimaksud, yaitu penghasilan, bila bekerja sebagai dosen (pensyarah istilahnya kalau disini) di  universitas negeri di Malaysia (biasa disebut IPTA atau institut Pengajian Tinggi Awam, atau public university) sama dari segi nominal. Saat ini kriteria minimal yang disebut sebagai dosen di Malaysia harus sudah S3, dengan kisaran penghasilan (gaji dan tunjangan) terendah sekitar Rp 13 juta per bulan yang terus meningkat sampai ke puncak karir (yaitu profesor) sekitar Rp 45 juta per bulan  [mirip seperti sistem penggajian PNS di kita dimana range-nya terendah-tertinggi antara 3-4 kali lipat]. Memang ada dosen yang masih belum S3 dan statusnya pun pegawai tetap, ini biasanya berasal dari angkatan sebelumnya yang memang aturan kepegawaian yang digunakan memungkinkan hal itu; kalau dosen baru walau statusnya kontrak pun harus sudah S3. Nah penjelasan tentang penghasilan cukup disini dan semoga ngasih gambaran yang memadai.

Yang mengasyikkan adalah bila berbicara tuntutan prestasi kerja. Disini ceritanya bisa berbeda-beda, dan tiap universitas punya kriteria yang unik karena mendapat otonomi yang penuh. Misalnya, seorang rektor (disini mengikuti tradisi Inggris yang istilahnya vice chancellor atau naib canselor), bisa mengangkat satu dosen menjadi full profesor berdasar kriteria yang ditetapkan oleh senat universitas karena sudah memenuhi syarat, Kementrian Pendidikan Tinggi cukup disurati saja sebagai pemberitahuan (tentu agak berbeda dengan Indonesia dimana Menristekdikti yang memutuskan). Nah bagaimana syarat menetapkan pangkat dosen di Malaysia ini yang kadang bikin ‘ngeri’ kalau diceritakan secara gamblang dengan akademisi Indonesia.

Bagi Universiti Malaya yang merupakan universitas tertua di Malaysia, dengan reputasi sebagai universitas terbaik di Malaysia, tentu standar prestasi bagi pengajarnya harusnya menyesuaikan supaya reputasi itu terjaga. Dalam konteks ranking universitas dunia, menurut QS World University ranking, tahun 2016 lalu sudah masuk dalam daftar 150 universitas terbaik dunia yaitu rangking 133. Melihat rangking yang trend-nya makin naik, tentu pihak Kementrian Pendidikan Tinggi berharap dalam tiga tahun ke depan bisa masuk Top 100. Ini juga yang menjadi alasan kenapa lembaga pemberi beasiswa seperti LPDP hanya mau memberikan beasiswa kalau studinya di Universiti Malaya.

Bila meliha kriteria universitas top dunia, misal menurut QS world ranking, maka satu point yang krusial yang menunjukkan reputasi  paling wahid adalah urusan publikasi. Berbagai universitas Top 100 dunia  misalnya hal yang paling menonjol dari mereka adalah kualitas publikasinya, terbukti dengan nonggol artikel ilmiah dari dosen-dosennya di jurnal paling bereputasi di dunia dan jumlah sitasinya yang terus meningkat. Artinya kayu pengukur kalau mau unjuk gigi di tingkat dunia yah ikut dalam permainan tingkat tinggi tersebut. Oleh karena itu, maka kriteria kenaikan pangkat dosen di Universiti Malaya pun menngikuti hal tersebut. Sebagai gambaran ini syarat kenaikan pangkat yang berhubungan dengan publikasi:

kriteria di UM

Terlihat dari tabel di atas bahwa, untuk jenjang dosen, yaitu ada empat jenjang pangkat (lecturer, senior lecturer, associate professor dan professor; sedangkan tingkatan professor terbagi lagi menjadi tiga tingkatan), dan untuk naik ke tiap jenjang ada syarat yang harus dipenuhi.  Bila baru bekerja sebagai dosen yang sudah S3, maka dia mendapatkan pangkat lecturer (dosen biasa), dimana syarat publikasinya masih biasa saja. Namun bila dia mau naik pangkat menjadi senior lecturer (istilah disini pensyarah kanan alias dosen senior), maka baru bisa naik peringkat kalau punya tiga publikasi dalam jurnal ISI atau Web of Science (database yang dikeluarkan oleh Thompson-Reuters) [catatan, dari tabel di atas jelas disebut ini untuk dosen dalam kelompok ilmu non-clinical, artinya yang rumpun ilmu kesehatan syaratnya beda lagi, lebih susah].

Dari tabel di atas akan terasa ‘mengerikan’, yang diakui sebagai prestasi kerja hanya terbit dalam jurnal full paper yang di-indeks oleh ISI saja. Jurnal yang terindeks Scopus pun tidak masuk hitungan, dipandang sebelah mata (bisa diakui hanya bila terbitnya sebelum tahun 2009 lalu); apalagi kalau jurnal lokal. Maksud full paper disini adalah artikel jurnal yang memang terbit secara reguler melalui proses review, bukannya artikel yang masuk ke daftar ISI/Web of Science melalui konferensi atau seminar ilmiah (yang di kita hal ini kadang laku keras seperti kacang goreng bila ada konferensi yang menyebutkan paper akan masuk ISI atau Scopus, karena pihak penerbit proceeding pintar memanfaatkan kesempatan bagi yang memang ngiler mau namanya tertera dalam index ISI). Teman akademisi di Indonesia pernah menanyakan, bagaimana dengan partisipasi dalam konferensi ilmiah, apakah dihitung sebagai prestasi kerja? jawabannya simpel saja: Tidak. Artinya memang mau ikut konferensi tiap bulan silahkan saja, namun tidak berpengaruh apapun dalam kinerja (anggap saja wisata ngilmiah dan kesempatan berlibur). Yang lebih ‘parno’  lagi dalam tabel di atas adalah, 40% publikasi yang di-indeks dalam ISI tadi  harus jurnal yang berada di Tier 1 dan Tier 2 (maksudnya adalah di Q1 dan Q2, jurnal-jurnal yang paling top di bidang masing-masing).  Apalagi kalau mau dapat pangkat associate profesor (istilahnya profesor madya yang setara dengan lektor kepala kalau di kita), harus sudah punya 8 full paper dulu baru bisa percaya diri meminta naik pangkat (dan artinya naik penghasilan tentunya).

Yang menarik dari baris kedua di tabel di gambar di atas adalah, prestasi tahunan minimal yang diminta. Untuk dosen biasa, kewajibannya adalah 1/2 (artinya satu artikel di jurnal ISI per dua tahun); untuk dosen senior dan assoc. profesor adalah sama, yaitu satu artikel ISI per tahun, namun untuk yang full professor minimal adalah 2, makin tinggi peringkat profesor-nya maka jumlah artikel ilmiah yang harus muncul di ISI journal juga terus meningkat. Anda tentu bisa membandingkan dengan ‘heboh’ yang terjadi di tanah air, dimana syarat untuk mendapat tunjangan profesional bagi guru besar dan lektor kepala yang minimalnya adalah satu artikel di jurnal Scopus per tiga tahun (ini syarat yang dianggap terberat); sedangkan di Malaysia, maksudnya di Universiti Malaya, jurnal yang terindeks Scopus sudah lama ditinggalkan sebagai syarat prestasi kerja (yaitu delapan tahun lalu). Perlu juga ditekankan bahwa ini aturan yang sifatnya masih ”umum” bagi dosen di Universiti Malaya, beberapa fakultas menerapkan standar yang ‘susah bikin tidur’ lainnya, misalnya dosen senior di fakultas teknik minimal syarat kinerja publikasinya sama dengan pangkat Professor A (yaitu 4 artikel ISI per tahun).

Hal yang unik di Universiti Malaya, setiap tiga bulan juga dilaporkan perkembangan jumlah publikasi jurnal ISI per fakultas/unit akademik yang ada di UM. Salah satu contohnya adalah laporan perkembangan pada September tahun 2015 lalu, penampakkannya seperti ini:

ISI_UM_fakultas

Terlihat bahwa tiga fakultas mendominasi yaitu fakultas sains, teknik dan kedokteran. Harap dicatat ini bukan publikasi yang sifatnya rekapitulasi berbagai tahun, tapi ini publikasi yang tercatat dari Januari sampai September 2015 saja. Bagaimana bisa mengetahui detail statistik ini? Tentu harus berlangganan Web of Science dulu, dimana datanya selalu di-update per minggu, dan kenaikan jurnal paper yang berafiliasi ke Universiti Malaya bisa diketahui, sampai ke tingkat fakultas, jurusan dan dosen-nya. Data ini disiapkan oleh Perpustakaan UM. Grafik di atas memang menunjukkan bahwa reputasi UM lebih banyak didukung oleh tiga fakultas tadi, dalam lingkup sosial sains misalnya tidak secemerlang itu dalam prestasinya.

Jadi yah mohon maklum bila urusan target World Class University memang bukan main-main untuk dirancang dan dikerjakan. Saat diskusi dengan akademisi Indonesia suka ada yang usil bertanya, apa yang terjadi bila kinerja tidak sesuai kriteria yang ditetapkan. Kalau memang dosennya adalah pegawai kontrak, maka kemungkinan besar setelah selesai kontrak kerjanya di tahun depan misalnya, tidak diperpanjang lagi. Bila dosen tersebut pegawai tetap, maka kemungkinan akan tetap teguh pada pendirian pangkatnya saat ini; bila dia berharap bisa naik pangkat, solusinya biasanya adalah pindah tempat kerja ke universitas lain atau ganti profesi sebagai pegawai (bukan dosen lagi) di departemen lain.

Dalam satu unit fakultas tentu bukan hanya dosen saja yang bisa menyumbangkan publikasi, yang juga potensial adalah mahasiswa. Tentu kalau mengharapkan mahasiswa S1 bisa publikasi dalam jurnal ISI  terlalu berlebihan; oleh karena itu targetnya adalah pada mahasiswa pasca sarjana (S2 dan S3), yang mengambil mode  full research (maksudnya mahasiswa yang jenis studinya hanya riset, tidak ada kuliah sama sekali).  Justru disinilah dosen ‘tertolong’ dalam mencapai standar kinerja yang ditetapkan, dimana dia harus membantu mahasiswa-nya melakukan kegiatan penelitian yang berkualitas, supaya nanti hasil risetnya bisa menjadi artikel jurnal yang dipublikasi di jurnal ISI tadi. Saat yang sama si mahasiswa pasca sarjana full research tadi belajar secara sungguh-sungguh bagaimana melakukan kegiatan penelitian yang berkualitas tadi. Kenapa hal ini dianjurkan? Jawabannya, karena publikasi dalam ISI pun bisa wajib didapatkan oleh mahasiswa pasca sarjana bila dia ingin lulus (di bidang sains). Kriteria bagi mahasiswa salah satunya dalam gambar di bawah ini:

kriteria di UM_mahasiswa01

Tabel di atas memang agak berbeda dengan syarat untuk dosen. Bagi dosen memang wajib untuk punya publikasi per tahun-nya dalam jurnal ISI, namun bagi mahasiswa ada pilihan lain supaya dia bisa lulus. Bagi dosen yang ingin naik pangkat, tentu lebih berharga bila memang dari awal si mahasiswa diarahkan untuk publikasi dalam jurnal ISI, karena selain bisa membantu mahasiswa untuk lulus, juga secara langsung bisa membantu dia memenuhi kinerja tahunan dan tentu hal ini bisa digunakan untuk naik pangkat.

Sedikit cerita di atas memberikan gambaran betapa ‘haus’-nya prestasi ilmiah di satu universitas di Malaysia. Karena UM adalah universitas unggulan, maka universitas negeri dan swasta di Malaysia pun merujuk ke UM sebagai patokan dalam hal publikasi ini. Gambaran ini bisa menunjukkan seperti apa kemajuan akademik di negeri jiran sehingga satu universitasnya bisa masuk ke QS ranking yang Top 150 university. Di bagian kedua nanti akan dijelaskan statistik lain gambaran pencapaian prestasi akademik ini dengan universitas top lain di Malaysia maupun universitas top di kawasan ASEAN.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Publikasi Jurnal, UM, Universiti Malaya. Tandai permalink.

6 Balasan ke Sedikit cerita publikasi di Universiti Malaya-1

  1. arifnsaputra berkata:

    Tulisannya bagus, jelas dan sangat menginspirasi betapa ketatnya syarat untuk menjadi seorang pendidik terutama dosen di Malaysia.
    saya juga berkeinginan untuk ambil studi S3 di UM ambil doktor Pendidikan. kalau ada info boleh dishare Pak.
    Syaratnya bisa lulus bagi mahasiswa pasca di UM mantap ingin mencoba.
    Thanks

  2. Artikelnya bermanfaat Pak. Terima kasih inspirasinya.

  3. Andi Anto Patak berkata:

    Luar biasa. Sy br baca tuntas. Terima kasih pak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s