cerita proyek riset 7 system leadership study

Memulai kegiatan ‘ngejar setoran’ di Institute of Educational Leadership (IEL) di Universiti Malaya (UM) pada Mei 2014 adalah keterlibatan dalam proyek riset internasional. Sebelum bergabung ke Universiti Malaya, saat proses wawancara seleksi dosen sebelumnya, direktur IEL (setara ketua jurusan kalau di Indonesia) yaitu Prof. Dr. Alma Harris sudah meminta untuk menangani satu bagian dari proyek riset ini. Dari namanya yang 7 systems, maka proyek ini memang melakukan riset di 7 negara berbeda. Berhubung tren riset dunia saat ini tidak bisa sekedar mengandalkan riset di satu negara, namun juga produk riset ilmiah yang dicari juga adalah studi komparasi di berbagai negara akan isu tertentu. Apa yang akan dijelaskan di artikel ini adalah berbagai pengalaman dalam kegiatan di riset 7 systems leadership study ini sampai kepada penerbitan artikelnya tentang pelatihan kepala sekolah di Indonesia.

7 System leadership study adalah riset komparasi yang melihat tentang seleksi, pelatihan dan pengembangan kepala sekolah di 7 negara (principals’ pre-training and professional development).  Tujuh negara yang dimaksud adalah Malaysia, Indonesia, Singapura, Hong Kong, Australia, Russia dan Inggris. Penjelasan lengkap tentang hal ini bisa didapatkan di website Prof Alma Harris (7 systems fact sheet). Proyek didanai oleh Universiti Malaya, dengan total anggaran sekitar Rp 1,5 milyar selama tiga tahun, dan dimulai pada akhir tahun 2012.

Karena melibatkan berbagai negara, maka perlu koordinator yang bisa melaksanakan riset tersebut. Untuk Malaysia tentu tidak masalah, karena memang UM adalah institusi induk yang mewadahi kegiatan ini. Untuk Singapura maka partner-nya adalah National Institute of Education, Nanyang Technological University; di Hong Kong ada Chinese University of Hong Kong; sedangkan di Australia ada University of Melbourne dll. Sampai dengan awal 2014 (setelah proyek berjalan 1 tahun lebih), ternyata koordinator untuk Indonesia belum ada, sehingga saat saya bergabung ke IEL-UM, langsung bertanggung jawab dalam hal ini. Pada awalnya Universitas Negeri Yogyakarta melalui Prof Suwarsih Madya terlibat sebagai penasihat proyek riset ini; namun yang melakukan kegiatan lapangan untuk studi literatur dan pengumpulan data belum ada.

Rangkaian kegiatan 7 system leadership study ini salah satu yang menonjol adalah diadakannya seminar Asia Leadership Summit 2014 (ALS2014) (website-nya disini) yang dilaksanakan pada awal Januari 2014. Seminar diadakan sebagai sarana mempertemukan bergagai pakar dunia dalam bidang kepemimpinan pendidikan (educational leadership) dan salah satunya untuk membahas tentang isu-isu  principal pre-training and development dan melakukan elaborasi lebih lanjut yang akan menjadi kerangka teoritis proyek riset.  Seminar ALS 2014 ini tidak hanya kegiatan ilmiah saja, namun berlanjut kepada pembuatan buku yang diterbitkan oleh Penerbit Sage, dimana setiap bab-nya adalah makalah-makalah yang telah dipresentasikan, kemudian diperbaiki dan dipertajam, sampai akhirnya terbit resmi pada November 2015 (seperti gambar di bawah).

Leading Futures

Dari sini kita melihat bahwa kegiatan ilmiah yang dipersiapkan dengan baik, melalui jaringan pakar kelas dunia, hasilnya tidak sekedar ‘silaturahmi ilmiah’, namun juga bisa menghasilkan produk yang berkualitas dan bereputasi tinggi (sekaligus bisa memenuhi syarat prestasi ilmiah dan nabung sitasi kedepannya).  Tentu kuncinya adalah keseriusan bekerja, mempunyai jaringan peneliti dan kemampuan merayu mereka untuk datang dan mempresentasikan temuan risetnya; disamping mencari cantolan ke penerbit internasional serta mendapatkan kontrak penerbitan dengan mereka.

Saat saya mulai bergabung pada Mei 2014, maka langsung diminta untuk melakukan kajian literatur tentang seperti apa proses seleksi kepala sekolah di Indonesia, bagaimana kepala sekolah dipersiapkan di Indonesia serta seperti apa pengembangan profesi setelah mereka menjadi kepala sekolah. Tentu ini menjadi kegiatan yang full menelusuri berbagai hasil riset yang sayangnya memang tidak banyak tersedia, jangankan dalam bahasa Inggris, ternyata artikel ilmiah untuk hal ini dalam bahasa Indonesia pun tidak banyak. Lebih banyaknya adalah beberapa buku dan artikel ilmiah yang menyinggung hal itu didalamnya, bukan secara khusus membahas hal tersebut. Yang menarik dari membaca berbagai kajian riset ini adalah perbedaan kekuasan politik (masa penjajahan, orde lama, orde baru dan orde reformasi) mempunyai pola yang unik untuk setiap masanya.

Bagian kedua adalah mencari data empirik di lapangan tentang kondisi terbaru di Indonesia. Melalui berbagai rapat riset, maka yang menjadi target responden adalah kepala sekolah menengah negeri (publik), dimana untuk di Indonesia artinya adalah kepala SMA dan SMK. Karena besar dan luasnya Indonesia, maka diputuskan untuk menggunakan pendekatan kualitatif dengan sampling purposif sebagai yang utama dan melakukan pengumpulan datanya di empat provinsi berbeda.  Sampai disini yang terasa manfaatnya adalah mempunyai kolega di berbagai provinsi yang memudahkan untuk urusan ijin riset dan punya hubungan langsung dengan berbagai kepala sekolah. Masa pengumpulan data dilakukan selama empat bulan yaitu Mei –  Agustus 2014; dan dilaksanakan di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Nusa Tenggara Barat.  Total ada 18 kepala sekolah tingkat menengah yang berpartisipasi.  Ada hal yang unik saat mencoba memasukkan nama universitas di Indonesia untuk menjadi partner riset yang sejajar dengan universitas lain di dunia dalam proyek riset ini, dimana kesan ‘malu-malu’ dan ‘kendala birokratis’ menjadikan hal ini tidak terwujud (padahal ini sifatnya gratis dan bisa mengklaim telah terlibat dalam riset internasional yang bisa meningkatkan reputasi).

Instrumen riset yang digunakan di Indonesia adalah kusioner terbuka (open ended questionnaire), dimana kepala sekolah dimintai untuk menuliskan pengalaman dan pendapatnya tentang proses seleksi yang mereka alami, pelatihan yang didapatkan, proses pengangkatan dan pengembangan profesi yang diikuti. Tahap berikutnya adalah melakukan interview dengan para kepala sekolah ini selama 1 – 1,5 jam untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang isu-isu yang menonjol yang didapatkan dari kuesioner terbuka. Berbagai dokumentasi di sekolah juga dikumpulkan, foto suasana sekolah dan kelas serta interaksi antara kepala sekolah dan guru serata murid-muridnya. Langkah selanjutnya adakah prosedur analisis data, dengan melakukan transkripsi semua data, melakukan coding, mencari tema dari coding yang ada dan melakukan compare and contrast secara berkelanjutan dari data yang ada.

Pada saat proses analisis data ini berlangsung pada akhir 2014, informasi mengenai proyek riset 7 system leadership study ini sudah diketahui oleh berbagai pihak. Tidak dinyanya satu jurnal ISI/Web of Science (dengan impact factor 0,531) serta masuk daftar Q1 di Scopus, yaitu Asia Pacific Journal of Education, (APJE) menawarkan diri untuk menerbitkan artikel riset dalam 7 system leadership study ini yang dilakukan di tiap negara dalam salah satu edisi khususnya. Tentu ini kabar besar yang tidak disangka, artinya satu jurusan kecil di Universiti Malaya, punya kesempatan untuk mengkapling secara penuh dan mempamerkan hasil riset bersama peneliti universitas lain.

Untuk artikel persiapan dan pengembangan kepala sekolah di Indonesia, maka harus dipersiapkan dalam waktu 3 bulan, yaitu Jan-Maret 2015, berhubung bulan April sudah harus submit dan proses penilaian oleh editor dan reviewer (mitra bestari) dilakukan oleh APJE. Ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk melibatkan peneliti/akademisi Indonesia untuk tahu tentang proses penulisan artikel jurnal, berkontribusi di dalamnya, dan tentu nama universitas dari Indonesia bisa ikut mejeng dalam publikasi ini. Dua oranf dosen menyanggupi untuk terlibat, yaitu bu Ifa dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung; dan Pak Jumintono dari Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Proses review ternyata sangat cepat, dalam waktu satu bulan sudah ada keputusan bahwa artikel tentang kepala sekolah di Indonesia diterima (accepted). Penampakannya resmi artikel di jurnal ada di foto bawah:

APJE

Kabar baik lainnya, ternyata artikel-artikel dari negara lain pun sukses diterima untuk diterbitkan. Daftar lengkap artikelnya ada di Asia Pacific Journal of Education, pada volume 35, issue 3 (terbit resmi September 2015). tautannya ada disini. Sampai akhirnya hardcopy journal datang juga ke IEL-UM dan dirayakan oleh semua anggota tim riset yang terlibat seperti foto di bawah ini:

APJE2

Cerita tentang 7 system leadership study ini memberikan gambaran bagaimana eksekusi proyek riset yang berhasil. Perancangan riset yang teliti dan aktual, pengelolaannya yang profesional mulai dari kajian literatur, pengumpulan data, analisis dan sampai kepada produk akhirnya yaitu penerbitan artikel ilmiah di jurnal bergengsi.

*cerita mengenai artikel kepala sekolah Indonesia akan ditulis di artikel berikutnya

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Indonesia, Pendidikan Malaysia, UM, Universiti Malaya. Tandai permalink.

3 Balasan ke cerita proyek riset 7 system leadership study

  1. L.N. Firdaus berkata:

    Sangat briljant dan inspiratif, tahniah Pak Bambang

  2. Ping balik: Pengalaman kolaborasi riset 7 System Leadership Study | Blog Catatan Ngejar Setoran

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s