Kembali menulis di blog ngejar setoran

Sudah lebih tiga tahun kerja sebagai dosen di Institute of Educational Leadership (IEL), Universiti Malaya, dan ‘puasa’ dari nulis di blog ini. Sebagian karena sibuk dengan blog lain (yaitu blog rasch model), sebagian karena banyaknya setoran yang harus diselesaikan baik di Malaysia maupun di Indonesia, sebagian lagi memang ‘khilaf’ untuk update di blog ini. Sekarang saatnya untuk kembali ke jalan yang lurus, dan mencoba mengkomunikasikan apa adanya.

 Salah satu ‘kesibukan’ nyata dari blog ngejar setoran ini adalah banyaknya pertanyaan tentang berbagai hal via email.  Yang paling banyak adalah pertanyaan mau jadi mahasiswa S1 di Malaysia. Berhubung yang mengirim pesan via email ini mayoritas masih siswa SMA, kadang perlu memberi tahu bagaimana mengirim pesan email yang sopan dan jelas. Ini mengindikasikan generasi milenial (istilah untuk kelompok manusia yang lahir setelah tahun 1982, kalau ngak salah) memang mempunyai gaya berbeda dalam berkomunikasi tertulis secara elektronik. Kadang menjawab detail persyaratan untuk mendaftar, walaupun info tersebut sudah dijelaskan di posting sebelumnya (mungkin untuk lebih meyakinkan). Kadang menjawab ketidakpercayaan bahwa seleksi masuk ke universitas di Malaysia hanya bersifat administratif (mungkin karena tahunya harus ada ujian tulis). Kadang juga menjawab tenggat pendaftaran, kisaran biaya kuliah yang harus dibayar maupun kisaran biaya hidup, dan tentunya universitas mana di Malaysia yang bagus untuk dijadikan tempat studi.

Pesan email yang juga belakangan sering muncul dan perlu penjelasan panjang adalah, minta info untuk melanjutkan ekstensi studi, dari D3 di Indonesia ke S1 di Malaysia. Ini memang bukan urusan sepele, dan asumsinya kondisi di Indonesia juga sama dengan di Malaysia (maklum serumpun). Perlu penjelasan panjang bahwa beda negara, maka artinya beda sistem hukum; beda standar kualifikasi untuk tahapan S1 (di Indonesia disebut ‘sarjana’, sedangkan di Malaysia disebut ‘sarjana muda’; istilah ‘sarjana’ di Malaysia adalah gelar untuk magister/S2 kalau di Indonesia). Tentu juga beda beban mata kuliah, jenis mata kuliah, isi ujian dan jenis ujian dll. Cara yang termudah yang selalu saya jawab adalah, silahkan tanya di kampusnya apakah punya perjanjian transfer kredit mata kuliah dengan universitas mana saja di luar negeri? Biasanya kalau sudah begini, yang tanya akan menyimpulkan lebih baik beres S1 saja di Indonesia, sehingga nanti kalau lanjut studi di Malaysia di jenjang S2 saja.

Pesan email yang konsisten ada, adalah menanyakan tentang mencari beasiswa di Malaysia, baik beasiswa di S1, S2 maupun level S3. Kadang suka menjadi tanda tanya juga, kenapa begitu semangatnya mencari beasiswa ke luar negeri? Biasanya dengan sabar saya jelaskan, bahwa saat ini potensi beasiswa ke luar negeri justru tersedia banyak di dalam negeri, namanya beasiswa LPDP.  Kabar terakhir LPDP per tahun menyediakan 5000 beasiswa per tahun dan setengahnya untuk studi ke luar negeri. Kalau beasiswa S1 di Malaysia, setahu saya hanya untuk warga negara-nya sendiri, dan itupun dalam dua tahun ini banyak menghilang berhubung perkembangan ekonomi Malaysia yang tidak sesuai prediksi. Untuk beasiswa yang S2 dan S3, syaratnya kadang bikin kecewa kalau dijelaskan dengan detail, seperti skim-nya bukan sejenis beasiswa yang biasa mereka tahu, namun sebagai research assistant (RA) untuk proyek riset dosen. Sebagai RA maka melakukan riset dan dapat gaji bulanan, dengan penghasilan digunakan untuk bayar uang kuliah dan biaya hidup. Susahnya jadi RA ini terbatas untuk mahasiswa asing (international student) dan tersedia banyaknya untuk jurusan sains dan teknologi. Yang berat bagi yang tanya hal ini adalah syaratnya, kadang untuk jadi RA harus punya nilai TOEFL atau IELTS yang tinggi, punya pengalaman riset dan yang ‘mengagumkan’ adalah harus sudah punya publikasi di jurnal internasional yang bereputasi (bisa Scopus, kadang harus ISI/Web of Science).

Nah itu cerita yang ada di balik vakumnya blog ini selama tiga tahunan. Cerita di Universiti Malaya-nya bagusnya dengan memperkenalkan staf yang ada pada saat masuk, dan kondisi teraktual. Ada dua foto staf IEL yang  bisa bercerita banyak. Yang pertama adalah ini:

IEL_2014

Foto ini diambil pada 5 Mei 2014, hari pertama saya bekerja sebagai dosen di Institut of Educational Leadership (IEL), Universiti Malaya. Pada saat itu kebetulan ada kunjungan satu orang profesor tamu dari Amerika Serikat (yang duduk di tengah), namanya Prof Dr. Robert Shockley dari Florida Atlantic University. Staf IEL yang aktif saat itu, dalam posisi berdiri di belakangnya adalah saya (orang Indonesia), Dr Michelle (Inggris), Prof Alma (Inggris), Prof Georg (Jerman), Dr Sailesh (India) dan Dr Satya (satu-satunya orang Malaysia). Ini kondisi yang unik, bahwa satu lembaga riset di satu universitas negeri di Malaysia, ternyata warga negara Malaysia-nya minoritas (hanya seorang). Staf dosennya malah didominasi oleh warga negara asing, bahkan direktur-nya adalah orang Inggris (Prof Alma, bila ingin tahu lebih lanjut silahkan lihat website beliau di: http://www.almaharris.com/ ), dan  dua wakil direkturnya pun orang asing (orang Inggris dan Jerman). Hal ini mungkin kejadian sangat unik yang pernah terjadi di Malaysia (apakah pernah terjadi di Indonesia?).

Foto kedua yang saya tampilkan adalah komposisi dosen pada tahun 2017 ini, yaitu foto ini:

IEL_2017

Jumlah staf total sama seperti sebelumnya ada enam orang, juga dengan dua orang perempuan, tapi, nah ini yang menarik. Komposisi staf dosen asing hanya yang paling kiri (saya, dari Indonesia). Lima lainnya adalah warga negara Malaysia. Artinya kondisi minoritas berubah drastis, justru staf asing sekarang yang minoritas (juga dalam konteks latar belakang pendidikannya, S3-nya di New Zealand; staf warga negara Malaysia semuanya lulusan dari universitas di Malaysia). Kondisi yang berbeda setelah tiga tahun ini tentu banyak pertanyaan kenapa bisa begini? apa yang terjadi? nah jawaban akan pertanyaan tersebut, akan muncul dalam berbagai tulisan di blog ngejar setoran ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UM, Universiti Malaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s