Cerita persiapan studi di luar negeri

Satu hal lagi dari keberadaan blog ini bagi saya adalah banyaknya orang yang kirim email tentang permintaan info beasiswa ke luar negeri (khususnya ke Australia, New Zealand dan Malaysia) dan minta nasehat serta strategi bagaimana supaya bisa survive studi di luar negeri. Tadinya kedatangan email-email itu menggembirakan, namun lama-lama pegel juga nulis satu demi satu jawaban yang kadang tidak jauh beda isinyaOleh karena itu bagusnya ditulis saja sekalian jadi salah satu artikel, sehingga nanti bisa disuruh baca sendiri dan akhirnya bisa memberikan pertanyaan yang lebih spesifik dan cerdas. Tentu ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya khususnya studi di luar negeri yang saya pernah berkunjung, yang nota bene sistem pendidikan sekular di Australia dan New Zealand (tempat saya studi pasca sarjana) dan di Malaysia (tempat saja kerja jadi dosen) mungkin  ada sedikit kemiripian dengan studi di  Eropa atau Amerika Utara, namun kalau pendidikan non-sekular (seperti yang pergi ke Mesir atau Arab Saudi)  saya memang tidak tahu sama sekali.

Dari berbagai email yang datang dan bertanya serta observasi yang saya lihat pada mahasiswa Indonesia di luar negeri, kebanyakannya menganggap kuliah di luar negeri itu mudah (no offense for good performance students). Hal ini padahal membawa konsekwensi serius pada saat benar-benar mengalami sendiri perkuliahan di luar negeri baik yang pake bahasa Inggris atau bahasa Melayu. Sewaktu saya di Flinders University, Adelaide, saya menyaksikan sendiri adanya mahasiswa Indonesia dengan beasiswa AusAID yang kena drop out pada tahun awal studi karena prestasi yang jeblok dan juga kasus plagiat (harap maklum aturan AusAID memang mensyaratkan harus berprestasi, karena beasiswa berasal dari pajak orang Australia). Saat di New Zealand, kabar dukanya adalah adanya mahasiswa S3 yang tidak mau merevisi tesis dan langsung main buntel saja balik kampung, back for good.

Yang harus diperhatikan sekali adalah situasi dan kondisi belajar di luar negeri berbeda jauh dengan yang ada di Indonesia. Peraturan akademis dan suasana perkuliahan serta penilaian prestasi pun berbeda, dan tentu ini harus jauh-jauh hari diketahui, dipersiapkan dan dilatih sebanyak mungkin. Salah satu kisah lucu dari seorang teman yang mau studi S3 di Amerika Serikat, ini terjadi sekitar tahun 2004, saat ngobrol ketahuan dia tidak bisa mengetik dengan komputer, dan saat hal ini ditanyakan ke dia, enteng saja dia menjawab, nanti di Amerika pun ada jasa pengetikan skripsi, jadi tenang saja yang penting siap untuk studi. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau dia sampai ke US, yang saya dengar akhirnya dia studi di dalam negeri (yang tentu tersedia banyak jasa pengetikan skripsi untuk membantu beliau).

Ada baiknya berbagi pengalaman saat mendapat beasiswa AusAID dulu. Setelah lolos seleksi tahap akhir, maka pihak ADS office mewajibkan semua calon penerima beasiswa untuk ikut pre-departure program. Lamanya program tergantung kemampuan test bahasa Inggris, karena disatukan dengan persiapan test IELTS; ada yang memang tidak perlu test IELTS maka programnya cukup sebulan setengah (enam minggu) saja; ada yang tiga bulan (berhubung nilainya kurang 0,5  dari skor IELTS yang diinginkan, yang berdasar hasil riset menaikkan skor IELTS 0,5 diperlukan waktu persiapan tiga bulan), ada yang enam bulan sampai yang paling buncit dengan lama programnya satu tahun.  Saya termasuk yang ikut program tiga bulan, yang isinya antara lain Academic English, sistem akademik di Australia dan pengantar budaya Australia.

Kalau yang Academic English, setiap hari paling tidak empat jam di kelas (dua jam pagi dan dua jam petang), lima kali seminggu selama tiga bulan. Diantara kelas English tadi adalah aktivitas kelas dengan tema beragam: sistem akademik, budaya ostrali dll. Yang ngatur jadwal pintar, dimana kita tidak bisa keluar gedung IALF (tempat kursus berlangsung) untuk aktivitas lain kecuali makan siang, sehingga waktu santai pun akhirnya digunakan untuk diskusi dan latihan di perpustakaan IALF. Porsi yang paling banyak dari Academic English ini adalah menulis dan menulis dan menulis. Disamping memeras otak dan kreativitas, tentu hal ini menjemukan, namun saat yang sama mengungkapkan kelemahan rata-rata orang Indonesia (yang penerima beasiswa) akan kemampuan menulis dalam English [walau kadang dalam bahasa Indonesia pun masih acakadut]. Report witing, essay writing, graph explanation, table discussion dll menyadarkan saya, begitu banyak hal yang memang tidak dikuasai kalau memang mau belajar di luar negeri ini (Australia), untung sekali saya dapat kesempatan ini. Untuk hal three macro languages skills yang lain (listening, speaking dan reading), si pengajar lebih banyak memberikan tugas secara mandiri (dia dengan sendirinya tahu, kalau kualitas tulisan ‘ngak bunyi’, maka memang tugas reading dan listening memang tidak dikerjakan, dan tentu beliau akan memberi ‘jeweran mesra’).

Seluk beluk dunia akademik dan kehidupan di Australia pun dibahas dan dijadikan diskusi; mulai dari disuruh untuk mempelajari bahasa slang Australia (seperti “how are you going mate” maksudnya ‘apa kabar teman’, bukannya “anda pergi dengan kendaraan apa”), melakukan riset bagaimana mengatur anggaran belanja pribadi, apa saja kebutuhan hidup untuk disediakan dengan mempresentasikannya di depan teman-teman sekelas (satu kelas hanya 15 orang dan karena penerima beasiswa, rata-rata pintar-pintar); sampai ke acara debat antar kelas dalam English dengan topik-topik yang, saat itu, sedang ramai dibicarakan seperti isu otonomi daerah, dwi fungsi ABRI dll. Hal ini dilengkapi dengan berbagai video dan film tentang kehidupan di kampus Australia, ada dokumentasi kehidupan mahasiswa Indonesia di Brisbane yang heran karena harus makan daging steak sebesar piring (hal yang amat sangat mewah dari segi ukuran, apalagi kondisi sekarang dengan harga daging yang tinggi serta adanya isu pengaturan import yang berujung di pengadilan).  Saat yang sama juga ada penjelasan khusus wakil berbagai universitas di Australia yang memberikan penjelasan perguruan tinggi mereka; tentu yang datang adalah orang marketing yang hobi ‘jualan kecap’, hanya universitas mereka lah yang terbaik di Australia dengan gaya yang agresif. Namun dari sana pula bisa didapat info aktual mengenai jurusan, bagaimana kuliah dilaksanakan, assignment yang harus dipenuhi, tesis yang harus diselesaikan dll, yang lebih informatif berhubung mereka wakil langsung dari universitas.

Walaupun dengan persiapan tiga bulan tadi, saat saya pertama menikmati kuliah di Flinders, ternyata lebih banyak ling-lung-nya; jurus standar selalu bertanya terus menerus digunakan untuk mendapat kepastian dan tentu meminta perhatian dan bantuan. Baik ke sesama mahasiswa Indonesia, ke dosen-nya maupun ke student learning center.

Sedangkan saat mau studi ke New Zealand, berhubung nilai IELTS sudah memenuhi syarat, maka pre-departure training hanya sebatas ngobrol di kedutaan Selandia Baru di Jakarta. Training yang sesungguhnya dilakukan di New Zeland selama tiga bulan, lagi-lagi yang dipersiapkan adalah English, disana dinamakan English for Academic Purpose.  Menu utama-nya masih yang itu-itu juga, tidak lain adalah writing, writing dan writing. Berhubung di kelas saya masuk kelompok minoritas, yaitu mahasiswa S3, maka sang dosen selalu baik hati memberikan tugas tambahan dan kesempatan ekstra supaya lebih banyak unjuk gigi (nasib). Persiapan ini memang tidak bisa dipandang enteng, dari teman yang dapat beasiswa S2 ke New Zealand pada angkatan/tahun yang sama ini, kononya dari sebelas yang ikut pelatihan pre-departure di Jakarta, yang jadi berangkat hanya dua orang, menunjukkan keseriusan seleksi beasiswa ke NZ dan tentu pihak pemberi beasiswa tidak akan ngasih duit kalau persiapannya sekelas abal-abal dan studinya berpotensi gagal.

Sangat menarik kalau mendengar kisah persiapan studi yang sumber dananya dari Indonesia. Saya tidak tahu apa memang sang pembuat keputusan menganggap penerima beasiswa studi ke luar negeri itu sekelas superman atau memang sangat kuper. Cerita yang banyak saya dengar, mereka secara diplomatis, hanya dibekali dengan doa saja, selain duit beasiswa tentunya  [kalau ada cerita berbeda, saya akan sangat bahagia mendengarkannya, silahkan tulis di komentar artikel blog ini]. Tidak ada cerita tentang persiapan training English secara khusus (kalau ke negara berbahasa Inggris), ataupun pengenalan sistem akademik negara lain (yang memang jauh berbeda). Tidak aneh banyak yang melongo dalam hal adaptasi akademik (walau untuk hal lain seperti gaya hidup dalam shoping dan mejeng sih, bisa berbeda). Sehingga, adaptasi ke sistem akademik yang berlaku memerlukan waktu lebih lama, dan ini tentu berpotensi untuk berpengaruh terhadap prestasi dan kesuksesan studi.

Yang lebih parah tentu yang terjadi pada mahasiswa riset; dimana tidak ada kelas yang harus dihadiri, sedangkan inisiatif dan independensi belum terbiasa. Jadinya lebih banyak kelayapan dan menenun mimpi yang tak kunjung usai. Baru sadar kalau supervisor sudah berubah nada pemberitahuannya ke yang bersifat mengancam, atau lamanya waktu studi yang makin tidak realistis untuk bisa diselesaikan (proposal belum siap setelah dua tahun dari tiga tahun jatah studi).

Sejauh ini kita tidak punya data statistik yang lengkap mengenai kesuksesan studi mahasiswa pasca sarjana orang Indonesia yang studi di luar negeri. Kalau bisik-bisik dari AusAID dan NZAID, kononya untuk yang S2 nyaris 100% lulus; namun untuk yang S3 (full research), ngak nyampe angka 75% yang lulus [ini yang menyebabkan jatah beasiswa S3 paling banter kuotanya 20% dari total beasiswa yang diberikan]. Nah, kalau ada data dari beasiswa yang dananya diberikan dari Indonesia (pemerintah pusat, baik Dikti, Bappenas dll maupun pemerintah provinsi) mungkin ini akan lebih menyadarkan lagi para birokrat kita untuk memang menanggarkan dana bagi persiapan studi ke luar negeri dan diberikan dengan kualitas yang yahud (bukan sekedar standar minimal birokrasi).

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Indonesia, Student. Tandai permalink.

16 Balasan ke Cerita persiapan studi di luar negeri

  1. Wiryono Raharjo berkata:

    Sebetulnya dulu (tahun 90an) Bappenas mengadakan program beasiswa melalui OTO (Overseas Training Office), saya termasuk penerima beasiswa itu untuk S-2 di Kanada. Mereka mengadakan predeparture training seperti yang dialami penerima beasiswa AusAID. Tetapi untuk kasus Dikti, nampaknya mereka ingin lebih menggunakan dananya untuk meningkatkan jumlah penerima beasiswa daripada mengalokasinyannya untuk ‘capacity building’ peserta program sebelum berangkat. Waktu saya S-3 di Australia, saya menyaksikan banyak kasus dimana mahasiswa S-3 diberangkatkan begitu saja, karena LoA dianggap sudah mewakili ‘kemampuan’ mahasiswa mengikuti program. Kasus yang pulang sebelum selesai, entah karena mis manajemen pengelolaan dana atau karena ketidakmampuan adaptasi (budaya + akademik) sering kita dengar.

  2. Darwin Gani berkata:

    Saya ingin mendengar lebih lanjut mengenai merevisi thesis di univ. New zealand yg sudah disebutkan diatas., apakah berita ini sekedar prejudice atau ril adanya., karena pengalaman sy kuliah di USA, mhswa yg sudah menyelesaikan kuliah n penelitiannya dapat mengerjakan thesisnya di kampung halamannya bahkan sidang thesis juga diperbolehkan dikampung halamannya, apa lg cuma revisi thesis,. karena terkadang lama penyelesaian thesis jg bukan berarti mhswa tsb bodoh, kenapa jg pihak univ. di USA mengijinkan hal ini karena tidak dimungkinkan bertahan menyelesaikan thesis di US kl biaya tidak memungkinkan

    • deceng berkata:

      salam
      trims pertanyaannya, ini kisah nyata. sang mahasiswa merasa tidak mampu dgn kata lain menyerah. dulu saat di adelaide ada juga yg pulang walau tesis tdk selesai dia mencicil draft, namun akhirnya DO juga karena batas masa studi sdh terlampaui (memang susah menyelesaikan tesis kalau part time)

  3. kusnendar berkata:

    Rasanya ingin menimba ilmu di negara orang😦

  4. Mentari Jingga berkata:

    k’ beruntung sekali bisa study ke luar negri.. pake dana beasiswa lagi…..

  5. Kak kalo saya mau minta info sama kaka harus kemana?

  6. nangkula berkata:

    Dulu di utm ada kelas bahasa Inggris yg dijalankan oleh ppi apakah masih ada Pak? Sy lihat kelas tersebut sgt membantu rekan2 di utm

  7. sangat mengispirasi mas,, saya juga pengin sekali bis asekolah keuar negeri tapi sampai saat inimasih bingung bagaimana bisa kesana,,,

    • deceng berkata:

      Sekarang malah jalurnya jelas sekali, ada beasiswa LPDP dari Kemenkeu RI yg memberikan 3000 (iyah tiga ribu) beasiswa ke luar negeri per tahunnya.

  8. pahmiritonga berkata:

    Terima kasih, Infonya sangat bermanfaat,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s