Cerita Indikator Kinerja Utama (KPI) bagi perguruan tinggi

Pada tanggal 1 Juli 2013, Pak Hendra Gunawan, guru besar matematika ITB, artikel opininya terbit di harian Kompas, yang berjudul “Mendambakan PT Berkualitas” (artikel bisa dibaca disini). Aspek yang dibahas oleh beliau adalah tentang kualitas dosen dan produktivitasnya dalam hal riset dan publikasi dan memberitahukan ke pembaca bagaimana posisi negara kita dibanding negara lain di Asia. Tentu hal yang berbeda jauh bila dosen kita disandingkan dengan dosen di Jepang dan China (seperti diulas Pak Hendra), namun ukuran perguruan tinggi berkualitas tentu bukan hanya dosennya saja. Akan sangat baik bila melihat ukuran kualitas tersebut diterapkan di satu universitas di Malaysia, yaitu apa yang biasa disebut dengan Key Performance Indicator (KPI atau Indikator Kinerja Utama).  Dengan kata lain ini akan memberikan informasi lebih lengkap dan mengetahui dimana posisi kebanyakan universitas kita berada dibanding PT di negara jiran.

Munculnya KPI ini tidak lain dari ‘latah’ yang biasa terjadi di sektor bisnis, yang positifnya terus meluas ke sektor publik. Dalam dunia bisnis kadang relatif ‘mudah’ untuk menetapkan KPI ini semisal: naiknya persentase keuntungan per tahun, kenaikan omset, penguasaan pasar dibanding pesaing, trend harga saham perusahaan dll. Dalam sektor publik ini selalu jadi debat seru karena indikator yang sama tidak bisa begitu saja diterapkan dan malah bisa meleset mengukur prestasinya bila pake indikator yang ‘coba-coba’ (semacam ‘goals displacement’, satu penyakit birokrasi yang menahun). Salah satu rujukan yang bisa jadi bahan pertimbangan kuat dalam urusan perguruan tinggi adalah indikator kinerja yang digunakan dalam ranking universitas tingkat dunia seperti Times Higher Education dan  The QS World University Ranking. Mungkin kita tidak begitu sependapat misalnya karena bias negara barat, namun harus diakui memang indikator yang diukur memang menunjukkan kinerja yang baik (alat ukur yang valid).

Oleh karena itu ada baiknya melihat KPI yang diterapkan di salah satu universitas di Malaysia, yaitu di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). KPI ini sudah diterapkan dan menjadi pemacu perubahan universitas ini sejak tahun 2008 (tabel di bawah). Terlihat dari tabel yang ada, KPI merangkum sembilan buah indikator utama kinerja UTM, yaitu meliputi kualifikasi dosen, publikasi, mahasiswa pasca sarjana, standar IPK mahasiswa baru S1, dana riset yang didapat, hak kekayaan intelektual, perusahaan yang dibuat dari aktivitas riset, beban riset staf dosen dan dana abadi yang dikumpulkan.

KPI2013Bila melihat tabel, akan terlihat betapa ambisiusnya target yang hendak dicapai. Dan perubahan yang ada menunjukkan trend yang menanjak (bukan sekedar naik lagi), khususnya antara 2008 ke 2013 (yang harus diwujudkan tahun ini juga). Ini memberikan gambaran agresifnya perguruan tinggi negeri jiran untuk bersaing di tingkat internasional. Bila melihat target yang tahun 2020, anda jangan kaget bahwa itu bukanlah pencapaian impian; kenyataannya universitas papan atas dunia seperti Harvard University, Oxford University, Cambridge University dan MIT berada di tahapan itu saat ini.

Untuk kriteria pertama yaitu dosen dengan kualifikasi S3, maka dimana pun sebenarnya itu suatu hal yang tidak dapat ditawar. Dosen dengan kualifikasi lebih rendah dalam lingkup akademis akan mempunyai tendensi yang berdampak lanjutan bagi reputasi universitas sendiri. Seperti dilihat pada tabel, tahun 2008 jumlahnya baru 737 orang saja (dari total 2000 orang dosen), namun lima tahun kemudian ditargetkan jumlahnya dua kali lipatnya (1500 dosen dalam tahun 2013), sesuatu yang berat tentunya. UTM pada tahun 2009-2010 berhubung kurangnya dosen yang masih S3, secara agresif melakukan rekrutmen besar-besaran dosen kontrak dari luar negeri (kebanyakan dari Indonesia) untuk memenuhi persyaratan 50% dosen berkualifikasi S3 seperti yang disyaratkan oleh Kementrian Pendidikan Tinggi Malaysia. Saat yang sama mereka memacu dosen lokal untuk menyelesaikan studi S3-nya dengan beasiswa yang kebanyakan ke luar negeri. Tentu hal yang logis untuk segera menyelesaikan problem ‘infrastruktur’ ini, berhubung kelulusan studi S3 yang memang tidak mudah dan terkadang tingkat kelulusannya juga tidak tinggi. Beda dengan reaksi staf pengajar universitas di kita akhir-akhir ini yang ribut dengan aturan baru oleh Dikti yang menerapkan jabatan tertentu harus sudah S3, dimana sisi legalnya pun diungkit-ungkit terus; di negara jiran berlaku aturan tegas, bila tidak S3 silahkan cari pekerjaan lain, jangan jadi dosen.

Sehubungan dengan kualifikasi dosen tentu adalah kemampuan mereka melakukan riset dan publikasi. Dengan lulus S3, maka bekal untuk melakukan kegiatan ilmiah dianggap sudah cukup, karena dengan studi S3 tidak lain adalah magang menjadi peneliti dan menyiapkan publikasi. Melakukan penerbitan ilmiah tentu bukan sekedar asal terbit, atau di jurnal yang sifatnya “untuk kalangan sendiri”, namun harus di jurnal yang mempunyai reputasi dan di-index, dalam hal ini rujukan yang digunakan adalah index Scopus (yang tidak lain adalah sistem basis data ribuan jurnal ilmiah). Satu artikel yang terbit dalam jurnal Scopus akan menambah koleksi jumlah artikel yang menjadi indikator prestasi ilmiah pada afiliasi perguruan tinggi bersangkutan. Target yang ingin dicapai pun mengherankan, yaitu meningkat mencapai lima kali lipat dalam lima tahun. Namun bila melihat data di Scopus, maka target aslinya malah sudah terlampaui. Untuk memberikan gambaran, ini capaian (pada 9 Juli 2013) prestasi banyaknya artikel di Scopus pada universitas di Indonesia dan di Malaysia:

Scopus_IndonesiaScopus_Malaysiadua tabel di atas sedikit menyakitkan juga, walau jumlah universitas di Indonesia ribuan, namun yang terdaftar di Scopus hanya 143 buah saja (bandingkan dengan negeri jiran yang total universitas hanya 56 buah, namun yang tercatat sampai 150 institusi, artinya lembaga ilmiah lain di Malaysia juga berlomba-lomba menerbitkan artikel ilmiah di Scopus).

Selain angka penerbitan oleh Scopus, pihak UTM juga menetapkan rangking berdasar ISI impact factor, yang tidak lain adalah seberapa banyak artikel yang diterbitkan di jurnal yang bereputasi tinggi (mempunyai impact factor). Isu tentang impact factor ini ramai diperdebatkan seperti bisa dibaca di website Elsevier (penerbit jurnal kelas wahid), yang berkesimpulan bahwa nilai impact factor layaknya memang untuk menilai kualitas jurnal, bukan menjadi indikator dari akumulasi nilai prestasi seorang peneliti atau universitas. Terlepas dari itu semua, pihak pembuat KPI tentu menginginkan bahwa dosen mentargetkan publikasi di jurnal yang banyak menjadi rujukan ilmuwan yang di-index oleh ISI bukan hanya sekedar oleh Scopus saja. Hal yang berikutnya adalah sitasi (citation) dari Scopus, ini adalah menunjukkan tingkat kualitas artikel yang telah terbit. Makin banyak dikutif peneliti lain maka tentu menunjukkan makin populer dan makin berguna hal tersebut bagi komunitas ilmiah.

Kedua hal ini yaitu banyaknya artikel di Scopus dan ISI seerta sitasi-nya oleh peneliti lain tentu menjadi target yang harus diakui paling susah dibanding yang pertama.  Hal ini berhubung, penerimaan artikel sepenuhnya tidak bisa dikontrol oleh penulis, ada reviewer anonim yang akan menilai kelayakan untuk diterbitkan atau tidak. Juga dalam urusan pengutipan tidak bisa sekedar melakukan self-citation atau memaksa orang lain supaya dikutif, sangat tergantung kualitas dan ‘selera pasar’.

Kriteria kinerja ketiga adalah mahasiswa pasca sarjana, kenaikan yang ditargetkan juga menunjukkan peningkatan yang mendadak. Jumlah total yang diinginkan pada 2013 adalah 55% untuk S2 dan S3 (artinya S1 hanya 45%). Hal ini menunjukkan perubahan level universitas, dari sekedar teaching university (fokus mengajar S1) menjadi research university. Infrastruktur yang perlu disiapkan untuk hal ini tentu adalah dosen dengan kualifikasi S3, bila jumlah dosen yang memenuhi syarat masih kurang tentu akan menjadi bahan tertawaan bila yang membimbing mahasiswa S2 dan S3 kualifikasinya sama. Saat yang sama dengan meningkatnya mahasiswa riset, maka harapan untuk peningkatan publikasi ilmiah berjalan beriringan, karena si mahasiswa memang mengerjakan proyek riset (khususnya yang S3) yang ujungnya adalah artikel ilmiah yang layak untuk nanti terbit di jurnal-jurnal Scopus dan ISI tadi. Hal tambahan lainnya adalah rekrutmen mahasiswa post-doctoral, di negara barat mahahasiswa jenis inilah yang menjadi tulang punggung kerja-kerja riset dan publikasi artikel. Hal ini berhubung sang dosen memang pasti akan sibuk dengan mengajar, membimbing dan tugas administrasi akademik lain (bikin soal, penilai tesis, rapat dll), maka mahasiswa post-doctoral ini yang akan banyak menggantikan tugas riset dan penulisan ilmiah berhubung mereka sudah pengalaman riset (sudah lulus S3), dan fokusnya pun hanya melakukan kegiatan penelitian dan penulisan. Tidak aneh bila insentif untuk jadi mahasiswa post-doctoral sangat menarik (kadang gajinya bisa lebih besar dari dosen dengan kualifikais sama), namun target yang harus dicapai pun sangat fantastis (semisal, dalam satu tahun harus terbit empat artikel di jurnal ISI).

Kriteria rekrutmen untuk S1 menjadi pertimbangan berikutnya, saat populasi mereka mengecil (dibandingkan mahasiswa pasca sarjana) maka yang bisa masuk ke universitas bersangkutan akan lebih terseleksi lagi. Artinya mahasiswa yang masuk merupakan yang terbaik yang bisa didapat (cream of the cream), dan target pencapaiannya dalam Ujian Nasional di Malaysia mendekati angka sempurna (IPK 4,0). Hal ini bagi beberapa perguruan tinggi di Indonesia bukan hal yang aneh, di ITB misalnya sejak lama mahasiswa yang masuk memang rata-ratanya 8 ke atas (atau dalam skala IPK adalah 4,0). Dengan mahasiswa yang terpilih, maka proses perkuliahan di jenjang S1 relatif tidak akan banyak masalah, karena mereka biasanya self-learned dan self-motivated. Saat yang sama lulusan S1 yang berpretasi bagus akan menjadi pelapis bagi generasi berikutnya untuk menjadi peneliti dan dosen, dengan syarat mereka harus menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di luar negeri.

Untuk mendapatkan publikasi, maka yang mendukungnya adalah dana riset (research grant); dengan ketersediaan dana riset maka alat dan bahan untuk eksperimen bisa didapat dan mahasiswa riset bisa mendapatkan dana beasiswa. Pihak universitas mentargetkan bahwa setiap dosen harus ‘memasarkan’ kepakaran mereka dan ukurannya adalah mendapat reserach grant tadi, tidak sekedar dana riset yang ada di Malaysia saja, namun juga di tingkat regional dan internasional. Hal ini biasanya dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan sesama peneliti dan akademisi di universitas negara lain. Bila mendapat dana riset dengan sendirinya reputasi pun terdongkrak dan menunjukkan mutu dosen dan universitas secara langsung.

Hal yang berhubungan dengan kegiatan riset menjadi dua kriteria kinerja berikutnya, yaitu hak kekayaan/cipta intelektual dan spin-off company. Hasil langsung dari kegiatan riset adalah penemuan yang produknya bisa didaftarkan untuk mendapatkan hak cipta intelektual (baik secara nasional maupun internasional), akumulasi hak cipta tentu menunjukkan produktifnya peneliti di satu universitas dalam menghasilkan produk riset. Bila produk sudah didaftarkan dan mempunyai nilai jual, maka si universitas juga bisa membuat sebuah perusahaan khusus yang memang bertujuan meningkatkan kualitas produk riset tadi untuk menjadi satu produk konsumen. Bisa juga dari awal si peneliti memang bertujuan untuk menghasilkan produk yang memang bisa dikembangkan untuk bisa di jual ke pasar/masyarakat, sehingga persiapan pengembangan produk menjadi fase berikutnya setelah riset selesai dan fase produksi dan pemasaran dilakukan oleh spin-off company tadi. Kriteria ini memang banyak diterapkan pada universitas yang berbasis sains dan teknologi, dimana memang hasil risetnya bisa diharapkan menghasilkan produk konsumen (meniru apa yang terjadi di Silicon Valley, Amerika Serikat).

Sehubungan dengan beban riset dosen, trend yang diinginkan adalah beban kerja yang bergeser dari sekedar mengajar kepada kegiatan riset. Artinya beban ngajar maksimal sekitar 3-5 kredit saja per semester; sisanya sang dosen diharuskan untuk melakukan kegiatan riset sendiri, membimbing mahasiswa dan tentu menghasilkan karya ilmiah. Hal ini tentunya bisa dicapai bila memang jumlah kelas dan mata kuliah di tingkat S1 makin sedikit (karena jumlah mahasiswa mengecil populasinya), dan mahassiswa S2 yang mengambil model kuliah (course work) juga sedikit; sedangkan yang S3 memang hanya ada jenis riset saja, tidak ada kuliah sama sekali. Ini adalah cara lain yang harus ditempuh untuk mengenjot produktivitas dalam kegiatan riset dan publikasi.

Kriteria yang terakhir yaitu endowment (dana abadi), sudah dijelaskan cukup panjang lebar dalam satu artikel di blog ini sebelumnya; bila ingin membacanya silahkan lihat disini. Akumulasi dana endowment ini tentu akan memberikan keamanan finansial bagi universitas, yang dalam hal ini adalah universitas negeri yang sangat tergantung dengan komitment pendanaan dari pemerintah. Sehingga bila mendapat dana abadi yang berlimpah, akan memberikan fleksibilitas untuk pengembangan kegiatan riset dan publikasi, juga beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi.

Walhasil, bila melihat berbagai kriteria kinerja (KPI) yang diterapkan ini, yang lengkap dengan target tahun dan indikator kuantitatifnya, maka pimpinan universitas bisa membagi beban tersebut ke siapa lagi kalau bukan ke struktur di bawahnya (dekan, ketua jurusan, direktur center of excellence, kepala laboratorium dll), dan akhirnya ke masing-masing dosen. Upaya pencapaian yang sudah didapat pun bisa dimonitor per bulan, atau tiga bulan sehingga bisa segera dievaluasi bila memang kecenderungannya tidak bisa diraih; namun yang paling dihindari adalah mengubah targetnya menjadi lebih kecil atau rendah, berhubung hal ini akan menunjukkan ‘moral kerja’ yang tidak berdampak bagus secara keseluruhan. Tentu sebagai pimpinan dengan kekuasaan penuh maka sistem reward-punishment pun diterapkan berdasar indikator kuantitatif yang ditetapkan tersebut.

Menutup tulisan ini, kegelisahan Prof Dr. Hendra Gunawan dari ITB dengan tulisannya di Kompas yang berkeinginan melihat perguruan tinggi di kita bisa berkualitas, maka kriteria mengukur kualitas yang ada di satu universitas di negara jiran mungkin cocok untuk dijadikan cermin. Siapa tahu ini bisa memotivasi dan mencoba mengalahkan dengan menetapkan indikator kuantitatif yang lebih prestisius lagi.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Indonesia, Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s