Cerita Endowment Fund

Ada pepatah yang mungkin pernah anda dengar, bila ingin membangun suatu kota/daerah dirikanlah sekolah, namun bila ingin membangun suatu negara dirikanlah universitas. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya peran univesitas dalam pembangunan suatu negara/bangsa di dunia modern ini. Disamping strategis, universitas juga tentu memerlukan biaya penyelenggaraan dan investasi yang tidak sedikit, yang membuat penyelenggara serta pengelolanya kelimpungan untuk sekedar bisa impas; belum lagi kalau dituntut untuk bisa kompetitif di tingkat dunia. Dunia pendidikan tinggi kita pernah melakukan satu eksperimentasi yang sifatnya ‘keluar pakem’ dengan BHMN, walau kemudian undang-undangnya dianulir oleh mahkamah konstitusi, yang ciri khas yang diinginkan-nya adalah ‘kemandirian’ dalam hal finansial. Namun peninggalan eksperimentasi ini lebih banyak meninggalkan rasa sakit hati pada publik dengan naiknya biaya kuliah di perguruan tinggi negeri secara signifikan serta beberapa ‘inovasi’ yang memberikan kesan hanya golongan kaya saja yang bisa menikmati pendidikan tinggi. Perkembangan lain yang terjadi di negeri jiran sedikit berbeda, tiga tahun ini berbagai univesitas negeri di Malaysia aktif menggalang dana supaya bisa lebih mandiri dan bebas secara finansial di masa depan, yang dikenal dengan endowment fund.

Eksperimentasi dengan BHMN yang awalnya terjadi pada empat perguruan tinggi terbesar di tanah air ternyata menimbulkan dampak imej sosial yang susah dikendalikan. Setelah krisis finansial Asia 1997-an dengan inflasi yang tinggi dan turunnya daya beli masyarakat, maka nominal yang ditetapkan sebagai biaya kuliah yang tadinya adalah ‘penyesuaian’ menjadi beban finansial yang tidak terbayangkan bagi rata-rata keluarga yang anaknya akan mengikuti pendidikan di PT BHMN tersebut. Ditambah dengan gegap gempita ‘jalur khusus’, ataupun persaingan dapat bangku kuliah berdasar ‘penawar tertinggi’ yang akhirnya menjadi trend-setter bagi perguruan tinggi negeri lainnya, khususnya pada jurusan/fakultas tertentu.

Birokrasi kampus membela diri, bahwa jalur ujian masuk biasa pun banyak tempat tersedia dengan biaya kuliah yang relatif terjangkau, juga menjelaskan ada peluang beasiswa bila memang tidak mampu, ternyata tidak banyak berhasil menghapus kesan bahwa biaya kuliah yang makin mahal dan telah terjadi ‘komersialisasi’.  Pada saat yang sama muncul hal-hal yang ‘lucu’, dimana birokrasi universitas memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan untuk operasional kampusnya namun dilakukan dengan cara yang tradisional seperti membuat produk yang sudah ada di pasaran secara melimpah (seperti: air mineral), atau bersaing menyewakan aset untuk keperluan masyarakat (seperti: gedung untuk acara pesta). Hal ini memang menunjukkan bahwa pimpinan universitas negeri saat itu masih belum banyak memikirkan upaya kemandirian finansial yang lebih besar dan signifikan.  Masih banyak gagap-nya dengan perubahan keadaan yang cepat dan tidak punya perancangan yang berlandaskan jiwa kewirausahawanan yang dalam konteks universitas seperti halnya endowment fund.

Di belahan dunia lain endowment fund atau terjemahan bebasnya adalah dana abadi adalah suatu yang menjadi identitas kampus di universitas-universitas di Amerika Serikat, baik yang negeri maupun swasta.  Di negara maju dan berkembang lain pun sudah banyak dipraktekkan walupun kadang terbatas untuk universitas utama di negaranya saja (seperti universitas Oxford dan Cambridge di Inggris, Universitas Al Azhar di Mesir, atau NUS dan NTU di Singapura). Endowment fund terbesar sejagat dipunyai oleh Universitas Harvard dengan total dana yang dimiliki sangat fantastis US$ 32 trilyun (tinggal dikalikan kurs sekitar US$ 1 = Rp 9600 kalau mau jadikan rupiah), diikuti dengan Universitas Yale dengan nominal US$ 19 trilyun sesuai dengan laporan dari satu situs; dimana dari sepuluh jumlah terbesar di Amerika itu hanya satu universitas negeri yang masuk dalam daftar, Universitas Michigan-Ann Arbor (kekayaan US$ 7 trilyun, yang ada di ranking tujuh). Jumlah dana endowment terkecil tercatat sebanyak US$ 15 ribu yang dimiliki Providence Christian College. Bila dihitung secara rata-rata, nominal endowment perguruan tinggi di Amerika Serikat pun bukan jumlah enteng, yaitu US$ 313 ribu. Hal ini memang menunjukkan budaya sedekah dana abadi untuk pendidikan sangat kuat dan menjadi identitas stakeholders perguruan tinggi disana.

Pertanyaan berikutnya tentu, darimana duit itu didapat? Ternyata memang kebanyakan berasal dari sumbangan civitas akademika universitas bersangkutan. Baik itu berasal dari staf dosen dan administrasi, mahasiswa, alumni, simpatisan dan rekanan universitas bersangkutan. Hal yang menarik, di universitas Harvard misalnya, 70% dari penyumbang ke dana endowment nominalnya termasuk kelas recehan, yang sumbangannya kurang dari nominal US$ 500 per tahun; dan diantara mereka mayoritas adalah staf dan mahasiswa yang mau menyisihkan uang saku-nya untuk universitas tempat mereka bekerja dan belajar. Dan tentu ini akan menjadi alasan yang kuat bagi pimpinan universitas untuk mempromosikan bahwa civitas akademika mereka sendiri begitu mencintai almamater dan penyumbang setia untuk kemajuan universitasnya; dan menggunakan ini ke penyumbang potensial yang berkantung tebal. Duit ke dana endowment pun bisa didapat sumbangan dari keuntungan bersih spin-off company yang didirikan oleh universitas, misal hasil riset yang jadi paten dan dikomersialisasi yang dipasarkan oleh perusahaan yang dibuat khusus untuk itu.

Dana endowment yang besar itu biasanya didayagunakan dalam investasi jangka panjang seperti saham, obligasi, surat utang negara, proyek infrastruktur dan lainnya dimana hanya keuntungannya saja yang digunakan. Dengan kata lain nominal dana yang dikumpulkan memang menjadi dana abadi yang tidak akan dipergunakan sama sekali.  Walaupun dianggap aman, tapi tentu saja ini tidak menjadikan dana abadi akan terus bertambah, kriris keuangan Amerika tahun 2008 lalu misalnya telah menyusutkan endowment fund di semua universitas yang nilainya rata-rata berkurang antara 20-30%. Keuntungan yang didapat dari investasi itu, biasanya disalurkan kembali ke universitas dalam dua bentuk utama yaitu untuk beasiswa mahasiswa, tunjangan jabatan profesor yang prestisius serta sebagian investasi di kegiatan riset dan penelitian.

Sekitar 1,5 tahun lalu saya berbincang dengan seorang dosen tamu yang datang ke UTM dari Wellesley College dari Boston, Amerika Serikat, satu universitas swasta elit yang semua mahasiswanya perempuan. Dia cerita bahwa biaya kuliah per tahun disana adalah US$ 51 ribu, namun bila ada calon mahasiswa yang berprestasi dan diterima, dia bisa sepenuhnya ditanggung beasiswa; bila rankingnya di bawahnya namun berasal dari keluarga kurang mampu, dia cukup membayar 10% saja dari jumlah itu. Selisih duit yang kurang maupun untuk beasiswa didapat dari dana endowment universita bersangkutan. Hal yang sama untuk memberikan professorship chair, dimana kedudukan prestisius itu biasanya diberikan pada ilmuwan unggul kelas dunia yang diminta secara khusus untuk memberikan kontribusi ilmiah ke universitas bersangkutan. Maka segala pembiayaan untuk professorship tersebut berasal dari endowment fund, tentu dengan maksud untuk meningkatkan lagi reputasi dan kualitas yang ada.

Sejak tiga tahun lalu di berbagai universitas negeri di Malaysia, mulai membentuk dan mengkampanyekan endowment fund. Dari segi pembiayaan yang diterima, sebenarnya universitas negeri di Malaysia tidak mempunyai banyak kesulitan keuangan seperti negara jirannya; berhubung duit gaji pegawai, dana riset serta biaya operasional dan maintenance rutin diberikan dengan nominal yang bisa membuat mereka fleksibel bekerja dan berprestasi. Namun bila dituntut lebih dalam hal kualitas riset kelas dunia, bagaimanapun itu perlu investasi yang lebih besar lagi (jutaan ringgit atau milyaran rupiah), dimana pihak pemerintah pusat tentu tidak akan mudah mengabulkan permintaan tersebut. Misal untuk membeli alat khusus untuk keperluan laboratorium riset dengan harga RM 5 juta (sekitar Rp 15 milyar), tentu deretan permintaan ini susah untuk diluluskan. Kondisi lain adalah persaingan untuk mendapat mahasiswa terbaik (khususnya untuk S1), dengan ketersediaan pinjaman biaya kuliah dari pemerintah, mahasiswa terbaik bisa kuliah dimana yang dia inginkan; namun bila ada insentif bebas biaya kuliah di satu kampus tentu akan menimbulkan daya tarik yang susah untuk dilewatkan. Maka membentuk endowment fund sesuatu inisiatif yang cerdik untuk menangangi hal itu.

Sama seperti yang dilakukan di Amerika, universita negeri di Malaysia pun aktif melakukan penggalangan dana dan promosi untuk endowment fund. Yang paling banyak pada tahap ini adalah sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh staf, mahasiswa, alumni dan rekanan. Kultur sedekah memang belum begitu melembaga seperti di Amerika Serikat, maka cara untuk mengumpan pun dihubungkan dengan kewajiban pajak. Dalam sistem pajak penghasilan di Malaysia, maka wajib pajak bisa mendapat keringanan bayar pajak bila dia menyumbangkan 7% nominal pajak penghasilannya pada lembaga yang diakui, dalam hal ini universitas negeri. Maka rayuan membayar jumlah yang sama ke negara dari penghasilan didapat tapi disalurkan langsung ke institusi tempat bekerja menjadi daya tarik sendiri bagi staf dosen dan administasi; saat yang sama ini akan menunjukkan indikasi kesukarelaan bersedekah dan kecintaan pegawai yang mengabdi. Jenis lain sedekah pun dilakukan misal menyumbangkan royalti buku, hadiah dalam bentuk kas dari suatu perlombaan baik oleh mahasiswa atau staf, maupun kegiatan fund raising khusus untuk kampanye dan penyadaran pentingnya endowment fund.

Perkembangan dana yang dikumpulkan oleh endwoment fund di UTM pada ahir tahun 2012 lalu terdapat pada gambar di bawah ini:

endowment UTMPada tabel (nominal dalam juta ringgit) terlihat bahwa target untuk tahun 2011 yang harus terkumpul total RM 2o juta (sekitar Rp 60 milyar), ternyata terlampuai lebih dari setengahnya menjadi RM 32,7 juta. Pengeluaran yang dilakukan pun masih kecil, yaitu RM 300 ribu, dimana semua dalam bentuk beasiswa prestasi untuk sekitar 25 mahasiswa S1. Tahun 2012 jumlah penerima beasiswa drastis melonjak menjadi seratus orang lebih. Nominal beasiswa ini sangat layak untuk skala Malaysia, dimana si mahasiswa mendapatkan RM 12 ribu/tahun; suatu jumlah yang bahkan lebih besar dari pinjaman perguruan tinggi per bulan-nya (biasanya sekitar RM 700 per bulan), namun duit RM 1 ribu/bulan ini bukan pinjaman namum pemberian tanpa ikatan karena prestasi yang didapat. Dilihat dari tabel, proyeksi tahun 2020 nanti dana endowment mencapai RM 600 juta, dan alokasi untuk beasiswa mencapai RM 30 juta; dengan jumlah itu maka semua mahasiswa S1 yang masuk secara otomatis mendapat beasiswa, suatu daya tarik yang luar biasa, yang pada saat yang sama pihak universitas bisa melakukan seleksi yang ketat hanya mahasiswa berbakat dan berprestasi tinggi saja yang layak diterima.

Bila melihat fakta di atas, endowment fund bukan sekedar mendukung keamanan finansial lembaga universitas saja. Namun ini sudah menjadi indikator prestasi dan reputasi dari universitas itu sendiri. LIhat misalnya perguruan tinggi tersohor di dunia seperti Universitas Harvard, yang memang mempunyai dukungan finansial yang nyaris tak terbatas. Dengan keuntungan investasi saja, dia bisa memberikan beasiswa pada mahasiswa yang potensial berprestasi serta memberikan jabatan profesor pada pakar terunggul yang ada di dunia. Ini tentu sesuatu yang juga ingin dilakukan oleh universitas negeri di Malaysia.

Di Indonesia, sejak dua tahun lalu pihak Kemdikbud pun ‘rajin menabung’ sehingga didapatkan dana abadi mencapai Rp 12 triltun. Itu tidak lain adalah sisa anggaran pendidikan yang tidak habis, suatu berkah dari amandemen ke-4 dari UUD 45 yang mensyaratkan 20% APBN untuk pendidikan. Namun bedanya ini masih dikelola oleh pusat dan penggunaannya pun tentu pihak pusat yang bisa menentukannya; malah akan dibentuk lembaga khusus untuk menangani hal itu, yang juga menimbulkan tanda tanya pada sebagian pihak, khususnya daya tarik keuntungan investasi dari duit jumbo tersebut. Bila memang endowment fund mau juga diterapkan pada perguruan tinggi dan swasta di Indonesia, mungkin Kemdikbud bisa berbesar hati menyemaikan sedikit keuntungan dari dana abadi itu untuk mendorong pihak universitas di tanah air berlatih mandiri untuk financial security di masa depan.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

4 Balasan ke Cerita Endowment Fund

  1. Hilmi Ahmad berkata:

    bagaimana dengan http://www.lpdp.depkeu.go.id ?
    belum ramai dibicarakan sih, cuman semangatnya sama seperti bahasan diats ttg dana abadi itu

    • deceng berkata:

      bisa jadi begitu, cuman pengelolaan dan penggalangan dana endowment yang ada di Malaysia atau negara lain dilakukan di tingkat universitas secara mandiri🙂

  2. Ping balik: Cerita Indikator Kinerja Utama (KPI) bagi perguruan tinggi | Blog Catatan Ngejar Setoran

  3. Ping balik: Cerita Indikator Kinerja Utama (KPI) bagi perguruan tinggi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s