Publikasi di Jurnal Abal-Abal

Kebanyakan orang Indonesia tentu tahu bahwa Agnes Monica dan Inul Daratista bukanlah ilmuwan  bidang pertanian dengan spesialisasi dalam penginderaan jauh melalui satelit. Namun kedua nama selebritis tersebut malah muncul dalam jurnal ‘African Journal of Agricultural Research‘ (volume 7, nomor 28, halaman 4038-4044) dengan artikel ilmiah yang berjudul: “Mapping Indonesian paddy field using multiple-temporal satellite imagery”  sebagai penulis kedua dan ketiga yang tentu menunjukkan ‘kepakaran’ mereka. Berita  heboh ini pun sudah muncul di website Tempo Interaktif bulan agustus lalu (klik link-nya disini), berhubung yang menyertai Agnes dan Inul juga ada lembaga riset yang bernama ‘Institute of Dangdut’, yang beralamat di ‘Jalan Tersesat’ di Jakarta. Ini tidak lain adalah contoh paling kasar mengenai kualitas tulisan yang ada di jurnal abal-abal, yang memang tidak bisa membedakan artikel ilmiah kualitas sampah sekalipun. Tulisan ini mencoba untuk berbagi info sehubungan isu jurnal abal-abal ini muncul dengan berbagai bentuk dan sangat mudah mengelirukan akademisi yang memang maunya serba enak saja.

Artikel tentang Agnes dan Inul saya baca pertama kali dari website Scholarly Open Access (http://scholarlyoa.com) yang menyampaikan info-info tentang berbagai jurnal abal-abal sekaligus penerbit yang melakukannya. Bila dilihat gambar di bawah, maka artikel ilmiah yang ditulis oleh kedua selebritis Indonesia itu penampakkannya meyakinkan:

namun seperti dijelaskan di website yang membahas secara khusus hal itu. artikel ‘ilmiah’ itu tidak lain adalah artikel plagiat yang berasal dari artikel abal-abal lainnya yang berjudul    “Mapping Indonesian Rice Areas Using Multiple-Temporal Satellite Imagery” (bisa di unduh disini) yang sudah tebit dalam jarak sebulan sebelumnya di ‘jurnal’ Scholarly Journal of Agricultural Science (v. 2, no. 6, p. 119-125). Cerita-cerita ‘parno’ lainnya berderet di website tersebut yang membongkar modus operandi berbagai jurnal abal-abal dalam rangka mendapatkan keuntungan secara mudah dan tentu saja ilegal.

Kemudahan akses informasi melalui internet ternyata memang membuka ‘peluang bisnis’ yang menggiurkan yang sangat mungkin tidak terbayangkan oleh perancang internet sebelumnya sekalipun. Hanya dengan modal sewa tempat di server, membuat website untuk berbagai jurnal ilmiah, publikasi gratisan melalui email secara militan dan menawarkan jasa  akan memuat artikel ilmiah dari ilmuwan dan akademisi dengan cara yang lebih sederhana; maka konsumen yang intelek dan malah sebagian sudah bergelar doktor rame-rame ketipu tanpa tendeng aling-aling.

Menerbitkan artikel ilmiah di jurnal ternama memang bukan perkara mudah. Artikel yang ditulis haruslah berdasar dari riset yang aktual dan mempunyai sumbangan signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan; bila tidak memenuhi syarat itu jangan harap bisa dapat respon positif. Biasanya prosedur yang dilakukan pada jurnal ternama adalah memasukkan artikel dalam data base mereka setelah kita melakukan register sebagai penulis; kemudian kita diminta untuk up-load artikel tersebut tanpa menampilkan satupun nama penulis dan hal lain yang bisa menunjukkan identitas penulis yang akan dinilai oleh pakar lain dalam bidang yang sama (peer review). Beberapa jurnal malah lebih ketat lagi, dimana semua nama pengarang dalam daftar pustaka pun harus dihapus dan diganti dengan tahun terbit saja. Hal ini untuk menjaga objetivitas dari karya ilmiah yang dikirim, dimana pakar yang menilai memang akan memberikan jawaban jujur karena  sama-sama tidak tahu antara penulis dan penilai.

Hasil dari penilaian peer-review ini biasa didapatkan dalam ukuran bulan, paling lama sekitar tiga bulan sudah dapat jawaban yang ditunggu. Cuman terkadang isinya terasa menyakitkan, seperti need further study to complete“, nothing new“, bahkan kadang cuman satu kata saja,”rubbish“. Dengan model seleksi dan penilaian seperti ini lah yang membuat banyak ilmuwan dan akademisi stress, palagi bila penilaian prestasi hanya didasarkan pada publikasi yang dimiliki (publish or perish).

Sehingga tidak aneh adanya jalan keluar yang sama-sama menguntungkan dengan online journal, mendapat tempat. Berhubung penerbit jurnal online ini memang sangat baik hati, tidak menyusahkan dan jelas tidak akan kejam sampai mengatakan artikel ilmiah yang cape-cape ditulis dikatakan sebagai sampah.  Prosesnya pun ada miripnya, artikel dikirim (biasanya lewat email) dan tidak berapa lama kemudian muncul keputusan bahwa jurnal diterima dan akan diterbitkan bila sudah membayar biaya penerbitan. Biaya yang harus dibayar bervariasi, antara US$ 100-600, kadang tergantung panjangnya artikel, kadang juga diperhitungkan berapa banyak penulisnya dan lainnya. Tidak lupa juga penerbit menjanjikan akan mengirim edisi cetaknya bila membayar biaya cetak dan ongkos kirim (diluar biaya menerbitkan secara online). Satu hal yang memang menunjukkan jurnal ini jelas abal-abal adalah jarang sekali mereka mengirimkan laporan peer-review pada artikel yang dikirim [mudah ditebak karena mereka memang ngak akan ngerti isinya].

Lalu seperti apa penerbit yang menerbitkan jurnal abal-abal ini: empat penerbit ini yang paling populer dan aktif mencari mangsa, yaitu: 1. Academic Journal (www.academicjournals.org) [yang menerbitkan artikel Agnes dan Inul]; 2. CG Publishing (http://commongroundpublishing.com/publications/journals); 3. African World Press (www.africaworldpressbooks.com); 4. Eurojournal (http://www.eurojournals.com/)

Bila ingin melihat contoh produktivitas dari penerbit dari jurnal abal-abal, misalnya yang dimiliki oleh Eurojournals, maka daftarnya sangat mengagumkan:

1. European Journal of Scientific Research
2. International Research Journal of Finance and Economics
3. Middle Eastern Economics and Finance
4. Research Journal of International Studies
5. European Journal of Social Sciences
6. International Bulletin of Business Administration
7. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences
8. Journal of Money, Investment and Banking
9. American Journal of Scientific Research
10. International Journal of African Studies
11. International Journal of Soft Computing Applications
12. European Journal of Technology and Advanced Engineering Research
13. The Review of Financial and Accounting Studies
14. International Journal of Justice Studies and Policy
15. Bulletin of Gender Studies
16. International Journal of Emergency, Disaster and Humanitarian Studies
17. International Review of Forensic and Justice Studies
18. International Review of Health and Safety Issues
19. International Review of Science, Technology and Development
20. Intelligence and Security Review
21. Bulletin of Youth Development
22. Global Social Science Review
23. International Journal of Conflict Studies
24. International Journal of Education of Developing Areas
25. International Journal of Urban Studies and Human Ecology
26. International Review of Democracy and Security
27. Social Policy Review
28. Advances in Molecular Science
29. Advances in Horticulture
30. International Journal of Industrial Electronics and Embedded Control
31. The Journal of Innovative Research on Oncogenic Pathways

Disamping ‘orang pintar’ yang mengakali ‘orang pintar’ melalui jurnal online [keduanya jelas tidak pernah minum ‘tolak angin’, dan bisa diduga alumnus klinik tong fang]. Ada juga modus operandi yang hebat yang dilakukan. Yaitu mendompleng pada jurnal ternama yang hanya terbit dalam bentuk cetak, dan ‘si pintar’ ini dengan murah hati membuatkan edisi online-nya. Kasus yang terkenal dan kadang dianggap okay sahaja [oleh beberapa ‘orang pintar’] adalah jurnal: Archives des Sciences (http://www.archiveofscience.com/). Penampakkan websitenya ada di bawah ini:

‘si pintar’ ini memang tidak kepalang tanggung, semua dia bajak, mulai dari judul, alamat, sampai ke nomor ISSN pun dimiripkan. Cuman jurnal yang terbit di Swiss ini ternyata server-nya di Amerika, dan yang lucu kalau artikel kita diterima disuruh kirim duitnya malah ke Armenia. Hal yang unik adalah, aslinya jurnal ini hanya menerbitkan artikel dalam bidang sains saja (biologi, botani, geologi dan sejenisnya), sedangkan yang edisi online memakai prinsip ‘Palugada’ (apa yang lu mau gua ada), jadi artikel dalam bidang komputer, manajemen bahkan pendidikan pun okay-okey saja diterbitkan. Apalagi daya tarik utama dari jurnal ini adalah terdaftar sebagai jurnal yang memiliki impact factor (artinya jurnal yang artikelnya dikutif oleh artikel lain). [daftar resmi dari UKM menegaskan abal-abal-nya jurnal ini, lihat disini: http://www.ukm.my/ptsl/dropped%20journals.pdf]

Singkatnya, sudah banyak para ‘orang pintar’ (yang lupa minum ‘tolak angin’) yang jadi korban penipuan yang memang dia secara sadar lakukan sendiri, dalam rangka mencapai prestasi akademik yang ‘hebat’ karena berhasil publikasi di jurnal internasional (hanya dengan modal duit ratusan dollar amerika per artikel). Saat ini pihak universitas, dikti bahkan mahasiswa pun sudah banyak melek akan isu ini dan akan menjadikan hal ini senjata ampuh untuk menghancurkan reputasi dosen yang melakukannya. Beberapa akan muncul di media masa (cetak atau elektronik), khususnya pada kasus yang terlepas untuk ‘dilokalisir’ oleh para atasan sang dosen; yang lainnya tinggal nunggu ‘bom waktu’ saja.

Tapi tentu pembalasan dendam yang manis pada jurnal abal-abal ini sudah ditunjukkan oleh salah seorang warga negara Indonesia, dimana dia sudah berkorban paling tidak sekitar US$ 1 ribu, dengan dipublikasikannya tulisan Agnes dan Inul sebagai pakar dalam jurnal yang ngilmiah.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Indonesia, Pendidikan Malaysia. Tandai permalink.

10 Balasan ke Publikasi di Jurnal Abal-Abal

  1. Ihsan Faisal berkata:

    akhir paragraf 4 (atau 5?):
    “…akan memberikan jawaban jujur karena **tidak sama-sama tahu** antara penulis dan penilai.”

    agak aneh, karena susunan kalimatnya biasanya seperti ini:
    “…akan memberikan jawaban jujur karena **sama-sama tidak tahu** antara penulis dan penilai.”

    anyway, thanks for sharing!🙂

    • deceng berkata:

      wah maaf, segera saya perbaiki pak Ihsan. Terima kasih banyak, jabat erat🙂

      • edidul berkata:

        Maaf Pak ‘Deceng’, hanya komentar pendek. Dalam kasus ‘inul dan agnes’, mungkin yg tepat adalah ‘Artikel abal abal’ bukan ‘Jurnal abal abal’. Bisa dilihat, apakah AJAR memiliki ISSN? Berapa impact factor (IF)nya? Bandingkan IF AJAR dgn jurnal2 yg menurut Pak ‘Deceng’ bukan abal2. Jadi singkatnya, ketika suatu jurnal mempublish tulisan ‘abal abal’, tidak serta merta jurnal tersebut menjadi abal abal bukan? Kesalahan bisa terjadi dimana saja Pak, bisa saja ini ‘kecelakaan’ buat AJAR. Toh tulisan tersebut sudah diremoved dari archieve AJAR. Tetapi, terimakasih untuk tulisan di atas. Mencerahkan. Cheers🙂

      • deceng berkata:

        Pak Edi, terima kasih atas komentarnya. Saya bisa memahami apa yang anda ungkapkan, tapi saya punya pendapat lain.
        Tulisan di jurnal ilmiah yang ‘normal’ sekalipun artikelnya harus asli (bukan plagiat), metodologi dan data analisisnya betul (bukan buatan apalagi manipulasi), dan yang terutama mempunyai unsur kebaruan yang memberikan sumbangan signifikan pada perkembangan ilmu pengetahuan. kita akan kesulitan memahami, bagaimana mungkin ‘artikel ilmiah’ yang isinya plagiat (walau menggunakan nama selebritis) bisa dipublikasi? Artinya memang tidak ada pengecekan unsur plagiarisme, tidak ada penelitian terhadap kualitas metoda dan analisis yang digunakan di artikel, serta tentu laporan peer-review pun tidak dilakukan, jelas akan yang menunjukkan ‘konfirmasi’ bahwa artikel bermutu/tidak dalam bidang ilmu bersangkutan. Walaupun selain artikel Inul dan Agnes tadi di jurnal bersangkutan ternyata ada artikel lain yang serius dan hebat, saya tetap mengatakan bahwa itu memang jurna abal-abal, karena artikel yang ‘serius dan hebat’ itu pun lolos bukan karena kualitasnya, tapi karena memang “rela” membayar supaya terbit.
        Kalau satu jurnal ilmiah membuat kesalahan fatal seperti ini, maka tamat riwayatnya, tidak akan dipercaya sama sekali oleh komunitas ilmiah. Kalau ada kesalahan yang masih bisa dimaafkan pun, dia akan membuat pengumuman resmi di website/jurnal-nya dan menunjukkan bukti-bukti kenapa hal itu bisa terjadi. dalam kasus artikel Agnes dan Inul itu, apa itu dilakukan oleh jurnal bersangkutan? Apakah ada laporan peer-review ditampilkan untuk artikel abal-abal itu?
        Sebenarnya kita ngak usah berbincang tentang ini itu sih pak, jurnal ini adalah hasil karya mafia nigeria dalam rangka menjebak peneliti/akademisi yang ngebet untuk terbit di jurnal ‘ngilmiah’ walaupun bisa jadi ada beberapa artikel di dalamnya memang bagus dan bermutu (tapi dengan kejadian begini, artikel yang bagus dan bermutu pun akan dikenai cap artikel abal-abal karena memang tidak melalui proses review selayaknya).
        Mengenai ISSN, ah anda kayak ngak tahu saja, ini bisa dipesan bahkan bisa dipalsukan, ini tidak jaminan keabsahan. Juga cerita Impact Factor (IF), tidak selalu jurnal yang punya IF memang jurnal serius, ada yang memalsukan atau akhirnya ditarik oleh ThomsonReuters karena memang terbukti abal-abal. kalau mau aman, saya sarankan hanya terbitkan artikel di ISI Journal saja Pak, dijamin reputasi anda akan makin cemerlang🙂
        Ini tautannya untuk ilmu sosial: http://ip-science.thomsonreuters.com/mjl/publist_ssci.pdf

  2. Andi Anto Patak berkata:

    Bagi mereka yg sdh terbit tulisannya di jurnal internasional palsu akan membela sampai titik darah penghabisan dgn seribu satu macam alasan, salah satu di antaranya bahwa “bukan jurnalnya yg abal-abal tp yg abal-abal adalah artikelnya. Mereka tdk sadar bhw ketidaktelitian memilih tempat publikasi atau krn sengaja mengirim artikel ke jurnal jadi-jadian alias abal-abal adalah salah satu sikap ilmuwan abal-abal. Terus Maju pak Bambang.

    • deceng berkata:

      Trims komentarnya Pak Anto. Yang kasus terjerumus juga ada kok di sekitar kita, karena syarat harus pernah terbit di artikel internasional, sang ‘ilmuwan’ maen langsung kirim tanpa persetujuan penulis lainnya (dalam hal ini supervisornya); dan ini jadi trend. Sikap short-cut begini menggejala dimana-mana dan yg kebagian ‘getah’ harus menanggungnya ….😦

  3. Andi Anto Patak berkata:

    he he he. yg bpk maksud itu kawan sy pak. Sdh sy sampaikan, tp tetap ngotot dgn pendirian abal2nya.

    • deceng berkata:

      iyah kesalahan fatal dalam reputasi akademik, gara-gara itu saya mendapat beberapa email dari orang bule yang mempertanyakan hal itu; student disini pun seolah tak percaya akan hal itu. Tentu dengan telaten saya harus mengakui kesalahan fatal itu😦

  4. nafuzu berkata:

    Artikel yang sangat bermanfaat untuk mahasiswa yang baru memulai karir penulisan artikel di jurnal akademik🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s