Cerita tentang New Academia

Saya mulai kerja sebagai dosen (pensyarah) di UTM pada akhir Oktober 2008, yang ternyata merupakan tahap penting  dalam perubahan universitas ini. Tiga bulan sebelumnya jabatan rektor universitas, yang kalau di Malaysia karena mengikuti tradisi Inggris dinamakan Vice Chancellor atau Naib Canselor dalam bahasa Malaysia-nya, digantikan oleh pejabat baru. Satu kebiasaan baru yang terjadi adalah adanya pertemuan bulanan yang melibatkan seluruh staf (akademik dan non-akademik) di satu aula besar (biasa dilakukan di Dewan Sultan Iskandar) dan secara langsung juga dilihat oleh staf UTM yang berada di kuala lumpur melalui video conference, dimana sang rektor memberikan kuliah umum.

Pertemuan bulanan tersebut berisi penyampaian informasi perkembangan universitas, kebijakan baru yang akan/sudah diimplementasikan, ataupun berbagai pencapaian yang sudah diraih. Untuk pertemuan bulanan pada awal tahun, sang rektor menyiapkannya secara khusus dimana dia menulis satu buku khas yang akan menjadi policy framework tentang rancangan pengurusan universitas dalam waktu satu tahun tersebut. Sejak tahun 2009 sudah empat buah buku yang ditulis khusus untuk hal tersebut dengan tema budaya ilmu (2009), transformasi universitas (2010), UTM’s strategic framework (2011) dan yang terakhir adalah akademia baru (2012). Buku-buku tersebut tentu menjadi sumber berharga bila yang ingin melakukan riset tentang perkembangan kontemporer universitas di negeri jiran ini. Tulisan ini akan mencoba menampilkan satu aspek yang dibahas pada buku beliau terakhir, yaitu tentang new academia.

Sudah sejak lama universitas dianggap sebagai institusi menara gading yang sifatnya elitis dan selektif. Universitas juga dikenal sebagai gudangnya orang pintar dan pakar, yang kadang diperlukan untuk dimintai pendapat, solusi atau sekedar mendapatkan ‘legitimasi ilmiah’. Personifikasi sang pakar dari universitas (profesor) pun kadang terlihat ‘lucu’ biasanya laki-laki setengah baya dengan kaca mata besar, rambut yang berkurang, menggunakan jas lab dan menerangkan hal yang abstrak, rumit serta susah dipahami orang awam. Ilustrasi dibawah ini bisa menggambarkan hal itu:

Disamping itu juga gambar di atas menggambarkan kenyataan yang ada di universitas seperti ilmu yang diajarkan terlalu teoritis, tidak praktikal dan kurang memberikan pengalaman yang berharga  buat mahasiswanya.  Disebutkan juga bahwa risetnya tidak adaptif, produk yang dihasilkan universitas kebanyakan tidak aplikatif,  malah lulusannya suka disebut tidak siap pakai.  Apalagi kalau melihat jeroannya, aktivitas yang disebut belajar di perguruan tingggi didominasi oleh buku teks dan diktat (yang suka lupa di-update dan  menegaskan pengajarnya  memang ‘teguh pada pendirian’), kuliah dengan model ceramah (yang diberikan oleh dosen yang minim pengalaman riset) dan  mahasiswa diuji dengan soal pilihan ganda (model yang tidak jauh berbeda dengan sekolah menengah).

Tentu tantangan untuk terus menjadikan universitas dan belajar di perguruan tinggi untuk tetap relevan adalah hal yang harus dijawab dengan sungguh-sungguh. Beberapa buku yang terbit di Amerika seperti “Engines of Innovation: The Entrepreneurial University in the Twenty-First Century” (Thorp & Goldstein, 2010) maupun “Innovative University, changing the DNA of Higher Education from the Inside Out” (Christensen & Eyring, 2011) menunjukkan dinamika perubahan yang bisa dikatakan dramatis.

Buku yang ditulis oleh Christensen dan Eyring itu misalnya menjelaskan bahwa universitas tidak bisa berdiam diri dan terus menganggap dirinya relevan tanpa melakukan inovasi yang diperlukan. Apa cara yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah menahun universitas seperti kurikulum, staf pengajar, input mahasiswa, tingkat kelulusan yang tepat waktu, fasilitas kampus dan lainnya memerlukan pola pendekatan yang inovatif. Mereka mengenalkan teori  yang disebutnya disruptive innovation, dimana ini adalah jenis inovasi yang menawarkan barang atau jasa yang tidak sebagus yang ada di pasar namun lebih terjangkau  dan mudah digunakan (berbeda dengan model sustaining innovation  yang menghasilkan sesuatu yang lebih baik). Mereka menyebut fakta tentang  online learning sebagai cara baru yang bisa diterapkan oleh universitas tradisional yang bisa berimpak banyak seperti menurunkan biaya, meningkatkan efektivitas pembelajaran, menambah frekuensi interaksi mahasiswa-dosen; yang sebelumnya dianggap sebagai hal yang dipandang sebelah mata saja karena ekosistem yang ditawarkan pertama kali sangat sederhana, namun dengan berbagai inovasi yang berkelanjutan, memberikan layanan yang lebih lengkap dan mengalahkan pesaingnya (sama seperti cerita open source).

Sedangkan Thorp dan Goldstein yang awalnya merancang materi untuk pengajaran mata kuliah kewirausahawanan (entrepreneurship) di kampusnya, dan mereka kemudian menerapkan prinsip tersebut dalam pengelolaan universitas. Keduanya akhirnya bertekad bahwa University of North Carolina, tempat mereka bekerja, harus menjadi pemimpin dalam hal entrepreneurial thinking to all aspects of a research university. Yang mendasari tentu adalah banyaknya masalah besar yang dihadapi universitas yang harus dipecahkan dengan memerlukan pendekatan baru untuk  ber-inovasi; Thorp dan Goldstein menegaskan bahwa universitas harus meninggalkan model tradisional dan hirarkis yang sebelumnya memang pernah sukses seperti dalam proyek pembuatan bom atom (Manhattan  Project).

Kalau dilihat peringkat universitas, maka yang dikemukakan oleh Thorp dan Goldstein ini menambah kelas universitas yang telah ada sebelumnya, seperti terdapat pada gambar di bawah ini:

Pada peringkat yang paling rendah adalah penawaran jurusan di tingkat sarjana dan pasca-sarjana di satu universitas dimana faktor kritis untuk mewujudkannya adalah jumlah staf pengajar yang sudah lulus S3 (kondisi yang biasa disebut teaching university); peringkat kedua adalah universitas yang mempunyai studi-studi mutakhir di tingkat pasca-sarjana yang syaratnya tentu mempunyai profesor terkenal yang aktif melakukan riset dan mempunyai karya tulis yang bermutu; peringkat ketiga adalah kategori universitas riset dimana budaya penelitian menjadi identitas utama dengan banyaknya reserach grant didapat dan publikasi internasional berkualitas, yang menonjol juga di peringkat ini adalah populasi mahasiswa riset (pasca-sarjana) sudah melebihi yang S1 (sebuah research university yang telah menjadi knowledge producer yang produktif); peringkat berikutnya menunjukkan linkage yang kuat antara universitas dan industri seperti yang kita lihat di Silicon Valley, Amerika Serikat; peringkat terakhir yang digagas dari karya Thorp dan Goldstein adalah sebuah entrepreneurial research university, dimana untuk bisa mewujudkannya harus dilakukan dengan menerapkan new academia.

Tentu menjadi tanda tanya besar, seperti apa langkah-langkah untuk mencapai tahapan entrepreneurial research university melalui new academia ini. Untuk memudahkan, ilustrasi tabel di bawah ini meliputi apa yang perlu dilakukan oleh universitas dalam rangka melakukan ‘quantum leap‘ bila memang prasyarat dan infrastruktur yang terdapat di dalamnya sudah mendukung:

Bila dilihat pada tabel di atas, maka tampak bahwa kepelbagaian sumber dan sarana menjadi kunci perwujudan ke arah akademia baru. Dalam hal tenaga pengajar misalnya, universitas tradisional hanya bersandar pada profesor saja sebagai sumber ilmu dan pengetahuan, namun dalam akademia baru yang bisa mengajar mahasiswa di kampus dilibatkan juga penemu dan wirausahawan yang akan memberikan perspektif berbeda akan realitas dunia usaha dan dunia industri. Dalam hal bahan ajar, keberadaan internet, keterlibatan dalam aktivitas magang dan mendapatkan pengalaman langsung akan menambah wawasan yang lebih lengkap dibandingkan hanya mengandalkan buku teks dan jurnal.

Dalam akademia baru juga ditekankan integrasi disiplin ilmu, tidak melulu dalam pandangan tradisional yang harus terspesialisasi dan atomistis; perkembangan iptek menunjukkan bahwa kajian lintas disiplin membawa penemuan yang sifatnya lebih signifikan dalam perkembangan pengetahuan. Bila universitas tradisional bangga dengan produk yang dihasilkan dalam bentuk gelar dan kepakaran, maka bagi akademia baru hal itu saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan dunia yang sudah global dan kompetitif, lulusan perguruan tinggi yang menguasai model-model bisnis, mempunyai jaringan internasional, mempunyai akses terhadap modal dan menerapkan budaya kewirausahawan dalam dirinya tentu akan membuat lulusan S1 lebih survive dan bisa lebih bermanfaat pada masyarakat dengan menciptakan berbagai pekerjaan baru.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s