Cerita nonggol di Metro TV

Pada tanggal 10 Maret 2012, delegasi Universitas Negeri Jakarta datang secara khusus ke Fakulti Pendidikan UTM di Johor Bahru untuk membincangkan tentang rencana seminar yang akan dilakukan. Nama seminarnya adalah International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE 2012), dimana pihak UNJ mengajak dua universitas di Malaysia sebagai partner penyelenggara, tentu karena ada label ‘internasional’ didalamnya. Singkatnya pihak UNJ meminta komitmen fakulti pendidikan dari Universiti Malaya dan Universiti Tekknologi Malaysia, untuk terlibat secara aktif sebagai panitia dan mengirimkan dosen dan mahasiswa yang akan mempresentasikan makalah dengan tema yang relevan pada seminar tersebut.

Perkembangan selanjutnya terjadi dua minggu sebelum acara seminar yang rencananya akan diselenggarakan pada 21-23 Mei 2012 di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Pihak UNJ meminta perwakilan dari dua universitas dari Malaysia untuk hadir pada rapat panitia ISQAE 2012 beberapa hari sebelum acara berlangsung yaitu 16  Mei 2012 di Jakarta. Berhubung dekan berhalangan, maka dia menunjuk saya untuk mewakili, yang sekaligus bisa digunakan untuk kesempatan pulang kampung.

Acara rapat panitia berlangsung dari siang hari sampai malam yang membahas mengenai agenda acara, update jumlah peserta dan pemakalah, persiapan tempat seminar, penyiapan prosiding makalah, urusan penjemputan tamu dari luar negeri, protokoler dan berbagai detail lainnya. Setiap hal dilaporkan oleh seksi panitia yang berhubungan secara bergantian, dan rapat dipimpin langsung Prof Dr Djaali, direktur program pasca sarjana UNJ.

Menjelang akhir sesi pertama rapat pada sore hari, seksi hubungan masyarakat mengumumkan bahwa acara seminar juga akan mendapat publikasi di satu program Metro TV. Dia merancang bahwa untuk acara tersebut, pihak Metro TV meminta ada tiga orang nara sumber untuk berbagi info mengenai ISQAE. Rapat langsung memutuskan bahwa yang tampil adalah Prof Djaali sebagai direktur pasca sarjanaUNJ, kemudian Pak Syaiful Anwar sebagai ketua panitia ISQAE, dan satu orang wakil dari universitas di Malaysia. Secara langsung saya menyatakan bahwa Dr Zawawi yang merupakan wakil dekan fakulti pendidikan UM yang asli orang Malaysia, sebagai orang yang pantas tampil di acara Metro TV tersebut.

Namun ternyata Dr Zawawi tidak bisa ikut tampil, berhubung dia sudah kembali ke Malaysia besoknya, sedangkan acara di Metro TV baru dilaksanakan pada Jumat, 18 Mei 2012 pada pagi hari. Panitia langsung menanyakan kapan saya pulang, dan saya jawab saya akan langsung ke Bandung besok; dia bilang lebih baik ditunda sehari supaya bisa ada wakil Malaysia untuk acara di Metro TV. Saya jelaskan, mungkin terdengar tidak pas (atau aneh), bila muncul wakil universitas di Malaysia, ternyata malah orang Indonesia juga. Mereka mengatakan itu tidak masalah, karena memang saya secara resmi kerja sebagai dosen di UTM, tentu disamping menampilkan kepada publik label ‘internasional’  memang nyata.

Bagian humas panitia seminar kemudian menyerahkan nomor kontak produser acara Metro TV, detail program dan kisi-kisi pertanyaan yang akan dibincangkan. Nama acaranya adalah 8-Eleven show, berisi pembahasan isu-isu aktual di pagi hari secara langsung. Pihak Metro TV pun mengontak dan akan menjemput pada Jumat pagi dari tempat penginapan.

Ini adalah penampilan perdana muncul di TV, apalagi acaranya live, tentu perlu persiapan khusus. Dari daftar pertanyaan yang diberikan isinya sangat teknis dan jlimet untuk dijawab dengan memuaskan, padahal acara bincang di TV biasanya ringan, tidak harus menampilkan argumen yang lengkap dan bagus, asal bisa menjawab secara memuaskan saja rasanya.  Jadwal yang diberikan menunjukkan total waktu tampil hanya sekitar 25 menit, dan ada tiga nara sumber, maka paling banter hanya sekitar 4-5 menit saja pertanyaan akan ditujukan ke saya, sehingga bagusnya banyak tersenyum dan menampilkan jawaban singkat saja supaya kelihatan meyakinkan.

Berhubung satu jam sebelum acara dimulai harus stand by di studio Metro TV Jakarta Barat, maka pagi-pagi sudah dijemput langsung. Sampai di gedung studio lantai bawah yang merupakan loby Metro TV sedang dilakukan persiapan, sehingga bisa melihat seperti apa suasana pengambilan gambar dalam keadaan off air, yang ternyata memang sederhana saja, hanya ada panggung yang dikelilingi oleh peralatan elekronik (kamera, lampu, teleprompter), seperti tampak pada foto kiri, dan foto kanan crew lengkap dari UNJ dengan saya saat masih off air:

Persiapan untuk tampil pun dilakukan dengan diberikan make-up (foto kiri), kemudian pemasangan mikrofon (foto kanan), sesaat sebelum dimulainya tampil secara live:

Sekitar tiga menit sebelum dimulai, si pembawa acara (Marissa Anita) memperkenalkan diri dan mendata secara singkat siapa nama dan identitas yang akan dia wawancara (tentu hal memalukan bila tidak tahu nama dan posisi yang ditanya). Sang produser juga menginstruksikan supaya dia terus berbimcang dengan para tamu, tentu maksudnya supaya nantinya percakapan terlihat alami dan lancar. Melihat hal ini memberikan pengalaman berharga, ternyata bekerja di dunia entertainment memang harus cepat menyesuaikan diri dan bisa langsung mengendalikan nara sumber. Sang anchor pun cepat mengatur susunan acara bahwa akan ditanyakan ke Prof Djaali mengenai maksud dan tujuan seminar, kemudian ke Pak Syaiful tentang acara dan peserta seminar dan akhirnya ke saya untuk menanyakan pengalaman Malaysia dalam hal isu yang diketengahkan di seminar.

Acara pun dimulai, dan mengalir seperti yang dirancang; Prof Djaali tentu mengambil porsi yang banyak menjelaskan isu pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, lengkap dengan data RAPBN untuk pendidikan, isu pemerataan pendidikan di pelosok; kemudian bersambung ke Pak Syaiful yang menyatakan pesan yang ingin dibawa kepada pengambil keputusan sehubungan dengan diadakannya seminar ini.

Dari jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh dua nara sumber itu, sangat tampak bahwa untuk media TV secara live memang tidak perlu menjelaskan banyak hal. Cukup berikan penjelasan singkat yang diminta dengan sedikit ilustrasi, dan ini pula yang akan saya lakukan saat saya akan ditanya pada segmen yang kedua.

       

Sesuatu yang tidak diduga, ternyata pembawa acara langsung menanyakan pola pembiayaan pendidikan di Malaysia. Maka dicoba disusun jawaban yang sedikit diplomatis namun menyampaikan fakta yang ada, yang menyatakan bahwa memang mereka sedikit lebih bagus dalam menerapkannya. Tentu jawaban yang disampaikan sebisa mungkin memang tidak menyinggung pihak lain, walau kadang susah juga untuk tidak menyampaikannya; namun respon dari pembawa acara ataupun nara sumber lain seiring-seirama yang sedikit melegakan bahwa jawaban yang diberikan memang tidak ngawur. Bagi yang mau melihat rekamannya, bisa dilihat di situs Metro TV disini.

Untungnya acara berakhir, dan pembawa acara mengucapkan terima kasih sehingga beban harus tampil meyakinkan pun usai. Pihak produsen kemudian muncul dan mengucapkan hal yang sama atas partisipasinya, serta mengantarkan mobil jemputan yang akan mengantarkan ke stasiun Lebak Bulus untuk balik ke Bandung. Dalam perjalanan terpikir, untung bisa terus menahan diri untuk tidak banyak menjelaskan berbagai hal, yang mungkin tidak menarik untuk tayangan live, disamping juga format media TV begitu memang lebih berkesan bila menyampaikan aspek human interest, apalagi bisa berbagi sedikit cerita tentang negeri jiran.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Indonesia, Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

2 Balasan ke Cerita nonggol di Metro TV

  1. Panji Priatna berkata:

    sayang ga nonton pas live-nya euy…..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s