Cerita studi di Flinders

Pengalaman studi pasca sarjana S2 di Flinders dulu (1999-2001) merupakan hal unik berhubung benar-benar pertama kali melihat luar negeri. Banyak kejutan budaya (culture shock) terjadi, baik dalam hal yang berkutat dengan studi, adaptasi dengan cuaca, maupun  kehidupan  dengan ‘pola barat’. Ini hanya sekedar catatan yang tertinggal setelah sepuluh tahun berlalu yang tentu masih diingat dan meninggalkan kesan yang masih enak untuk dikenang.

Pertama kali ke luar negeri dan tentu saja pertama kali menggunakan passport, adalah saat ke Australia untuk tugas belajar. Mendarat di bulan Juli 1999 artinya datang saat musim dingin (winter) yang tidak pernah dialami sebelumnya sepanjang hidup. Di airport ternyata tidak ada yang menjemput, maka inisiatif menelpon ke universitas dan diberi tahu untuk naik taksi saja ke kampus. Sepanjang perjalanan supir taksi ngajak ngobrol dengan aksen Inggris-Australia yang aneh dan susah dimengerti sambil memberikan ceramah pentingnya menggunakan sabuk pengaman (safety belt), juga hal yang pertama kali menggunakan. Sepanjang perjalanan ke kampus, maka didapati kota Adelaide yang sepi dan lebih tepat ‘kota mati’ karena khususnya tidak ada nampak anak-anak berlalu-lalang (teman yang orang Filipina di kesempatan lain mendapati hal yang sama, dan refleks mengatakan ke supir taksi bahwa harus berhenti karena pasti ada sesuatu yang serius; yang kemudian diejek oleh supir dengan mengatakan “ini hal wajar, dan kita tidak menyimpan anak-anak di lemari es supaya mereka tidak berkeliaran di jalan”).

Sesampai di kampus menjumpai pelayanan yang baru dirasakan juga: di kasih minuman hangat, ongkos taksi diganti dan diantarkan ke tempat penginapan dengan mobil. Penginapan yang sudah diatur sebelumnya adalah dengan mahasiswa dari Indonesia lainnya yaitu di kompleks apartemen yang disebut ‘kampung melayu’ (karena dulunya didominasi oleh penyewa mahasiswa Malaysia). Mulailah kehidupan sebagai mahasiswa pasca sarjana di negara orang. Dua minggu pertama adalah program pengenalan kampus yang meliputi mengenal budaya setempat dengan tinggal dengan keluarga Australia saat weekend, pelatihan komputer, English for academic purpose, informasi tentang fasilitas yang tersedia di kampus (klinik, transportasi, penitipan anak dll), pemanfaatan perpustakaan sampai kepada diajak wisata ke Hahndorf, yang merupakan ‘kampung’ Jerman yang terletak di Adelaide Hills. Hal yang ‘menyiksa’ di bulan pertama adalah usaha untuk badan bisa hangat karena suhu sering mendekati nol derajat celsius, menggunakan baju berlapis ataupun posisi dekat heater tidak banyak membantu. Baru belakangan mengetahui perlu memakai baju ketat (long john) supaya bisa terus nyaman.

Adaptasi dengan kehidupan negara maju tentu suatu yang nyaman. Mulai mengenal bagaimana menggunakan transportasi umum, dimana perlu satu jenis karcis saja yang dapat digunakan sekaligus untuk bis, trem dan kereta api. Berbelanja mingguan saat akhir pekan ke Adelaide Central Market, yang merupakan wisata belanja yang dinanti-nanti khususnya ke toko Thuan Phat yang isinya tidak jauh beda dengan toko kelontong di Indonesia karena berbagai produk tanah leluhur tersedia, dan menunggu saat pasar mau tutup dimana pedagang menawarkan buah dan sayur dengan aksen yang khas dan harga yang sangat miring (seperti anggur satu kotak, sekitar dua kilogram, cuman Aus$ 2). Ataupun ada kejadian yang tidak mengenakkan dimana diajak makan, dan saya kira itu di traktir, ternyata bayar masing-masing berhubung dia memang menggunakan kalimat ajakan yang umum, untung ada teman Indonesia yang bisa dipinjami duit saat itu (terngiang selalu ucapan English instructor saat di IALF Jakarta dulu yang berpesan “always bring money“).

Memulai studi di jurusan administrasi pendidikan di Flinders dengan mengambil metoda taught course, yaitu full kuliah selama empat semester; beban riset hanya skala kecil saja yang setara dengan enam kredit yang diambil pada dua semester terakhir dengan membuat karya tulis sekitar 12 ribu kata. Mengikuti perkuliahan di Finders ternyata di luar dugaan sebelumnya, waktu kuliah kebanyakan pada sore hari karena mahasiswa yang orang Australia yang mengikutinya rata-rata telah bekerja. Banyaknya mata kuliah yang diambil pun tidak banyak, hanya tiga buah (dengan beban masing-masing tiga kredit) per semester (saat D3 atau S1 dulu, minimal enam mata kuliah per semester; pernah ada teman yang menunjukkan transkrip S1-nya ke pembimbing dan dikomentari bahwa mahasiswa di Indonesia rata-rata ‘jenius’, karena sanggup mempelajari banyak hal). Suasana perkuliahan pun santai, lebih banyak berbagi cerita baik oleh dosen maupun antar mahasiswa, dan karena masih demam suasana belajar negara maju, lebih banyak mengangguk dan tersenyum supaya kelihatan mengikuti. Tentu saja dengan banyak diam tidak berarti emas dalam ruang kuliah di Australia, mau tidak mau harus ngomong; dan tentu ini perjuangan berat, baik mengungkapkan dalam English maupun memahami materi kuliah yang diluar bidang saya sebelumnya. Uniknya berpendapat apapun selalu dihargai, tidak untuk ditertawakan, kadang malah ‘dipuji’ dengan ungkapan, bagaimana pandangan dari negara berkembang tentang isu ini? Yang terasa berbeda adalah bekerjaran mengerjakan tugas membaca yang diberikan, si dosen mengenal dengan baik karakteristik mahasiswa dari negara berkembang yang ada di kelasnya (dari Indonesia, Filipina, Laos, Kamboja, Thailand dan Vietnam) yang tidak tahu banyak kepustakaan terbaru, sehingga diberikan tugas khusus dengan memberikan daftar bacaan untuk setiap topik bahasan yang akan dijelaskan per minggu-nya, lengkap dengan judul buku/jurnal dan halamannya. Sebelumnya teman yang sudah duluan studi menasehatkan beberapa hal yang dibahas di kelas di luar kontek pengetahuan dan masalah negara berkembang saat ini, berbagai bahan bacaan yang diberikan mengkonfirmasi hal ini.

Kuliah satu semester dilaksanakan sekitar tiga belas minggu, yang tidak diduga tidak adanya ujian di akhir semester. Penilaian hanya ditentukan dari assignment yang diserahkan ke dosen sesuai dengan syarat yang telah ditentukan sebelumnya; misalnya karya tulis minimal 2000 kata yang membahas beberapa pilihan topik yang diberikan ataupun kita bisa mengajukan topik pilihan sendiri. Rata-rata setiap mata kuliah harus menulis dua assignment antara dua ribu sampai tiga ribu kata dengan deadline di pertengahan semester dan satunya lagi akhir semester. Dengan membuat tugas menulis jelas tidak bisa dikerjakan dengan sistem kebut semalam seperti yang dikenal sebelumnya. Pada saat ditanyakan kenapa harus assignment berbentuk karya tulis bukannya ujian? Sang dosen tidak menjawab dan meminta mahasiswa orang Australia yang menjelaskan. Jawaban yang diberikan menunjukkan argumen yang kuat, dia mengatakan lebih senang dinilai dari karya tulis yang dibuat karena menunjukkan kerja keras dan proses pencarian pengetahuan dan kreativitas yang menunjukkan identitas penulisnya, dibandingkan dengan ujian yang selalunya dilupakan apa yang ditanyakan setelah hal itu usai.

Pada semester awal, mengerjakan assignment jelas tidak berpengalaman dan bertanya kanan-kiri harus seperti apa hasilnya nanti. Untung ada lembaga student learning centre, yang secara telaten membantu menjelaskan mahluk seperti apakah assignment itu, dan bagaimana membuat hal itu dengan bagus. Bantuan menulis paper ini pun dimanfaatkan untuk membereskan tulisan English denga jatah satu jam per minggu, memang dirasa kurang namun itu memberikan petunjuk penting dan rambu yang harus dipatuhi seperti menghindari plagiarisme. Yang mengherankan adalah setelah semua assignment bisa diselesaikan dengan tepat waktu, dan hasil semester pertama tidak mengecewakan, maka terdapat kesan bahwa ternyata kuliah pasca sarjana di Australian ternyata tidak susah-susah amat, malah bisa dikatakan lebih mudah dibandingkan kuliah yang pernah dialami sebelumnya. Tentu kesan seperti ini perlu ‘diverifikasi’, dan teman-teman seangkatan saat persiapan English di Jakarta dulu yang kuliah di berbagai universitas di kota lain di Australian pun mendapati hal yang sama. Artinya memang dengan rajin ikut kuliah, disiplin belajar dan mengirimkan assignment, maka tidak susah untuk bisa survive dalam program taught course di Australia. Seperti biasa ada teman lain yang memberi pandangan berbeda, kalau sekedar ngejar target lulus saja maka itu memang tidak susah, yang berat menurutnya adalah mengembangkan pola pikir, bersikap kritis terhadap bacaan dan melihat alternatif kepustakaan secara kreatif, serta  tentu membuat karya tulis yang orisinal.

Di semester-semester berikutnya berbagai mata kuliah menjadi pelatihan untuk mengetahui banyak hal dan menilai gaya kuliah yang diberikan oleh tiap dosen. Ada dosen yang polanya kaku seperti yang mengajar Human Resource Management, maupun yang jagoan bercerita di kelas seperti pada kuliah International Education Issues; ada yang mengajak untuk belajar berargumen seperti pada mata kuliah Selected Management Approaches, ada pula dosen yang mengenalkan aktivitas akademik secara lengkap melalui kuliah, presentasi sampai ikut konferensi pendidikan yaitu yang mengajar Organisation in Action. Beberapa mata kuliah yang terlihat biasa saja ternyata mengungkap lebih jauh tentang dunia administrasi pendidikan seperti pada mata kuliah Human Communication dan juga mata kuliah Planning and Management. Bila melihat keadaan sekarang, beruntung dulu mengambil mode yang full kuliah, berhubung banyak hal perlu diketahui tentang administrasi pendidikan, sehingga berbagai topik bahasan menjadi lebih dikenal dan bisa melihat gambaran besarnya (big picture) dari bidang yang dipelajari.

Di fakultas, terdapat satu kebiasaan yang selalu saya nanti-nanti, yaitu pertemuan setiap kamis pagi. Nama acara resminya adalah Thursday morning tea, dimana staf dosen dan para mahasiswa pasca sarjana berkumpul di Sturt Building bagian utara di lantai dasar yang dimulai pada pukul 9 pagi. Di mulai dengan mengobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal diselingi oleh minum kopi atau teh, dan  yang datang tidak lupa untuk membawa kueh untuk dinikmati bersama. Setelah itu, satu orang kemudian menjadi moderator yang menjelaskan perkembangan terkini yang ada di fakultas, semisal kedatangan mahasiswa baru, berita publikasi oleh staf, program yang akan dijalankan oleh fakultas; dan setiap orang secara terbuka untuk menyampaikan sesuatu pada yang hadir. Acara ngopi dan negteh ini biasanya selesai dalam waktu 30-45 menit, yang kemudian dilanjutkan dengan seminar di gedung bersebelahan. Acara seminar disampaikan secara bergantian oleh staf dan mahasiswa pasca sarjana yang menceritakan tentang proyek riset yang dia kerjakan. Kegiatan seperti ini jelas sangat positif untuk membuka perasaan isolasi bagi periset, khususnya yang mahasiswa, dimana sangat susah untuk mengkomunikasikan apa yang dikerjakan terhadap orang lain. Pada saat yang sama, pihak lain yang hadir pun terbantu mendapatkan info terbaru tentang perkembangan pengetahuan yang terjadi di fakultas dan bisa menjadi inspirasi untuk menjadi ide riset lainnya. Dalam banyak hal kegiatan seminar banyak membantu pihak yang aktif mengikuti, dimana secara ‘kebetulan’ mereka mendapati sesuatu yang bisa berguna bagi orang lain yang telah mempresentasikan ide risetnya, baik kepustakaan ataupun orang lain yang bisa dihubungi untuk mendapat informasi dan memberikan kritik.

Di samping berkutat di kampus, terdapat juga kesempatan untuk belajar tentang sistem pendidikan di Australia, dan itu merupakan bagian dari mata kuliah Australian Education Issues. Sistem perkuliahannya sangat simple, hanya empat kali temu muka di kelas, dua di minggu awal dan dua lagi di minggu akhir. Diantara keduanya adalah berkunjung ke berbagai sekolah di Australia, baik di tingkatan dasar dan menengah, maupun berkunjung ke sekolah negeri dan swasta yang elit. Setiap kunjungan di jadwal terlebih dahulu, kemudian menggunakan kendaraan van milik universitas dan disupiri oleh si dosennya, berangkat ke sekolah yang dituju. Pengalaman berkunjung ke berbagai sekolah ini amat berkesan dan mengubah pandangan saya pribadi mengenai sekolah dan pendidikan sampai saat ini. Di satu sekolah dasar di Victor Harbour, di dalam kelas dijumpai siswa yang cacat yang disatukan dengan yang normal, oleh kepala sekolah dijelaskan ini adalah cara pendidikan yang paling efektif bagi siswa normal tentang bagaimana menghayati kehidupan orang lain yang cacat. Di satu sekolah dasar yang berada di lingkungan berpendapatan rendah di Adelaide, diberitahukan kasus dimana sulitnya guru mengajar satu orang siswa laki-laki yang latar belakang keluarganya kurang beruntung dimana mulai dari bapak, paman hingga kakeknya tidak pernah bekerja secara permanen alias lebih banyak menganggur diam di rumah dan memperlakukan anaknya dengan cara yang kurang baik. Di satu sekolah menengah yang berlokasi di pusat kota, diajak ikut dalam praktikum kimia, namun dijumpai bahwa materi percobaan sangat lah sederhana walau setara kelas 2 SMA, si guru menunjukkan bahwa yang penting bukan hapal hal abstrak yang jlimet tentang ilmu kimia namun ketrampilan memecahkan masalah dengan eksperimen; di satu sekolah dasar di Noarlungga pun saya jumpai yang ‘mengherankan’ dimana anak usia SD awal, di kelas lebih banyak dikasih cerita dan membaca, menghitung pun tidak lebih dari dua puluh (kontras dengan pemahaman saya tentang isi materi sekolah dasar di kita). Di Scotch College, sekolah swasta elit di Adelaide, siswanya malah lebih banyak dalam aktivitas ‘non-kelas’: seperti olahraga, merencanakan dan melaksanakan program  dan lainnya; saat ditanyakan dari sisi akademis, guru disana tersenyum, itu hal yang relatif mudah saat ini, buku teks tinggal di simpan di server dalam bentuk digital dan mudah diakses kapan saja oleh siswa, apalagi tiap siswa punya laptop; namun pendidikan bukan hanya itu saja, juga keterampilan memimpin, critical thinking, menjadi independen, bisa berempati dan juga berkomunikasi efektif dengan siapa saja.

Tahapan akhir yang harus diselesaikan adalah membuat karya tulis yang menjadi master project. Pencarian topik yang menarik ternyata memerlukan waktu yang cukup lama karena perlu menyesuaikan antara minat studi dan bahan kajian yang mendukung. Ide didapatkan dari mengikuti seminar kamis pagi itu, dimana mantan staf dosen Flinders yang jadi staf di University New England, New South Wales, mempresentasikan risetnya mengenai pendidikan sains yang lebih humanis. Akhirnya dipilih lah topik tentang manajemen pengajaran di laboratorium sains. Berbagai kajian yang ditemukan menunjukkan bahwa program pengajaran di lab yang biasa saya lakukan  di sekolah di Indonesia memang tidak punya rujukan teoritis yang kuat, lebih banyak merupakan implikasi dari teori belajar behavioris. Bagaimana pengajaran berbasis eksperimen efektif dilakukan ternyata baru tahu bahwa itu harus terbagi dalam tiga tahapan berbeda, yaitu pengenalan, pengalaman dan investigasi. Apa yang perlu dilakukan pun sebetulnya seperti yang saya amati saat kunjungan sekolah di Adelaide itu, tidak memerlukan suatu yang harus sesuai dengan ilmu kimia yang ada di perguruan tinggi, karena memang konteksnya berbeda (misal bagaimana mungkin siswa yang tidak berpengalaman, melakukan percobaan berdasar prosedur yang ada dalam waktu yang singkat selama dua jam pelajaran, dengan menggunakan bahan dan alat yang sederhana namun hasil akhirnya ‘menemukan’ teori sains yang hebat, suatu simplifikasi yang keterlaluan). Berhubung ini pertama kalinya menulis dalam volume yang besar, maka proses penyusun memakan waktu yang panjang dan susah selesai; sampai akhirnya supervisor melihat gejala kejenuhan dan kelelahan studi, khususnya saat dia menemukan apa yang saya tulis lebih banyak kutipan-kutipan pendapat orang lain dari buku dan jurnal dibanding sintesis, komentar dan tulisan saya sendiri. Untungnya dia orang yang sabar, dan menunjukkan bagaimana hal tersebut diperbaiki.

Kehidupan di Flinders dan Adelaide pada masa itu bersama istri dan anak pertama. Hal yang berubah sejak tahun 2000 adalah makin banyaknya mahasiswa pasca sarjana dari Indonesia yang datang dengan beasiswa AusAID, karena Flinders dapat kontrak berhubung biaya kuliahnya besaing (baca: lebih murah) dibanding universitas lain di Australia. Dampak berikutnya adalah makin mudahnya berinteraksi dengan sesama orang Indonesia, sehingga yang relatif lebih lancar adalah berbahasa Indonesia dan bahasa daerah, dan bukannya berbahasa Inggris. Hal lainnya adalah, banyak mahasiswa dari Indonesia ataupun  keluarganya memanfaatkan kesempatan untuk bekerja sambilan dan menjadi ‘pemburu dollar sejati’, kadang sampai bekerja lewat tengah malam dan yang membuat tidak enak ini menjadi ‘persaingan terselubung’ tentang sebarapa banyak uang dollar yang sudah dikumpulkan. Saya sendiri paling banter hanya kerja sambilan paling banyak sebulan sekali dengan ikut menjadi penghitung stock barang di supermarket, dan tentu tidak banyak nominal dollar yang dikumpulkan, itupun lebih banyak saya belanjakan untuk beli buku sains populer. Suasana seperti ini membuat saya bertekad, bila nanti punya kesempatan studi untuk S3, saya akan memilih tempat yang tidak banyak orang Indonesianya seperti di Flinders. Bagi saya dan keluarga, pengalaman hidup bersama di luar negeri ini dinikmati dengan lebih banyak wisata dan jalan-jalan seperti ke Adelaide Botanical Garden, Sunday market, kebun binatang, museum, bahkan ke Cleland Wildlife Park yang semuanya dapat dicapai dengan bis; atau sekedar jalan-jalan di Rundle Mall menikmati fish and chips yang murah meriah (dan sedikit mewah) ataupun menyantap nasi goreng sea food di Westfield Marion.

Bersama dengan Alan Larkin (supervisor), setelah dinyatakan lulus, depan Sturt Building-July 2001.

Pos ini dipublikasikan di Student. Tandai permalink.

4 Balasan ke Cerita studi di Flinders

  1. mantap….jieu buku kang!

    • deceng berkata:

      Nuhun, enya ieu oge keur ngadagoan versi dummy-nya dari Tiga Serangkai Solo. Cenah April ieu beres dan Mei 2012 sudah ada di toko buku🙂

  2. saya berencana ambil master di australi, tepatnya di flinders, tapi kira2 kalau bahasa inggrisnya masih minim gimana ya?? dan selama ini saya membaca beberapa tulisan yang menggambarkan sulitnya hidup di negara luar, apalagi untuk mahasiswa non beasiswa, benarkah?

    • deceng berkata:

      kalau bahasa minim, dalam waktu satu semester akan berisiko kena drop out (DO).
      Untuk masuk anda disyaratkan harus punya nilai IELTS paling tidak 6,5 bila sudah mencapai itu dianggap layak.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s