Cerita dosen tamu dari Wellesley College: pengembangan mahasiswa di kampusnya

Minggu lalu seorang dosen tamu (visiting professor) yang diundang khusus untuk berbagi pengalaman dan kegiatan ilmiahnya ke UTM memberikan seminar mengenai pengembangan/pembangunan mahasiswa (student development) di kampusnya. Sebelumnya saya sudah pernah menulis hal yang sama di blog ini juga, oleh karena itu tulisan ini dibuat untuk menampilkan perspektif lain tentang hal tersebut.

Dr. Donald Leach, sang dosen tamu tersebut, memberikan penjelasan mengenai Wellesley College secara singkat seperti statistik, sejarah dan menampilkan foto-foto pemadangan indah sekitar kampusnya dalam berbagai musim. Berbagai data yang dikemukakan jelas menunjukkan kelas yang berbeda dan menunjukkan elitnya perguruan tinggi yang berfokus pada studi undergraduate (S1) ini. College yang berdiri 140 tahun lalu, luasnya mencapai 200 hektar dengan tujuh buah kompleks asrama mahasiswa ini terletak 19 km sebelah barat Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia juga menyebutkan terdapat tiga identitas utama dari Wellesley, yaitu sebagai college khusus untuk perempuan, jurusan liberal arts dan research university. Sebagai kampus tua, Wellesley College tentu mempunyai keuntungan dalam hal alumni dan jaringan yang dimiliki. Dua orang mentri luar negeri (secretary of the state) Amerika Serikat memang lulusan sana, yaitu Madeliene Albright dan Hilary Clinton; juga astronot Pam Melroy. Yang menjadi daya tarik bagi mahasiswa China adalah madame Chiang Kai Shek pun lulusan sana juga.

Populasi mahasiswa di Wellesley College sebanyak 2300 orang dan sekitar 11%-nya adalah internasional student (mahasiswa asing) yang berasal dari 80 negara. Dosen tamu mengungkapkan bahwa sedari awal, calon mahasiswa yang masuk harus menunjukkan kemandirian dengan memberikan hasil test prestasi akademik semacam SAT, yang tidak lain adalah bukti tanggung jawab mereka dalam melanjutkan pendidikan tinggi disamping  juga adanya ujian wawancara. Bila dilihat dari biaya kuliah (tuition fee) yang sangat besar yaitu US$ 51 ribu/tahun, maka ini adalah perguruan tinggi untuk kalangan yang sangat kaya saja; namun bila memang penghasilan keluarga mahasiswa memang tidak mampu, maka kampus memberikan keringanan biaya kuliah dimana mahasiswa cukup membayar maksimal US$ 4000/tahun. Tentu jadi pertanyaan, darimana perguruan tinggi swasta macam begini bisa ngasih subsidi bagi mahasiswa, dengan cukup membayar 8% saja dari biaya kuliah yang sesungguhnya? Jawabannya adalah terdapat dana abadi (endowment fund) yang memang diperuntukkan bagi pengembangan perguruan tinggi dan membantu mahasiswa yang tidak mampu, yang jumlahnya mencapai US $ 1,27 miliar. Ini tentu cerita berbeda dengan heboh biaya masuk dan biaya kuliah perguruan tinggi di Indonesia yang selalu menjadi kabar menyakitkan bagi banyak lapisan masyarakat; universitas negeri di Malaysia pun sudah mulai secara perlahan untuk menabung bagi endowment fund, sehingga diproyeksikan dalam waktu sepuluh tahun mahasiswa S1 tidak perlu bayar biaya kuliah sama sekali, yang berdampak pihak universitas hanya akan merekrut mahasiswa yang terbaik secara akademik saja.

Fasilitas buat student dengan biaya kuliah yang besar tentu sangat berkualitas. Dia menyebutkan bahwa jumlah mahasiswa per kelas antara 15-18 orang saja; secara total rasio antara dosen dan mahasiswa pun sangat rendah 1:8.  Secara total terdapat seribu lebih mata kuliah dan 50 lebih jurusan di tingkat S1 yang di berikan oleh 300 lebih dosen (50% lebih adalah perempuan). Satu jaminan keistimewaan yang diberikan dalam hal staf pengajar adalah mahasiswa tidak akan pernah diajar di kelas oleh asisten dosen. Hal ini tentu upaya penjaminan mutudan perlunya pengelolaan yang efektif, karena di saat yang sama dosen maksimal hanya mengajar dua mata kuliah saja per semester (karena dia juga mendapat beban kerja untuk melakukan riset dan target publikasi).

Bagaimana proses pengembangan mahasiswa di Wellesley College? Dr. Leach menjawab secara sederhana bahwa “kami percaya dengan mahasiswa”. Suatu pernyataan yang menunjukkan nilai dan budaya barat yang sudah melembaga di institusinya. Mahasiswi diberi kebebasan untuk ikut bergabung dalam klub mahasiswa yang jumlahnya mencapai 180 organisasi lebih (mulai dari seni, olahraga, debat sampai klub robot serta teknologi informasi). Bahkan mahasiswa pun diberikan tempat (perwakilan) dan punya hak suara dalam berbagai lembaga yang mengatur kampus seperti badan penerimaan mahasiswa baru, komite seleksi staf pengajar, komite kurikulum dan dewan tertinggi kampus (board of trustees). Saat menjelaskan hal ini, dia beralih dengan bertanya bagaimana yang terjadi di kampus UTM? Beberapa dosen yang hadir menjelaskan dengan sedikit malu-malu bahwa kondisi yang liberal di Amerika berbeda dengan di Malaysia. Ada dosen yang balik bertanya bagaimana untuk membuat mahasiswa menjadi lebih kreatif dan inisiatif? Sang dosen tamu menjawab dengan sedikit muter dengan mengatakan, “anything worthwhile take time “, dan itu harus dimulai dengan investasi kepercayaan bahwa mahasiswa bisa mencapainya, dan sarana yang tepat adalah dengan membuat mereka berinteraksi dalam asrama dan kegiatan mahasiswa.

Lebih jauh pembicara juga mengilustrasikan bagaimana hal itu bisa dimulai di kampusnya. Dimana setiap mahasiswa ditempatkan di asrama dengan orang lain yang bermaksud untuk saling mengenal dan berkomunikasi. Ini khususnya hal yang unik pada usia mulai dewasa seperti pada mahasiswa, dimana rata-rata menganggap bahwa orang lain tahu tanpa perlu diberi tahu terlebih dahulu. Terlebih dengan perkembangan teknologi yang disebutnya membentuk ‘e-mail culture‘, dimana interaksi elektronik begitu mendominasi. Hal yang tidak terelakkan bila terjadi salah pengertian; sehingga komunikasi tatap muka hal yang wajib dilakukan dan digunakan untuk mengungkapkan kesulitan, perbedaan maupun keinginan antar sesama warga kampus.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s