Cerita kunjungan ke Indonesia

Selama lima hari penuh pada minggu ketiga Juli 2011, saya mengikuti rombongan Fakulti Pendidikan UTM ke Indonesia. Yang dikunjungi adalah universitas-universitas di kota besar yang mempunyai ‘core business‘ yang sama: pendidikan. Terdapat berbagai pengalaman menarik dan unik selama berkunjung ke lima perguruan tinggi dan menemani mereka jalan-jalan. Ini hanya sekedar catatan pengalaman ngejar setoran lainnya.

Kunjungan ke Indonesia dilaksanakan di empat kota antara tanggal 17-23 July 2011, yaitu di Jakarta ke Universitas Negeri Jakarta atau UNJ; terus ke Semarang (IKIP PGRI Semarang dan IAIN Walisongo, Semarang); berlanjut ke Yogyakarta (Universitas Negeri Yogyakarta atau UNY); dan terakhir ke Surabaya (Universitas Negeri Surabaya atau Unesa). Rancangan kunjungan ini diajukan pada bulan Maret tahun ini, yang merupakan kunjungan balasan dari berbagai universitas yang sebelumnya sudah mengunjungi UTM.

Tahun sebelumnya seorang dosen dari jurusan matematika, Fakultas MIPA UNJ magang riset di UTM selama tiga bulan; dari IKIP PGRI Semarang pun dua kali melakukan lawatan ke UTM di tahun 2011 ini yang mengajak pimpinan dan stafnya, serta melakukan penandatanganan Letter of Cooperation (LoC); dengan pihak IAIN Walisongo, tahun lalu sudah mempunyai MoU (memorandum of understanding) antara kedua perguruan tinggi, dan tahun ini juga mengirim rombongan dari Fakultas Tarbiyah (pendidikan) selain itu beberapa dosennya juga studi pasca sarjana di UTM; sedangan dengan UNY, tahun lalu tiga dosennya selama sepuluh hari melakukan studi banding ke UTM tentang kurikulum pendidikan matematika antara dua universitas. Berbagai aktivitas ini jelas memberikan alasan kuat untuk melakukan lawatan balasan disamping ada beberapa agenda penting yang perlu dilakukan seperti penandatangannya LoC dengan Fakultas Tarbiyah, IAIN Walisongo, dan MoU dengan rektor UNY.

Terdapat enam orang yang bepergian dari UTM, yaitu dekan, wakil dekan, dan tiga orang ketua jurusan serta saya sendiri yang secara resmi hanya disebut sebagai bagian kerjasama di tingkat fakultas. Namun secara tidak resmi juga adalah sebagai ‘penterjemah’. Ini adalah peran tidak resmi kedua yang saya alami dalam hal kunjungan kerja ke Indonesia. Sebelumnya pernah menjadi bagian dalam perundingan tentang MoU antara UTM dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), dimana terdapat pengalaman unik menjadi wakil Malaysia. Perjanjiannya adalah tentang satu ayat dalam MoU tentang mahasiswa penerima beasiswa dari Kepri, dimana disyaratkan bila lulus harus segera balik ke Kepri; oleh pejabat Dinas Pendidikan Kepri dikomentari: “Jangan seperti Bambang, yang akhirnya kerja di Malaysia”.

Secara khusus dengan dua perguruan tinggi, yaitu IKIP PGRI Semarang dan UNY, dilakukan pembicaraan mengenai latihan mengajar mahasiswa UTM. Ini merupakan perkembangan baru, dimana kedua pihak mengimplementasikan perjanjian kerjasama yang telah dibuat (LoC dan MoU) dalam hal ini. Bagi mahasiswa UTM ini merupakan sarana bagi mereka untuk mengetahui konteks dan kompleksitas kerja guru di negara lain, dan tentu pengalaman berharga bagi mereka. Kedua perguruan tinggi partner pun ternyata tertarik untuk melakukan hal yang sama, apalagi mereka punya program khusus yang disebutnya menyiapkan guru untuk sekolah yang pengantarnya bahasa Inggris dan praktek mengajar di sekolah di Malaysia menjadi hal yang cocok karena pengajaran sains dan matematika masih menggunakan English di semua tingkatan sekolah. Perundingan yang dibahas diantaranya adalah kemudahan pemondokan (dimana perguruan tinggi yang menerima harus menyediakan tempat kost yang gratis sehingga mahasiswa dari Indonesia atau Malaysia tidak terlalu terbebani secara finansial); proses pendampingan mahasiswa di sekolah; penilaian praktek mengajar dan teknis administratif lainnya.

Berhubung menjadi tamu, maka seperti biasa agenda acara menjadi kewenangan tuan rumah. Tentu sebelumnya meminta beberapa hal menjadi topik perbincangan ataupun siapa yang terlibat dalam pertemuan, dalam kontek universitas ex-IKIP misalnya (UNJ, UNY dan Unesa), maka kita meminta yang menjadi partner adalah fakultas MIPA, fakultas ilmu pendidikan dan fakultas pasca sarjana. Tentu dengan maksud supaya fokus dalam hal kerjasama yang dibuat dan disesuaikan dengan anggota rombongan dari UTM yang ikut. Hal yang menguntungkan saat ini, berbagai agenda dan rancangan acara bisa terus dikomunikasikan memalui email dan SMS hingga menit-menit terakhir, suatu kemudahan yang banyak menghemat waktu dan energi antara kedua belah pihak.

Perbincangan yang selalu menjadi menu utama dalam setiap kunjungan adalah mengenai infrastruktur akademik antara kedua universitas. Dari kelima perguruan tinggi (PT) yang dilawati terlihat bahwa dari segi jumlah dosen dan mahasiswa yang ditangani volumenya lebih besar dan tentu lebih kompleks (misal di UNY diberi tahu praktek mengajar per tahunnya mengatur sampai 4300 mahasiswa, sedangkan di UTM hanya 10%-nya dari jumlah itu). Fokus studi pun menunjukkan proporsi S1 sangat dominan, terlihat dari jumlah mahasiswa dan program yang ditawarkan, namun untuk peringkat pasca sarjana lima PT yang dikunjungi tidak seberagam UTM. Untuk tahun ini, proporsi mahasiswa pasca sarjana di UTM sudah melebihi yang S1 yang jumlahnya 1100 orang; mahasiswa S2 dan S3 di UTM mencapai 1600 orang lebih (300 mahasiswa S3)  yang terbagi dalam dua belas program studi, yang dikelola oleh 55 dosen yang sudah S3 (dari total dosen di fakultas yang ada 122 orang). Informasi terakhir ini relatif ‘baru’ bari PT di Indonesia yang menunjukkan fokus universitas dalam bidang riset dan pengembangan ilmu.

Perbincangan selanjutnya adalah berbagai kemungkinan kerjasama seperti pertukaran staf pengajar dan mahasiswa, visiting lecturer/professor, external examiner, praktek mengajar, riset dan publikasi bersama. Menu kerjasama ‘dasar’ itu adalah untuk memberikan keuntungan bagi kedua universitas, misalnya dalam hal external examiner, di UTM ini akan memudahkan mencari penguji luar bagi tesis mahasiswa S3, dan saat yang sama dia menguji juga diperlakukan sebagai visiting profesor yang memberikan pencerahan mengenai riset yang dia kerjakan atau trend pengetahuan dalam bidangnya. Di beberapa universitas malah mendapat tawaran agresif lainnya seperti double degree ataupun sandwich program,  yang menunjukkan ekspansifnya universitas di Indonesia dalam mencari peluang pasar mahasiswa perguruan tinggi.

Perbincangan dengan kelima perguruan tinggi karena warga serumpun pun menggunakan bahasa masing-masing. Dan bagi saya yang memahami kedua bahasa kadang tersenyum kecil dan berusaha untuk tidak terbahak-bahak khususnya bila ada lelucon yang disampaikan dan satu pihak ‘terpaksa’ tertawa. Kejadian Ini banyak terjadi saat kunjungan di luar Jakarta, dimana perguruan tinggi yang dikunjungi dengan maksud menghargai tamu, tidak lupa untuk menampilkan lelucon, yang sayangnya sangat kental konteks daerah dan tentu sukar dipahami, tapi selalu dijawab dengan tertawa juga. Di dua PT, rombongan dari UTM memberikan presentasi yaitu, di kuliah umum di IKIP PGRI Semarang dengan menggunakan Bahasa Malaysia dan campuran Bahasa Inggris; dan seminar tentang perkembangan pendidikan matematika di Malaysia di UNY dengan English dalam rangka konferensi pendidikan matematika nasional ke-4. Bisa dikatakan bahwa bahasa pengantar memang menjadi kendala untuk bisa memahami dengan baik apa yang disampaikan.

Disamping diskusi yang bikin kening berkerut, terdapat juga selingan-selingan lain yang mungkin menarik untuk diceritakan. Yang pertama tentu adalah shopping, di setiap kota yang dikunjungi dosen Malaysia memang sudah gatal untuk berbelanja, seleranya pun beragam. Mulai dari cari koleksi barang yang elit, semisal membeli baju kaos yang eksklusif di Hard Rock Cafe Jakarta; ataupun cendera mata yang unik, untuk hal ini mereka berkunjung ke Mangga Dua di Jakarta, Malioboro di Yogya dan Jembatan Merah di Surabaya, yang dibeli pun beragam mulai dari gantungan kunci, baju batik dan magnet lemari es (fridge magnet). Kontak dengan pedagang pun terjadi dan banyak cerita unik, semisal ketidaktahuan pedagang bagaimana membujuk pembeli yang orang Malaysia, yang akhirnya menggunakan ‘kamus Upin-Ipin’ dengan menyebut ‘pakcik’ atau ‘atuk’, yang jelas bukan merayu malah membuat kurang simpatik (‘pakcik’ sebutan untuk laki-laki yang sudah tua, sedangkan ‘atuk’ untuk menunjukkan laki-laki sangat tua), beda reaksi tentunya kalau menggunakan kalimat ‘abang handsome’ (walaupun orangnya jelas sudah tua). Di Borobudur malah lebih mengagetkan lagi, dimana militansi pedagang asongan sangat agresif dan maju tak gentar sampai rombongan ngacir dengan mobil, sehingga membuat suasana tidak nyaman dan jelas tidak dinikmati.

Pada saat pertama kali mendarat di Indonesia di Jakarta dan berkunjung ke berbagai tempat, maka kesan yang muncul di benak rekan dari Malaysia adalah suasana yang hiruk pikuk dan tidak bersahabat; terlebih saat menikmati makan malam di pinggir jalan maka kedatangan pemusik jalanan yang berganti-ganti dan tidak bisa dinasehati bahwa itu sudah cukup. Namun kesan yang berbeda didapati saat di Semarang, dimana dijumpai suasana kota yang teratur, warganya ramah dan bersahabat. Lebih mengesankan lagi saat di Yogyakarta, dimana terdapat waktu satu hari untuk berwisata dan dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat eksotis: rumah Mbah Maridjan. Dengan menggunakan taksi dan dilanjutkan dengan ojeg, sampailah ke lokasi; terlebih nama Mbah Maridjan pun terkenal di Malaysia dan jadi simbol ‘lelaki sejati’ sehingga membuat penasaran mereka seperti apa kampung Mbah Maridjan yang kena bencana Gunung Merapi itu. Menampilkan lelaki gaek sebagai simbol ‘keperkasaan’ ternyata tidak hanya dominasi Indonesia saja, di Malaysia pun terjadi seperti kedua foto di bawah ini:

             

Hal unik lainnya bagi orang Malaysia yang saya dampingi adalah moda transportasi yang digunakan. Di Jakarta mereka ‘heran’ dengan bajay, dan ingin mencobanya; di Yogyakarta, mereka menjumpai becak-ojek (becak dengan sepeda motor dipinggirnya).  Hal yang unik menurut mereka adalah angkutan kota (angkot), sistem transportasi umum yang memang tidak terdapat di Malaysia. Potret kemiskinan yang dijumpai di berbagai kota adalah pengemis dengan berbagai penampilan, ada yang membuat rasa belas kasihan seperti menggendong anak kecil atau bayi, sesuatu yang juga tidak dijumpai di Malaysia.

Bagi saya sendiri, kunjungan ini disamping kerja juga suatu piknik gratis. Di berbagai tempat dijamu dengan bermacam makanan leluhur yang nyaris lupa rasa aslinya, tentu dengan tidak menyia-nyiakan kebaikan hati tuan rumah. Saat yang sama juga mengembangkan potensi kerjasama antara perguruan tinggi di Indonesia dengan Malaysia yang akan memberikan keuntungan bersama bagi kedua negara di masa depan.

Foto dibawah ini beberapa kenangan saat kunjungan: di UNJ dan IKIP PGRI Semarang

        

Di IAIN Walisosongo Semarang dan di kawasan Candi Borobudur

      

Di UNY dan Unesa

     

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Indonesia, Pendidikan Malaysia, UTM, Wisata. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s