Workshop dengan Petrosains

Minggu lalu selama tiga hari penuh mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Petrosains tentang pembelajaran inquiri. Ada beberapa cerita menarik yang perlu dituliskan di blog sebagai sarana berbagi. Dari namanya terlihat bahwa Petrosains memang punya hubungan dengan perusahaan minyak negara Malaysia, yakni Petronas; namun yang unik Petrosains tidak sekedar menawarkan ‘wisata ilmiah’ saja, bahkan lebih dari itu, Petrosains telah menjadi kelompok penekan (pressure group) dalam berbagai isu tentang pendidikan sains di Malaysia (sesuatu yang mungkin bisa ditiru oleh Pertamina, tentu kalau mau). Karena dalam konteks workshop, ada baiknya juga bercerita sedikit mengenai berbagai pelatihan yang pernah didapat selama kerja di Malaysia ini.

Pada pekerjaan sebelumnya sebagai guru, berbagai pelatihan yang diberikan (in-service training) sifatnya sporadis. Yang paling lama adalah pelatihan pra-jabatan selama seminggu penuh, yang isinya model indoktrinasi orde baru; selain itu juga sempat mencicipi pelatihan tentang perpustakaan dan pendidikan sains dalam kerangka PKG/MGMP. Menurut teman guru yang ditempatkan di Jawa Barat,  saya termasuk beruntung bisa terpanggil ikut pelatihan, berhubung mereka tidak mendapatkannya karena panjangnya antrian yang akan mengikuti. Hal yang terbalik saat kerja sebagai TKI di Malaysia, kebijakan universitas menyebutkan bahwa setiap dosen harus mengikuti berbagai pelatihan untuk peningkatan profesionalitas dengan total 80 jam per tahun (atau 10 hari kerja). Tidak aneh makanya pada tahun pertama kerja sebagai dosen di UTM, setiap bulannya sibuk mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari kursus induksi untuk dosen baru (selama satu minggu), pelatihan sebagai staf dosen internasional (lima hari), kursus e-learning pemula dan lanjutan (total 3 hari), kursus multimedia, pengolahan data statistik-kuantitatif (SPSS), pengolahan data kualitatif (NVivo) dan lainnya.

Ada beberapa kursus yang diselenggarakan oleh universitas sendiri, dimana satu lembaga memang tugasnya melatih para dosen, yaitu centre for teaching and learning. Namun bila dirasa ada kursus lanjutan di tempat lain yang perlu diikuti, maka hal itu bisa dilakukan dengan mengundang mereka ke UTM (seperti pelatihan oleh Petrosains), atau mengikutinya di tempat lain (luar kota atau luar negara). Berhubung keterbatasan dana (masalah klasik), maka biasanya para dosen menggunakan dana riset yang dimiliki untuk mengikuti kursus yang diperlukan tersebut. Tentu yang diharapkan makin terdedah dosen dengan berbagai pelatihan, akan membuat dia tetap segar dan tidak mudah jenuh (khususnya bagi mahasiswa yang dia ajar).

Balik ke cerita pelatihan oleh Petrosains. Pelatihan selama tiga hari itu adalah upaya penyegaran bagi para dosen di fakulti pendidikan UTM tentang pola pengajaran yang sedikit berbeda dari yang biasa terjadi di kelas. Hari pertama dikenalkan berbagai jenis pendekatan (yaitu: direct teaching, challenges dan investigation) dengan materi percobaan spining top. Tentu ini menjadi keceriaan bagi para staf pengajar untuk bermain seperti anak kecil (kembali) dan dilakukan secara serius untuk menjadi juara (karena akan diberikan hadiah). Hari kedua bermain dengan balon dan es batu, doing science dengan pura-pura menjadi peneliti untuk mengetahui sesuatu dengan hanya berbagai peralatan yang tersedia [tentu tidak boleh menjustifikasi teori canggih atau alat yang ada di lab]. Hari terakhir adalah bermain dengan lampu, cahaya dan bayang-bayang. Beberapa foto kegiatan seperti di bawah ini:

 

            

Bagi saya sendiri, dari segi kandungan materi tidak ada hal yang baru, sebelumnya saya pernah menuliskannya di blog yang lain (blog pengajaran sains) khususnya beberapa artikel yang membahas tentang pengajaran sains di laboratorium. Petrosains pun sebenarnya tidak membuat sendiri berbagai kegiatan percobaan itu, mereka mendapatkannya dengan cara mengunduh dari laman web: Institute for Inquiry. Sehingga dari segi materi percobaan/pelatihan pun saya kira Rumah Sains Ilma-nya Pak Muzi lebih orisinil dan beragam.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kenapa Petrosains (atau Petronas) mau cape-cape melakukan pelatihan semacam ini? Jawabannya memang tidak sederhana. Sistem pendidikan di Malaysia, mirip seperti negara Asia lainnya, yaitu exam oriented. Maka siswa mencurahkan energinya selama studi di sekolah melulu untuk persiapan ujian (public exam), atau dalam dalam  konteks kita adalah UN. Cara guru mengajar pun di-disain khusus untuk prestasi tinggi dalam ujian, sehingga selalu terjadi pola ngajar yang mengerucut untuk mendapatkan satu jawaban pasti. Mindset guru seperti ini tentu berat untuk diubah, apalagi ukuran kesuksesan di mata orang tua dan pemerintah hanya melulu dari hasil ujian. Contoh yang nyata adalah siswa jadinya hanya mau mendapat jawaban yang benar saja (dan takut kalau salah) artinya keinginan eksplorasi pengetahuan menjadi tidak terlatih; juga berimplikasi pada keberanian bertanya yang kurang.

Hal yang terparah terjadi pada pelajaran sains. Pemerintah Malaysia menginginkan bahwa jurusan yang diambil oleh siswa di level sekolah menengah (setara SMA di kita) perbandingannya adalah 60% sains dan 40% ilmu sosial. Namun fakta yang ada, hanya 26% saja siswa di Malaysia yang memilih jurusan sains di sekolah menengah; yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah siswa yang lulus setara SMA dan ikut persiapan masuk ke perguruan tinggi (di Malaysia disebut matrikulasi dan STPM) ternyata hanya 22%-nya lelaki. Kurangnya populasi warga masyarakat/generasi muda yang berminat terhadap sains tentu bakal jadi masalah di masa depan, misalnya susah untuk mendapatkan peneliti yang berbakat, pengembangan produk dll. Beberapa riset menunjukkan bahwa murid di Malaysia bukan tidak menyukai atau takut dengan pelajaran sains, namun mereka memilih ilmu sosial karena tantangan ujiannya relatif lebih mereka kuasai. Tentu penyebab ini sangat relevan dengan bagaimana guru mengajar di kelas pada tingkatan sebelumnya.

Melihat kondisi seperti itu maka Petrosains (atau Petronas) terpanggil berperan untuk mengubah persepsi tentang pengajaran sains di sekolah. Mudah diduga target mereka adalah guru-guru di sekolah dasar dan menengah, serta lembaga pendidikan guru (pencetak guru SD di Malaysia). Dari diskusi selama pelatihan, mereka mengakui bahwa perubahan yang ada masih lambat. Misalnya dalam satu pertemuan yang membahas tentang materi ujian nasional pelajaran sains dimana Petrosains dilibatkan, wakil dari guru sangat mendominasi jenis pertanyaan apa yang perlu muncul di dalam soal ujian, alternatif lain yang ditawarkan nyaris tidak diakomodasi. Tidak aneh akhirnya mereka mengubah strategi sedikit yaitu dengan juga mengajak pelatihan pada dosen di universitas yang juga merupakan pelatih guru di tingkat sekolah menengah disamping peneliti dan pengembang kurikulum sains di Malaysia.

Salah satu materi pelatihan yang banyak diberikan oleh Petrosains adalah pelatihan inkuiri yang berdasar dari hands-on, tentu dengan maksud supaya keterlibatan peserta secara menyenangkan,  melakukan sendiri kemudian menampilkan hasilnya akan memberikan pencerahan dan sekaligus peneguhan akan perlunya hal ini diterapkan pada calon guru. Bermain dengan inkuiri walaupun dengan materi yang sederhana dan remeh-temeh, tentu suatu pengalaman belajar yang ‘membahayakan’ (apalagi bila pesertanya para doktor pendidikan), dimana kewibawaan pengetahuan dipertaruhkan untuk mencoba hal baru dan tidak pernah terpikir sebelumnya (karena isi materinya buat murid sekolah). Namun tanggapan selama tiga hari, walaupun melelahkan, penuh dengan keceriaan dan tertawa lepas akan berbagai tantangan eksperimen ‘jadi-jadi-an’ itu. Hal yang ‘serius’ dalam pelatihan adalah aspek komunikasi dalam pengajara inkuiri, bukan suatu yang aneh karena memang siswa kita di sekolah (baik di Malaysia ataupun di Indonesia) tidak terlatih (atau dilatih) untuk melakukannya.

 

Dalam kerangka yang terbatas saya dulu pernah memberikan pelatihan kepada guru sains mengenai hal ini dan lebih kurang menjumpai reaksi yang sama pada guru-guru di Indonesia. Dugaan saya pun lebih kurang sama seperti yang dilakukan Petrosains sekarang, yaitu perlunya mengenalkan pelatihan inkuiri yang ‘main-main’ ini kepada dosen-dosen pendidik guru di Universitas. Bila mereka terdedahkan, paling tidak mereka punya pengalaman dan mau mencobanya kepada calon guru akan sisi lain dari pelajaran sains yang memang ternyata menyenangkan.

Bila melihat acara ‘main-main’ oleh Petrosains, terlihat bahwa Petronas punya arah yang jelas dalam hal kegiatan CSR-nya (corporate social responsibility). Kalau anda sempat ke Kuala Lumpur dan mengunjungi kompleks Menara Petronas, di gedung KLCC lantai 4, Petronas menyediakan hampir setengah hektar (daerah prestisius dan paling mahal se Malaysia) ruang khusus untuk peragaan sains yang dikelola oleh Petrosains. Yang fenomenal dari pajangan yang ada di Petrosains adalah Oil Rig (pengeboran minyak) yang ditampilkan dalam ukuran sebenarnya. Pihak Petrosains pun menyediakan fasilitas khusus bila anda menjadi anggota Petrosains (RM 50/tahun per keluarga dengan dua anak), dimana salah satu keuntungannya adalah bisa mengunjungi pusat sains di luar Malaysia (Singapura, Amerika atau Eropa) dengan harga miring.

Sebagai penutup, dulu saya punya teman dekat yang dapat amanah menjadi salah seorang pengurus yayasan Pertamina, beliau tadinya mau mengubah imej Pertamina, dari sekedar perusahaan yang mensponsori berbagai balap mobil yang tidak jelas, kepada sesuatu yang lebih edukatif dan mencerahkan bagi bangsa; sayang tidak tahu lagi perkembangannya saat ini, apakah memang sudah berjalan atau malah mampet. Kalau mau Pertamina bisa belajar banyak ke Petronas dengan Petrosains-nya.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

7 Balasan ke Workshop dengan Petrosains

  1. Ping balik: Workshop dengan Petrosains « Mgmpipacimahi's Blog

  2. dari kisa pelatihan yang dilukiskan diatas memang bengitu indah, namun yang menarik dari kegiatan tersebut adalah partisipasi aktif petrosains dalam mengembangkan pendidikan melalui model pembelajaran alami, konsep seperti ini sangat pundamental untuk guru atau tenaga pendidik, dengan pertimbangan, agar pendidik mampuh memahami siswa dalam proses belajar mengajar sehingga tidak terjadi stres pada proses pembelajar, pembelajar alami dengan model bermain yang mampuh melakukan transfer ilmu pengetahuan suatu hal yang jarang di temukan. inilah konsep yang layak untuk pelajar dalam membangkitkan animo belajar siswa.

    • deceng berkata:

      bedanya petrosains punya dukungan ‘politis’ dan dana yang lebih dari cukup; sehingga bebas bergerak🙂. Ini pun masih langkah awal, karena merubah guru bukan urusan enteng, juga di Malaysia…..

  3. fekrynurbush berkata:

    Setidaknya…, Malaysia telah berpikir dan mencoba melangkah ke sana; sementara di kita, Indonesia!?
    Emangnya ada yang memikirkan ini?

  4. Terima kasih sharingnya pak. Menarik sekali sekali.
    Mudah2an bisa memperkaya proses homeschooling yg kami jalani bersama anak2..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s