Membantu pengembangan mahasiswa

Satu mata kuliah yang ikut terlibat sebagai pengajar untuk tingkatan pasca sarjana S2 di jurusan manajemen pendidikan UTM adalah pengelolaan pembangunan mahasiswa (managing student development). Ini adalah matakuliah wajib di jurusan tersebut namun juga terbuka kepada mahasiswa jurusan lain bila memang berminat. Membincangkan berbagai teori yang berhubungan dengan hal ini tentu menarik, namun yang lebih berkesan bila menghadapi masalah dan susah untuk mencari solusi dalam membantu pengembangan mahasiswa ini. Ini adalah sekedar catatan kecil terlibat upaya pembangunan mahasiswa, yang sayangnya tidak menyenangkan, dan menunjukkan berbagai teori yang diajarkan memang punya batasan kultural.

Saat mengajarkan mata kuliah manajemen pembangunan mahasiswa, maka alokasi waktu selama empat belas minggu (ukuran satu semester perguruan tinggi kalau di Malaysia) saya bagi dalam dua bagian besar. Yang pertama (sekitar 6-7 minggu pertama) adalah membicarakan tentang teori-teori yang berhubungan dengan student development; bagian kedua adalah untuk membahas berbagai topik khas yang biasanya saya pilih sehubungan dengan masalah dan isu pengembangan mahasiswa (umumnya dalam konteks Malaysia), dimana mahasiswa yang ikut perkuliahan harus melakukan riset mengenai hal itu, membuat ringkasan secara mendalam dan mempresentasikannya di kelas.

Pada bagian pertama biasanya dipilih empat teori pembangunan mahasiswa yang dianggap cukup ‘mapan’ dalam dunia akademik. Yaitu teori yang dibuat oleh Kohlberg, Chickering, Holand dan Giligan. Mudah ditebak oleh anda, semua teori ini umumnya berasal dari cabang ilmu psikologi dan terus mengalami spesialisasi sehingga menjadi bagian yang lebih ‘mandiri’. Sebenarnya ada banyak teori lain yang juga berpengaruh terhadap teori pembangunan mahasiswa, namun dipilih keempat itu tentu dengan alasan khusus: mudah dan enak dibicarakan (he he he). Seperti umumnya teori dalam ilmu sosial, keempatnya pun sudah banyak mengalami perbaikan, penyesuaian dan pengembangan sesuai dengan tren penelitian yang terjadi.

Teori perkembangan moral kognitif dari Kohlberg merupakan yang popular, yang kalau ditelusuri lebih jauh adalah adaptasi yang dilakukan dari gurunya, yaitu Piaget, yang merupakan perintis teori belajar kognitif. Tahapan perkembangan moral pun dibuat sistem klasifikasi yang mirip seperti mentornya itu, yang relatif lebih kaku dan mempunyai batasan umur. Satu hal yang ironis, kalau melihat biografi Kohlberg, tokoh yang mengembangkan pendidikan moral ini ternyata ujung hidupnya berakhir dengan bunuh diri. Dua puluhan tahun kemudian teori ini dibantah (lebih tepatnya dilengkapi) oleh Gilligan, yang tidak lain adalah murid Kohlberg. Gilligan yang terlibat dalam pengumpulan data untuk riset Kohlberg, mendapati bahwa subjeknya rata-rata adalah laki-laki, sehingga dia seolah melihat bahwa teori yang dihasilkan mentornya bisa disebut punya ‘bias jender’. Gilligan menyusun teori moral baru yang menurut dia mewakili pandangan perempuan yang dia sebut sebagai ‘care perspective’ yang menampilkan teori pengembangan pemikiran moral yang lebih humanis.

Arthur Chickering yang pada masa awal 1960-an bekerja sebagai peneliti di Goddard College, Amerika Serikat, tentang topik evaluasi kurikulum inovatif pada mahasiswa; dari hasil risetnya banyaknya temuan yang membuat dia menyusunnya jadi sebuah buku yang berjudul “Education and Identity”. Buku ini  menjadi klasik dalam hal teori pembangunan identitas (identity development) yang disebutnya sebagai vector dimana terjadi interaksi antara diri-sendiri, keterampilan, pengetahuan dan pihak lain.  Sedangkan Holland mengembankan teori pembangunan yang bercirikan interaksi kepribadian dan lingkungan. Lebih jauh Holland mengembangkan apa yang disebutkan vocational preferences inventory dimana jenis kepribadian akan cenderung memilih karir yang bersesuaian.

Keempat teori pembangunan mahasiswa yang dicomot ini mengambarkan perubahan drastis dibanding abad sebelumnya yang berpandangan perkembangan karakter hal yang utama (in loco parentis), sehingga dikenal istilah sekolah/universitas sebagai almamater (ibu yang memelihara). Keempat teori yang berdasar riset lapangan menjadikan konsep almamater memang sudah ketinggalan jaman; dan yang susah, karena ini berdasar berbagai temuan yang konsisten maka membatahnya pun harus dengan riset yang sama kualitasnya (seperti halnya kritik Gilligan terhadap Kohlberg).

Setelah mendapat penjelasan dan diskusi tentang teori pembangunan mahasiswa tadi, pada bagian kedua perkuliahan pada mahasiswa yang tercatat, secara individu secara acak akan mendapat satu topik yang harus dibahas. Isu atau kasus khusus yang perlu dijelaskan dalam konteks yang umum seperti aktivitas kokurikuler di sekolah, service learning, apresiasi seni murid, perancangan kegiatan dan lainnya dimana mereka diharuskan menggunakan pisau analisis dari keempat teori di atas. Seperti biasa, saat sudah ke tahapan ini, banyak kesulitan dan keluhan dijumpai yang menunjukkan upaya analisis dan sintesis dimana diperlukan tahapan pemikiran yang lebih tinggi diperlukan. Hal ini untuk menunjukkan bahwa yang penting adalah kemampuan melakukan kritik, untuk mudahnya saya kasihkan ilustrasi antara Kohlber dan Giligan, dimana sang murid bisa dibilang sukses karena memperbaiki teori yang dibuat gurunya karena ketelitian kerja dan keberanian melakukan kritik terhadap teori yang mapan.

Itu bagian pertama dari cerita ini yang merupakan kisah yang terjadi di dalam ruang kuliah. Cerita lainnya adalah upaya nyata mengembangkan mahasiswa yang terjadi di luar kelas. Untuk dapat mengembangkan mereka, maka cara yang paling efektif adalah merancang aktivitas dimana mereka melakukan kerja dari awal seperti perencanaan, pengorganisasian, berhubungan dengan pihak lain sampai kepada pelaksanaan dan pelaporannya (kadang disertai dengan presentasi). Dengan cara ini mereka mendapat pengalaman belajar nyata yang biasanya menantang serta memaksa untuk kreatif dan adaptif dengan masalah yang dihadapi. Namun seperti biasa, disamping program bisa berjalan, juga dapat berdampak balik yang kadang menyakitkan.

Hari Senin di bulan Mei 2011, di pagi hari datang seorang dosen yang mengajak diskusi tentang masalah yang dia hadapi. Berhubung saya menjadi koordinator untuk satu bidang tugas di fakultas, maka lalulintas informasi dan upaya penyelesaian masalah menjadi bagian rutin untuk hal ini. Sang dosen bercerita bahwa dia ternyata baru mengetahui bahwa dia ‘dipecat’ oleh mahasiswa yang menangani satu program kunjungan; dia mencari tahu bagaimana ini bisa terjadi karena pada awalnya dia terlibat dan menjadi pengusul (dimana nama dan tanda tangannya ada di proposal) untuk kegiatan itu namun akhirnya si mahasiswa mengusulkan dosen lain untuk menyertai, bukan dirinya yang sudah membuatkan proposal. Menurut sang dosen, si ketua kegiatan kebetulan ada masalah dalam penyelesain tugas kuliah, dan tidak cukup responsif menyelesaikan hal itu, sampai ‘balasan’dari si ketua yang baru dia tahu adalah dia ‘dipecat’ itu. Si mahasiswa yang minggu sebelumnya datang ke ruangan saya, hanya cerita bahwa pendamping kegiatan dosennya berubah tanpa disertai penjelasan lain. Tentu ini menyakitkan bagi sang dosen; secara formal dia masih terlibat kecuali dia membuat surat resmi ke pimpinan fakultas bahwa dia mengundurkan diri untuk program itu, namun tanpa itu pun si mahasiswa ‘kreatif’ mencari jalan keluar sendiri.

Hari yang sama pada siangnya, saya yang kebagian kelebihan ‘kreativitas’ ini. Satu kegiatan luar kampus lainnya dimana saya akan menyertai mahasiswa namun berangkat belakangan karena ada tugas yang harus diselesaikan dahulu di fakultas, mendapat panggilan telepon yang juga menyakitkan. Sang mahasiswa beralasan bahwa saya harus mencari kendaraan sendiri untuk mencapai lokasi kegiatan, berhubung supir kendaraan yang ada tidak mau mengantar bila lewat jam 12 malam. Artinya setelah mendarat di bandara di satu negara bagian di luar semenanjung, saya harus mengupayakan mencari kendaraan sendiri untuk mencapai lokasi sebelum kegiatan dilaksanakan esok paginya. Kondisi daerahnya tidak begitu ramai, apalagi bila mencapai pedalaman, artinya mencari kendaraan yang akan mengantar akan lebih susah, mahal dan beresiko tinggi. Dengan kecewa saya katakan bahwa saya memutuskan batal untuk menyertai mereka.  Ternyata ini menimbulkan reaksi panik diantara mereka dan penanggung jawab kegiatan, sampai akhirnya merayu-rayu bahwa urusan kendaraan ada solusinya dan tidak akan ada yang ditinggalkan, semua berangkat bersama ke lokasi kegiatan walaupun sampainya lewat tengah malam.

Dua peristiwa di Senin kelabu ini membuat saya berpikir kembali tentang isi kuliah pembangunan mahasiswa; di satu sisi kita berhasil membuat mereka mandiri dalam merancang dan melaksanakan aktivitas yang diinginkannya. Pada saat yang sama, bila dirasa ada hal yang menghalangi mereka, maka pola yang digunakan sangat enteng sekali, penuhi kepentingan sendiri dan kalau perlu korbankan pihak lain, tokh mereka tidak penting dan cuma pelengkap saja (istilah keren-nya disebut ‘ngelunjak’). Kalau pake analisis si Holland, mereka sudah mencapai taraf kepribadian yang cocok dengan lingkungan yang dipilihnya; Chikering justru akan mendukung bahwa keputusan yang dibuat menunjukkan kedewasaan dan identitas; Kohlberg pun akan setuju karena ‘morality is internal, not based on external standard’; mungkin hanya Giligan yang akan membela bahwa keputusan yang dibuat si mahasiswa kepada dosen mereka tidak mencerminkan moralitas keadilan dan persamaan. Semoga anda yang menjadi dosen tidak mengalami nasib yang sama, atau paling tidak bisa mengantisipasi supaya tidak terjadi bila sudah melihat ada tanda-tanda yang tidak beres (misalnya pecat si mahasiswa duluan, seperti ritual pecat-memecat yang biasa terjadi dalam partai politik, he he he).

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Membantu pengembangan mahasiswa

  1. Ping balik: Cerita dosen tamu dari Wellesley College: pengembangan mahasiswa di kampusnya | Blog Catatan Ngejar Setoran

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s