Cerita memberikan kuliah

Setelah mengajar di universitas lebih dari empat semester (sebelumnya adalah guru SMA) akhirnya didapat pola yang dianggap lebih cocok dalam memberikan kuliah (disini istilah yang dipakai adalah ‘pengajian’, sedangkan ‘kuliah’ adalah istilah untuk pemberian materi yang berhubungan dengan pengajaran ilmu Islam; sesuatu yang terbalik dengan situasi di Indonesia). Seperti biasa saat memasuki dunia karir yang berbeda, maka try-and-error adalah prosedur alamiah yang digunakan. Terlebih saat ‘organizational memory’ yang dicoba diserap dan didaptasi sangat terbatas. Tulisan ini lebih kepada refleksi diri sendiri terhadap tanggung jawab sebagai pengajar yang bertujuan mengembangkan kapasitas intelektual mahasiswa S2 yang bermaksud untuk lulus sebagai seorang magister (di Malaysia lulusan S2 cukup disebut ‘sarjana’ saja, sedangkan kalau S1 adalah ‘sarjana muda’).

Seperti umumnya dalam organisasi di perguruan tinggi, sebagai staf saya tergabung dalam satu organisasi kecil di tingkat fakultas yang disebut jurusan dalam hal ini adalah pendidikan asas (department of educational foundation), yang kalau di Indonesia secara umum disebut jurusan ilmu pendidikan. Karena terdapat berbagai kepakaran di tingkat jurusan, maka dibuatkan panel yang menangani kelompok kepakaran tertentu. Seorang dosen biasanya masuk dalam satu kelompok panel, namun juga bisa dipinjamkan ke panel lain dimana terdapat hubungan kepakarannya. Saya sendiri masuk sebagai anggota panel pembangunan pendidikan (education and development), namun juga ikut terlibat dalam panel manajemen pendidikan (educational administration) dan panel pengukuran dan evaluasi pendidikan (educational measurement and evaluation).  Mudah ditebak, pinjam antarpanel terjadi karena kurangnya staf pengajar dengan kualifikasi S3 (standar minimal kalau mengajar mahasiswa S2). Jumlah mahasiswa pasca sarjana di fakulti pendidikan mencapai seribu seratus lebih (lebih banyak dari mahasiswa S1) dengan total staf pengajar yang sudah S3 hanya lima puluh orang, yang menunjukkan rasio dan beban kerja yang cukup berat.

Untuk lulus dalam satu keahlian di tingkat S2, seorang mahasiswa harus mempunyai prestasi bagus dalam empat mata kuliah wajib yang ditentukan oleh pakar dalam panel tadi. Selain itu terdapat beberapa mata kuliah tambahan dalam lingkup jurusan tersebut yang juga didisain oleh panel. Setiap mata kuliah mempunyai spesifikasi yang detil tentang tujuan pengajaran, beban aktivitas kuliah, rincian pengajaran setiap minggu, cara evaluasi dan bahan rujukan yang terangkum dalam dokumen yang disebut course learning outcome. Seperti yang biasa terdapat di tingkat universitas, panel lebih kepada menentukan judul mata kuliah dan beban kredit-nya saja, isi di dalamnya secara independen ditentukan oleh sang dosen, mau apapun isinya relatif tidak menjadi bahan perdebatan yang seru berhubung setiap dosen memang dianggap sudah pakar dalam bidangnya.

Untuk melengkapi isi bahan kuliah saat ini relatif lebih mudah dengan adanya internet, tinggal mengetikkan kata kunci di google maka tersedia berbagai pilihan dari berbagai sumber. Beberapa lembaga malah secara cuma-cuma memberikannya; yang paling menonjol adalah di MIT Open Course Ware. Berhubung MIT adalah universitas yang berbasis teknologi nomor wahid di dunia, maka struktur dan isi berbagai mata kuliah yang terdapat didalamnya dijadikan rujukan khususnya dalam bidang teknik. Ini jelas membuka kesempatan bagi dosen untuk ‘copy dan paste’ semua apa yang ada di MIT-OCW karena isinya yang sangat lengkap. Sayangnya MIT tidak punya fakultas dan jurusan pendidikan, sehingga tidak banyak yang bisa di ‘copas’ untuk keperluan melengkapi bahan kuliah. Model mengikuti kurikulum luar ini kadang menjadi trend sebagai modal ‘mbacot’ di beberapa sekolah, seperti ikut kurikulum singapur; padahal belum tentu gurunya di training mengikut kurikulum itu atau kualifikasinya seperti guru singapur. Pihak lain bisa mengaku sama isi kurikulumnya seperti MIT, namun kualitas pengajar dan pengajarannya bisa jadi seperti bumi dan langit.

Setelah mendapatkan bahan secara lengkap untuk satu semester, maka itu dibagi-bagi dalam berbagai topik untuk 14 minggu. Di Malaysia satu semester kuliah dilaksanakan dalam empat belas minggu, dengan adanya libur tengah semester didalamnya. Pada masa awal bertugas, mengajar satu mata kuliah di tingkat S1 dan dua buah di tingkat S2; berhubung mata kuliahnya tidak terlalu spesifik maka terdapat buku teks yang bisa langsung dipakai sebagai rujukan. Model memberikan kuliah pun dilakukan secara tradisional, dimana lebih banyak berbicara dengan dukungan presentasi power point, hand out dan diskusi terhadap satu topik khusus dalam kelompok besar, satu kelas. Setelah lewat satu semester didapati ternyata mahasiswa yang saya ajar, dalam berbagai tugas dan ujian yang diberikan tidak menunjukkan perkembangan intelektual yang memuaskan. Misalnya, diskusi di kelas lebih banyak bicara hal yang umum walaupun hand-out diberikan (artinya bahan tidak dibaca); tugas membuat paper yang membahas satu topik secara mendalam pun isinya lebih mirip buletin pemerintah tanpa berupaya untuk kritis dan cari rujukan pembanding (beberapa malah isinya plagiat); jawaban pada ujian akhir pun menunjukkan hal yang tidak kreatif  dimana jawabannya sangat mirip dengan penjelasan buku teks.

Berdasar kondisi di atas, akhirnya strategi yang dilakukan dalam memberikan kuliah diubah secara drastis.  Diatur bahwa campur tangan saya hanya maksimal di 5-6 minggu pertama saja, dengan model diberikan bahan bacaan seminggu sebelumnya, dilakukan pembahasan di kelas dan dilanjutkan diskusi. Sedangkan pada minggu ke-6 sampai minggu ke-14, mahasiswa secara acak diberikan tugas untuk membuat ringkasan sebanyak maksimal empat halaman dan kemudian dipresentasikan di depan kelas. Bila jumlah mahasiswa yang mendaftar di mata kuliah yang diberikan cukup banyak (lebih dari 20 orang), maka biasanya ini jadi tugas kelompok yang berisi dua orang. Tugas ringkasan ini harus sudah disetujui oleh dosen seminggu sebelum melakukan presentasi; artinya mereka harus jauh-jauh hari  membaca dan memahami topik bahasan, mengirimkannya secara elektronik yang akan dinilai oleh dosen apakah ini memenuhi syarat mutu atau tidak (juga untuk memeriksa bila ada plagiarisme). Bila terdapat satu orang saja mahasiswa internasional yang tidak dapat berbahasa Melayu, maka ringkasan dan presentasi harus dalam bahasa Inggris.

Dengan model seperti ini sedikit banyak membuat mereka belajar lebih efektif. Hal ini berhubung sebagai dosen saya pun harus aktif memeriksa bila ada plagiat dengan Turnitin, memberikan kritik dan komentar sebagai umpan balik (semua dilakukan secara elektronik dengan email). Pada draft ringkasan pertama atau kedua yang dikirimkan, kadang kualitas tulisannya walau hanya empat halaman tidak memuaskan. Namun dengan feedback tertulis yang diberikan, terjadi peningkatan kualitas mutu tulisan, khususnya bila umpan balik yang saya tulis mengulas secara tajam dan kritik tanpa tending aling-aling yang menunjukkan betapa malas kerja yang dilakukan dan jeleknya ringkasan yang dikirim. Banyak mahasiswa jadi lebih menyadari pola penulisan akademik sesuai APA style, bagaimana mengutip sumber, membuat struktur tulisan yang lebih baik sampai cara menulis daftar pustaka. Yang lain juga lebih paham bahwa mereka tidak bisa menganggap enteng dengan plagiarism karena ini ternyata mudah dideteksi dan bila terus dilakukan beresiko gagal dalam mata kuliah yang diikuti. Biasanya setelah ringkasan versi keempat atau kelima sudah dianggap memadai untuk dibagikan ke teman mereka dan dipresentasikan di depan kelas nantinya.

Tugas kedua yang harus mahasiswa lakukan adalah membuat paper dengan pilihan topik yang sudah ditentukan. Polanya pun mirip seperti membuat ringkasan, dimana mereka boleh mengajukan draft untuk dimintai komentar dan kritik, kemudian diperbaiki dan dikirim kembali sampai dirasa puas bahwa versi final kualitasnya baik. Setelah saya lihat lagi, tugas pertama (ringkasan dan presentasi) dan kedua ini memberikan bekal yang berharga bagi mahasiswa tentang penulisan dalam dunia akademik. Karena produk yang diharapkan dari seorang yang mengikuti studi di tingkat perguruan tinggi adalah karya tulis yang bermutu yang merefleksikan kemampuan intelektual dan pemahamannya dalam bidang kepakaran tertentu. Cara yang dilakukan ini sedikit banyak membantu mereka sejak awal akan ekspektasi mutu dan struktur yang diharapkan bisa dihasilkan bila memang mereka ingin lulus dari program studinya.

Setelah lebih dari dua semester melakukan hal ini, tanggapan dari mahasiswa menunjukkan kesan yang berbeda. Mereka jadi lebih paham akan tantangan yang dihadapi dan bagaimana mengasah kemampuan menulis yang diharapkan. Produk yang dihasilkan pun sudah mengalami perubahan, misalnya bila dulu di pengiriman awal didapati 90% karya tulis berisi plagiat namun sekarang keadaannya berbalik hanya 10% saja diperingkat awal yang masih curi-curi kesempatan dengan model ‘copy-paste’ ini. Saat ini, bila didapati satu karya tulis yang bagus, maka bisa dipastikan ciri-ciri-nya adalah itu sudah dilakukan melalui proses tulis-kirim-umpan balik-revisi yang berulang kali, dapat menemukan literatur yang relevan serta mampu melakukan sintesis.

Seperti umumnya mahasiswa, kadang fokus belajar melulu untuk mendapatkan nilai yang paling bagus (yaitu grade A+); dan kadang ini membikin kesal juga bila belum apa-apa sudah menyatakan targetnya seperti itu dan menuliskannya di email yang berisi attachment tugas mereka (seolah mengemis nilai). Tapi saya yakin, kalaupun mereka mendapatkan nilai yang diinginkan, maka hal itu tidak akan terlalu berkesan untuk dikenang dan diingat kembali oleh mereka di masa depan. Proses belajar dimana mereka mendapati tulisan yang dibuat dikomentari, diberikan kritik untuk kemudian dilakukan revisi berulang kali sampai menemukan dan menunjukkan tingkat pemahaman yang lebih baik akan memberikan hal yang berbeda dan sifatnya lebih lama menetap di dalam diri mereka.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s