Global Outreach Program di UTM

Petang minggu lalu menghadiri satu acara seminar dari UTM International Office dengan tema Global Outreach Program (GOP). Seminar ini tidak lain adalah untuk mengkomunikasikan kegiatan GOP ke berbagai pihak, khususnya sesama mahasiswa tentang apa yang telah dijalankan dan hasil yang diperoleh. Terdapat banyak hal unik dibagi dalam seminar yang dipresentasikan oleh wakil dari kelompok mahasiswa yang melakukan perjalan ke luar negeri (keluar Malaysia), mulai dari adaptasi dengan budaya berbeda, cerita rekreasi, kesulitan berkomunikasi ataupun prospek studi lebih lanjut di negara yang dikunjungi dan lainnya. Tulisan ini adalah kilasan yang didapat dari mengikuti seminar dan pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa dalam persiapan GOP.


Seperti terlihat dari dua poster di atas, Global Outreach Program (GOP) adalah program internasionalisasi untuk mahasiswa lokal (orang Malaysia) di UTM yang didisain untuk membuat mereka menjadi lebih paham dan mendapat pengalaman langsung tentang realitas internasionalisasi (atau globalisasi). Program ini dimulai tahun 2009 dengan target untuk masa itu adalah seribu mahasiswa berpartisipasi. Namun, sampai Maret 2011, ternyata pelibatan mahasiswa dalam GOP secara statistik sangat mencengangkan, dimana total terdapat 4830 orang mahasiswa (24% dari total mahasiswa yang terdaftar di UTM) yang tergabung dalam 220 kelompok yang telah melakukan kunjungan di 26 negara yang berbeda di seluruh dunia.

GOP tidak lain adalah kegiatan kunjungan ke universitas-universitas di luar Malaysia dengan mengambil masa antara tujuh sampai empat belas hari. Dalam kunjungan tersebut aktivitas yang wajib dilakukan mahasiswa adalah dalam lingkup akademik  (academic experience) seperti mengikuti kuliah, seminar, praktikum laboratorium, public lecture, diskusi antar mahasiswa, debat dan lainnya; disamping itu juga pada hari yang tersisa mereka dapat melakukan kunjungan wisata yang merupakan bagian dari pengalaman antarbudaya (intercultural exeperience) maupun melakukan kegiatan khusus seperti service learning (semacam kuliah kerja nyata kalau di Indonesia).

Mahasiswa yang berminat dalam kegiatan GOP, umumnya bekerja dalam satu kelompok (antara 10 sampai 30 orang) dari satu fakultas yang sama. Di kelompok tersebut mereka merencanakan sendiri perjalanan yang akan dilakukan (paling tidak 4-5 bulan sebelum kunjungan) dengan membuat proposal kegiatan serta mengajak satu orang dosen yang akan menjadi pembimbing kegiatan. Isi proposal kegiatan tidak berbelit, cukup berisi negara dan universitas tujuan, tentatif perjalanan akan dilakukan dari berangkat sampai pulang kembali ke Malaysia , detail kegiatan yang mencakup tempat, acara dan contact person, rincian pembiayaan dan daftar peserta serta nomor kontaknya.

Proposal diajukan melalui dekan fakultas untuk mendapat ijin dari pimpinan universitas melalui International Office. Paling cepat dalam waktu dua minggu bila detail dalam proposal meyakinkan maka ijin diperoleh. Dengan persetujuan tersebut artinya pihak universitas menyediakan setengah biaya perjalanan untuk setiap mahasiswa, dimana mereka akan diberikan antara RM 500 – RM 1000 per orang (sekitar Rp 1,4 – 2,8 juta). Sisanya tentu harus disediakan oleh si mahasiswa, dimana mereka harus kreatif melakukan pengumpulan dana.

Dalam seminar tersebut dibagi berbagai pengalaman mahasiswa dalam mencari duit. Satu kelompok bercerita mereka mendatangi ke pabrik produk konsumen yang berlokasi di sekitar Johor dan mengutarakan rencana perjalanan GOP mereka dan meminta bantuan; mereka kemudian diberikan hasil produk yang kemudian di bawa ke kampung masing-masing dan menjualnya ke penduduk kampung dengan harga korting sambil disebutkan bahwa keuntungannya untuk kesuksesan program kunjungan ke luar negara. Fund raising yang banyak dilakukan oleh kelompok mahasiswa adalah ditujukan ke dosen-dosen di UTM, mereka menawarkan mencuci mobil staf pengajar, membereskan ruangan dan file-file yang berserakan di ruangan dosen atau  menawarkan jenis masakan eksotis tertentu yang diantarkan. Ada kelompok  mahasiswa yang kreatif dalam pengumpulan dana dan mendapat hasil yang cukup lumayan dengan menawarakan jasa membersihkan mesjid; ada juga yang mengadakan pertandingan olahraga antar sekolah; sampai kepada mengumpulkan pakaian bekas dari berbagai pihak untuk kemudian dijual. Pengalaman dalam pengumpulan dana menunjukkan upaya serius dan kreatif mahasiswa untuk mewujudkan mimpinya berpetualang ke luar negeri sesuai keinginan.

Disamping upaya pengumpulan dana, mereka pun harus mulai mempersiapkan perjalanan ke universitas tujuan. Saat ini hal tersebut lebih mudah dilakukan dengan adanya internet. Universitas di luar Malaysia yang akan dikunjungi selalu biasanya mempunyai website yang akan gampang ditemukan dengan mengetik kata kunci di google; di laman webnya biasa tercantum kantor internasional atau bagian humas yang mentertakan telpon, fax dan email untuk kemudahan komunikasi. Kontak pun dilakukan terlebih dahulu secara informal yang menanyakan kesediaan untuk menerima rombongan mahasiswa UTM dalam waktu tertentu, bila mereka menyatakan kesediaan dilanjutkan dengan mengirim surat resmi dari universitas. Biasanya hal ini dilanjutkan dengan rencana detail kegiatan yang minta disediakan seperti  kegiatan kuliah umum tentang satu disiplin ilmu, penggunaan laboratorium ataupun diskusi dengan organisasi mahasiswa di universitas tujuan. Bila memungkinkan biasanya juga diminta kesediaan untuk memberikan akomodasi dan transportasi, tentu serta jaminan bila mereka berkunjung ke UTM akan mendapat kemudahan yang sama (misal pelayanan akomodasi dan transportasi diberikan secara gratis). Disamping detail kunjungan wajib, para mahasiswa pun berburu informasi tempat wisata eksotis yang lokasinya berdekatan dengan universitas tujuan, baik berupa tempat bersejarah, restoran dengan menu makanan unik, tempat shoping ataupun melihat keragaman kehidupan warga setempat.

Bila rancangan sudah terdata dengan rapih, urusan sisanya adalah administratif seperti membuat passport dan mengurus visa kunjungan; mengurus ijin pergi ke luar negeri secara resmi ke pimpinan universitas, terlebih bila kunjungan dilakukan di tengah masa perkuliahan. Juga dilakukan briefing khas, yang biasanya mengundang dosen internasional UTM untuk menceritakan tentang negara mereka seperti makanan, adat-istiadat atau  yang perlu dilakukan dalam keadaan darurat. Mereka pun perlu belanja cendera mata yang akan diberikan ke universitas tujuan; membeli tiket penerbangan dan menguruskan transportasi (meminjam bis universitas) ke dan dari bandara. Serta tidak lupa melaporkan kunjungan yang akan dilakukan pada perwakilan Malaysia di negara tujuan, supaya mereka bisa memberikan bantuan yang diperlukan bila terjadi sesuatu yang diinginkan.

Dengan selesainya berbagai persiapan maka perjalanan yang dilakukan pun sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Sebagian besar mahasiswa yang pergi ini adalah pengalaman pertama mereka keluar Malaysia, yang tentu menjadi pengalaman berkesan bagi mereka pribadi. Langkah selanjutnya setelah selasai perjalanan adalah membuat laporan yang disertai dengan bukti kunjungan dan membuat presentasi untuk seminar GOP.

Foto di atas adalah acara presentasi satu kelompok mahasiswa yang berkunjung ke Universitas Osaka , Jepang; sedangkan dibagian kanan adalah poster kunjungan kelompok mahasiswa yang pergi ke UGM, Yogyakarta, Indonesia.

Pada saat berbagi cerita di seminar tersebut, masing-masing kelompok mahasiswa menampilkan berbagai pengalaman unik yang mereka dapati saat berkunjung ke universitas di luar negeri. Yang berkunjung ke universitas di Indonesia, walaupun mempunyai bahasa dan budaya serumpun serta dibekali tontonan sinetron, namun masih bingung dengan istilah yang unik Indonesia seperti ‘kamar kecil’ (atau toilet yang di Malaysia ini disebut ‘tandas’), perkataan selamat tinggal dengan mengucapkan ‘dadah’ (yang di Malaysia artinya narkotika) ataupun dengan nominal mata uang rupiah yang terkesan sangat besar mencapai ‘ribuan’ [mungkin yang ini tidak akan terjadi lagi kalau denominasi rupiah sudah dilaksanakan].

Keempat poster di atas menunjukkan hasil kegiatan GOP yang dipamerkan selama seminar.

Kelompok yang berkunjung ke China mendapati bahwa kebanyakan makanan dan minuman disana rasanya tawar; menjadi hal yang unik saat mendapati seorang penduduk disana yang minum teh campur susu yang manis, sampai akhirnya mafhum bahwa dia ternyata adalah orang China Malaysia bukan China daratan. Kelompok yang berkunjung ke Brunei mendapati bahwa semua bangunan publik dan swasta disana harus menggunakan huruf Jawi (huruf arab yang diadaptasi) disamping menggunakan hurif romawi. Cerita dari kelompok yang berkunjung ke Jepang mendapati bahwa orang Jepang sangat ingin membantu dan menjelaskan banyak hal walau dengan keterbatasan English, yang artinya ditambah dengan ‘bahasa tarzan’ (bahasa tubuh).

Disamping berbagai pengalaman unik dan manusiawi mereka pun mengemukakan fakta menarik bagaimana staf akademik di China memang unggul dalam bidang teknik informatika; disiplin kerja yang patut ditiru kalau bekerja di laboratorium di Jepang; jaringan internasional yang kuat kalau mau menjadi seorang pakar pendidikan sains di Australia dan lainnya. Semua ini tentu membuka wawasan dan perspektif mereka akan realitas dunia global yang penuh persaingan, dan membawa pesan akan perubahan sikap dan perilaku yang harus dilakukan nantinya. Berbagai kesan dan komentar mahasiswa bisa dilihat di situs facebook tentang Global Outreach Program ini.

Berbagai pengalaman di atas menunjukkan bahwa memberikan bekal keahlian teknis dan akademik pada lulusan supaya bisa bersaing dalam pasar kerja global pada saat ini tidak lah cukup, keterlibatan mereka secara langsung dalam dunia internasional (dalam lingkup pengalaman akademis di universitas di negara asing) juga satu pengalaman berharga. Sesuatu yang sering dijadikan petatah-petitih oleh orang bule: there is no substitute for experience.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

4 Balasan ke Global Outreach Program di UTM

  1. d3bio87 berkata:

    nanti aza lah bacanya mah…………diantos cerita-cerita laiinnya….

  2. mohammadsobih berkata:

    Informasi GOP mahasiswa UTM ini bagus untuk kita buat refrensi kegiatan siswa SMA kami, karena SMA kami biasanya ada kegiatan Studi Tour, barangkali kegiatan Studi Tour bisa di buat semacam kegiatan GOP siswa SMA ke SMA daerah /kota / propinsi lain, untuk membuka wawasan siswa-siswa kita. Barang kali bapak ada informasi tentang bagaimana kegiatan siswa-siswa di SMA di Malysia mohon di informasikan. Terima kasih !!!!

    • deceng berkata:

      Kalau level SMA mungkin lebih sederhana, GOP memang harus aktivitas akademik (bukan sekedar jalan-jalan). kegiatan siswa SMA di Malaysia tidak jauh beda dengan di Indonesia🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s