Jalan-Jalan ke Gunung Kinabalu

Selain bertugas sebagai pensyarah (dosen) di UTM dengan mengajar dan membimbing mahasiswa, terdapat juga pilihan tugas lain yang membantu mengembangkan potensi mahasiswa. Salah satunya adalah menjadi felo asrama mahasiswa (residential fellow), yang biasa tugasnya dimulai saat jam kerja resmi selesai sampai ke jam kerja sebagai dosen akan bermula. Tugas utamanya adalah membantu mahasiswa dalam berbagai kegiatan yang umumnya di luar akademik, seperti dalam hal asrama, fasilitas dan kemudahannya, aktivitas olah raga dan kesenian, maupun kegiatan di luar kampus. Tulisan kali ini menceritakan tentang pengalaman ikut terlibat dalam kegiatan mahasiswa yang bersifat kegiatan di alam luar (outdoor activity) di Gunung Kinabalu, Sabah (yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan wilayah Malaysia).

Salah satu program kegiatan mahasiswa yang dicanangkan di UTM adalah ekspedisi ke Everest yang akan dilaksanakan tahun 2014. Karena persiapan ke Everest paling tidak harus dilakukan persiapan selama dua tahun, maka terdapat berbagai  aktivitas pendahuluan. Salah satunya dilaksanakan  di tahun 2011 ini, yaitu ekspedisi ke Everest Base Camp (EBC), yang merupakan pos terakhir yang biasa digunakan sebelum melakukan pendakian ke puncak tertinggi di dunia itu. Rencananya perjalanan EBC ini dilaksanakan September 2011 nanti, maka untuk itu pula perlu dilakukan seri latihan fisik dan mental. Maka sejak November 2010 lalu, telah dilakukan berbagai jenis kegiatan yang merupakan upaya persiapan untuk EBC; jadwal pun dibuat dimana kegiatan pendakian ke berbagai gunung di Malaysia dilakukan dalam rentang paling tidak 1,5 bulan sekali. Bulan Desember tahun lalu misalnya penjelajahan selama tujuh hari di daerah pegunungan Cameron Highland, Pahang; Bulan Februari tahun ini melakukan pendakian di Gunung Bintang, Kedah. Pada kedua acara itu partisipasi sebagai felo hanya mengantarkan mahasiswa dan menjemputnya kembali. Tahapan ketiga adalah pendakian ke Gunung Kinabalu, Sabah, dimana peran serta bukan sekedar mengiringi lagi, namun terlibat dalam aktivitas pendakian bersama mahasiswa.

Rada berat tadinya untuk ikut terjun melakukan pendakian ke Kinabalu, berhubung sudah lama tidak pernah melakukan kegiatan alam bebas secara serius selama dua puluh tahun lebih. Apalagi Kinabalu merupakan gunung dengan puncak tertinggi di Malaysia. Namun bayangan menikmati kegiatan ini memotivasi untuk mengetahui sejauh mana pengalaman dan menguji daya tahan setelah lama terbiasa dengan berbagai kemudahan. Melakukan kegiatan di Kinabalu tidak bisa sembarangan, jauh-jauh hari harus sudah mengajukan ijin dan menyebutkan kapan melakukan pendakian; pihak pengelola Taman Kinabalu (yang bertanggung jawab terhadap area Gunung Kinabalu) akan memberikan kata putus boleh atau tidaknya ijin diberikan; kalau pun diijinkan waktunya kadang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Hal ini berhubung begitu popularnya Kinabalu sebagai destinasi wisata jungle tracking; sebagai contohnya jatah untuk wisatawan yang mau mendaki selama bulan Januari sampai Juni tahun ini sudah penuh.

Untuk menuju ke Kinabalu, karena berdomisili di Johor Bharu, maka menggunakan pesawat terbang untuk kemudian mendarat di lapangan terbang Kota Kinabalu. Dari airport perjalanan dilanjutkan ke pusat kota (sekitar 10 menit) dengan taksi bandara, menuju pangkalan taksi Kota Kinabalu. Di terminal ini tersedia berbagai jenis mobil yang bisa disewa untuk tujuan kemanapun di negara bagian Sabah, bahkan mereka juga mau mengantarkan sampai ke Nunukan di Kalimantan Timur bila diperlukan. Taksi yang dimaksud jenisnya pun bermacam-macam, ada yang sedan ataupun toyota kijang, dan rata-rata warna taksinya adalah putih. Dari pangkalan taksi ini bergerak menuju ke kaki gunung, yang merupakan gerbang melakukan pendakian, yang ditempuh selama 2 jam (ongkosnya sekitar RM 30 per orang). Bagusnya memang sampai ke kaki gunung ini sore hari, sehingga bisa istirahat semalam sebelum melakukan pendakian besoknya. Terdapat beberapa penginapan dan restoran yang lokasinya berdekatan (sekitar 50-200 meter) dari gerbang Taman Kinabalu.

Sabtu pagi, 12 Maret 2011, menjadi hari penentuan untuk melakukan kegiatan pendakian ke Gunung Kinabalu. Terdapat beberapa gambar untuk mengilustrasikan kegiatan ini.

Gambar sebelah kiri menunjukkan proses ijin untuk melakukan pendakian; setiap orang yang mau mendaki harus melaporkan diri, menunjukkan surat ijin yang telah diberikan, membayar biaya pendakian (yang meliputi biaya penginapan, sewa guide [satu orang setiap enam orang pendaki], makan dan lainnya). Gambar sebelah kanan memberitahukan bahwa bila melakukan pendakian tanpa ijin maka akan didakwa sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Peta rute pendakian terpampang dengan jelas (gambar kiri), jalur berwarna hitam adalah jalan aspal dari Kantor Taman Kinabalu menuju pos awal pendakian (yang diantarkan dengan kendaraan milik pengelola wilayah dengan membayar ongkos) yaitu Gerbang Timpohon. Jalur pendakian yang akan dilalui adalah yang berwarna hijau, dimana biasanya tahap pertama perjalanan dari Gerbang Timpohon menuju Laban Rata. Jarak tempuhnya adalah enam kilo meter, namun karena gunung maka medannya jelas mendaki tanpa henti. Dari Laban Rata setelah cukup beristirahat, pada dini hari atau paginya biasanya pendaki melanjutkan ke puncak Gunung Kinabalu (Low’s Peak, 4095 m dpl) yang berada dalam rentang 2,5 km lagi.  Foto sebelah kanan adalah sesaat sebelum berangkat ke Timpohon dengan latar belakang Gunung Kinabalu.

Kegiatan pendakian ini dilakukan oleh empat orang, tiga dari UTM dan satu orang dari Kuala Lumpur yang menjadi semacam instruktur dan memberikan bimbingan selama kegiatan. Seperti terlihat dalam dua foto di atas, jalur pendakian terlihat sangat jelas sehingga pendaki tidak akan tersesat (walaupun tidak disertai dengan penunjuk jalan); di beberapa tempat malah permukaan tanah yang licin ditutupi dengan kayu yang menyerupai tangga untuk memudahkan pendakian.

Setiap jarak satu kilometer sejak dari Gerbang Timpohon, terdapat shelter yang merupakan bangunan permanen. Di dalamnya terdapat tempat berteduh dengan bangku dan tempat duduk, dua buah toilet duduk, papan pengumuman, tempat sampah dan keran air mentah (sumber air minum bagi hampir kebanyakan pendaki).

Satu hal yang merupakan ciri khas Gunung Kinabalu adalah gunung berbatu, jalan sepanjang pendakian setelah 3 km dari Timpohon penuh dengan batu yang berderet menyerupai tangga tidak beratur dengan medan yang terjal. Hal ini menambah tantangan berikutnya, karena pada hari Sabtu itu (yaitu sehari setelah tsunami di Jepang) cuaca saat pendakian hujan besar tidak berhenti sampai malam. Menjadikan upaya pendakian harus ekstra hati-hati karena jalur pendakian menjadi sangat licin dan jalan setapak berubah menjadi sungai kecil seperti tampak pada dua foto di atas.

Kondisi cuaca yang hujan menjadikan pada pendaki banyak menumpuk di tempat berteduh yang berharap hujan bisa cepat reda (foto sebelah kiri). Berdasar info dari pengelola pada hari itu terdapat sekitar 130 orang yang melakukan pendakian menuju puncak, dan batas terakhir untuk melakukan kegiatan adalah pukul 14.00 (dimana setelah itu Gerbang Timpohon akan ditutup). Hal ini berhubung rata-rata lama pendakian oleh wisatawan adalah enam jam untuk mencapai Laban Rata (tempat pos terakhir sebelum menuju puncak Kinabalu). Gambar sebelah kanan menunjukkan petunjuk arah yang disediakan oleh pengelola, terdapat setiap jarak 500 meter yang sudah dicapai oleh pendaki, untuk memberitahu posisi yang telah dilalui dan sekaligus memotivasi yang harus dicapai selanjutnya.

Sepanjang perjalanan menuju puncak ataupun turun dari pendakian, akan dijumpai berbagai hal yang menjadi ciri khas kehidupan alam bebas, seperti tanaman pakis (kiri) ataupun kantung semar (kanan).

Terdapat juga dua buah mahluk asli Kinabalu yang sempat di jepret saat turun dari pendakian (yang kebetulan cuacanya cerah), yaitu cacing tanah (kiri) dan tupai (kanan).

Setelah lebih-kurang enam jam melakukan pendakian dengan cuaca hujan deras yang tiada henti, jarak tempuh enam kilometer dari tempat awal pendakian (Gerbang Timpohon) pun akhirnya dicapai juga (tampaknya ini jarak 6 km paling lama yang pernah dilalui sepanjang hidup). Laban Rata adalah fasilitas pos yang luar biasa untuk kalangan wisatawan pendaki. Pos yang berada pada ketinggian 3,272 meter di atas permukaan laut tersebut memiliki fasilitas mewah setara untuk hotel berbintang, lengkap dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Terdapat berbagai kabin yang dilengkapi dengan listrik, air panas dan pemanas ruangan (heater), berhubung suhu disini bisa mencapai nol derajat celcius. Total jumlah tempat tidur yang tersedia untuk wisatawan pendaki adalah 160 buah di berbagai kabin. Terdapat juga satu buah restoran yang bisa menampung seratusan tamu yang menyediakan makanan dan minuman panas dengan menu yang beragam (nasi goreng, kari kambing, mie goreng, ayam bakar, sayuran, sandwich; minuman mulai dari kopi, teh, sirup; sampai kepada buah-buahan dan snack pun disediakan).

Seluruh fasilitas ini ternyata sudah tersedia sejak tahun 1983 lalu, sebelumnya hanya tersedia kabin sederhana sisa peninggalan Inggris. Disamping itu disini terdapat jaringan berbagai operator telepon genggam Malaysia pun tersedia dengan lengkap, sehingga bisa langsung mengirim pesan (SMS), menelpon, ataupun mau browsing internet. Untuk menjalankan dan melayani para wisatawan pendaki, di Laban Rata ini terdapat 35 orang pegawai yang menjadi penduduk musiman, mereka mulai dari resepsionis, koki, teknisi, pelayan sampai ke level manager. Ke-35 orang ini stand by di ketinggian tiga ribu meter lebih selama satu bulan dan baru digantikan oleh kelompok lainnya.

Yang menjadi unik adalah tantangan logistik untuk menjalankan restoran dan penginapan di pos terakhir ini. Hal ini sedikit terjawab saat melakukan pendakian, dimana dikagetkan saat ada dua orang porter (pembawa barang) yang membawa kasur busa ukuran besar di punggungnya saat selepas dari Timpohon. Berbarengan dengan wisatawan pendaki juga terdapat penduduk lokal yang bekerja mengantarkan berbagai keperluan turis, mereka sama-sama melakukan pendakian namun yang dibawa di punggungnya beragam, ada yang membawa satu dus buah-buahan (jeruk, pisang atau apel); yang lain membawa beras, roti, minyak goreng, sayuran dll yang merupakan pasokan bahan mentah ke restoran; dan yang mencengangkan adalah ada yang dipunggungnya membawa gas elpiji (yang berat kosongnya saja 12 kg). Tidak aneh bila harga yang harus dibayar oleh wisatawan pendaki termasuk lumayan mahal, dimana harga terendah yang mereka harus bayar adalah RM 500 per hari (sekitar Rp 1,4 juta) lengkap untuk penginapan dan makan di Laban Rata ini.

Dua foto di atas menggambarkan suasana restoran di Laban Rata yang berada di level bawah dari bangunan dua tingkat. Waktu pengambilan gambar dilakukan pada sekitar pukul delapan malam, dimana masih terdapat tamu yang meneruskan mengobrol walau acara makan malam sudah selesai.

Dua foto di atas menggambarkan suasana di Laban Rata (3270 m dpl) pada pagi hari (sekitar pukul 7), sesaat sebelum melakukan perjalanan pulang turun pendakian. Foto kiri menunjukkan tim dari UTM beserta penunjuk jalan dengan latar belakang daerah puncak Gunung Kinabalu. Sedangkan gambar sebelah kanan anggota tim lengkap dengan latar belakang kaki gunung ke arah selatan.

Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Student, UTM, Wisata. Tandai permalink.

2 Balasan ke Jalan-Jalan ke Gunung Kinabalu

  1. Reksa Heri berkata:

    Masih Kuat ! euy
    nya enya aya da restoran! he.. he.. he..

    • deceng berkata:

      maenya eleh wae ku budak ngora atuh pak guru; lamun naik masih bisa ngelehkeun nu lain, tapi pas turun gunung paling terakhir :) [asa inget baheula, dua puluh tahun lalu saat ke Gunung Pangrango-Gede tea]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s