Pengajaran studi kasus Harvard Business School

Mulai tahun akademik 2010-2011, mahasiswa S1 di UTM mendapat tambahan tantangan yang berbeda dari sebelumnya. Mereka mendapat satu materi kuliah tambahan per semester yang diberikan secara fleksibel dalam hal pembahasan dan penilaian. Walaupun sifatnya ‘suplemen’, namun hasilnya dicantumkan dalam tranksrip nilai mahasiswa, suatu yang menunjukkan ini suatu yang resmi dan juga memberikan motivasi ke mahasiswa. ‘Suplemen’ yang dimaksud adalah mengulas berbagai studi kasus yang berasal dari sekolah bisnis nomor wahid di dunia, yaitu Harvard Business School (HBS).

Salah satu cerita tentang HBS yang menonjol (selain biaya kuliahnya yang sangat mahal) adalah metoda pengajarannya yang banyak menggunakan studi kasus (case study) untuk menyiapkan mahasiswa S2 mereka dalam bidang administrasi bisnis. Terdapat ribuan koleksi studi kasus dalam dunia bisnis yang bisa digunakan oleh mahasiswa HBS untuk melatih pemahaman mereka akan masalah-masalah bisnis, mempertajam kemampuan analisis, serta mengembangkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Berbagai kasus yang ditampilkan pun sangat beragam mulai dari masalah kepemimpinan, kerjasama tim, investasi, tantangan teknologi, kondisi negara berkembang sampai kepada perencanaan supaya bisa bersaing secara global. Koleksi studi kasus ditulis kebanyakannya oleh staf pengajar HBS berdasar masalah nyata yang dihadapi oleh dunia bisnis, dan semua itu dimiliki oleh majalah Harvard Business Review, yang tentu dilindungi hak cipta, sehingga bila ingin menggunakannya dalam pengajaran di kelas harus mendapat ijin dan bayar lisensi ke mereka (walaupun begitu terdapat berbagai website dimana studi kasus HBS bisa diunduh, bahkan ada yang sampai menawarkan solusinya sekaligus).

Pengajaran di perguruan tinggi secara umum tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di sekolah menengah atau sekolah dasar. Lebih banyak menggunakan metoda tradisional seperti kuliah, latihan soal, diskusi dan kerja kelompok; perbedaannya yang utama hanya pokok bahasan yang biasanya lebih rumit, abstrak dan spesifik. Apa yang ditawarkan dengan model pengajaran studi kasus HBS pada dasarnya pendekatan yang berbeda, yang biasa disebut pendekatan inovatif. Dimana siswa/mahasiswa tidak terpaku dengan model pengajaran tradisional lagi, pengalaman belajarnya meluas ke bermain peran, magang, pengalaman lapangan dll. Tentu saja metode tradisional bukan tidak berguna, namun cocok memang lebih untuk pengajaran yang bersifat penguasaan fakta dan proses teknis, mengajarkan konsep dan model, ide-ide yang didapat dari pakar (teori, hukum, persamaan dll).

Model pengajaran studi kasus harus diakui tidak banyak diterapkan di berbagai lembaga pendidikan di Asia, dimana nilai yang menonjol dalam dunia pendidikannya adalah keharmonisan, menghargai yang tua (guru atau dosen), menurut perintah dan berdisiplin. Sangat beda dengan populernya metode studi kasus di lingkungan ‘barat’ yang lebih menekankan kekuatan berpikir, argumentasi, pentingnya berekspresi dan skeptis (kadang dosis skeptis pun terus meningkat, tidak sekadar skepticism toward authority, namun sampai pada question everything). Sehingga diharapkan pengajaran studi kasus adalah upaya menjembatani dua nilai pendidikan yang berbeda bagi mahasiswa untuk melatih keahlian mereka seperti halnya yang diharapkan didapat dari MBA lulusan Harvard.

Mulai tahun akademik (sesi) 2010-2011, mahasiswa S1 pada tahun pertama dan tahun keempat (tahun akhir), diwajibkan untuk ikut kuliah pengajaran studi kasus HBS. Setiap satu semester mereka menganalisis, berdiskusi dan membuat laporan atas satu studi kasus yang hak lisensi-nya sudah dibeli. Beberapa diantarnya adalah membahas tentang kasus dimana boss yang lembam (When the Boss Won’t Budge), upaya penyelamatan atasan (Surviving the Boss from Hell), masalah kerjasama tim yang amburadul (The Team that Wasn’t), tantangan ekspansi bisnis (From Regional Star to Global Leader) ataupun analisis investasi bagi kedai kopi yang mendunia (Starbucks: Delivering Customer Service). Seorang dosen/pensyarah ditunjuk menjadi fasilitator untuk setiap kelas yang terdiri dari dua puluh mahasiswa, dimana mereka diharuskan untuk bekerja secara kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang. Pengajaran studi kasus ini dimulai setelah semester berjalan lebih dari empat minggu dan berakhir dua minggu sebelum semester biasa berakhir. Berhubung ini sifatnya suplemen, maka banyak fleksibilitas diberikan dalam urusan tatap muka, ada fasilitator yang memilih untuk dua minggu sekali dengan waktu dan tempat di tentukan mahasiswa.

Menjadi fasilitator untuk pengajaran case study HBS ini menjadi pengalaman lainnya bagi saya. Seperti biasa, persiapan pun harus dilakukan dengan memahami kasus yang akan dianalisis kelompok mahasiswa, isu-isu tambahan yang berkaitan, sampai kepada antisipasi pertanyaan sulit apa yang kemungkinan muncul di kelas. Pelaksanaannya sendiri mengubah gaya belajar dan interaksi mahasiswa yang biasanya ‘tradisional’, pertemuan tatap muka sampai tiga kali masih terlihat pola menunggu arahan, menunggu orang lain berpendapat atau duduk manis (supaya) kelihatan mengerti. Ini tidak lain kerja tambahan yang berbeda untuk bisa mengajak mereka diskusi tentang studi kasus yang diberikan, memotivasi kreativitas supaya mau untuk bereksperimen dengan ide yang terlintas. Yang nampak pada bagian awal adalah, mencoba memahami masalah dan membuat laporan yang dikehendaki, maka tuga suplemen ini selesai (serta harapan mendapat nilai yang bagus).

Pertemuan keempat dan seterusnya terlihat sedikit perbedaan terjadi, dimana mereka dirangsang untuk menyampaikan kasus yang dihadapi ke kelompok lain, yang secara langsung memotivasi mereka untuk bertukar pikiran dalam kelompok supaya kelihatan bagus di mata kelompok lainnya. Hal ini membantu mereka untuk fokus dalam kerja kelompok membahas lebih detail dan mendalam tentang studi kasus HBS yang diberikan dan mulai melihat berbagai alternatif solusi yang kira-kira mungkin bisa dilaksanakan [dunia pendidikan dan kerja seolah paradoks, bila melakukan kerjasama saat ujian adalah sesuatu yang terlarang, dimana usaha dan prestasi individu hal yang utama; sedangkan dunia kerja sebaliknya: kerjasama lah yang selalu jadi tumpuan]. Hal yang menggembirakan biasanya terdapat dibagian akhir kegiatan saat mereka bertukar pengalaman, bahwa yang terasa berharga adalah bentuk kerja sama yang telah dilakukan, tidak hanya sekedar menyelesaikan laporan yang diperintahkan.

Untuk pengajaran ini juga memanfaatkan fasilitas jaringan komputer untuk saling melaporkan apa yang dikerjakan. Softcopy file studi kasus disimpan di blog yang dirancang khusus untuk pengajaran ini di tingkat fakultas dimana situsnya terbuka dan bisa diakses mahasiswa, server terletak di UTM sendiri walau layout-nya berasal dari wordpress. Terdapat menu journal dan forum dimana masing-masing kelompok memamerkan hasil diskusi dan analisis mereka dalam bentuk ringkasan. Dengan cara ini juga ternyata secara aktif mencegah adanya upaya saling mencontek dan meniru atapun plagiat dari hasil karya kelompok lain; dan bagi fasilitator tentu memudahkan memantau perkembangan kerja kelompok, mana yang produktif melaporkan hasil diskusi studi kasus ataupun tim yang kesulitan bekerja sama.

Bila dilakukan refleksi saat pengajaran studi kasus berakhir, beberapa yang diungkapkan oleh mahasiswa menunjukkan hal yang positif seperti menjadi sadar bagaimana melakukan evaluasi masalah, membuat keputusan, berargumentasi saat melakukan presentasi ataupun belajar menyelami masalah yang dihadapi oleh pemimpin atau perusahaan. Tentu tidak semua mahasiswa mempunyai kualitas yang langsung berubah hanya dengan mengerjakan satu atau dua studi kasus HBS dalam hidup mereka. Minimal ada bekal lain didapat oleh mereka dan bisa memberikan kontribusi berbeda saat bekerja nanti, selain kepakaran dalam bidangnya yang memang dipelajari selama empat tahun di universitas.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s