Cerita pembuatan kebijakan pendidikan di Malaysia

Disamping pekerjaan utama sebagai pensyarah (dosen), terdapat tugas tambahan lain yang diberikan oleh universitas tempat bekerja. Biasanya mendapat tugas dalam komite di tingkat fakultas yang menangani bidang tugas tertentu, semisal hubungan internasional, pelatihan, konsultasi dan lainnya. Sejak April 20010 lalu, satu lagi tugas tambahan diberikan yaitu direkrut dalam proyek formulasi kebijakan internasionalisasi perguruan tinggi di Malaysia atas perintah Kementrian Pengajian Tinggi. Sesuatu yang ‘unik’ disini adalah, berbagai tugas tambahan itu tidak menerima honor apapun karena gaji yang sudah diberikan dianggap lebih dari mencukupi. Kalaupun ada biaya dikeluarkan sifatnya ongkos yang harus dibayar sesuai dengan aktivitasnya (transportasi, akomodasi dan sejenisnya).

Tugas dari kementrian tersebut diberikan pada unit international office di UTM, berhubung unit ini telah sukses menerbitkan dokumen kebijakan yang berhubungan dengan internasionalisasi di tingkat universitas yang bersangkutan. Terlibat dalam formulasi kebijakan dalam tingkat negara tentu bakalan menjadi pengalaman yang berharga untuk mengetahui sejauh mana peran strategis pendidikan tinggi di negara tersebut dan upayanya dalam mengembangkan potensi hubungan internasional. Apalagi sebelumnya saya pernah melakukan analisis satu kebijakan dalam lingkup pendidikan dasar dan menengah di tanah air, yang tentunya menjadi bisa menjadi rujukan dan bahan perbandingan. Sebagai latar belakang isu ini, saya sudah menuliskan tentang situasi mahasiswa internasional (antar bangsa) di Malaysia di blog ini juga.

Semuanya berawal dari strategi negara Malaysia yang ingin menjadi negara maju (berpendapatan tinggi) pada tahun 2020 nanti. Kemudian pemerintah saat ini melakukan identifikasi bagaimana Malaysia yang berpendapatan menengah bisa meningkat dalam waktu 10 tahun ke depan, yang disebut sebagai NKEA singkatan dari National Key Economic Area. Terdapat dua belas bidang dalam NKEA ini yang tidak lain adalah penggerak aktivitas ekonomi yang berpotensi secara langsung berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Malaysia, yaitu migas, jasa keuangan, minyak sawit, turisme, telekomunikasi, pendidikan, ritel, elektronik, bisnis, kesehatan, pertanian dan lainnya. Masing-masing aspek ini diproyeksikan tumbuh antara 3,2 – 6,9%; sedangkan bidang pendidikan diharapkan tumbuh 5,4% per tahunnya. Diharapkan bahwa penyumbang pertumbuhan ini adalah sektor swasta, yang dalam sektor pendidikan diproyeksikan meningkat menjadi enam kali di tahun 2020.

Secara lebih spesifik dalam sektor pendidikan tinggi, partisipasi  domestiknya saat ini yang sudah mencapai 35% diharapkan menjadi 50% di tahun 2020 (sebagai perbandingan angka partisipasi perguruan tinggi di Indonesia baru 14%). Pasar internasional student saat ini yang sekitar 1,5 juta jiwa, diproyeksikan menjadi 5,8 juta dan 70%-nya berasal dari negara-negara di Asia-Pasifik. Dari potensi pasar itu, pasar pendidikan tinggi di Malaysia diharapkan memberikan kontribusinya sebesar 40-50% yang artinya ini berarti meningkatkan populasi mahasiswa internasional yang sekitar 80 ribu orang di tahun 2010 ini menjadi paling tidak 200 ribu di tahun 2020.

Untuk mencapai target itu tentu perlu banyak persiapan dibuat oleh kementrian pendidikan tinggi dan universitas, baik dari segi kebijakan, peraturan imigrasi, peningkatan kapasitas, memacu mutu dan reputasi serta lainnya. Salah satu yang mendesak adalah perlunya satu formulasi kebijakan yang bisa mendorong tercapainya target yang diinginkan tersebut. Sebelumnya memang terdapat kebijakan yang berhubungan dengan internasionalisasi pendidikan tinggi ini, namun terpecah-pecah dan bukan suatu kesatuan, serta potensial membuat kerancuan di tingkat operasional karena banyaknya pihak yang terlibat dan tidak satu suara terhadap berbagai isu yang berhubungan.

Sebagai diskusi awal adalah ingin mencari pola kebijakan internasionalisasi pendidikan tinggi yang diterapkan di negara lain. Dari kepustakaan dan pencarian dengan google terungkap misalnya bahwa Australia dan Inggris lebih menekankan aspek keuntungan finansial dengan datangnya internasional student di universitas mereka [saya teringat biaya kuliah saat studi S2 di Australia yang per tahun-nya mencapai Aus$ 18 ribu, sedangkan mahasiswa lokal dengan sistem HECS hanya membayar Aus $ 3000, itu pun kebanyakan pinjaman]; sedangkan Perancis dan Jerman kebijakannya lebih bertumpu pada upaya pengenalan negara mereka; Jepang dan Amerika berbeda pula corak kebijakannya. Malaysia tentu saja sadar secara mutu sukar untuk bersaing dengan Australia dan Inggris yang menetapkan biaya mahal, disamping memang bisa memberikan dukungan penuh pada mahasiswa internasional sampai kepada asuransi kesehatan yang lengkap; selain itu Malaysia yang posisinya sebagai negara Islam yang dikategorikan lebih maju jelas menunjukkan potensi pasar mana yang harus dibidik. Rangkuman diskusi awal mengarah pada kebijakan yang dibuat harus bersifat enabling, dan bukannya membikin runyam dengan menjadi over-regulasi (suatu ciri khas di negara berkembang), disamping itu juga harus efektif dan dapat dilaksanakan (executable).

Maka mulailah kerja keras dengan membaca berbagai hasil riset, laporan, jurnal, dan laman web organisasi yang mengelola mahasiswa internasional; saat ini hal itu menjadi lebih mudah dengan adanya data base dan internet, apalagi didukung  dengan ketrampilan pencarian informasi melalui google. Berbagai isu yang berhubungan dengan internasionalisasi pendidikan tinggi pun didapatkan, diperdebatkan dan akhirnya ditulis dalam bentuk draft (buram) awal kebijakan yang masih sangat kasar. Untuk mengetahui apakah draft yang dibuat tersebut tepat dan sesuai, maka hal itu diuji melalui suatu workshop yang mengundang dari berbagai kalangan seperti perguruan tinggi negeri dan swasta, kementrian pendidikan tinggi, persatuan perguruan tinggi swasta Malaysia, lembaga sertifikasi seperti MQA (Malaysian Qualification Authority), sampai kepada pihak kementrian dalam negeri yang membawahi urusan imigrasi.

Pertemuan workshop diadakan selama empat kali dan dilangsukan dalam jarak satu bulan, dimana peserta terbanyak adalah dosen-dosen yang berasal dari International Office dari berbagai universitas di Malaysia. Pertemuan pertama dan kedua dilaksanakan bulan Mei dan Juni 2010 di Internasional Campus UTM di Kuala Lumpur, yang ketiga diadakan di Univeritas Malaysia Sabah di Kota Kinabalu pada Juli, dan terakhir pada bulan Agustus diadakan di Port Dickson, Negeri Sembilan (foto-foto workshop ada di bagian bawah). Setiap workshop yang paling tidak dilaksanakan satu hari penuh yang berisi masukan, debat, dan kritik terhadap draft kebijakan yang dibuat. Sangat jarang draft yang dibuat lolos dan mendapat persetujuan, yang biasa terjadi adalah akomodasi kepentingan dari berbagai pihak terhadap formulasi kebijakan yang tertulis; artinya perubahan kalimat, pengubahan struktur kebijakan, bahkan sampai ke penambahan isu yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Proses ini tentu melelahkan dan seolah susah menemukan titik kompromi, khususnya bagi panitia kerja yang bertugas melakukan upaya perbaikan. Namun hasil yang didapat menjadikan peserta workshop puas dan memahami konteks dan kepentingan terhadap kebijakan internasionalisasi  pendidikan tinggi Malaysia.

Draft paling akhir yang didiskusikan, kebijakan internasionalisasi ini mengidentifikasi enam hal yang menjadi dasarnya yaitu: mobilitas mahasiswa internasional, mobilitas staf dosen internasional, program akademik, penelitian dan pengembangan, otonomi dan governance, dan yang terakhir integrasi sosial dan keterlibatan komunitas. Dalam hal mobilitas mahasiswa isu yang dibahas mencakup jaminan bagi mahasiswa internasional selama melakukan studi di Malaysia, promosi dan koordinasi terhadap Education Malaysia, insentif bagi mahasiswa asing yang cemerlang untuk belajar dan berkontribusi  di Malaysia, upaya peningkatan pengalaman belajar mahasiswa lokal.

Mobilitas dosen internasional dirahkan untuk kontribusi akan peningkatan kapasitas institusi, peningkatan reputasi dan pengakuan internasional, dan dukungan ke atas kerjasama  dan peningkatan aktivitas internasional; hal ini karena diperkirakan rasio dosen asing di perguruan tinggi di Malaysia meningkat menjadi 15%. Untuk akademik program, disebutkan bahwa bahasa Inggris  menjadi bahasa pengantar untuk semua urusan yang berhubungan dengan mahasiswa dan dosen internasional di Malaysia, persyaratan kemampuan English, fasilitas transfer kredit mata kuliah, pencapaian akreditasi internasional, dan jurusan serta program studi yang diakui serta relevan dengan trend global. Hal penelitian dan pengembangan dimaksudkan untuk upaya peningkatan kapasitas, kerjasama dan rekutmen tenaga ahli yang bisa meningkatkan kualitas riset di Malaysia.

Isu otonomi diketengahkan untuk memberikan kepada universitas di  Malaysia untuk bisa bergerak mandiri, menjalin kerjasama dengan mitra internasional (misal melalui MoU), peningkatan profil pendidikan Malaysia dan adanya forum internasionalisasi perguruan tinggi di Malaysia yang bisa mendukung hal ini. Hal terakhir mengenai integrasi sosial dimaksudkan supaya meningkatkan pemahaman, apresiasi, dan kesadaran dengan komunitas lokal Malaysia akan keberadaan mahasiswa asing yang berbeda budaya; upaya melalui pengenalan dan keterlibatan masyarakat setempat akan mempercepat integrasi sosial, disamping juga program penglibatan antar mahasiswa internasional sendiri yang berasal dari berbagai bangsa.

Kebijakan yang diperkirakan berlaku untuk sepuluh tahun ke depan pada dasarnya menunjukkan makin strategisnya peran mahasiswa dan dosen internasional di Malaysia. Tidak hanya potensi ekonomi secara langsung (semisal uang kuliah dan biaya hidup yang dibelanjakan), namun peluang kerjasama di masa depan, pengenalan budaya dan promosi produk Malaysia secara langsung juga akan menjadi tumpuannya. Sehingga adanya kebijakan  yang jelas dan mengakomodasi isu internasionalisasi ini menjadi sesuatu yang terpadu yang perlu dilakukan.

Sebagai  penutup, dalam workshop keempat (terakhir) terdapat satu orang peserta dari satu universitas di bagian utara semenanjung Malaya yang menceritakan tentang harapan masa depannya terhadap mahasiswa internasional di kampusnya. Dia bilang, siapa tahu kita sedang mempersiapkan seorang calon presiden Indonesia masa depan, yang saat ini kebetulan jadi mahasiswa di universitasnya. Secara kelakar saya menanggapinya, bahwa Indonesia bahkan lebih hebat lagi, tidak perlu dididik sampai ke tingkat universitas, cukup empat tahun di tingkat sekolah dasar saja, Indonesia bisa menyiapkan dan memproduksi seorang presiden dari negara paling berkuasa saat ini (maksudnya Obama).

 

Foto kiri: peserta workshop ke-3 bulan Juli 2010, yang berlokasi di Universiti Malaysia Sabah, Kota Kinabalu (Sabah); sedangkan foto kanan peserta workshop ke-4 Agustus 2010, di Port Dickson, Negeri Sembilan.

catatan tambahan (8 Desember 2012): Bila memerlukan dokumen tentang kebijakan internasionalisasi perguruan tinggi di Malaysia, silahkan di dowload pada tautan di bawah ini: http://www.academia.edu/2257039/Internationalisation_policy_for_higher_education_Malaysia_2011

 

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

4 Balasan ke Cerita pembuatan kebijakan pendidikan di Malaysia

  1. doriaabdullah berkata:

    Salam Dr Bambang,
    Thanks for the posting!🙂

    • deceng berkata:

      Boleh paham Bahasa Indonesia juga? Well, you guys did all the hard work, you got the credit for that.

  2. Satria Dharma berkata:

    Pengalaman menarik dan pengetahuan yang berguna tentunya kelak kalau Kang Bambang kembali ke tanah air.🙂 Masih ada keinginan untuk balik ke tanah air dan melakukan bakti bagi tanah air kan Kang?!🙂

    • deceng berkata:

      Trims komentarnya pak Satria, hanya berbagi cerita saja. Kalau pulang kampung sih pasti pak🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s