Cerita mendapatkan beasiswa-2

Setelah selesai studi di Flinders, pada bulan Juli 2001 kembali ke tempat bekerja sebelumnya. Sebagai guru yang bertugas di sekolah yang berlokasi di desa, mengajar kimia pada siswa melakukan rutinitas mencerdaskan anak bangsa. Pengalaman studi di Australia jelas menjadi inspirasi dan meningkatkan tekad untuk menjadi ‘pemburu beasiswa’ lagi khususnya saat tidak banyak perubahan suasana terjadi setelah penerapan otonomi daerah. Berbagai informasi beasiswa pun dikumpulkan dan satu pilihannya adalah yang khusus untuk guru, yaitu Monbusho dari pemerintah Jepang.

Sebagai bawahan di lingkungan kerja sekolah publik, maka untuk bisa ikut ijin seleksi pun harus dengan ijin atasan. Berhubung kepala sekolahnya baru, maka upaya pengenalan beliau menjadi hal prioritas untuk bisa mulus minta ijin. Pada saat dicoba untuk minta ijin seleksi beasiswa Monbusho, tidak disangka ternyata langsung ditolak tanpa alasan jelas. Pengalaman ini begitu mengesankan dan membuat saya hati-hati untuk segala hal, karena memang kesan tidak bersahabat dan tidak adanya kepastian, tidak seperti kepsek dulu saat mau ke Australia.

Alternati lain untuk studi dengan beasiswa lagi, yaitu taraf S3, situasinya berbeda dengan saat melamar untuk yang S2. AusAID misalnya mensyaratkan bahwa hanya dosen, peneliti dan perencana yang boleh melamar untuk beasiswa S3 (guru jelas tidak bisa); ditambah aturan bahwa proses melamar hanya bisa dilakukan dua tahun setelah selesai studi dari beasiswa AusAID sebelumnya. Maka pilihan lain pun dicari, dan yang cocok sepertinya adalah beasiswa NZAID dari Pemerintah Selandia Baru.

Dari persyaratan NZDS (New Zealand Development Scholarship) lebih kurang sama seperti yang lainnya (IPK, kompetensi English dan usia), syarat untuk S3 pun mirip seperti yang dari AusAID. Maka untuk bisa memenuhi syarat, harus mempunyai status sebagai dosen. Dimulai lah pencarian untuk paling tidak mendapat status sebagai dosen tidak tetap di universitas yang dekat dengan domisili. Ternyata ini  bukan urusan enteng seperti yang saya kira sebelumnya. Di satu universitas negeri, ketemu dengan seorang doktor yang ketua jurusan pascasarjana, dijelaskan bahwa program yang dilaksanakan di tempatnya tidak lain adalah kelas jauh dari satu universitas di Jawa; sehingga tidak mungkin merekrut staf baru walaupun dengan status tidak tetap, karena semua dosennya diimpor dari Surabaya; sedangkan untuk mata kuliah umum-nya diborong oleh dosen lokal. Jawaban terus terangnya: ditolak. Kemudian saya coba juga ke satu universitas swasta, ternyata model birokrasinya lebih merepotkan disamping mereka juga menjaga ‘kestabilan politik’ kalau ada dosen baru yang bisa mengancam yang sudah lama mengabdi disana. Namun kabar baiknya, saya diterima jadi dosen tidak tetap dengan tugas minimal dan tanpa kejelasan imbalan (di mata kuliah yang sama ternyata ada dua orang lain juga, yang modal nampang nama seperti saya).

Beasiswa NZDS setiap tahunnya dibuka setiap Jan-Feb, yang merupakan masa pengirimkan expression of interest, dan ini dikelola secara penuh oleh kedutaan besar New Zealand di Jakarta. Dua bulan berikutnya (Maret-April) adalah masa seleksi administratif, dimana peserta yang lolos diminta untuk mengirimkan lamaran dengan mengisi formulir resmi dengan berbagai data pendukung seperti copy ijasah dan ijin atasan. Pada bulan Mei, peserta yang masuk shortlisted akan dipanggil untuk test IELTS dan wawancara, dan biasanya bulan Juni akan diumumkan siapa yang memang layak untuk studi. Selanjutnya pihak Kedubes NZ akan menguruskan pendaftaran ke universitas yang dituju di Selandia Baru, dan paling cepat bulan Januari tahun depan (atau November tahun yang sama kalau perlu kursus basaha Inggris) kalau dinyatakan diterima (adanya offer letter) bisa memulai studi di negara kiwi tersebut.

Berhubung tahu tidak akan diijinkan oleh atasan, maka saya mengirimkan surat expression of interest secara diam-diam pada awal Feb 2002 dengan menggunakan alamat tempat kost (disertai nomor telpon tempat kost, no fax wartel dan email) untuk menghindari ‘sabotase’ kalau menggunakan alamat tempat kerja. Selanjutnya adalah proses menunggu sampai ada kabar baru. Pada satu hari di bulan Maret, mendapat telepon langsung dari Kedutaan NZ ke tempat kost yang menanyakan skala IPK dari studi di Flinders (sistem IPK di Australia berbeda skalanya, dimana skala tertingi adalah 7,0 untuk High Distinction dan 4,0 untuk kriteria minimum yang disebut Pass). Telpon ini sekaligus meningkatkan optimisme bahwa kemungkinan masuk ke tahapan berikutnya. Ternyata hal itu terwujud dengan kedatangan formulir asli yang harus diisi dan dilengkapi berbagai dokumen lain (ijasah, transkrip, sertifikat kompetensi English dll) serta yang paling krusial adalah adanya ijin atasan dalam bentuk tanda tangan dan stempel resmi-nya.

Urusan ijin seperti sudah diduga, sangat pelik dan membuat frustasi. Hal ini menjadikan perjuangan sebagai pemburu beasiswa ternyata kendala terbesar bukan untuk bersaing secara akademik, kecerdasan dan usulan proyek riset-nya namun yang ribet adalah urusan birokrasinya. Saat melaporkan ke pihak atasan (kepala sekolah), bahwa secara resmi mendapat tawaran ikut seleksi beasiswa jawaban beliau adalah, tidak bisa mengijinkan karena dulu sudah dapat kesempatan studi ke luar negeri, namun untuk lebih jelasnya harus mendapat jawaban resmi dari kepala dinas pendidikan. Jawaban kepala dinas pun ternyata mirip sekali dengan pernyataan kepala sekolah ditambah dengan penegasan bahwa hal ini sudah menjadi keputusan dari bapak kepala sekretariat daerah (pimpinan birokrasi tertinggi di satu kabupaten). Dari informasi yang diterima dari guru lain terungkap bahwa ternyata kepala dinas dan kepala sekolah adalah sahabat erat sejak lama, tidak aneh mereka bisa mengatur skenario ‘tidak diijinkan’ dengan sangat kompaknya.

Jawaban sederhana ‘tidak diijinkan’ jelas memutuskan harapan akan bisa studi lagi dengan beasiswa, hal yang menyakitkan namun tidak bisa berbuat lebih selain mengkomunikasikan ini ke keluarga dan teman dekat. Pada kondisi ini memang sangat terasa, mana teman yang memang benar mendukung atau yang hanya sekedar basa-basi saja mau bersimpati. Satu orang teman berpandangan lain dan mendukung dengan nyata, dia bilang kalau memang kepala dinas tidak mengijinkan, kita bisa minta dukungan dan ijin dari atasannya yaitu bupati. Malam itu juga, mengumpulkan informasi dan mengatur strategi untuk bisa ketemu bupati dan minta ijin. Orang dekat bupati memberi info, bahwa keberadaan beliau kadang susah ditentukan karena istrinya empat orang, disamping itu dia juga memberi tahu alamat tempat tinggal istri-istrinya itu.

Selama dua hari dengan diantar teman tersebut, mulai dari sore sampai malam hari berkeliling ke rumah-rumah istri bupati; tidak ada di rumah istri pertama, maka ke tempat tinggal istri keduanya, terus sampai ke istri keempat (ternyata memang poligami menambah ruwet kalau mau ketemu pejabat). Baru pada malam kedua, diketahui beliau ada di istri ke-empat; memberanikan diri datang dan meminta waktu, namun beliau yang masih ‘sibuk’ mengatakan silahkan datang ke kantor saja besok. Dengan berpakaian rapi, pagi sekali sudah stand by di depan kantor bupati lengkap dengan formulir asli untuk ditanda tangani; berbicara dengan ajudan dan disuruh menunggu. Sampai tiga jam tidak ada kepastian kapan akan diperbolehkan, maka satu-satunya kesempatan adalah mencegat saat dia keluar ruangan. Namun aksi ini jelas dihalangi ajudan, sampai akhirnya dia menyerahkan urusan saya ke pak Sekda. Disini pun menguji kesabaran selama dua jam, sampai beliau punya waktu, sampai akhirnya ajudannya mengatakan saya punya waktu 10 menit. Saya jelaskan ke beliau maksud kedatangan dan masalah ijin yang harus diproses, sesuatu yang mengejutkan terjadi saat saya bilang terus terang bahwa saya tidak banyak berharap dapat ijin karena menurut kepala dinas saya tidak diijinkan oleh pak Sekda. Beliau langsung menunjukkan kemarahan, namun bukan ke saya, tapi kepada kepala dinas pendidikan, karena dia merasa di-fait-accompli namanya. Hal ini jelas menggembirakan karena konspirasi menghambat saya terbongkar dan pak Sekda mengatakan dengan jelas akan memberikan ijin karena ini dibiayai oleh pihak asing dan bukan uang pribadinya ataupun uang kas pemda. Sebelum keluar ruangannya, dia memberikan satu memo yang harus ditunjukkan ke kepala sekolah dan kepala dinas.

Memo tersebut memang sakti, kepala dinas dan kepala sekolah langsung secara diametral jadi mendukung dan membuat surat usulan supaya saya diberikan ijin studi keluar negeri. Lusa saya menghadap lagi ke pak Sekda di kantornya, dan dia langsung menandatangani ijin secara resmi di formulir. Berbekal itu maka tahapan pelamaran beasiswa tahap kedua ini diselesaikan, namun membawa ongkos yang memang mahal dan meningkatkan kebencian atasan pada saya. Hal ini terasa saat ada pengumuman bahwa saya masuk ke seleksi tahap berikutnya, dan harus hadir di Hotel Sahid, Gubeng, Surabaya untuk test wawancara dan test IELTS di IALF Surabaya pada bulan Mei 2002. Ijin dua hari untuk hadir dalam seleksi jelas akan dihambat lagi dengan alasan lain; maka yang dilakukan adalah memohon ijin tidak mengajar saja tanpa peru tahu direstui atau tidak. Tanpa diduga, kepala sekolah malah datang ke tempat kost untuk mengecek keberadaan, bapak kost menjawab secara jujur bahwa saya ke Surabaya untuk test beasiswa ke Selandia Baru. Jawaban yang tentu membuat dia murka.

Di Surabaya terdapat sekitar lima belas orang kandidat yang semua berasal dari Indonesia Bagian Timur (dari Sulawesi, NTB, NTT dan Irian), empat orang melamar untuk beasiswa S3 (semuanya lulusan dari Australia), dan sisanya adalah pelamar untuk S2. Dari pihak Kedutaan NZ menjelaskan bahwa tahun 2002 ini ada sekitar tiga ratus orang lebih yang melamar dari berbagai wilayah di Indonesia, yang masuk shortlisted ada dua puluh delapan orang (tiga belas orang lain dari Indonesia Bagian Barat). Pada tahapan akhir nanti hanya akan dipilih sepuluh orang saja, 2 orang untuk yang akan studi S3 dan 8 orang yang studi S2; dan mereka inilah yang akan diajukan ke universitas-universitas di Selandia Baru. Proses  ujian wawancara dan IELTS, karena sudah pengalaman sebelumnya, terasa lebih lancar dan merasa bisa meyakinkan penguji bahwa saya kandidat yang tepat untuk diberikan beasiswa. Yang berat adalah saat kembali ke tempat kerja, dimana kepala sekolah memutuskan saya pindah mengajar di siang hari dengan jumlah jam ngajar yang sedikit, dengan kata lain menjadi guru yang ‘dibuang’ dan tidak dipercaya.

Pada bulan Juni 2002, datang pemberitahuan dari Kedutaan NZ di Jakarta, bahwa saya masuk kandidat yang lolos ke tahapan berikutnya. Berita ini memberikan kesempatan bagi saya untuk menetapkan perguruan tinggi yang saya pilih, yaitu Victoria University of Wellington di Wellington, Selandia Baru; dan sekaligus meminta ikut kursus bahasa Inggris untuk persiapan studi berhubung kondisi kerja sudah tidak kondusif lagi sehingga makin cepat meninggalkan sekolah tempat kerja akan lebih membawa kebaikan bagi banyak pihak. Pada bulan Juli 2002, menerima surat yang menyatakan hasil test IELTS adalah 6,5 yang menunjukkan kelayakan untuk langsung studi; satu bulan berikutnya mendapat email yang menyatakan bahwa saya kandidat yang langsung diproses pelamaran ke universitas karena nilai IELTS sudah memenuhi syarat.

Berita gembira itu akhirnya datang juga pada akhir Oktober, bahwa secara resmi diterima di Victoria University untuk studi S3 dan harus berada di Wellington pada 6 Nov 2002 untuk memulai kursus English for Academic Purpose selama 3,5 bulan. Tidak ada lagi yang bisa menghambat karena dalam surat dari kedutaan jelas disebutkan hal ini sudah mencakup ijin dari Sekneg. Setelah pamitan, langsung menuju ke Jawa untuk mengurus ijin administrasi lainnya. Ternyata mengurus ijin tantangan berikutnya, karena kedutaan NZ mensyaratkan adanya surat kelakuan baik dari kepolisian (yang ini artinya keliling mulai dari RT, RW, kelurahan dan camat sampai akhirnya ke kantor polisi, untungnya ini bisa diurus di Bandung tidak perlu di Lombok). Yang kedua adalah ijin dari Sekneg, ternyata memerlukan surat usulan dari minimal pejabat eselon II di departemen induk (Depdiknas); maka susah payah juga mengurus hal ini ke set-dirjen Dikdasmen, Biro PKLN dan akhirnya ke Sekneg, untuk memulai itu ternyata perlu surat keterangan dari kepala sekolah, untungnya untuk urusan ini kepsek sudah tidak punya niat menghambat lagi, serta ada teman yang membantu dan mem-fax-kan.

Surat ijin untuk tugas belajar dari Sekneg akhirnya didapatkan, dilanjutkan dengan mendapat exit-permit dari Departemen Luar Negeri RI. Kemudian ada briefing dari seorang diplomat perempuan dari Kedutaan NZ yang menjelaskan untuk tahun 2002 ini ternyata hanya tiga orang saja yang jadi berangkat ke New Zealand, yaitu satu orang untuk studi PhD dan dua orang untuk studi Master; kurang dari jatah sepuluh beasiswa yang sebelumnya sudah disediakan, kendala utamanya adalah kompetensi bahasa Inggris kandidat yang menyebabkan universitas di NZ tidak mau menerimanya.

Dengan tiket di tangan dan dapat bekal NZ$ 50 dari kedutaan, serta passport sudah dilengkapi dengan visa studi, maka pada tanggal 3 November 2002 petang dengan Garuda berangkat ke Auckland, New Zealand; dan nanti disambung dengan Air New Zealand  ke Wellington. Pada saat berada di udara, dan merenungkan apa yang sudah dilalui, mengucapkan syukur ke Yang Maha Kuasa walaupun banyak halangan akhirnya sukses juga untuk mendapat kesempatan belajar ke luar negeri lagi. Dan saat di pesawat dengan menikmati kemudahan yang ada barulah makin disadari bahwa ini memang tidak didapat dengan mudah.

Keterangan: Di depan kantor jurusan, VUW Kelburn Campus

Pos ini dipublikasikan di Guru, Pendidikan Indonesia. Tandai permalink.

26 Balasan ke Cerita mendapatkan beasiswa-2

  1. lakshmikartika berkata:

    dibanding dg yg Bagian 1… bagian ke-2 ini, pengalaman pak Bambang lebih berat lg (mata sy smpe berkaca2 lho pak hehehe)
    terima kasih sdh berkenan membagi cerita n pengalaman yg berharga ini ^_^

  2. maulinadwi berkata:

    Allahu Akbar… bagi saya part 1nya udah ‘serem’, ternyata part 2nya lebih parah lagi…. Saya ngga bisa membayangkan kalo saya ada di posisi pak Bambang….udah keder duluan bolak-balik menghadap pejabat tinggi yang ……kita sama-sama taulah… polanya… Ck..ck..ck…cobaannya…. Saya amat sangat patut bersyukur dengan jalan yang saya lewati sekarang pak..(apa pun konsekwensinya,….terutama yang satu daerah sama saya……….;)..bu ika ngerti ini… he..he..tapi gak sebanding sama perjuangannya pak bambang… ‘Kajol’ saya malah mendorong, suruh saya daftar ikut seleksi, begitu lulus langsung ‘dihalo-halokan’ ke seluruh penjuru sekolah, ditanya apa yang perlu ditandatangani, dipinjami laptop (yes, sampe sekarang masih dipinjami, pak) dan diberi sangu ala kadar, namun bagi saya lebih dari ala kadar karena itu bisa membuat saya bertahan hidup di Johor sambil menunggu dana cair. Saya pikir, Allah sangat mencintai pak Bambang dan keluarga sehingga menganugerahi pengalaman hidup sedemikian rupa dan ketahanan yang luar biasa… two thumbs for you, Sir. looking forward to reading more of your true life-stories… Thank you, Pak.

    • deceng berkata:

      Walah bu Ina, kayak menemukan kisah ajaib saja🙂. Sekarang yang begini malah jadi ‘hiburan’. Yang hebat kepsek-nya, sampai sekarang dia masih menjabat lho; sedangkan saya malah ‘kabur’ jadi TKI🙂.
      Bu Ina akan lebih siap untuk tantangan yang lebih tinggi dengan pengalaman di UTM (go for it bu Ina)

  3. maulinadwi berkata:

    Hehe.. emang ajaib kok, Pak. Para pejabat dikdasmen seharusnya baca cerita pak Bambang ini… terima kasih kasih atas encouragement-nya Pak. Maybe someday, somewhere..Insya Allah.

    • deceng berkata:

      rejeki orang siapa yang tahu bu Ina. Berbagai usaha baru konon bisa meningkatkan kesempatan untuk terus berkembang🙂

  4. ymaryansyah berkata:

    saya seperti membaca novel laskar pelangi pak Bambang..ini bagus dibukukan pak,,serius,,he.he..thanks sudah share ini ke kita, terutama warga PaGI, semoga makin sukses.🙂

    • deceng berkata:

      Pak Yupika, kalau novel itu lebih bersemangat dan renyah dibaca, masih berat lah kalau blog ini mau jadi buku🙂. Trims komentarnya.

  5. Ping balik: PERJALANAN KARIR MENJADI GURU | Padepokan Guru Indonesia (PaGI)

  6. yorigroup berkata:

    saya sampai merinding membaca pengalaman bapak…. apalagi saat bagian terakhir merenungkan semua keruwetan yg telah dilalui di atas pesawat…
    kalau bikin novel sekelas laskar pelangi gitu atau masuk Kick Andi pasti sangat menginspirasi Pak……
    *saya sangat mendukung sekali kalau cerita bapak ini di-expand lalu dijadikan novel…. kan yg menulis tidak harus bapak……..🙂

    • deceng berkata:

      Waduh sampeyan ini terbawa emosi segala, itu catatan masa lalu saja.
      Sudah saya bukukan pengalaman ini dengan artikel lain di blog ini, saya kira itu lebih dari cukup🙂

  7. Mashuri Qasim berkata:

    senang sekali baca pengalaman pak guru, inspirasi untuk selalu berjuang untuk maju

    • deceng berkata:

      Trims atas tanggapannya, baru tahu yah?🙂

      • Mashuri Qasim berkata:

        Tumben sy tertarik buat baca blognya bpk, ternyata banyak sharing2 pengalaman yang menarik, tertarik juga bt blog sendiri dan belajar menulis

      • deceng berkata:

        Wah anda terlalu rendah hati menyampaikan itu, tidak ada kata terlambat untuk berbagi pengetahuan dan mempertajam keterampilan menulis🙂

  8. phoeprehantoro berkata:

    pak deceng, terima kasih telah berbagi info ini. saya akan mencoba beasiswa NZ juga entar januari 2015. berhasil gak berhasil pokoknya nyoba dulu lah. terima kasih atas semangatnya…

    • deceng berkata:

      perlu banyak persiapan lebih pak, terutama English-nya. Semoga berhasil🙂

      • phoeprehantoro berkata:

        saya dari ngawi, jawa timur. saat ini saya sedang teacher training (non gelar 1,5 tahun) di hokkaido. cerita bapak ini sungguh bermakna karena ada cerita tentang perjuangan terkait ATASAN itu, pak. hmm.. jangan2 saya juga mengalami hal serupa ya ntar. saya guru bahasa inggris SMA dan ingin bisa belajar lebih tentang pendidikan bahasa inggris di negara yang berbahasa inggris untuk program master nanti. meskipun termasuk dari daerah prioritas (Indonesia Timur), saya akan coba, pak.

  9. phoeprehantoro berkata:

    maaf, pak, maksud saya ‘meskipun BUKAN termasuk dari daerah prioritas’ …

    • deceng berkata:

      Perlu perencanaan yg teliti pak;termasuk mendekati atasan, saya melakukan itu karena terdesak dan tidak punya alternatif lain, jadinya nekad begitu. Kalau boleh tentunya semua berlangsung lancar🙂.
      Semoga sukses dengan upayanya, silahkan email ke deceng@gmail.com bila memang perlu mendiskusikan sesuatu.

  10. scyziah berkata:

    cerita bapak sangat menginspirasi sekali, kebetulan saya jg ada keinginan utk ikut beasiswa S2 ke new zeland. Saya juga mau tanya apakah ijazah yg dikirimkan utk melamar harus bahasa inggris? karena setahu saya utk ke beberapa universitas di luar negeri meminta ijazah dg bhs inggris. Apakah ada website resmi dari kedutaan atau dari universitas-universitas di newzeland mengenai beasiswa seperti ini?

    • deceng berkata:

      Ijasah harus diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, biasanya kampusnya sudah ada format standar yg tinggal ditanda tangan oleh dekan/ketua jurusan.
      Kalau anda ingin mendapatkan beasiswa NZAid/NZODA anda kontak saja kedutaan NZ di Jakarta (bisa di google), sejak tahun lalu 50 beasiswa ditawarkan per tahun, pendaftaran dibuka sejak awal tahun. Semoga sukses

      • scyziah berkata:

        oh…terima kasih byk atas infonya, apakah juga butuh LoA ? dan apakah diprioritaskan utk yg dari Indonesia bagian timur saja? karena saya berasal dr Jawa. Maaf saya tanya-tanya terus. Terima kasih

      • deceng berkata:

        LoA itu akan diurus kalau anda sudah dinyatakan lulus dapat beasiswa NZAID.
        Indonesia dapat prioritas dan kuota biasanya 30% dari total beasiswa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s