Cerita mendapatkan beasiswa-1

Ada titipan pesan dari seorang teman yang meminta untuk menceritakan sesuatu sesuai dengan judul artikel ini; beliau bilang tidak ada salahnya untuk berbagi hal ini bagi yang lain. Tadinya segan juga untuk mengungkapkan karena mungkin tidak begitu menarik dan terlalu ‘pribadi’, tapi apa salahnya menuruti beliau demi menjaga kestabilan hubungan persahabatan. Menuliskan ini ternyata relatif mudah karena ini perubahan dalam kehidupan saya sendiri yang melibatkan emosi dan akal secara berkesan yang menunjukkan proses belajar yang terinternalisasi, dan selalu saya bagi pada orang yang memang mau tahu hal ini secara sungguh-sungguh.

Hal ini berawal saat saya mulai tugas menjadi guru kimia SMA di provinsi Nusa Tenggara Barat sekitar awal tahun 1993. Saat pulang ke kota kelahiran dan melihat pameran pendidikan Australia di Hotel Savoy Homan pada medio 1993 itu. Didapat penjelasan dari peserta pameran yaitu stand Australia Education International, bahwa terdapat beasiswa bagi warga Indonesia yang berstatus PNS. Disebutkan pula bahwa beasiswa itu untuk studi pasca sarjana dengan beberapa persyaratan harus dipenuhi untuk bisa melamar seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) S1 diatas 3 (dalam skala 0-4), kemampuan berbahasa Inggris dan usia dibawah 35 tahun.

Informasi dari pameran ini menjadi inspirasi dan pencerah akan harapan masa depan. Saat itu sudah lulus D3 dengan prestasi yang ala kadarnya, artinya supaya bisa ikut bersaing memang harus lulus S1 dahulu, dan sarana untuk itu kebetulan tersedia dengan jadi mahasiswa Universitas Terbuka (UT) di UPBJJ Mataram. Kesempatan studi di UT juga adalah hal yang mewah untuk mempermak IPK supaya bisa melamar beasiswa. Maka persiapan untuk beasiswa pun dilakukan dengan ‘penuh perhitungan’; misal untuk meningkatkan IPK, targetnya adalah sebanyak mungkin mendapat nilai A untuk berbagai mata kuliah. Pada masa itu teman guru yang lain targetnya kuliah di UT adalah segera lulus S1 untuk dapat penyetaraan pangkat dan tentu peningkatan karir. Tidak aneh mereka rata-rata bisa menyelesaikannya dalam waktu dua tahun. Sedangkan saya sendiri ‘berpetualang’ di UT sampai 3,5 tahun (tujuh semester), karena bila didapati nilai dibawah B selalu di-upgrade terus menerus sampai akhirnya jadi A, atau minimal kalau sudah kapok, B pun dianggap prestasi maksimal. Apa yang saya lakukan tentu menjadi ‘keanehan’ dan dianggap ‘kebodohan’, karena mata kuliah yang dapat nilai B pun di ambil lagi (tentu dengan harapan bisa diperbaiki nilainya). Tentu dengan konsekwensi bayar biaya kuliah berkali-kali dan kejenuhan mempelajari bahan kuliah yang sama di semester berbeda.

Pada saat yang sama, karena bukan guru bahasa Inggris dengan lokasi kerja di kota kecil (lebih mirip desa yang sedikit berkembang) dan penghasilan pas-pas-an maka alternatif belajar bahasa Inggris sangat terbatas. Kursus bahasa Inggris yang baik hanya ada di ibukota provinsi, tentu dengan jarak dan biaya yang mahal. Maka cara ‘tradisional’ lah yang digunakan, belajar dengan kamus dan banyak membaca saja yang maksimal bisa dilakukan.

Hasil belajar di UT ternyata sesuai dengan target, yaitu mendapatkan IPK 3.45 dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik jurusan pada tahun wisuda 1997 (tidak ikut wisuda karena jauh, di Jakarta). Hasil sampingannya juga setiap semester sejak tahun ke-2, UPBJJ Mataram memberikan insentif bagi mahasiswa yang mempunyai IPK tertinggi tanpa nilai C atau D dalam transkripnya. Sedangkan hasil belajar ‘tradisional’ itu, baru saya buktikan saat ikut test TOEFL institusional di Universitas Mataram tahun 1998 (masih ingat juga biayanya yang sebesar Rp 50 ribu), ternyata nilai yang didapat dianggap cukup lumayan yaitu 540. Dengan dua hal itu (disamping umur masih jauh dari batas 35 tahun), maka upaya pencarian beasiswa ke luar negeri (baca: Australia) bisa dimulai; dimana proses menjadi eligible sebagai pemburu beasiswa itu secara total memakan waktu lima tahun, suatu investasi usaha yang mungkin orang lain bisa melakukannya lebih singkat, lebih murah dan lebih efektif.

Kontak melalui kedutaan besar Australia pun dilakukan, dan uniknya langsung dibalas oleh mereka dengan mengirimkan formulir beasiswa dan menjelaskan ke mana dan siapa yang mengurus proses seleksi beasiswa AusAID ini. Pada bulan Juni-Juli 1998 pembukaan untuk mengirimkan lamaran secara tertulis, kemudian selama Agt-Okt adalah proses seleksi administratif oleh pihak ADS, baru pada Nov-Des diumumkan siapa yang masuk shortlisted untuk menjalani test kemampuan bahasa Inggris IELTS dan wawancara.

Setelah lewat bulan Nopember 1998, tidak ada kabar ataupun surat didapat dari pihak ADS. Hal ini sedikit mengherankan, karena ada dua teman guru lain yang juga ikut seleksi jelas mendapatkan surat yang menyatakan terima kasih telah ikut seleksi dan tidak berlanjut ke tahap seleksi selanjutnya. Pada satu hari di bulan Desember memberanikan diri menelepon langsung ke ADS office di Jakarta; tidak diduga ternyata saya masuk shortlisted dan seharusnya melakukan test wawancara dan bahasa Inggris di Denpasar. Dia mengatakan bahwa surat undangan test sudah lama dikirim, namun malah balik lagi ke Jakarta karena alamat tidak dikenali (hal yang lumrah karena saya tinggal di desa dan tidak ada nama jalan dan alamat yang jelas; sangat kontras dengan kondisi sekarang yang bisa kontak dengan handphone, SMS, email, facebook, twitter dll). Kemudian dia menawarkan karena jadwal test di Denpasar sudah ditutup, maka kesempatannya adalah ikut test di Jakarta atau melamar lagi tahun depannya sambil dikatakan akan masuk prioritas supaya bisa shortlisted juga. Saya putuskan untuk ikut test seleksi di Jakarta dua hari kemudian saja, daripada nunggu tahun depan yang tentu masih belum pasti akan masuk shortlisted.

Karena bekerja di desa di Lombok Barat, dan harus ada di Jakarta dua hari kemudian, maka tidak ada pilihan lain selain harus menggunakan pesawat terbang ke Jawa hari itu juga. Setelah pinjam uang kiri-kanan dan ambil uang tabungan, serta minta ijin atasan untuk ikut seleksi; langsung menuju ke bandara. Dengan uang yang ada ternyata hanya mencukupi untuk beli tiket pesawat ke Surabaya (pengalaman pertama seumur hidup naik pesawat terbang) untuk kemudian disambung ke Bandung dengan bis, dari sana bisa istirahat dulu sehari untuk kemudian melanjutkan ke Jakarta.

Test yang dilakukan di IALF, Wisma Budi, Kuningan, Jakarta ternyata berada dalam suasana yang ramah dan santai. Kedua test dilakukan selang satu hari saja, karena memang tinggal saya sendiri yang harus diuji. Dimulai dengan test wawancara oleh satu orang bule Australia dan satu orang dosen Indonesia dengan bahasa Inggris; mereka menanyakan maksud ikut seleksi beasiswa AusAID, prestasi pendidikan sebelumnya, pengalaman bekerja dan apa tantangannya, apa manfaat yang bisa diberikan setelah selesai studi dan lainnya. Pada bagian akhir mereka menawarkan apa yang mau ditanyakan, ini justru bagian yang ‘mengerikan’ karena takut ini bagian jebakan wawancara yang sudah dirancang; maka yang ditanyakan pun hal yang sepele saja mengenai bagaimana kehidupan di Australia yang jelas membuat kedua pewawancara tersenyum dan tertawa kecil saat menjelaskannya. Esoknya datang lagi ke tempat yang sama, dilanjutkan dengan test bahasa Inggris IELTS; ada kejadian unik juga karena ruangan yang ber-AC yang dingin maka saya minta ijin untuk menggunakan jaket di ruangan yang tentu menimbulkan ‘perhatian ekstra’ dari pengawas ujian. Model test yang jauh berbeda dengan TOEFL, membuat kaget dan beberapa pertanyaan tidak mudah dipahami; yang membantu dalam urusan test bahasa Inggris ini adalah hobi membaca yang membuat topik yang ditanyakan rasanya sudah dikenali.

Setelah selesai test kemudian dapat penjelasan dari ADS office mengenai beasiswa  AusAID ini. Katanya untuk tahun ini yang ikut seleksi total sebanyak 5 ribu orang lebih; dari jumlah itu yang masuk shortlisted adalah dua kali jumlah jatah beasiswa yang tersedia; artinya terseleksi 600 orang untuk wawancara dan test IELTS. Bulan Februari 1999 akan diumumkan 300 kandidat penerima beasiswa secara resmi dengan surat, dan untuk tidak mengulangi kekeliruan sebelumnya saya menggunakan alamat sekolah tempat kerja. Saat yang tidak terlupakan adalah ketika menelpon lagi ke kantor ADS mengenai hasil seleksi  awal Februari, dan dinyatakan diterima dan harus ikut pelatihan bahasa Inggris selama tiga bulan. Setelah mendapat surat pemberitahuan resmi, kemudian mengurus surat ijin belajar ke kantor wilayah Dikbud provinsi.

Nilai IELTS yang didapat sudah lumayan, band 6, namun untuk studi postgrad di universitas di Australia minimal harus 6.5. Dan berdasar riset kemampuan bahasa Inggris yang diinformasikan untuk meningkat sebanyak 0,5 itu harus mengikuti kursus bahasa Inggris intensif selama 3 bulan. Maka selama tiga bulan mengikuti pelatihan di IALF, di Jakarta; disamping mencari universitas yang mau menerima menjadi mahasiswa yang dilakukan dengan menominasikannya ke ADS office. Kriteria yang saya gunakan adalah masa studi postgrad yang maksimum, yaitu dua tahun; dan berdasar perintah dari Sekneg, karena status guru maka harus memilih jurusan pendidikan; sampai akhirnya memilih Flinders University yang mempunyai jurusan educational administration dengan masa studi dua tahun.

Di IALF juga baru menikmati mewahnya fasilitas belajar yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, ruangan perpustakaan yang nyaman dan tidak membosankan, sarana komputer-multimedia, video pembelajaran English, sampai pertama kali mempunyai email dan terpesona dengan model komunikasi elektronik ini. Model pengajaran bahasa Inggris pun suatu yang terasa sangat asing, dimana pengajarnya full English (Australian) dan lebih menekankan pada penguasaan kosa kata dan penulisan, serta tentu saja untuk penyiapan menghadapi IELTS berikutnya. Pada saat bersamaan, juga dibereskan urusan surat ijin belajar ke Sekneg dan mengurus pasport dinas. Terdapat hal yang kontras saat melihat teman-teman yang bekerja sebagai dosen, mereka didatangi oleh pegawai Dikti,  diberikan uang untuk test kesehatan, dana pengganti transportasi dan hal lainnya. Tidak terdapat fasilitas yang sama untuk guru, hal ini menunjukkan bahwa Dikdasmen memang tidak mempunyai imajinasi bahwa guru pun bisa mendapatkan beasiswa AusAID.

Berakhirnya kursus English di IALF bersamaan dengan pengumuman diterima di universitas yang dipilih dan keluarnya surat penawaran beasiswa secara resmi dari AusAID yang secara jelas menunjukkan total nominal beasiswa adalah Aus $ 62 ribu. Tiket keberangkatan ke Adelaide pun diberikan. Setelah menaiki pesawat Qantas (pertama kali naik pesawat jet) pada Juli 1999, barulah yakin bahwa studi ke Australia yang diimpikan memang telah dicapai dan ‘investasi’ usaha sebelumnya memang tidak sia-sia.

Di kantor jurusan pendidikan Flinders Univ, Sturt Campus; Bersama komunitas international student dengan obor olimpiade Sydney 2000.

Pos ini dipublikasikan di Guru, Pendidikan Indonesia. Tandai permalink.

13 Balasan ke Cerita mendapatkan beasiswa-1

  1. Dot berkata:

    Salam sukses, salam persahabatan Mas Deceng.

  2. lakshmikartika berkata:

    subhanallah…pengalaman hidup seorg guru yg luar biasa …
    Dgn pemilihan bahasa yg enak dibaca… membuat kami selalu penasaran dgn crita2 DR. Bambang selanjutnya…. sukses slalu utk Bpk ^_^

  3. Ping balik: PERJALANAN KARIR MENJADI GURU | Padepokan Guru Indonesia (PaGI)

  4. Panji Irfan berkata:

    Wah, nuhun kang… Lengkap pisan🙂. Mudah-mudahan aya kanggo guru swasta, he..

    • deceng berkata:

      Pak Panji Irfan, guru atau dosen mana saja juga bisa melamar, yang menentukan adalam kualifikasi yang dimiliki (IPK, kemampuan English dan usia); sebagai ‘pemburu beasiswa’ anda harus rajin mencari informasi beasiswa apa yang cocok untuk diperjuangkan, pemberi beasiswa sifatnya egois, mereka hanya mau memberikan sesuatu bila kandidat yang melamar memang berpotensi🙂

  5. 64diwarman berkata:

    Sangat berkesan! Penuh perjuangan! Sukses selalu untuk Pak Bambang. tq

  6. investasi yang sangat berharga Dr. Bambang… sebuah proses metamorfosis yang hebat….

    • deceng berkata:

      Mas Anto, situasi anda sekarang lebih menguntungkan, anda bisa lebih baik lagi dalam mempersiapkan diri🙂

  7. Lanno Planogia berkata:

    teu karasa nyurujud cai mata , pantes timimiti tepung aya nu aneh di diri bambang pangalaman kahiji waktu pindahan kontrakan , baturmah lamunan pindahan teh banda anu dipindahkeun ieu mah dua lomari buku sa abreug koran kompas lamun teu salah mah , jeung deuih buku na teu kaharti da bahasa inggris ke beh…! pangalaman ka dua waktu ujian UT “bang kumaha bisa ” jawaban na ” alah boro boro” ehhh waktu penguman malah menang “A”
    salam ti kajauhan bang…..!

    • deceng berkata:

      he he he itu mah kenangan masa lalu pak guru🙂.
      Ayeuna tantangan-nya beda, nyuhunkeun doana yah pak ustad.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s