Cerita Pembimbingan Mahasiswa-2

Mendapatkan sumber pustaka ternyata tidak menjadikan urusan kajian literatur buat riset menjadi lebih mudah. Inisiatif, skills dan ‘jam terbang’ menggunakan berbagai database electronic akan membedakan mana yang memang rajin atau hanya sekedar cepat puas mendapat info yang diinginkan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menyusun kepingan infomasi dan hasil riset menjadi suatu sintesis kerangka teoritis yang memang mendukung riset yang akan dilakukan. Merangkaikan hal itu menjadi sesuatu yang logis dan enak dibaca memang suatu keterampilan yang harus dipunyai oleh student S3, karena disanalah kekuatan utama yang harus ditonjolkan untuk meyakinkan penilai (karena memang tesis dirancang oleh penulisnya sebagai sesuatu yang dengan harus sendirinya masuk akal dan mendukung temuan dan hasil analisis; mungkin mahasiswa yang ‘nekad’ yang melakukan sebaliknya, yaitu yang merancang kegagalannya sendiri).

Pada tahapan ini banyak keluhan disampaikan. Dimana si mahasiswa bersemangat membaca berbagai hasil riset dan buku rujukan, berlomba mendapatkan info aktual yang relevan bahkan sampai mem-foto-kopi atau mencetak sumber aslinya satu demi satu; namun saat mencoba menuliskannya, semua yang pernah dibaca seolah menjadi ‘lupa’. Satu mahasiswa yang menghabiskan dua minggu membaca berbagai rujukan, datang dengan mata lelah dan mendapati urusan mengumpulkan maklumat bukan urusan enteng. Ini memang resiko bekerja sendiri, dimana minat, kemandirian dan independensi diuji dan keterampilan baru perlu dikuasai. Pengeloaan berbagai sumber rujukan menjadi titik kritis untuk dikuasi, tersedia software yang sudah dibeli hak penggunaannya yang bebas untuk di download yaitu Endnote. Hal ini sesuatu yang tidak terhindarkan, karena studi di tingkat S3 kemungkinan menggunakan sumber rujukan (artikel jurnal, buku, laporan dll) sampai ratusan buah judul dimana kapasitas memori kita untuk mengingat isinya pun hanya baik bila saat sedang dibaca saja, saat beralih ke bacaan lain, yang sudah dibaca sebelumnya dan dianggap dipahami, biasanya sudah lupa.

Endnote memudahkan untuk mengingat kembali berbagai rujukan yang pernah dibaca; hal ini dilakukan dengan mengisi identitas dasar sumber pustaka (nama pengarang, tahun, judul, tempat terbit dan penerbit) secara manual. Namun lebih dari itu, Endnote menyediakan kolom isian yang bisa dimanfaatkan oleh si peneliti untuk menyimpan ringkasan tulisan, komentar dan kritik bahkan menyisipkan artikel asli bila tersedia dalam bentuk softcopy. Fasilitas ini juga memudahkan saya untuk memantau seberapa jauh si mahasiswa sudah membaca dan memahami isinya, cukup si mahasiswa mengirimkan file database Endnote (extention ‘enl’) melalui email secara reguler (dua minggu sekali), untuk kemudian dibandingkan dengan file yang sudah dikirim sebelumnya. Mahasiswa yang rajin biasanya ditujukan dengan record di file Endnote-nya  yang bertambah, kolom ringkasan dan komentarnya diisi dengan jelas dan  tajam analisisnya. Dengan mereview file Endnote, memudahkan untuk mengetahui dimana kondisi kemajuan studi (atau stagnan), dan jenis bantuan apa yang perlu diberikan atau info yang perlu ditambah dan juga dihilangkan (karena pada saat awal studi semangat membaca yang tinggi kadang tidak diiringi secara selektif apa yang memang berguna untuk dipahami).

Tantangan berikutnya adalah terjebak dalam suasana isolasi dalam rutinitas studi. Hal ini pasti dialami, cepat atau lambat; berhubung mempelajari satu bidang secara terus menerus, tentu menyebabkan mereka menjadi lebih paham dan bisa dikatakan menjadi pakar dalam bidang tersebut (asumsi positifnya). Pada saat yang sama muncul kejenuhan, karena apa yang dipahami paling maksimal hanya bisa dikomunikasikan dengan dosen pembimbing, itu pun akan menjadi semangat kalau memang diperhatikan; terkadang, apa yang dilaporkan baik secara lisan dan tertulis malah serba ngak jelas dan melenceng jauh dari niat studi yang pernah dibicarakan. Kalau sudah begini, biasanya si mahasiswa mudah kena gejala merasa ter-isolasi, terlebih tidak ada orang lain yang memang bisa memahami tentang isi studinya  (apalagi kalau studi di negara lain yang berbeda bahasa dan budaya, maka makin terpencil dan kadang menyesali kenapa sampai sejauh ini untuk bisa ‘menikmati’ sengsara).  Hal yang penting untuk bisa pulih dari kondisi ini resepnya adalah bahwa studi yang mau dilakukan memang pilihan si mahasiswa s3 sendiri [makanya kasus judul harus disetujui pembimbing jelas kontraproduktif, tentu disamping tidak membuat mereka makin mandiri]. Bila memang topik riset dan hal yang mau diteliti memang pilihan mereka sendiri, maka tentu ini cepat menyadarkan mereka akan tanggungjawab studi dan terus bangkit.

Hal lain yang bisa mengatasi rasa ter-isolasi adalah melakukan pembimbingan secara berkelompok. Disamping ini menghemat waktu, semisal dalam waktu satu sampai dua jam konsultasi dengan empat mahasiswa S3 secara langsung, juga bisa membuat mereka bisa menilai kemajuan studi masing-masing dan yang diharapkan saling membantu bila terdapat kesulitan. Keuntungan lainnya, pada mahasiswa terdapat perasaan bagian dari komunitas yang sama-sama melakukan studi secara mandiri. Tentu kadang suasana konsultasi tidak selalu mulus, kadang perlu menjadi pendengar yang setia sambil menunggu beliau-beliau menemukan dengan sendirinya kesalahan logika atau kesilapan karena kurang banyaknya bacaan. Situasi lainnya, mereka menunggu penjelasan atau petunjuk padahal apa yang dijelaskan memang sudah memadai, mungkin menunjukkan ewuh-pakewuh (atau juga menguji apa si pembimbing memang memahami atau tidak). Pada saat lain, sebelum dimulai diskusi, saling berebut menyebut perjuangan masing-masing mempersiapkan bahan untuk konsultasi yang harus mengetik sampai pagi, kurang tidur sambil tidak lupa meminta maaf bila belum bagus. Nampaknya budaya SKS (sistem kebut semalam) masih menjadi modus legendaris untuk terus dipertahankan.

Selain konsultasi dengan tatap muka, cara paling objektif untuk menilai kemajuan studi adalah dengan melihat hasil karya mereka, berupa draft/buram proposal atau kajian literatur. Penilaian sesuatu yang tertulis lebih enak, harap maklum dengan dalam penjelasan lisan, karena lidah tak bertulang, kadang uraian yang tidak logis tidak terlalu nampak. Bila mendapatkan laporan tertulis maka prosedur tetapnya adalah deteksi plagiarisme dengan turnitin, bila didapati indeks plagiarisme-nya keterlauan maka pesan ditambah dengan ‘kata mutiara’. Selanjutnya adalah memberikan komentar secara langsung akan isinya secara elektronik dengan fungsi yang disediakan Microsoft Word, dan penilaian ini relatif objektif dibandingkan mendengarkan penjelasan lisan. Untuk menguji secara lebih jauh kemajuan mahasiswa riset ini, cara yang akan ditempuh nantinya adalah menyuruh mereka untuk mempresentasikan rancangan studi ataupun hasil riset di depan dosen lain dalam satu research group. Proses ini jelas akan membuat mereka menjadi matang dan makin professional dimana mereka harus meyakinkan panel yang isinya para pakar yang menilai kelayakan studinya; disamping mendapatkan second opinion dan resiko ‘dibantai’ habis bila memang tidak menunjukkan kualitas yang dikehendaki.

Tahapan awal studi di UTM untuk S3 relatif sedikit berat. Dimana si mahasiswa harus membuat proposal dengan taraf tiga bab pertama sudah lengkap (pendahuluan, kajian literatur dan metodologi). Tiga bab awal ini nantinya tidak lain adalah bagian tesis, yang menunjukkan kualitas usaha yang tidak main-main. Hal ini juga yang menyebabkan proposal jarang bisa diselesaikan dalam semester pertama, terlebih bila fokus riset pun masih belum dapat diputuskan. Bila sudah dinyatakan siap, maka proposal akan diuji oleh panel ahli di tingkat fakulti yang akan menilai kelayakan studi yang akan dilakukan. Ujian lisan dan penilaian proposal tertulis terkadang tidak langsung dinyatakan lulus, artinya kerja keras lagi untuk menambal bagian yang memang kurang memuaskan. Namun bila proposal dinyatakan diterima, maka itu adalah ‘kontrak tertulis’ antara si mahasiswa dengan universitas, sekaligus menjadikan dia secara resmi sebagai kandidat doktor.

Saya mengakhiri cerita pembimbingan mahasiswa ini dengan kenyataan bahwa mayoritas mahasiswa riset S3 saya ternyata memang orang Indonesia, dan tentu ada konsekwensi dari keadaan ini. Ada suatu uneg-uneg yang saya dengar setelah saya bekerja di Malaysia ini, dimana satu pejabat di kemendiknas mengilustrasikannya begini: Bagaimana hal ini terjadi? Ada mahasiswa dari Indonesia, dengan beasiswa dari Indonesia, belajar ke luar Indonesia, dan ternyata dibimbing oleh orang dari Indonesia; tapi yang untung malah Malaysia? (‘untung’ disini dalam arti mendapat hak cipta intelektual dari risetnya). Mungkin anda punya usulan jawaban yang memuaskan untuk beliau ini🙂.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s