Cerita Pembimbingan Mahasiswa-1

Sebagai pensyarah (dosen) selain mengajar secara rutin setiap semester yang biasanya tiga mata kuliah di tingkat master (S2), juga diberikan tugas membimbing mahasiswa untuk menyusun karya tulis/tesis. Setiap mata kuliah yang diajar ada komponen membuat karya tulis (academic paper) dimana proses pembimbingan mulai dari penentuan topik, membahas rancangan isi sampai kepada merevisi dan edit tulisan-nya pun dilakukan. Biasanya karya tulis yang menjadi bagian tugas mata kuliah tersebut bebannya tidak terlalu besar, sekitar 2000-3000 kata (sekitar 10-15 halaman)  dengan model penulisan yang mirip tesis. Kadang yang membikin puyeng adalah bila jumlah mahasiswa di kelas yang banyak (lebih dari 15 orang; tapi pernah mendapat satu kelas sampai 42 orang), dimana membimbing mereka satu demi satu (walaupun panjang tulisan maksimal 3 ribu kata) membutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra. Namun, yang akan dibagi dalam tulisan ini adalah cerita pembimbingan mahasiswa S3.

Saat ini saya menjadi pembimbing untuk tujuh orang mahasiswa tingkat doktoral, dua daripadanya sebagai pembimbing kedua dan sisanya sebagai pembimbing utama. Dari tujuh orang tersebut, semuanya lulusan S2-nya bukan dari Malaysia; lima orang malah S2-nya dari Indonesia dan sisanya non-Indonesia. Dua orang diantara mereka adalah perempuan; serta tiga orang berusia lebih tua dari saya sendiri.  Banyaknya mahasiswa yang perlu dibimbing ini juga seolah menunjukkan bahwa staf asing (pensyarah internasional) memang didisain untuk lebih banyak kerja sebagai pembimbing, sedangkan pensyarah lokal (orang Malaysia) lebih dominan untuk tugas mengajar.

Berbagai pengalaman membimbing mahasiswa ini sesuatu yang berharga yang belum pernah didapatkan sebelumnya. Untuk memudahkan proses supervisi ini, maka perlu dijelaskan peran mereka dalam studi doktoral ini, bahwa ini sifatnya penelitian (full research) dan tidak ada kelas/kuliah yang perlu dihadiri. Dalam konteks Malaysia, seperti negara persemakmuran Inggris lainnya, mahasiswa penelitian dianggap setara dengan staf dimana yang mereka lakukan sebenarnya adalah magang kerja sebagai peneliti, dengan tugas utama menyelesaikan tesis yang dapat diterima oleh fakultas dan universitas kualitasnya.

Bagi mahasiswa dari Indonesia, ketiadaan kelas ini mengubah secara mendasar persepsi mereka tentang penyelesaian studi. Dimana pengalaman belajar sebelumnya, selalu ada seseorang (guru atau dosen) yang memberitahu apa yang perlu dipelajari, memberikan penjelasan dan akhirnya menguji apa yang sudah diberikan.  Tidak adanya kelas yang perlu didatangi jelas membuat ‘kaget’, dan perlu waktu untuk membangun kesadaran akan perlunya inisiatif dan independensi akan maksud mereka studi di negara asing. Tidak aneh bila pada masa tiga bulan pertama, lebih banyak untuk menunggu ‘perintah’ harus melakukan apa, dan kadang perlu dijelaskan secara detail bagaimana hal itu dilakukan dan mengukur kemajuan studi yang sudah dilakukan.

Yang rada susah dijelaskan dan perlu kesabaran adalah memberi tahu bahwa hasil studi mereka nanti (tesis S3) harus menyumbangkan sesuatu kepada ilmu pengetahuan, suatu penemuan riset yang belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Tidak ada cara yang mudah untuk mengkomunikasikan ini selain mengkaji tesis dalam bidang ilmu yang akan dilakukan dan mengidentifikasi apa yang sudah diteliti orang lain. Identifikasi hal ini sebenarnya sedikit lebih mudah dengan keberadaan basis data elektronik (seperti Proquest, Scopus, ERIC dll) di website perpustakaan UTM untuk menghindari replikasi jerih payah yang akan dilakukan (lebih baik menghabiskan waktu tujuh jam dengan electronic data base, daripada melakukan riset tujuh semester namun ternyata sudah dilakukan orang lain). Sehingga tugas paling awal yang saya berikan ke mereka adalah membaca berbagai abstrak hasil riset untuk mengetahui secara kasar apa yang sudah diteliti orang lain.

Untuk mengetahui apa yang diharapkan oleh fakultas dan universitas akan karya tulis yang harus dilakukan, maka membaca tesis S3 tentunya akan menjadikan mereka paham. Secara langsung si mahasiswa S3 mempelajari dengan teliti seperti apa struktur tesis, bahasa yang digunakan, bagaimana menjelaskan satu pokok bahasan, analisis data dan cara pengambilan kesimpulan. Biasanya setelah membaca dua sampai tiga tesis, mereka sudah mendapat gambaran harus seperti apa karya tulis yang dibuat, dan (ini yang membuat saya kagum) hampir semuanya mengatakan sanggup dan mampu melakukannya. Optimisme yang biasa terjadi di awal studi.

Satu hal yang unik dijumpai dari mahasiswa riset yang S2-nya dari Indonesia, adalah mereka begitu sungguh-sungguh untuk menyampaikan judul tesis. Bagi saya pribadi ini agak mengherankan, karena seolah sudah bisa menebak segala hal dalam karya tulisnya walaupun proposal, pengumpulan data bahkan menulis tesis pun belum dilakukan. Hal ini  menunjukkan pola pendidikan yang pernah mereka alami dan tentunya sangat ‘berkesan’, dimana dosen pembimbing mereka sebelumnya ngotot bahwa untuk melakukan riset harus mengajukan judul dan baru bisa bergerak bila judul sudah disetujui. Alhasil, sangat tampak dari reaksi yang ditunjukkan, bahwa seolah setengah kegiatan riset sudah dianggap dilalui bila sudah mendapatkan judul yang cocok. Proses unlearn hal ini pun perlu waktu dan ‘nasehat’ yang tidak sedikit, kadang sampai perlu menyatakan judul tidak penting karena kapan pun bisa terus diubah sampai nanti tesis dinyatakan diterima, yang lebih utama adalah topik studinya tentang apa dan mau meneliti apanya.

Tantangan selanjutnya adalah review literatur, yang kenyataanya lebih banyak berbahasa asing (Inggris). Karena faktanya mereka sudah diterima sebagai mahasiswa tingkat doktoral, namun kemampuan bahasa Inggris masih belum cukup untuk taraf studi S3, sebagai pembimbing tentu tidak bisa cuci tangan dan menggunakan ini sebagai alasan. Cara yang agak ‘primitif’ pun diterapkan, yaitu menyuruh si mahasiswa untuk translasi teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia secara konsisten minimal dua jam sehari dengan bantuan kamus yang bagus dan dilakukan secara manual, menulis di buku catatan. Ini dilakukan berhubung kursus bahasa Inggris di Malaysia, biayanya pun hampir sama dengan studi S3 (ataupun untuk S1 dan S2), disamping efektivitasnya tidak menjamin akan meningkat secara drastis. Tentu diharapkan dengan penguasaan kosa kata yang terus bertambah, akan lebih membuat mereka belajar secara langsung dan bermanfaat dalam bidang studi yang akan diteliti. Tentu saat yang sama akan ada godaan untuk menggunakan jurus short cut dengan menggunatan software seperti transtool atau memakai fasilitas google translate. Kalau pun itu terjadi, ‘nasehat’ tambahan perlu diberikan dengan ‘penuh perhatian’.

(bersambung)

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

5 Balasan ke Cerita Pembimbingan Mahasiswa-1

  1. kerakinket berkata:

    salam pak,
    sebuah catatan yang menarik, menginspirasi dan semoga menambah semangat bagi kita yang juga sedang study riset, apa yang diceritakan dalam tulisan ini setidak nya menggambarkan bahwa kita mesti banyak membaca dan menulis, terlebih kita sebagai “pekerja akademik”. ditunggu sambungan ceritanya pak,.🙂

    wslm

    • deceng berkata:

      Trims komentarnya, riset perjalanan mencari jati diri juga sekaligus menguji daya tahan anda🙂

  2. maulinadwi berkata:

    Bicara soal ‘short cut’, Pak..Suatu hari, di sebuah gedung yang nyaman dan sejuk, saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan, “Bu, kalo translate berapa ?”. Saya bingung menjawabnya. Akhirnya yang keluar adalah:”Wah, sama saya tarifnya mahal, Pak/Bu”, sambil nyengir kuda…..:D..:D….(itupun masih dikejar dengan “Iya, mahalnya seberapa?”…:D). Semoga Allah mengampuni saya. Ditunggu lanjutannya, Pak Bambang, supaya bisa koreksi diri sendiri.

  3. Ping balik: PERJALANAN KARIR MENJADI GURU | Padepokan Guru Indonesia (PaGI)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s