Universitas Riset

Walaupun pernah studi di beberapa universitas, baik dalam dan luar negeri, namun dunia kerja di perguruan tinggi pada awal memulai karir sebagai dosen (pensyarah) di Malaysia masih terasa janggal. Hal ini juga karena pengalaman kerja tujuh tahun sebelumnya walaupun mengajar namun dalam tingkatan sekolah menengah sebagai guru; juga beberapa kerja serabutan di lingkungan pendidikan. Untuk memahami dengan baik lingkungan kerja, tidak cukup dengan melakukan tugas dengan baik ternyata; namun juga perlu mengetahui tentang sejarah pendidikan Malaysia, latar belakang sosial-politik negara ini, pengaruh Inggris sebagai negara penjajah, dan tentu pula inisiatif dan perkembangan terkini-nya. Satu hal yang menarik untuk diceritakan adalah tentang universitas penyelidikan (research university status).

Secara total di Malaysia terdapat enampuluh lebih universitas, 20 diantaranya adalah universitas negeri.  Universitas swasta di Malaysia adalah fenomena baru yang berkembang pesat dalam waktu 15 tahun ini setelah diadakannya ‘liberalisasi’, dengan ukuran dan kualitas yang sangat beragam. Sedangkan untuk universitas negeri karena didukung dana yang lumayan dari pemerintah mempunyai kualitas yang lebih terjaga. Dalam hal klasifikasi ‘mutu’ antar universitas negeri pun paling tidak terdapat kriteria kasar yang dipakai sebagai rujukan, yaitu status sebagai universitas penyellidikan (biasa disebut RU atau research university). Dalam kategori terbawah adalah universitas biasa-biasa saja yang memang tidak mendapat status RU; kategori kedua adalah empat universitas negeri yang merupakan beberapa perguran tinggi tertua di Malaysia yang menyandang RU status yaitu Universiti Putra Malaysia (UPM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universiti Malaya (UM) dan yang terakhir masuk klub elit ini adalah Universiti Teknologi Malaysia (UTM); kategori tertinggi disandang oleh Universiti Sains Malaysia (USM) yang disebut sebagai universitas APEX (accelerated programme of excellence).

Untuk mendapatkan status RU tersebut, pihak Kementerian Pengajian Tinggi (KPT) Malaysia membuka peluang kepada setiap universitas disini untuk mengajukan diri. Karena dana pemerintah terbatas (seperti biasa), maka hanya diberikan pada beberapa universitas yang memenuhi syarat saja, dan mulai dibuka tahun 2005. Seperti sudah disebut, lima universitas sudah menyandang status ini dan satu diantaranya ditingkatkan lagi. Alasan utama dikeluarkannya kebijakan ini adalah sesuai dengan potret perguruan tinggi di negara berkembang, dimana fokus utamanya adalah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa dengan kata lain sebagai teaching university.  Peran tradisional ini dianggap sudah waktunya berubah karena memang tuntutan persaingan global disamping kecukupan penyediaan tenaga intelek meningkat drastis sejak adanya ‘liberalisasi’ perguruan tingi. Maka yang diharapkan adalah terjadinya perubahan paradigma dalam sistem perguruan tinggi di Malayasia yang lebih fokus pada kegiatan riset (creating knowledge) dan bukan sekedar mengajar (transfer of knowledge).

KPT kemudian menyusun instrumen kelayakan yang harus diraih bila satu universitas ingin mendapat status RU. Kriteria yang utama adalah kapasitas dalam kegiatan riset yang mengambil proporsi 55% dari total nilai, yaitu 25% untuk kuantitas dan kualitas dosen peneliti; serta 30% untuk kuantitas dan kualitas riset yang telah dihasilkan. Kuantitas dosen ditentukan oleh latar belakang pendidikan yang sudah mencapai doktoral, sedangkan kualitasnya adalah ukuran  setiap dosen yang sudah lulus S3 tersebut, yang pernah menjadi ketua proyek penelitian. Kondisi di Malaysia pun populasi dosen yang sudah S3 (khususnya pada saat kebijakan RU dimulai) tidak seramai di negara maju yang memang menjadikan hal itu sebagai syarat awal yang tidak bisa ditawar; apalagi faktor sebagai teaching university tidak membuat suasana kompetitif (baca: memaksa) dosen untuk menyelesaikan S3-nya, ditambah kenyataan bahwa prosentasi kelulusan S3 memang tidak bisa dikatakan tinggi. Dalam hal kualitas peneliti, kesibukan mengajar juga menyebabkan  banyak waktu tersita dan ‘terlupa’ untuk mengerjakan penelitian dan bersaing mendapatkan dana riset sehingga populasi principal researcher yang berkualitas dan berpengalaman pun jadinya tidak sebanyak yang diinginkan.

Untuk kuantitas dan kualitas riset (yang sumbangannya 30%), maka yang dinilai adalah karya tulis yang sudah dipublikasikan oleh masing-masing staf pengajar di universitas yang bersangkutan. Hal yang lumrah, bila fokus masih memberikan kuliah, maka mudah diduga tidak banyak karya tulis dalam bentuk artikel jurnal, buku, monograf, patent, karya intelektual lain yang dihasilkan. Ukuran kualitas riset selanjutnya adalah mengukur seberapa ‘populer’ karya tulis yang dihasilkan tersebut digunakan oleh orang lain dalam bidang yang sama; hal biasa disebut sebagai citation (pengutipan), maupun yang lebih bergengsi lagi yaitu impact factor (IF).  Kedua hal ini menjadi parameter yang tidak terbantahkan dalam hal kualitas tulisan yang dibuat oleh staf pengajar perguruan tinggi; secara mendasar menunjukkan seberapa jauh ‘pasar’ bisa menerima ‘produk’ yang dihasilkan. Makin sering dikutif dan mempunyai IF yang tinggi maka bisa dikatakan karya tulis yang dibuat memang kualitas jempolan.

Kriteria berikutnya yang menyumbang sebanyak 15% adalah dalam kualitas dan kuantitas mahasiswa pasca sarjana. Ini juga menunjukkan hal yang logis dalam hal universitas riset, dimana mahasiswa pasca sarjana sudah semestinya melakukan kerja riset yang lebih berbobot dan menyumbangkan sesuatu yang bernilai pada ilmu pengetahuan; bila populasinya saja masih sedikit, maka menunjukkan bahwa fokus perguruan tinggi itu masih dalam hal menghasilkan lulusan S1 saja. Secara lebih khusus mahasiswa pasca sarjana yang melakukan studi berdasar riset (full research) menyumbangkan nilai lebih besar nilai  dibandingkan yang hanya kuliah saja (coursework). Dengan kata lain ini menjadi insetif bagi universitas untuk terus  dan banyak meneliti tersedia, serta mengasah keterampilan riset dan terus memperbesar populasi peneliti.

Sumbangan berikutnya diberikan dalam hal inovasi (10%), dimana program yang telah dijalankan seperti dalam konsultasi dengan industri, inisiatif riset yang fundamental yang semuanya dalam skala yang besar dan melibatkan dana riset besar serta partner luar negeri. Kontribusi lain yang maisng-masing dibawah 10%, selanjutnya ada tiga hal yaitu: professional services (7%);  networking & linkages (8%); dan support facilities (5%).

Semua kriteria itu harus mempunyai sumbangan (dan tentu kalau bisa dengan nilai penuh) yang harus disusun dalam satu dokumen yang lengkap dengan bukti-bukti-nya sekaligus (bahkan perlu sampai tiga mobil saat mengantarkannya ke KPT). Suatu pekerjaan besar dan menuntut ketelitian tinggi, berhubung urusan pengelolaan basis data bukan hal yang sepele; malah terkadang kesempatan bersaing mendapatkan RU status ini menjadi titik tolak untuk membereskan segala hal dalam database universitas mulai dari pencatatan harta dan kekayaan yang dimiliki (tanah, bangunan, alat laboratorium dll),  update kualifikasi dosen, dana riset yang telah didapat, publikasi ilmiah yang telah dihasilkan sampai kepada pemberesan administrasi perkuliahan.  Bisa dibayangkan betapa sibuknya universitas yang mau mendapatkan RU status ini. Seperti yang mudah diduga, di Malaysia pun yang mampu bersaing untuk menyandang status RU ini adalah universitas yang memang duluan ada. Universitas-universitas yang relatif baru, harus ‘tahu diri’, terutama mereka tidak beruntung dalam kriteria  penilaian kualifikasi staf (yang sudah doktor) maupun kuantitas dan kualitas riset dan publikasi ilmiah yang sudah dihasilkan.

Kemudian apa insetif yang didapat bila dinyatakan sebagai universitas penyelidikan? Yang paling mudah tentunya adalah reputasi sebagai universitas yang terbaik (di Malaysia) dan mendapat kucuran dana riset yang sangat berlebih. Status RU diberikan dalam kurun waktu tiga tahun yang nanti akan dievaluasi; sepanjang tiga tahun tersebut pada tahun pertama  mendapat sekitar RM 65 juta (Rp. 180 milyar) diluar dana rutin (pemeliharan dan gaji) yang biasa diberikan per tahunnya; dalam tahun kedua dan ketiga meningkat menjadi sekitar RM 100 juta (sekitar Rp 280 milyar). Dana segar tersebut jelas peruntukkannya melulu untuk kegiatan riset seperti beasiswa mahasiswa pasca sarjana serta  dana riset yang  harus menghasilkan produk riset berkualitas dan tentu saja publikasi ilmiah. Bila dalam satu universitas yang mempunyai dosen yang layak meneliti sebanyak 1200 orang, maka diambil rata-rata-nya setiap dosen mempunyai dana riset yang siap digunakan dalam jangka waktu satu tahun sebesar RM 50 ribu (Rp. 140 juta) di tahun pertama saja. Untuk universitas Apex (USM), maka dana riset yang tersedia adalah lebih dari dua kali lipat-nya. Pada saat universitas dianugrahi status RU, maka tidak serta merta bahwa setiap dosen bakal dapat dana siap pakai untuk riset; terdapat juga panel seleksi proyek riset yang menilai kelayakan topik yang diteliti, harus lulus kriteria dan feasibilitas karya yang dihasilkan dapat terbit dalam jurnal ilmiah internasional yang berkelas.

Perkembangan mutakhir dunia perguruan tinggi di Malaysia ini memberikan gambaran akan makin sulitnya mengejar prestasi riset mereka dalam skala yang lebih besar. Keseriusan pemerintah memang menjadi kuncinya, sayangnya pemerintah kita malah untuk urusan dana rutin pun menawarkan solusi ‘liberalisasi’ [walaupun UU BHP dibatalkan, namun semangat ‘jual mahal’ ini tidak pernah surut]. Dulu kita pernah mendengar wacana tentang universitas riset di  tanah air, namun kejelasan dan seperti apa bentuknya tidak ada kepastian alias cuman label saja. Pada saat yang sama Malaysia sudah selangkah lebih berbeda dalam urusan ini.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

3 Balasan ke Universitas Riset

  1. kerakinket berkata:

    Salam,
    artikel yang menarik pak, menginspirasi dan membawa semangat baru, setidak nya dengan tulisan ini kita harus lebih banyak lagi membaca dan menulis, begitu penting nya membaca literature, mengambil kesimpulan dan menuangkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan ilmiah. terima kasih dan ditunggu sambungan ceritanya,..🙂

    wslm

    • deceng berkata:

      Saat ini kita bisa belajar dari mereka (kalau mau), seperti halnya mereka dulu susah payah juga belajar ke Indonesia🙂. Thanks komentarnya.

  2. Ping balik: Cerita kualifikasi dosen di Malaysia | Blog Catatan Ngejar Setoran

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s