Latihan Mengajar

Semester ini untuk kedua kalinya saya terlibat dalam kegiatan latihan mengajar mahasiswa (teacher training). Latihan mengajar sifatnya wajib bagi mahasiswa S1 di fakultas pendidikan UTM, yang biasanya bisa diambil setelah menyelesaikan perkuliahan dalam enam semester (tiga tahun). Kegiatan ini diselenggarakan oleh satu komite tetap yang khusus mengurus latihan mengajar di tingkat fakultas, dan dilakukan setiap semester ganjil. Secara langsung keterlibatan dalam hal ini memberikan hal yang sangat berharga bagi saya pribadi untuk memahami seperti apa lingkup dunia pendidikan di Malaysia (khususnya sekolah menengah).

Setiap mahasiswa calon guru ditempatkan di berbagai sekolah di negara bagian Johor, minimal ada dua orang per sekolah dan rata-rata-nya empat orang. Biasanya kalau mahasiswi lebih banyak ditempatkan di sekolah menengah yang berlokasi di tengah kota atau di pusat kota di kota kecil, sedangkan yang mahasiswa lebih banyak di sekolah pinggiran kota (disini disebut dengan sekolah luar bandar). Sekolah yang dijadikan tempat latihan mengajar adalah tingkatan menengah dan sekolah negeri (sesuai dengan dunia kerja si mahasiswa nanti).

Aktivitas latihan mengajar bagi mahasiswa adalah kegiatan penuh waktu seperti layaknya guru biasa. Keberadaan di sekolah pun mengikuti jadwal semester di kampus, yang artinya mereka harus tetap berada disana selama 14 minggu tanpa jeda. Mereka harus hadir dari awal jam masuk kerja (pukul 7.30 pagi), berpakaian kerja yang rapih, dan mengikuti berbagai kegiatan di sekolah sampai waktu belajar selesai dan siswa pulang. Kalau mendapat penugasan di sekolah yang satu sesi (semuanya masuk pagi), maka biasanya pukul dua siang sudah beres; namun bila bertugas di sekolah yang ada kelas siang, maka harus stand by dari pagi sampai pukul lima sore. Semua mahasiswa yang terlibat dalam latihan mengajar jadinya kost di sekitar sekolah untuk memudahkan akses, disamping mengenal komunitas di sekitar sekolah secara lebih dekat.

Untuk setiap mahasiswa diberikan satu orang guru (cikgu) pembimbing dari pihak sekolah, yang akan memberikan berbagai informasi mengenai regulasi dan berbagai hal tentang sekolah. Atas jerih payahnya ini, si guru pembimbing mendapat imbalan sekedarnya dari fakultas. Pada dua minggu pertama si mahasiswa biasanya menjadi pengamat yang setia: memperhatikan guru pembimbing mengajar di kelas dan menjadi asistennya. Disamping itu si mahasiswa calon guru juga ikut hadir dalam rapat guru; membantu guru lain dalam aktivitas ko-kurikuler, persiapan test, mengawasi ujian; menyiapkan administrasi pengajaran sesuai dengan standar dan bimbingan guru pendamping dll. Semua aktivitas yang dilakukan harus dicatat dengan teliti dalam buku kegiatan yang diberikan oleh fakultas, diberikan catatan dan komentar pribadi; yang nanti akan diperiksa dan dinilai oleh dosen pembimbing.

Kegiatan mahasiswa calon guru yang mendapat penilaian langsung adalah aktivitas mengajar di depan kelas. Biasanya si mahasiswa, secara total, dia tampil sampai sekitar 30 kali di depan di berbagai kelas dalam rentang waktu 14 minggu tersebut; guru yang ditunjuk dari sekolah akan selalu mendampingi serta memberikan komentar serta saran perbaikan. Penilaian kualitas mengajar mahasiswa oleh guru pembimbing dilakukan sebanyak enam kali; sedangkan oleh dosen pembimbing tiga kali saja yang dilakukan dalam waktu berlainan.  Semua penilaian ini dikirimkan secara elektronik melalui website yang telah ditentukan.

Bila melihat kegiatan praktek mengajar ini, terlihat bahwa penyiapan keterampilan dan pengetahuan guru yang dilakukan oleh perguruan tinggi di Malaysia termasuk sangat bagus. Pengalaman saya dahulu dalam kegiatan yang namanya mirip sangat berbeda kualitasnya; dulu dosen saya hanya hadir saat penyerahan mahasiswa ke sekolah, guru pendamping tidak pernah memberi contoh dan bahkan ikut hadir di kelas pun saat sang calon guru sedang tampil (malah mereka menggunakan hal itu kesempatan untuk bisa ‘bebas’ dari tugas mengajar), kehadiran di sekolah pun bisa kapan saja dan semau gue karena memang tidak ada yang mengawasi. Sehingga akhirnya disadari pengetahuan tentang sistem sekolah, ketrampilan mengajar ataupun pengalaman yang didapat masih belum seberapa saat nanti harus berhadapan dengan kompleksitas dunia kerja sebagai guru.

Selama dua kali membimbing mahasiswa latihan mengajar ini, saya kebagian sekolah menengah yang berada di luar bandar (luar kota/pinggiran). Kondisinya sebetulnya tipikal sekolah menengah di Malaysia, yang mengajar siswa dari kelas 7 sampai kelas 11. Total jumlah murid di sekolah mencapai lebih dari dua ribu orang; hal ini karena rasio sekolah dasar (tahun 1-6) dan sekolah menengah di Malaysia secara kasar adalah 3,5:1 [artinya tiga sampai empat sekolah dasar di satu lokasi, maka harus ada satu sekolah menengah untuk menampung lulusan dari sekolah dasar tadi].  Malaysia menerapkan sistem zoning, maksudnya siswa yang berdomisili di lokasi tertentu hanya boleh mendaftar di sekolah yang berdekatan saja. Bila dilihat komposisi populasi murid dan guru, juga menunjukkan realitas komunitas yang ada di Malaysia, yaitu Melayu, Cina dan India. Tantangan sekolah besar (murid lebih dari seribu orang), adalah urusan disiplin. Di satu sekolah yang saya kunjungi tahun lalu kondisinya memprihatinkan, sampai guru lelaki dan perempuan menggunakan pendekatan ancaman untuk bisa menertibkan siswa (membawa rotan kecil di tangan), bahkan mobilitas kepala sekolahnya yang luar biasa, beliau selalu keliling sekolah (enam kali ke sekolah, saya tidak pernah menjumpai di ruangannya), yang menunjukkan kekhawatiran karena siswa kabur dari sekolah atau mencegah adanya aktivitas yang tidak dikehendari terjadi. Sedangkan sekolah yang saya kunjungi tahun ini relatif masalah disiplin hampir tidak ada, mungkin karena lokasi sekolahnya yang di desa dan gurunya lebih bisa meredam.

Satu pengalaman unik yang selalu membekas saat melihat mahasiswa calon guru mengajar di depan kelas, khususnya kelas 7, adalah partisipasi siswa etnis Cina. Kebanyakannya mereka tidak bisa terlibat aktif karena hambatan bahasa, bila ditelaah lebih jauh kemampuan mereka dalam berbahasa Melayu (bahasa nasional Malaysia) sangat rendah; tentu kondisi sangat mengherankan kalau terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan sistem pendidikan dasar di Malaysia, membolehkan sekolah dasar yang menggunakan bahasa Ibu; sehingga ada tiga jenis sekolah dasar negeri, yaitu sekolah kebangsaan (memakai bahasa Melayu), sekolah jenis kebangsaan cina (bahasa Cina), sekolah jenis kebangsaan tamil (bahasa Tamil); perpindahan ke sistem bahasa nasional (sekolah tingkat menengah wajib berbahasa Melayu), menyulitkan khususnya bagi siswa etnis Cina ini. Kadang ada kejadian lucu seperti anak melayu yang menjadi penterjemah bagi teman cina-nya, berhubung si anak melayu ini memang bersekolah di sekolah cina sebelumnya; namun lebih seringnya karena tidak paham dan susah berbahasa Melayu, yang terjadi siswa ‘sibuk’ dengan dunianya dan mahasiswa calon guru bingung mengaturnya. Isu ini selalu menjadi hal yang sulit dan sensitif dalam dunia pendidikan di Malaysia.

Pengalaman lainnya yang menggembirakan saat hadir di sekolah, adalah sambutan guru-guru. Kehadiran dosen (pensyarah) dari perguruan tinggi dianggap sebagai teman lama; mereka menanyakan peluang tentang studi pasca sarjana, membicarakan isu pendidikan terbaru dan yang mengagetkan saya adalah bertukar pengalaman hidup di luar negeri (sebagian dari mereka pernah studi atau kursus singkat di luar negeri seperti Australia, New Zealand, Indonesia dll). Bila mengobrol secara bebas dengan para cikgu, tampak mereka tidak begitu khawatir tentang masa depan; karena rata-rata sudah punya rumah walau menyicil, halaman parkir sekolah pun penuh dengan mobil yang dimiliki oleh para cikgu (juga secara kredit). Tampak jelas bahwa tingkat kesejahteraan guru di Malaysia memang lebih bagus.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, Student, UTM. Tandai permalink.

2 Balasan ke Latihan Mengajar

  1. Satria Dharma berkata:

    Very interesting, Cik Gu!🙂
    Saya share ke milis-milis ya!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s