Cerita Pengajaran MIPA dengan English di Malaysia

Berdasarkan keputusan rapat kabinet pemerintah Malaysia pada bulan Juli 2002, diputuskan suatu langkah drastis dalam dunia pendidikan di Malaysia, yaitu penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar untuk pelajaran Matematika dan Sains pada semua tingkatan di pendidikan dasar dan menengah yang disebut PPSMI. Keputusan yang diumumkan oleh menteri pendidikan Musa Muhammad saat itu, menyatakan bahwa PPSMI mulai diterapkan pada tahun ajaran 2003 (kalender pendidikan di Malaysia di mulai Januari tiap tahunnya). Artinya persiapan untuk pelaksanaan kebijakan ini sangat singkat, sekitar enam bulan saja.

Salah satu alasan yang sering dikemukakan dalam kebijakan PPSMI ini adalah sedini mungkin generasi muda Malaysia memahami bahasa yang digunakan dalam bidang ilmu yang mendukung perkembangan teknologi (matematika dan sains). Empat tahun sebelumnya pemerintahan Mahathir ini sudah melakukan ujicoba model PPSMI ini dalam sekala kecil yang disebut dengan program Smart School (dalam bahasa Melayu disebut Sekolah Bestari) dimana sekitar 80 sekolah terlibat (pendidikan dasar dan menengah tersebar di berbagai pelosok Malaysia), dimana salah satu platform-nya adalah pengajaran MIPA dan English dengan bahasa Inggris.

Menjelang pelaksanaan di awal 2003, terjadi kesibukan yang luar biasa di berbagai tempat untuk menyiapkan PPSMI ini. Pelatihan guru menjadi menu utama mengenai bagaimana mengajarkan sains dan matematika dalam Bahasa Inggris; yang dimulai secara bertahap di kelas 1, dan 7. Proyek penerbitan buku teks pun tidak kalah seru, yang pada akhirnya model kompromi dijalani, yaitu digunakannya dua bahasa dalam buku teks siswa.  Untuk membuat guru semangat mengajar dalam bahasa Inggris, disiapkan juga insetif berupa honor tambahan bagi guru IPA dan Matematika yang diberikan langsung oleh pemerintah pusat.

Pada awal kebijakan PPSMI dilaksanakan, para penentangnya sudah ramai-ramai menunjukkan berbagai dampak yang bakalan terjadi (tergerusnya identitas bahasa dan bangsa, penurunan pemahaman pelajaran sains dan matematik, menurunya prestasi pendidikan, ketidaksiapan guru dll). Namun memang tidak ada bukti empiris dan riset yang bisa menunjukkan hal itu pada tahapan ini. Kebijakan PPSMI di taraf awal ini kritikan yang datang adalah dijalankan tanpa mempertimbangkan perubahan berbagai regulasi yang berhubungan dengan politik bahasa nasional seperti mengenai bahasa pengantar di sekolah, buku teks dan ujian dll.

Setelah dijalankan beberapa tahun, berbagai riset tentang pelaksanaan PPSMI ini menunjukkan hal yang kurang menguntungkan. Riset teranyar yang dilakukan dalam skala besar (melibatkan pakar dari sembilan universitas negeri disini dengan responden lebih dari 15 ribu siswa dan ratusan guru) PPSMI ini memang tidak menghasilkan apa yang diharapkan pencetusnya. Yang bisa ‘survive’ hanya siswa yang bersekolah yang berada di kota besar dan sekolah berasrama di kota (di Malaysia sekolah berasrama adalah sekolah elit dan selektif); jenis sekolah lainnya nyaris tanpa ampun terjadi degradasi penurunan mutu. Misalnya disebutkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional Malaysia (UPSR di tingkat SD dan SPM di tingkat SMA) populasinya menurun [yang mendapat nilai A, yaitu sekitar 80% jawaban benar]; yang meningkat hanya populasi yang mendapat nilai C. Jurang prestasi antara siswa di kota besar dan daerah lain (kota kecil, desa dan pedalaman) pun makin besar. Yang mencemaskan bagi puak Melayu adalah, populasi siswa di kota besar yang berprestasi bagus itu mayoritas justru keturunan Cina dan bukannya bumiputera.

Praktek yang terjadi di kelas pun, menurut riset tersebut, bukan menggunakan Inggris sebagai bahasa komunikasi, namun lebih pada menggunakan kata-kata Inggris dalam kalimat dan konteks ber-Bahasa Melayu. Hal yang wajar berhubung ketidakpahaman semantik memang berlanjut pada kegagalan syntax. Tidak aneh bahwa ini disimpulkan sebagai model kebijakan kontoversial yang sekaligus membasmi kemampuan berbahasa ibu (bahasa Melayu), Bahasa Inggris dan juga pemahaman siswa dalam sains dan matematik. Dijelaskan juga fakta yang bahwa guru-guru di Malaysia pada saat program ini dimulai, tahun 2003, memang tidak didisain untuk mengajarkan sains dan matematik dalam English, sehingga ‘akrobat’ penggunaan English setiap hari terjadi di kelas sains dan matematik; yang tentunya membawa dampak membekas bagi siswa bahwa sains dan matematik sebagai pelajaran menakutkan dan susah dipahami.

Pengalaman pribadi saya mengajar di universitas di Malaysia selama hampir dua tahun ini sebetulnya menunjukkan hal yang berbeda. Mahasiswa yang saya ajar adalah calon guru (S1) dan guru yang sedang bertugas (mahasiswa S2), kebanyakan mereka tidak kesulitan dalam hal memahami materi kuliah yang disampaikan dalam Bahasa Inggris (mendengarkan), membaca bahan kuliah, bahkan menulis  makalah dan laporan yang juga dalam English. Sesuatu yang mungkin berbeda jauh bila hal sama diterapkan di fakultas pendidikan di berbagai universitas di tanah air. Namun kemampuan English tersebut bila digunakan di kelas dalam menerangkan MIPA pada siswa membawa hasil yang berbeda; sepertinya memang bekal pendidikan dan latihan yang diberikan ke mereka tidak berdampak banyak dalam hal PPSMI ini.

Data tambahan lain yang sulit dibantah dalam hal ‘kegagalan’ PPSMI ini adalah keikutsertaan Malaysia dalam TIMSS, yaitu test yang mengukur pencapaian prestasi siswa satu negara dalam Matematika dan Sains dibandingkan dengan negara peserta lain secara internasional. Malaysian mengikuti TIMSS pada tahun 2003 (pra-PPSMI) dan 2007 (setelah penerapan PPSMI); ternyata hasil prestasi siswa Malaysia menunjukkan penurunan yang paling drastis dibanding negara lain. Standar prestasi secara total menurun dari 6% (TIMSS 2003) ke 2% (TIMSS 2007); dalam pencapaian matematika menunjukkan hasil yang sangat kontras, dari ranking 10 (di tahun 2o03) yang menurun menjadi ranking 20 (tahun 2007).

Di tengah berbagai gempuran kritik dan bukti empiris hasil riset, pemerintah Malaysia pada tahun 2009 akhirnya setuju untuk tidak melanjutkan PPSMI ini yang akan secara resmi berakhir pada tahun 2012. Masa dua tahun lebih digunakan untuk mempersiapkan buku teks, revisi kurikulum maupun peningkatan profesionalisme guru-guru MIPA. Bahasa Inggris tetap wajib tapi hanya untuk tingkatan pra-univeristas ke atas. Penarikan kebijakan PPSMI ini menunjukkan akhir dari eksperimentasi sosial di Malaysia yang sangat mahal, mengubah secara drastis dunia pendidikan ternyata bukan urusan enteng.

Gejala yang ada di Indonesia adalah justru sedang ke arah yang sebaliknya, khususnya
dalam program RSBI; dimana guru MIPA diarahkan untuk berkomunikasi dalam
English di kelas, menyiapkan administrasi pelajaran dalam English dan bahkan mengevalusi belajar siswanya pun dengan English. Kalau dibandingkan dengan persiapan implementasi PPSMI yang dilakukan di Malaysia, sangat terlihat bedanya; dimana tidak ada model penyiapan kebijakan yang lebih baik (training guru, buku teks, insetif khusus dll). Bahkan untuk mengukur kemampuan English guru pun di kita dilakukan tanpa riset memadai, yang langsung comot menggunakan TOEFL sebagai ‘standar’.

Pos ini dipublikasikan di Guru, Pendidikan Malaysia. Tandai permalink.

7 Balasan ke Cerita Pengajaran MIPA dengan English di Malaysia

  1. mas stein berkata:

    dalam bahasa saya RSBI adalah Rintisan Sekolah Bertarif Internasional. dari awal program ini diluncurkan saya sudah menyimpan banyak keraguan, selain karena banyaknya konflik yang terjadi di daerah, juga karena saya berpikir program ini merupakan bentuk pelepasan tanggung jawab pemerintah, Pasal 50 ayat 3 UU Sisdiknas menyuruh tiap pemda untuk membuat minimal satu sekolah bertaraf internasional di tiap jenjang pendidikan, tapi orang tua siswa disuruh ikut nanggung biayanya seperti diatur dalam PP 48 tentang Pendanaan Pendidikan.

    dan lagi sebenernya saya bingung definisi bertaraf internasional itu seperti apa? saya ngubek2 situs kementerian pendidikan ndak nemu apa-apa.

    btw, salam kenal pak. salut untuk orang-orang seperti sampeyan yang sukses di luar negeri.

    • deceng berkata:

      Trims atas komentarnya. Yah itulah gambaran kualitas perencanaan kebijakan di kita, asal jeplak dan malas elaborasi. Akibatnya di level sekolah menjadi terlalu ‘kreatif’ dan menggunakan pengalaman yang ada, sehingga hasilnya memang ‘bertarif’ itu🙂.
      Saya punya beberapa bahan lain dari hasil riset tentang ini juga, nanti saya bagi dalam tulisan di blog secara berseri :))

  2. mohammadsobih berkata:

    Saya membaca dan menyimak tulisan yang sangat baik untuk kita renungkan dalam memajukan pendidikan di Negeri yang kita cintai ini, untuk itu bila ada tulisan ataupun reset yang berkaitan dengan bagaimana cara memajukan pendidikan kita, saya mohon di bagikan. Terima kas

    • deceng berkata:

      Trims atas komentarnya; saya sendiri sudah melakukan riset tentang SBI (case study), bisa dilihat laporannya di website academia (link-nya ada di blog ini juga)

  3. Ping balik: Bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah | sulfinatanjung

  4. Hi Mr Bambang Pramungkas….Opppss, Mr Bambang Sumintono….. I’m a Malaysian Medical student in a public university (in KL)…. I was stalking your blog… huhu…. Even Indonesian dialect had been used as a medium of writing, I roughly understand your great masterpiece regarding PPSMI…..(I guess so!!)… I was enjoying reading your own masterpiece… Reading non-medical oriented article is therapeutic for me……I Just want to get to know something which is out of medical field…… There are so many of new knowledge regarding PPSMI that i get from your writing…. and i absolutely agree with your writing and PPSMI was absolutely a failure…you are analytical enough in delivering your writing…… To tell u the truth, PPSMI was implemented in 2003…… My batch was the first batch of form one student (in 2003) which were being tested for PPSMI…… when I was in primary school, Bahasa Melayu had been used as a medium of teaching Science and Mathematics…. I managed to score in UPSR…. thus i had been offered to Smart School….. In smart school, Science and Mathematics were being taught in English in conjunction with PPSMI implementation….. I agree with u that most of the daily school in the capital city, boarding school, and smart school showed good results in exam….. but not really good…. I mean these kind of school are able to survive….no wonder laaaa, because of the environment of the city which is westernized and most of the city-dweller posed a good command of English…… I didn’t find any difficulty in understanding Science and Mathematics in English… BUT, pity for those who had been schooled in the daily school (in rural areas) where the level of English command was very poor…… most of them are bumiputra…..It obviously clear that there was a significant gap in terms of academic achievement….. so the government was like jeopardizing their future to go to the ivory tower…….. “saya percaya kata-kata sorang budayawan negara bahawa ilmu itu mudah difahami dengan bahasa lidah pertuturan manusia”….. and WHAT IS WRONG BY USING MALAY LANGUAGE AS MEDIUM OF TEACHING??????? from your writing I can’t imagine how much the money had been wasted for this experiment……. OMG…… In Malaysia, everyone can speak and understand Malay language regardless what races he/she is… so why don’t the government use it as a medium of teaching??? Maybe the government think that English is the only language which can help any other nations in the world to success…..this is totally wrong and signifies the “kebijakan” of the government……. Just look at developed country such as Japan, Italy, Germany and Korea which are using their mother language to success….. don’t u think it is impressive?? ermmm…… it is undeniably true that English is very important in the age of globalization….. but there are various methodology that can be implemented to help student mastering English…. PPSMI will deteriorate the level of English as the educator are not well-prepared…… yeah, most of Science and Mathematics teacher are able to speak in English, BUT they don’t really care about the grammatical error….. therefore, students will continue to write the answer on exam paper in grammatically error of English…… in rural area, most of the student found it is difficult to understand Science and Maths in English causing deterioration of Science and Maths result……………… I’m just giving my opinion Pak Bambang…. thank u for your sharing about PPSMI….

    • deceng berkata:

      Thanks for comment Dealova, it is interesting to get a ‘confession’ like this from person who involved personally with PPSMI. Actually the writing is to tell to Indonesian that it is best not to doing the same thing in Indonesia; Malaysia already did, but at the end roll-back the policy (you can interprete that as the government is saying sorry to the people). Good luck with your study, and thanks for finding and spreading the blog🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s