Program akademik yang ditawarkan

Latar belakang pendidikan saya sebelumnya bukanlah di universitas/institut dalam bidang keguruan. Pada waktu saya memulai kuliah di tahun 1980-an akhir dalam bidang kependidikan (Diploma 3) dilaksanakan di IPB, perguruan tinggi yang spesialisasi dalam bidang pertanian. Hal ini disebabkan, karena saking suksesnya program Inpres tahun 1970-an, angka lulusan pendidikan dasar yang meningkat drastis menyebabkan daya tampung di SMP dan SMA yang perlu diperbesar membawa dampak lanjutan tingginya kebutuhan guru. Konon daya tampung IKIP dan hal lain yang menyebabkan pemerintah saat itu membuat crash-program pengadaan guru di delapan perguruan tinggi non-IKIP, dan IPB salah satu yang terpilih untuk melaksanakan pengadaan guru MIPA. Bagi IPB ini menjadi ‘barokah’, dan menjadi pemacu kemunculan jurusan-jurusan S1 untuk fisika, kimia dan matematika; sedangkan yang D3 kependidikan merupakan program yang sifatnya ‘tailor made‘ sesuai pesanan sebanyak lima angkatan. Pengalaman studi ini dan beberapa info dari rekan guru yang lulusan IKIP (atau PT ex-IKIP) menjadi bahan untuk melihat seperti apa program akademik yang sama yang ditawarkan di universitas di Malaysia (tepatnya tempat saya mencari nafkah).

Di Malaysia, untuk menjadi guru paling tidak terdapat tiga jalur utama, untuk menjadi guru sekolah dasar (murid tahun 1-6) maka harus menjalani pendidikan di berbagai Institut Pendidikan Guru, dimana semua institusinya dibawah Kementrian Pengajaran Malaysia (KPM); sedangkan untuk menjadi guru sekolah menengah (murid tahun 7-11) dilakukan oleh universitas-universitas negeri yang berada di bawah Kementrian Pengajian Tinggi (KPT); jalur ketiga adalah bila seseorang lulusan pendidikan non keguruan (misal S1 ekonomi, S1 teknik atau S1 sains) namun ingin menjadi guru, maka dia harus mengikuti program Diploma Pendidikan di universitas minimal selama 1 tahun. Yang akan menjadi fokus tulisan ini adalah jalur kedua.

Setiap tahunnya KPM, berdasarkan angka jumlah murid,  populasi guru dan jumlah sekolah yang ada, menentukan berapa banyak guru yang perlu direkrut untuk 4-5 tahun mendatang. Untuk guru tingkatan sekolah menengah, karena harus dididik di universitas, maka jatah tersebut diberikan ke KPT, yang kemudian dibagi-bagikan ke masing-masing universitas negeri yang menyediakan program pendidikan guru sesuai bidang yang diminta. Biasanya daya tampung di tiap universitas adalah jatah tadi yang ditambah 20%, yaitu untuk calon guru yang membiayai pendidikannya sendiri; sedangkan jatah yang diberikan oleh KPM, dari awal mahasiswa yang terpilih diberikan beasiswa untuk uang kuliah dan biaya hidup selama studi.  Untuk calon guru sekolah menengah ini, pihak universitas lah yang menentukan diterima tidaknya mereka studi S1 keguruan (juga lulus atau tidaknya nanti), dimana proses seleksi sifatnya administratif berdasar hasil ujian akhir sekolah (tidak dilakukan ujian masuk seperti di Indonesia), dan nanti pihak universitas tinggal menagih semua biaya untuk pendidikan mereka ke KPM.

Berdasar penjelasan di atas, maka kita akan dapati bahwa disain program S1 keguruan yang dibuat di universitas sangat sederhana, targetnya mendidik calon guru sesuai bidang yang ‘dipesan’ oleh KPM. Misal bila melihat program yang ditawarkan di UTM, kita hanya mendapati 10 program S1 keguruan yang tersedia. Jurusan pendidikan sains dan matematik menawarkan program studi S1 untuk menjadi guru matematik, guru fisika dan guru kimia; jurusan pendidikan sosial (pendidikan agama Islam, pendidikan bahasa Inggris dan pendidikan olahraga); jurusan pendidikan teknik; dan yang menjadi ciri khas UTM adalah adanya jurusan pendidikan multimedia, sama seperti guru yang bakal dihasilkan dari jurusan pendidikan sains dan matematik namun juga punya keahlian dan pengetahuan dalam penggunaan komputer dan multimedia. Disamping empat jurusan yang mencetak calon guru tadi, ada juga jurusan yang sifatnya memberikan jasa bagi pembekalan ilmu pendidikan untuk mahasiswa S1 yang disini disebut jurusan asas pendidikan. Mata kuliah seperti metoda riset, psikologi pendidikan, kurikulum, filsafat pendidikan, evaluasi pendidikan dan lainnya diberikan oleh dosen-dosen dari jurusan asas ini.

Rata-rata mahasiswa S1 ini menyelesaikan studinya minimum 4 tahun, dimana 7 semester dilaksanakan kuliah tatap muka di kampus; dan satu semester sisanya digunakan secara penuh untuk praktek mengajar di sekolah menengah (total 14 minggu).  Pada saat praktek mengajar, maka si mahasiswa ‘bekerja’ seperti layaknya guru, datang ke sekolah pagi dan pulang petang; melaksanakan tugas guru dalam kegiatan belajar-mengajar (merencanakan, mengajar dan evaluasi siswa), membimbing siswa untuk kegiatan ko-kurikuler, menyelia siswa, terlibat dalam rapat guru dll. Terdapat satu orang guru di sekolah tersebut yang mendampingi dan menjadi mentor yang me-monitor dan membimbing, dan satu orang dosen penyelia yang datang paling tidak lima kali selama jangka waktu tersebut yang memantau perkembangan si mahasiswa. Pengalaman mengajar langsung di sekolah ini membuat si mahasiswa menjadi ‘dewasa’, khususnya bila penugasannya berada di sekolah yang penuh tantangan; dimana segala pengetahuan dan ketrampilan yang didapat terkadang tidak banyak membantu dibandingkan pengalaman dia saat menjadi siswa dahulu dan kreativitasnya menangani masalah yang timbul.

Ada hal yang sedikit berbeda dalam hal penjurusan calon guru disini dengan jurusan S1 kependidikan di Indonesia, yang terkadang tidak begitu jelas spesifikasinya mau menjadi guru apa di sekolah nantinya, misalnya untuk program studi di IKIP dahulu seperti administrasi pendidikan, ilmu pendidikan, kurikulum dll. Kalaupun mengharapkan lulusannya mau menjadi peneliti atau profesi sejenis lainnya dalam bidang pendidikan, rasanya bekal pengetahuan dan ketrampilan yang dipunyai tidak begitu cukup. Sedangkan di Malaysia kondisinya lebih realistik, jurusan-jurusan itu hanya diberikan untuk tingkat pasca sarjana (S2 dan S3) saja, dan yang mengelolanya jurusan asas pendidikan tadi. Artinya memang hal ini dikhususkan bagi guru yang sudah bertugas atau siapapun yang lulus S1 yang tetarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang studi-studi lanjut dalam pendidikan.

Statistik yang ada saat ini di fakultas menunjukkan, jumlah dosen mendekati angka 90 orang yang aktif mengajar (50 orang diantaranya sudah lulus S3), ditambah sekitar 40 orang dosen lain statusnya cuti belajar.  Jumlah mahasiswa yang ditangani cukup mengejutkan, yaitu sekitar 2000 orang (setengahnya lebih sedikit mahasiswa pasca sarjana), artinya memang rasio dosen-mahasiswa sangat timpang. Untuk yang S1, beban mengajar sebagaian dibagi ke fakultas lain, misal jurusan pendidikan sains dan matematik serta jurusan multimedia pendidikan, maka mata kuliah kimia, fisika dan matematika mereka diikutkan secara bersamaan dengan mahasiswa fakultas sains. Namun untuk proses pembimbingan skripsi/tesis S1 (disini disebut proyek sarjana muda/PSM) maka beban kerja dosen memang lebih berat karena rasio yang kecil tadi (belum ditambah beban bila si dosen juga menjadi pembimbing mahasiswa pasca sarjana).  Biasanya penyelesaian tugas akhir ini yang membedakan mana mahasiswa yang rajin dan cerdas dengan yang biasa saja. Terkadang saking bagusnya prestasi si mahasiswa dalam mengerjakan PSM-nya, ada yang langsung ditawari posisi menjadi staf sebagai dosen, diberikan kesempatan terlibat dalam kegiatan riset sebagai research asistant ataupun memilih untuk langsung melanjutkan studi pasca sarjana.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

2 Balasan ke Program akademik yang ditawarkan

  1. footmath berkata:

    Terimakasih atas pencerahannya.
    Tolong kalau sempet, tuliskan dong perbedaan antara isi kurikulum matematika khususnya di Ind dan Malay.

    blog : http://aminhers.com

    • deceng berkata:

      kurikulum sekolah kah maksudnya? kalau yang itu, lebih berat yang di Indonesia. Anak saya yang kelas lima SD saat pindah ke Malaysia menjumpai soal matematik di Malaysia lebih mudah dibanding saat di Bandung dulu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s