Cerita the Five Disciplines of Innovation

Pertengahan bulan Maret 2010 lalu, selama dua setengah hari mengikuti kegiatan yang diperintahkan langsung oleh Kementrian Pengajian Tinggi Malaysia.  Dan sebagai ‘anak manis’ bagusnya mengikuti saja, sekalian rehat dari aktivitas mengajar serta mendapat penyegaran pengetahuan. Nama pelatihannya cukup keren: ‘The Five Disciplines of Innovation’, yang memberikannya adalah trio fasilitator dari lembaga riset nomor wahid dunia yaitu Stanford Research Institute Internasional (disingkat SRI International). Segala hal dalam pelatihan ini serba wah: dilaksanakan di hotel bintang lima Pan Pacific KLIA, pesertanya eksklusif karena rata-rata adalah associate profesor yang produktif meneliti, dan yang bikin saya terkejut adalah biaya pelatihan 2,5 hari untuk 13 orang itu ternyata RM 100 ribu (sekitar Rp 0,28 milyar).

Isi pelatihan sebenarnya bukan hal yang ‘baru’, anda bisa memahaminya secara langsung bila membaca buku yang ditulis oleh Carlson dan Wilmot dengan judul yang sama. Pelatihannya sendiri tidak lain untuk memberikan pembimbingan dan penguasaan skill inovasi serta prosesnya. Yang menjadi tema dasar yang dikemukakan (baik di buku maupun di pelatihan) adalah bagaimana sebenarnya proses inovasi terjadi; berhubung ‘inovasi’ banyak disebut, dijadikan mantra untuk perubahan, bahkan sebagai satu-satunya alasan untuk tetap bisa survival. Namun bila ditanyakan secara mendetail bagaimana inovasi dikerjakan, tidak terdapat jawaban yang memuaskan sampai Carlson dan Wilmot menulis bukut tersebut yang berdasar dari pengalaman dan prosedur yang biasa dilakukan di SRI International.

Seperti halnya pelatihan yang  biasa diberikan oleh orang Amerika, sangat dinamis tidak hanya sekedar duduk saja, ada permainan, aksi teatrikal, peserta banyak dikerjai mereka, kata yang digunakan penuh idiom, namun apa yang disampaikan dan bobotnya memang kualitas internasional. Misalnya, mereka berbagi pengalaman mengenai sejarah Sillicon Valley yang sudah bertahan puluhan tahun dan menjadi motor penggerak inovasi yang tak terkalahkan, banyak negara lain ikut-ikutan mencontoh namun selalu gagal. Satu hal yang mereka sebut kenapa bisa begitu adalah karena konsep kegagalan yang dipahami disana berbeda dengan kebanyakan tempat lain di dunia, mereka mengatakannya, “Failure is accepted, not punished“. Secara humoris mereka membandingkannya dengan Jerman, dimana kultur egalitarian yang terbentuk menjadikan bahwa di Jerman konon “too success is immoral, but fail is illegal“. Pada bagian lain, berhubung pesertanya rata-rata peneliti, mereka menunjukkan hasil riset yang brilian dan kemudian menjadi patent ternyata tidak jaminan bakal menjadi produk yang menghasilkan keuntungan; mereka menemukan hanya sekitar 1-3% saja dari patent yang dihasilkan di dunia ini yang benar-benar menjadi produk dan laku di pasar.  Kuncinya balik lagi, tanpa berdisiplin dalam berinovasi maka kemungkinan gagal akan sangat besar. Lalu, disiplin yang bagaimana yang perlu diikuti?

Lima disiplin inovasi yang dimaksud adalah: important customer and market needs; value creation; innovation champions; innovation teams; dan organizational alignment. Disiplin yang pertama menunjukkan bahwa tanpa mengetahui apa yang diinginkan oleh pasar (dan pelanggan) maka produk atau jasa yang dihasilkan tidak akan pernah sukses. Bagi rata-rata peserta yang peneliti, niat melakukan riset terkadang lebih bertumpu karena yang ingin diteliti adalah sesuatu yang menarik. Trio fasilitator mengatakan, dengan cara itu jangan berharap hasilnya bisa dikomersialisasikan; sarannya arahkan fokus riset anda ke sesuatu yang penting seperti kepentingan nasional, kebutuhan pasar, keberlanjutan dan peluang pasar. Para peneliti, seperti biasa, tentu berargumen bahwa yang dilakukan akan memberikan potensi komersialisasi yang luar biasa, namun trio SRI mengatakan itu adalah kesalahan klasik yang tidak perlu dilakukan lagi, karena apapun yang dihasilkan bila memang tidak ada yang merasa memerlukan (walaupun didukung oleh iklan dan promosi gila-gilaan) maka cerita akhirnya mudah ketahuan alias gagal. [ada kutipan menarik yang mengilustrasikan hal ini: “I said to my dad, ‘I’m just one good idea away from starting my own venture.’ My dad said, ‘No, what you need is not an idea, it’s a customer.” dari Sarah Nowlin].

Ada satu peserta yang minta nasehat bagaimana kita bisa tahu kemauan pelanggan sebenarnya, sedangkan riset pasar biasanya mahal; trio SRI dengan enteng menjelaskan market research tidak harus jlimet dan mahal, sebagian malah bisa didapatkan secara gratis di situs web lembaga donor dunia; malah yang paling penting menurut pengalaman mereka adalah koneksi dan jaringan yang dipunyai baik oleh kita maupun kolega, yang akan senang berbagi bila kita memelihara hal tersebut dengan baik. Seorang fasilitator mengilustrasikan satu kesalahan inovasi di SRI yang pernah terjadi, dimana satu tim riset berhasil membuat proyektor yang sangat kuat dan jelas walaupun digunakan dalam ruangan yang terang daripada yang dipakai di bioskop saat ini. Kenapa ruangan bioskop dibuat gelap gulita, alasan sesungguhnya adalah karena kualitas gambar yang dihasilkan proyektor sangat jelek. Namun saat hendak menjual produk tersebut, kendala yang dihadapi bukannya alasan teknologi tapi perjanjian pemakaian produk proyektor secara eksklusif oleh bioskop selama 25 tahun. Artinya, tidak cukup sekedar riset tentang market need namun juga pengetahuan tentang perjanjian pemakaian produk juga, supaya bisa menghindarkan kerugian dari awal, karena produk akhirnya tidak bisa dijual karena ketidaktahuan itu.

Disiplin yang kedua, value creation, adalah satu hal yang dilatihkan terus menerus sepanjang 2,5 hari kegiatan. Mereka mengatakannya sebagai rumus NABC (Need, Aproach, Benefits per cost dan Competition and alternatives), dimana setiap peserta disuruh untuk mempresentasikan potensi komersialisasi salah satu hasil risetnya dengan rumus tadi. Ajang presentasi pun beragam, mulai dari menjelaskan secara efektif dalam satu menit, disebut ‘elevator pitch‘ yang tidak lain adalah ringkasan dari value proposition; meningkat ke presentasi yang lima menit dan sepuluh menit. Setiap presentasi peserta diberikan komentar positif, kritik yang konstruktif, sampai kepada kritisi apa yang kurang lengkap atau perlu ada namun belum disampaikan. Proses ini ternyata yang paling berat dan melelahkan, kebanyakan peserta baru menyadari sehebat apapun riset yang dihasilkan namun yang lebih berat bagaimana hal itu memberikan nilai pada pelanggan. Misalnya seorang profesor ‘menjual’ ide tentang bio-fuel dengan rendemen produk yang efisien dan berbahan baku limbah, tidak serta merta dianggap berpotensi komersil bila tidak sanggup meyakinkan pemberi modal mengenai infrastruktur yang diperlukan supaya produk mudah didapat konsumen; profesor lainya menjelaskan hasil riset dalam bidang artificial intelegence, dia menawarkan jasa diskaun produk melalui identifikasi jenis konsumen melalui SMS ke telepon genggam (handphone) seorang pelanggan tepat pada saat sebelum dia masuk ke toko tertentu yang tidak lain menawarkan jasa selektif, on-time dan langsung yang ‘menguntungkan’ konsumen untuk berbelanja di toko tersebut, namun urusan sharing partner dengan operator HP, isu kerahasiaan identitas konsumen maupun resiko hacking pada server belum dianggap memuaskan untuk menjadikan jasa tersebut dijual; seorang profesor lain yang menemukan zat aktif dari daun kelapa sawit (yang biasanya tidak ada manfaat sama sekali selain dijadikan kayu bakar) yang bisa menjadi obat herbal serta telah dilakukan uji klinis, ternyata tidak dapat mengidentifikasi dengan jelas ceruk pasar dan konsumen mana yang akan dituju. Pendeknya NABC tidak lain menyusun skenario produk yang akan dihasilkan secara komplit, mulai dari mempromosikan keunggulan, pangsa pasar, pesaing yang ada (atau yang akan muncul), sampai  bagaimana menangani kondisi darurat yang bisa terjadi. Trio SRI berbagi, bahwa di SRI International pun forum value creation ini dilakukan sampai berpuluh kali mulai dari tingkat kelompok kecil, sampai akhirnya kepada pemilik modal ventura; dimana spiral kematangan isinya akan makin mengerucut dan memuaskan bagi semua pihak yang menghadirinya.

Disiplin yang ketiga adalah Innovation Champions, Carlson menyebut mahluk ini sebagai, “The rarest and most valuable people in the world who understand The Five Disciplines of Innovation“. Faktor manusia lah berdasar pengalaman SRI yang paling menentukan apakah suatu produk atau jasa bisa sangat sukses di pasar; targetnya bukan lagi menghasilkan produk riset yang bermutu, namun menggabungkan dari hulu (riset) sampai ke hilir (pasar) segala hal yang diperlukan dan dikoordinasikan dengan kualitas internasional. Tidak selalu si champion ini adalah si peneliti yang menemukan, bisa saja dia hanya seorang riset asisten, penilai produk ataupun peminat amatir; yang membedakan memang kualitas pribadi, manajerial dan berkomitmen. Mereka menyebutnya, “No champion, no project, no exception“, bila tak ada champion untuk satu proyek, maka perlu dicari  siapa yang mau atau menutup proyek tersebut.

Dua inovasi terakhir berhubungan dengan perilaku organisasi: innovation teams dan organizational alignment. Trio SRI menjelaskan berbagai pengalaman mengatur proyek menunjukkan bahwa kesulitan teknis dalam riset dan pengembangan produk relatif mudah ditanggulangi dibanding menyelesaikan konflik yang terjadi antara anggota tim yang bekerja. Mereka menekankan, bila satu saja anggota tim kurang integritasnya maka bila terdapat masalah akan menjadi petaka yang bisa menghancurkan proyek; artinya untuk menghasilkan produk berkelas internasional, maka tim yang disusun dan organisasi yang menanganinya harus berkualitas paling bagus yang bisa didapat. Resolusi konflik menjadi hal yang sentral untuk diketahui dan dipraktekkan, karena ini tidak terhindarkan dan menjadi bagian dinamis yang mematangkan kerja organisasi.

Seperti biasa setelah mengikuti satu pelatihan yang dirasa berguna, semangat untuk melakukan berbagai agenda lama menjadi terpacu kembali; dan melihat bahwa pengetahuan dan skill yang didapat bisa digunakan untuk itu. Saat yang sama saya juga kagum sama pemerintah Malaysia yang berani ‘buang’ duit segitu gedenya untuk pelatihan singkat ini, yang mungkin mengindikasikan betapa seriusnya pemerintahan disini  untuk merubah model perekonomian negaranya dari berbasis produksi menjadi berbasis inovasi kadang juga suka disebut knowledge-based economy; dosen dikategorikan komponen masyarakat yang bisa memacu inovasi karena keterlibatan dalam aktivitas riset dan pengembangan produk serta potensi intelektualnya yang masih bisa terus dikembangkan.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia. Tandai permalink.

5 Balasan ke Cerita the Five Disciplines of Innovation

  1. Deni Triwardana berkata:

    Terima Kasih Banyak Pak Bambang, Telah berbagi pengalamannya,

  2. Satria Dharma berkata:

    Cerita yang sangat menarik Mas Bambang. I really love it. Kalau para professor saja masih harus diberi pelatihan dengan biaya yang edan-edanan begitu, saya bisa bayangkan betapa seriusnya mereka dalam budaya keunggulan. Sementara itu di tanah air urusan menulis skripsi dan disertasi saja kita tak segan-segan menyontek sana-sini.
    Ini bikin saya semakin tercenung…

  3. anim berkata:

    very interesting, nice share pak.. keep share =)

  4. Ping balik: Cerita kualifikasi dosen di Malaysia | Blog Catatan Ngejar Setoran

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s