Penilaian Kinerja Pensyarah

Sekitar setelah satu bulan lebih memulai tugas sebagai pensyarah/dosen di Malaysia, kemungkinan dianggap sudah reda dalam urusan ‘culture shock’ dari lingkungan kerja yang beda negara, atasan memanggil secara khusus. Beliau menjelaskan tentang urusan penilaian kinerja yang diterapkan pada staf akademik, poin-poin penilaian, bagaimana bahan penilaian dikumpulkan dan diajukan serta di-isi (tepatnya di upload) secara elektronik pada situs web yang sudah ditentukan. Kesan pertama yang terlintas adalah beratnya target yang harus dipenuhi per tahunnya, namun sistem penilaiannya transparan, adil dan diketahui bersama.

Sebagai permulaan, profesi dosen di perguruan tinggi negeri Malaysia paling tidak ada lima tingkatan; yang paling bawah disebut tutor dengan nama pangkat gred DS41, kualifikasinya adalah S1, ini biasanya belum disebut sebagai pensyarah (dosen); baru disebut pensyarah/dosen bila mempunyai ijasah setara S2 dan pangkatnya DS45; strata berikutnya disebut pensyarah kanan (dosen senior dengan pangkat DS51/DS52), kualifikasinya rata-rata adalah lulus S3; setelah itu profesor madya (associate profesor, pangkat DS53/DS54)  dan tertinggi adalah profesor. Penentuan kenaikan pangkat sudah menjadi otonomi penuh universitas, termasuk di dalamnya adalah model penilaian kinerja dan penentuan kriterianya (misalnya untuk bisa menjadi profesor, diantara syaratnya adalah telah menerbitkan 30 tulisan di jurnal yang peer-review dan sudah sukses meluluskan tiga orang mahasiswa S3).

Penilaian kinerja di universitas tempat bekerja disebut sebagai Laporan Penilaian Prestasi Tahunan (LPPT). Terdapat delapan komponen dalam LPPT yang berlaku untuk staf akademik yaitu pengajaran (teaching atau TC), pembimbingan mahasiswa pasca sarjana (PG), riset input (RI), riset output (RO), professional services (PS), personal quality (PQ), leadership (LD) dan activities outside official duties (OAAD). Untuk empat komponen yang pertama terdapat dua jenis persentase yang berbeda dalam pembobotannya dengan sumbangan ke nilai akhir sebanyak 75%; sedangkan untuk empat komponen yang terakhir (PS, PQ, LD dan OAAD) sumbangan totalnya sebesar 25% dari berbagai kinerja yang diukur, hanya PS yang bobotnya 10%, yang lain 5%. Empat komponen terakhir ini kurang lebih mirip seperti penilaian DP3 dalam sistem pegawai negeri Indonesia, namun berbeda dalam pembobotan dan bagaimana hal itu dinilai.

Dalam hal LPTT ini, universitas membagi dua kriteria besar dosen, golongan pertama dosen yang berbasiskan pengajaran, dimana beban tugas mengajarnya lebih besar; dan golongan lainnya adalah berbasiskan riset. Universitas di Malaysia karena otonominya menerapkan persentase yang berbeda bobot penilaian kinerja antara dosen yang memilih dominan mengajar atau peneliti ini. Ada yang menerapkan bobot 70:30, maksudnya 70% beban kerja memberikan kuliah dan 30% melakukan riset untuk dosen berbasiskan pengajaran; dan partnernya adalah sebaliknya 30:70, yaitu 30% beban kerja sebagai pengajar dan 70% lainnya sebagai periset. Mudah dipahami kenapa menerapkan formula 30:70 ini, tujuannya supaya tidak semua dosen bisa menghindar dari tugas mengajar dan hanya mau meneliti saja. Misal bila digunakan formula 10:90 (ngajar:riset), tentu dekan di satu fakultas akan pusing bila kebanyakan dosennya memilih berbasiskan riset, yang menyebabkan ruang kuliah tidak ada yang mengajar; apalagi memang beban kerja mengajar memang terasa lebih berat dan ‘gangguan’ oleh mahasiswa bisa datang kapan saja serta beruntun (terutama menjelang akhir perkuliahan).

Sebagai ilustrasi, misal untuk seorang dosen senior dengan formulasi yang dipakai universitas 70:30, bila dia memilih untuk berbasiskan mengajar maka porsi penilaian kinerja mengajarnya adalah 45%, PG-nya 10%, RI 5% dan RO 15%. Sedangkan bila dia memilih untuk berbasiskan riset, maka penilaian kinerja untuk TC adalah 15%, PG 10%, RI 10% dan RO 40%. Tentu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menilai kinerja dari berbagai komponen tadi.

Untuk komponen TC, terdapat tiga hal yaitu: kuantitas mengajar, kualitas mengajar dan laporan evaluasi mata kuliah. Untuk penilaian kualitas mengajar, bagi dosen senior yang berbasiskan mengajar, maka dalam satu tahun dia paling tidak harus mengajar 12 kredit (setara dengan 2 mata kuliah per semester bila bobot mata kuliahnya masing-masing 3 kredit); disamping itu juga harus membimbing 10 mahasiswa dalam pelatihan industri, menjadi pembimbing skripsi tiga orang mahasiswa S1. Disamping beban 6 kredit/semester jumlah mahasiswa per kelas pun diperhitungkan, dan menjadi pembobotan karena berhubungan dengan beban kerja dalam hal diskusi, pemeriksaan ujian dll. Bila si dosen memilih berbasis riset, beban mengajarnya berkurang setengahnya.  Kualitas mengajar diukur dari pemanfaatan e-learning, penggunaan multimedia, penerapan problem-based learning dan hal sejenis lainnya dalam kegiatan perkuliahan. Sedangkan laporan evaluasi mata kuliah adalah tugas administratif yang harus dilaporkan secara tertulis ke atasan mengenai pencapaian yang diperoleh mahasiswa (tidak sekedar melaporkan nilai yang mereka peroleh).

Komponen PG terdapat dua bagian yaitu kuantitas dan kualitas. Kuantitas menyatakan berapa jumlah minimal mahasiswa pasca sarjana (S2 dan S3) yang harus dibimbing pertahunnya; sedangkan kualitas mengukur kesuksesan sampai meluluskan mahasiswa S2 dan S3 dalam kurun waktu mereka studi (tidak dipatok per tahun). Untuk mendapat nilai dalam hal kuantitas PG, maka minimal harus ada satu mahasiswa yang dibimbing, dan poin terbesar bila men-supervisi sampai lima orang (baik sebagai pembimbing utama ataupun pembimbing kedua). Penerapan komponen PG ini sangat jelas menunjukkan perubahan drastis yang terjadi pada universitas di Malaysia, mereka lebih memfokuskan dalam hal riset sehingga bobot penilaian untuk mahasiswa pasca sarjana (yang umumnya melakukan riset dibanding kuliah) menjadi komponen tersendiri. Secara langsung juga memberikan insentif pada dosen untuk lebih banyak mencurahkan waktu untuk membimbing riset mahasiswa pasca sarjana dibanding mengajar.

Untuk kriteria penialaian riset input (RI) maka kriterianya adalah berapa banyak dana riset diperoleh oleh seorang dosen per tahunnya. Bila dalam satu tahun dia tidak mendapatkan dana riset dari satu lembaga manapun, maka sumbangan RI-nya adalah nol. Angka terkecil bisa didapat bila dia memperoleh dana riset dengan nominal RM 5 ribu (sekitar Rp 14 juta), misalnya dari kementrian pengajaran; angka maksimal bisa dia kumpulkan bisa sukses mendapat dana riset bernilai jutaan ringgit yang berasal dari satu lembaga (perusahaan, donor, kantor riset dll) luar negeri. Ini menjadi suatu yang menarik, artinya dosen tidak boleh hanya sekedar berdiam diri saja di kampus untuk mengajar, namun harus aktif menawarkan kepakarannya dan itu dianggap sukses bila dia memperoleh dana riset (yang membuktikan ‘pasar’ mengakui keunggulannya).

Hal berikutnya yang menjadi tantangan bagi tiap dosen disini adalah komponen riset output (RO). Terdapat dua hal, yaitu kuantitas dan kulitas. Untuk kuantitas, standar yang digunakan adalah satu jurnal peer-review yang diterbitkan; misalnya satu buku referensi untuk tingkat perguruan tinggi sama dengan tiga kali jurnal peer-review; untuk monograf dan bab dalam satu buku, nilainya identik dengan satu jurnal. Yang menarik, paper untuk konferensi hanya diberi nilai yang kecil 0,33  hal ini mengindikasikan bahwa presentasi paper di satu konferensi ilmiah tidak cukup bernilai dibanding menerbitkannya dalam jurnal (disamping juga biayanya mahal bila itu dilakukan di negara lain untuk pendaftaran, ongkos pesawat dan akomodasi, sehingga ini sekaligus bisa sedikit menghemat pengeluaran).  Untuk mengukur kualitas, maka ukuranya lebih berat, hal ini menunjukkan seberapa bermutu tulisan yang pernah dimuat di jurnal oleh si dosen, karena hal ini dinilai dari citation index dan impact factor. Dengan kata lain, bila tulisan di jurnal makin banyak dikutif pakar lain dalam bidangnya, maka makin bermutu tulisan tersebut dan akan mendapat nilai yang paling besar, demikian juga sebaliknya.  Selain bukti kualitas dari pengutifan, juga bernilai tinggi bila hasil riset mempunyai intelectual property yang berwujud dalam bentuk pantent dan dapat dikomersialkan.

Untuk empat komponen lain yang sama metoda dan bobotnya untuk dosen berbasis mengajar maupun riset, yaitu untuk Profesional Services (PS), kriteria yang dinilai adalah keanggotaan dalam organisasi profesi baik nasional atau internasional, mengerjakan tugas sebagai konsultan atas nama universitas, keterlibatan dalam kegiatan profesional universitas, terlibat dalam pengembangan kapasitas mahasiswa dan menjadi anggota komite untuk tugas khusus di level fakultas, universitas atau nasional. Hal ini sedikit mirip untuk komponen OAAD, namun hanya mengukur dalam kepanitiaan aktiviti tertentu dalam level yang berbeda.

Untuk komponen PQ dan LD, digunakan skala 1-10 (10 nilai maksimal), yang mengukur kualitas pribadi dosen, untuk PQ dinilai dalam hal komitmen, disiplin, hubungan dan kerjasama. Sedangkan untuk LD butiran yang diperhatikan adalah: ciri-ciri kepemimpinan, orientasi pencapaian dan kemampuan menghadapi tantangan. Pihak atasan lah yang menilai dan menentukan hal ini.

Catatan terakhir, penilaian kinerja ini jelas suatu tantangan yang menarik dan memberikan insentif bagi yang memang mau bekerja secara profesional dan mendapatkan penghasilan berlebih. Berbagai kriteria pengukurannya terbuka, diserahkan pada ‘pasar’ dan bisa menjadi tolak ukur seberapa bagus kita melakukan tugas dibanding sebelumnya ataupun terhadap rekan sejawat.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia, UTM. Tandai permalink.

2 Balasan ke Penilaian Kinerja Pensyarah

  1. OE lama berkata:

    Hueeebat bro.., masih sempet bikin blog ini meski ngejar setoran. Ganti judul aja bro jadi Ber ria blogger setoran datang sendiri …., sekali lagi heuubat salut bro.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s