Plagiarisme

Dunia akademik di Indonesia heboh pada Maret 2010 lalu berhubung ditemukannya artikel yang mengandung plagiat (atau plagiarisme) di harian Jakarta Post. Artikel tersebut ditulis oleh guru besar termuda dalam bidang hubungan internasional dari satu perguruan tinggi swasta ternama di Bandung. Saya mengenal beliau secara pribadi, dan tentunya tidak menyangka bahwa itu bisa terjadi.  Si penulis mengakui kekeliruan dan akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya yang prestisius. Konon yang ‘membocorkan’ adanya plagiat tersebut justru mahasiswanya sendiri. Satu komentar yang muncul menggambarkan hal itu dengan sangat tepat, yang ditulis oleh Maketab Muhamad di laman web yang sama:

Dear Editor, seems like Prof. AABP is following the trend in universities nowadays – he is following the culture of “cut and paste”, which is part of the Internet culture. During the pre-Internet era, researchers pored through books, journals and other periodicals in half-lit libraries and manually wrote sentences or passages into cards, to be later typed by typewriters into articles and in the process modifying the original sentences etc. Nowadays it is easier to find articles in the Internet, copy the materials and paste it in “your” article modifying the words or sentences without proper referencing and claim the article as “yours”. Prof. AABP is a victim of his own success as he has proven that he can write on his own considering that he completed his PhD in Flinders University in Australia and his M.A. in Lancaster University, U.K. but probably due to time constraints, he took the short cut way, which he will regret all his life.

Namun muncul berita yang lebih heboh dimana plagiat dilakukan oleh mahasiswa yang akhirnya jadi dosen di perguruan tinggi paling ternama di Indonesia. Ini tentu hal yang menyedihkan, karena bekerja sebagai akademisi maka reputasi adalah hal yang sangat utama dan nilai kejujuran dalam karya ilmiah sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Bekerja sebagai dosen salah satunya memang memeriksa karya tulis mahasiswa, dan ini kegiatan rutin tiap semester untuk mengetahui sejauh mana mereka paham tentang isi mata kuliah, mampu mengutif informasi/hasil riset yang relevan serta dapat mengembangkan argumen atau melakukan sintesis dari yang dipahami dengan kalimat yang dia buat sendiri.  Untuk memudahkan pemeriksaan, maka karya tulis dikirim dalam bentuk soft-copy (file microsoft word) melalui email, sehingga komentar dan nilai yang diberikan bisa langsung disisipkan di karya tulis tersebut serta tentu menghemat penggunaan kertas.

Seringkali saat membaca karya tulis tersebut terkadang ‘kagum’ dengan beberapa
mahasiswa yang tulisannya terlihat sangat profesional, baik dalam Bahasa Melayu maupun Bahasa Inggris. Untuk mengetahui mana yang melakukan kecurangan (plagiat), maka kalimat atau paragraf yang dicurigai di-copy dan diletakkan di mesin pencari google. Kalau yang terjadi “cut and paste” yang sifatnya 100% sama, sangat mudah dideteksi oleh google dan akan langsung ditunjukkan sumber tulisan aslinya. Sehingga komentar untuk si mahasiswa adalah karya tulis ditolak dan harus melakukan perbaikan atau menulis ulang dari awal. Namun bila sudah dilakukan sedikit atau banyak perubahan, google tidak bisa sensitif menunjukkan hal ini.

Cara lain yang lebih ampuh dalam deteksi plagiat adalah dengan menggunakan web-based software yang dilanggani oleh UTM, yaitu turnitin.com.  Tidak perlu melakukan metoda seperti di atas, namun cukup dengan up-load karya tulis mahasiswa secara penuh ke website turnitin, dan dalam waktu kurang dari dua menit hasilnya sudah keluar. Lengkap dengan index plagiarisme (berapa persentase plagiarisme dalam karya tulisnya), memunculkan kata-kalimat ataupun paragraf yang dicurigai hasil plagiat lengkap dengan  sumbernya. Keberadaan software turnitin.com merubah cara saya memeriksa karya tulis mahasiswa, apapun yang dikirimkan mereka (paper, ringkasan, proposal, laporan, draft tesis dll) diperiksa oleh turnitin, dan hasilnya dikirimkan balik ke mahasiswa pengirim. Kebanyakan mahasiswa tidak pernah secara jujur mengakui bahwa dia melakukan plagiat, walaupun laporan dari turnitin.com menunjukkan sebaliknya. Alasan yang  biasa disampaikan bahwa dia tidak mengutip dari website yang ditunjukkan sumbernya oleh turnitin.com; sesuatu yang ‘lazim’ karena biasanya ‘kata atau kalimat yang dicuri’ sudah duluan ditulis oleh orang lain untuk paper/tesis/laporan-nya yang disimpan di berbagai laman web dan itu menjadi bagian database software tersebut.

Hal yang sering membuat jengkel mahasiswa adalah, walaupun karya tulis sudah diperbaiki berulang kali (bahkan sampai empat kali), namun turnitin.com masih juga menemukan jejak plagiat di dalamnya. Ini tidak terhindarkan karena cara dia bekerja yang memang sembrono; maksudnya, dari awal dia menggunakan metoda ‘cut and paste’; saat disuruh menulis ulang, maka karya tulis yang sama yang diperbaiki, dan dia sudah lupa bagian mana dari karya tulisnya yang memang pernah berisi plagiat, yang menyebabkan itu terdeteksi lagi dan lagi.

Bagi mahasiswa yang bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh, dari awal laporan dari turnitin pun sudah menunjukkan tidak adanya masalah (baik karya tersebut di tulis dalam Bahasa Inggris atau Melayu). Mahasiswa jenis ini tidak lupa untuk mencantumkan sumber kutipan atau informasi yang didapat (nama pengarang, tahun penerbitan sampai ke nomor halaman), yang menunjukkan kerja yang rapih dan terencana dengan baik. Sesuatu hal yang tidak sulit untuk dilakukan dengan semua komputer saat ini yang bisa bekerja dengan ‘multi-windows’ dan cukup menggunakan software standar; dimana informasi penting langsung dituliskan secara elektronik, atau kalimat yang akan dikutif secara lengkap disimpan. Menyatakan secara terbuka dan kedisiplinan melakukannya seperti inilah yang biasanya tidak terdapat pada pelaku plagiat.

Selain ampuh, ternyata turnitin.com juga mengundang kerisauan. Hal ini berhubungan dengan setiap file yang di-upload menjadi bagian database-nya. Bila sekedar paper untuk persyaratan mata kuliah mungkin tidak apa-apa, namun bagaimana bila itu adalah karya tulis berbentuk tesis atau laporan riset yang berharga, yang jelas berhubungan dengan hak cipta dan komersialisasi. Sebagai perusahaan yang mencari laba tentu turnitin berkepentingan untuk mendayagunakan database yang dimiliki, walaupun dia membela diri yang dilakukannya sebatas fair use, namun siapa yang memeriksa bila hal itu tidak dilanggar? Debat tentang hal ini bisa dilihat disitus wikipedia.

Kembali kepada isu plagiat, pengetahuan apa itu plagiat dan bagaimana menghindarinya menjadi hal yang penting untuk dipahami oleh mahasiswa. Karir akademik yang cemerlang tentu tidak ingin nantinya berakhir menjadi sia-sia karena urusan plagiat. Kejujuran adalah nilai universal dimana tiap orang yang memang intelek (seperti mahasiswa dan akademisi) pasti mengetahui dari awal bahwa melakukan plagiat sesuatu yang tidak benar dan bisa membawa resiko.

Pos ini dipublikasikan di Student, UTM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s