Mahasiswa Internasional di Malaysia

Anak kera di hutan disusui, anak sendiri di rumah kebuluran.

Laporan yang dikeluarkan oleh OBHE (The Observatory on Borderless Higher Education) pada tahun 2007 (bisa diunduh di website ini) membuat empat kategori besar negara yang mendapatkan mahasiswa internasional (International student) di negaranya. Supaya meringankan urusan, yang dimaksud dengan mahasiswa internasional adalah individu yang sementara tinggal di negara yang tidak sama dengan kewarganegaraannya serta berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan internasional sebagai mahasiswa.

Tercatat pada tahun 2005, jumlah mahasiswa internasional di dunia sekitar 2,5 juta orang; dari jumlah ini 45% diantaranya disebut oleh OBHE dikuasasi oleh Major Players yaitu Amerika (22%), Inggris (12%) dan Australia (11%); kelompok kedua disebut Middle Powers yaitu Jerman (10%) dan Perancis (10%); kelompok berikutnya adalah Evolving Destinations terdiri dari tiga negara yaitu Jepang (5%), Kanada (5%) dan Selandia Baru (3%); kelompok terakhir disebut dengan nama cukup keren, Emerging Contenders, yaitu Malaysia (2%), Singapura (2%) dan China (7%).

Menurut laporan tersebut, penyebutan Emerging Contenders karena ketiga negara tersebut sebelumnya adalah importir jasa pendidikan dibandingkan posisinya sekarang yang sudah menjadi eksportir. Sehingga disebut bahwa dengan menjadi eksportir, mereka harus berpikir ulang tentang strategi pembangunan kapasitas yang harus dilakukan. Pada tahun tersebut di Malaysia tercatat 65.000 mahasiswa internasional; pemerintahnya sendiri menargetkan pertumbuhan sebesar 7,4% per tahun, namun kemudian diralat karena diharapkan jumlahnya mencapai 100,000 orang pada tahun 2010 yang berarti pertumbuhannya harus 24% per tahun, sesuatu yang ambisius.

Statistik dari Kementrian Pengajian Tinggi Malaysia menampilkan profil mengenai siapa mahasiswa asing yang studi di negeri ini. Empat negara teratas dengan jumlah total hampir setengah dari mahasiswa asing di Malaysia adalah China (9,5 ribu mahasiswa), Indonesia (8,9 ribu), Iran (6 ribu) dan Nigeria (5,8 ribu). Hal ini menjadi menarik untuk dilihat bahwa yang studi di Malaysia tidak melulu karena kedekatan geografis saja, negara di Afrika dan Timur Tengah pun berminat belajar di Malaysia. Salah satu daya tarik khas Malaysia adalah sebagai negara Islam, sehingga banyak negara yang penduduknya muslim belajar di universitas di Malaysia, seperti misalnya dari Yaman (3 ribu mahasiswa), Bangladesh (2,8 ribu), Sudan (2 ribu), Libya (1,8 ribu), Irak (1,6 ribu), dan Pakistan (1,5 ribu). Ceruk pasar seperti ini tentunya satu hal yang menguntungkan dan mempunyai potensi strategis di masa depan, misalnya dalam hal kerjasama riset, industri, perdagangan, dan tentu diplomasi yang makin menguatkan soft-power Malaysia di negara-negara muslim lain. Dalam hal perbandingan jender mahasiswa asing lelaki dan perempuan adalah 69:31, yang menunjukkan bahwa dominasi tujuan belajar ke negara luar bagi kaum perempuan di Malaysia sesuatu yang diminati.

Dari proporsi asal negara mahasiswa asing dari segi kesejahteraan terlihat bahwa yang terbanyak mengirim mahasiswa adalah negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tengah sebesar 80% dari total populasi; sedangkan dari kategori negara miskin sumbangannya sebesar 19% (seperti: Yaman, Bangladesh, Sudan dll); hanya 1% saja populasi mahasiswa asing yang berasal dari negara maju (Inggris, Jepang, Amerika Serikat dll). Trend ini menunjukkan bahwa perkembangan Malaysia sudah menjadi tujuan belajar bagi mahasiswa dari negara berkembang dan miskin.

Dari total populasi mahasiswa asing di Malaysia, ternyata sebagian besar belajar di perguruan tinggi swasta (70%),  sisanya di perguruan tinggi negeri. Hal ini juga hal yang wajar, dalam hal seleksi yang diterapkan untuk penerimaan mahasiswa asing, dimana perguruan tinggi negeri di Malaysia menetapkan standar yang tinggi serta ketat; sedangkan partner-nya yang swasta bisa dikatakan relatif menerima sebanyak yang ada karena memberikan pendapatan yang sangat besar pada institusinya. Data tahun lalu (2009) menunjukkan bahwa 27% dari total mahasiswa asing mengikuti program diploma; 27 ribu lebih terdaftar sebagai mahasiswa S1 (45%), dan hampir 17 ribu (28%) sebagai mahasiswa S2 dan S3. Untuk tingkatan pasca sarjana, yang melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri di Malaysia sangat kontras, yaitu mencapai 14 ribu orang (mencapai 84%), yang kebanyakan berasal dari negara berkembang. Secara rinci bidang studi yang dipelajari oleh mahasiswa pasca sarjana asing di perguruan tinggi negeri di Malaysia yang terbesar adalah bidang Sosial Sains (8 ribu), diikuti oleh Sains (3,7 ribu) dan sisanya dalam bidang teknik (2,3 ribu).

Dalam satu pertemuan dengan pihak kementrian perguruan tinggi Malaysia yang pernah saya dihadiri, satu orang pejabatnya melantunkan peribahasa di atas (Anak kera di hutan disusui, anak sendiri di rumah kebuluran; yang kurang lebih bermakna anak sendiri tidak diurus sedangkan anak orang diistimewakan). Tidak lain merupakan kritikan halus terhadap perguruan tinggi negeri di Malaysia yang ‘agresif’ merekrut mahasiswa asing, khususnya yang studi pasca-sarjana. Hal ini disebabkan untuk tingkat S1, pemerintah Malaysia menetapkan kuota maksimal mahasiswa asing di universitas negeri-nya adalah 5%. Sedangkan untuk S2 dan S3, relatif tergantung kebijakan universitas masing-masing. Pada saat yang sama, unit cost untuk mahasiswa per tahun-nya di universitas negeri Malaysia adalah kurang lebih RM 20.000 (sekitar Rp. 56 juta), namun mahasiswa asing hanya membayar biaya kuliah sekitar 40%-nya saja dari unit cost sedangkan untuk orang lokal membayar sekitar 15%-nya. Dengan kata lain nominal uang yang ditanggung oleh pembayar pajak Malaysia untuk mahasiswa asing sangat besar (untuk yang S2 dan S3 nilainya sekitar RM 12.000 x 14 ribu mahasiswa, tentunya suatu jumlah yang fantastis). Hal lain yang disinggung oleh pejabat tersebut adalah perbandingan populasi antara mahasiswa lokal dan asing. Pada tahun 2008 lalu, tercatat sebanyak 500 ribu lebih mahasiswa tingkat S1 sampai S3 di Malaysia (perguruan tinggi negeri dan swasta), jumlah mahasiswa asing dalam program itu tercatat sebanyak 44 ribu orang, artinya hampir sepersepuluh kapasitas perguruan tinggi diambil oleh mahasiswa non-lokal.

Ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak sederhana bagi pemegang kebijakan, berapa persentase yang dianggap layak untuk diterima? apakah tujuannya harus melulu keuntungan finansial? Apakah kapasitas universitas lokal bisa melayani peningkatan partisipasi perguruan tinggi yang sudah cukup tinggi, yaitu sekitar 35%? Pada saat yang sama juga menghadapi dilema, Malaysia  sebagai negara kecil (populasi 27 juta jiwa) dimana jumlah mahasiswa yang cukup berbakat dan pintar tidak sebanyak negara dengan populasi yang lebih besar, tentu memerlukan mahasiswa pasca-sarjana asing untuk mengerjakan proyek riset, mengembangkan produk dan bersaing dalam dunia ilmiah dalam penerbitan dan penemuan yang makin kompetitif.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Malaysia. Tandai permalink.

3 Balasan ke Mahasiswa Internasional di Malaysia

  1. Satria berkata:

    Artikel yang sangat menarik! Saya tidak pernah membaca artikel serupa tentang situasi di dalam negeri. Do we have the statistics?

    • deceng berkata:

      Pak Satria, ini juga perbedaan Depdiknas sama rekannya di Malaysia; disini lebih rapih dan terbuka dengan berbagai data dan laporan.

  2. Ping balik: Cerita pembuatan kebijakan pendidikan di Malaysia | Blog Catatan Ngejar Setoran

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s