Pekerjaan Sebelumnya

Pekerjaan formal pertama yang dialami adalah sebagai guru kimia SMA. Menerima SK (surat keputusan) sebagai guru CPNS golongan IIc (kualifikasi lulusan diploma tiga dengan pengalaman bekerja tiga tahun)  di Kantor Wilayah Dikbud Jawa Barat sekitar awal 1993. Isinya menyatakan NIP, lokasi tugas di Praya, NTB dan gaji yang diterima serta detail administratif lainnya.

Bekerja sebagai guru merupakan konsekuensi menikmati beasiswa Ikatan Dinas saat masih studi di IPB dulu. Bekerja di tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya  memberikan peluang banyak pengalaman dan tantangan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tidak mengalami demam panggung saat mulai bertugas, karena saat masih studi dulu banyak pengalaman dinikmati saat latihan mengajar di SMAN 5 Bogor. Secara kasat mata pun kondisi di Bogor dan Praya memang jauh berbeda, hampir dalam segalanya. Murid yang diajar mayoritas merupakan generasi pertama dari komunitas setempat yang mengecap pendidikan menangah atas; bila bertanya secara acak pada mereka ada yang menyebut orang tuanya hanya lulus SD ataupun tidak pernah sekolah, sedikit yang menyebut ortunya lulus SMA apalagi pernah kuliah. Kondisi ini menunjukkan tingkat kesiapan belajar murid dan dukungan yang bisa diberikan oleh orang tua.

Sebagai guru muda yang ingin berbagai sebanyak yang mungkin, maka tugas mencerdaskan anak bangsa selalu menjadi menarik. Penekanannya apalagi kalau bukan bidang akademik, dan kesuksesan diukur seberapa jauh bisa memahami materi pelajaran, nilai test yang bagus, syukur-syukur bisa lebih dari yang saya alami saat masih SMA ataupun saat latihan mengajar di SMAN 5 Bogor dulu. Namun hal itu memang harapan yang tidak realistik, terutama setelah lebih dari dua tahun mengajar.

Siswa ternyata sangat cerdas dalam memahami ‘unspoken policy’ dalam hal kelulusan; mereka tahu dengan sendirinya bahwa seberapa jelek nilai yang didapatkan dalam Ebtanas, maka kelulusan bukan suatu yang patut dirisaukan. Ini menyebabkan demotivasi bagi sebagian siswa, bagi yang lain yang punya harapan masa depan lebih cerah mereka akan berusaha mendapat nilai yang bagus. Ini yang terjadi saat memberikan pelajaran tambahan secara gratis ke siswa, lengkap dengan latihan soal yang juga gratis. Yang datang saat les maksimal hanya sekitar 35% dari yang biasa hadir di kelas, dan siswanya masih yang itu-itu saja.

Sehingga pengumuman kelulusan (saat itu) memang lebih tepat disebut ‘celebrating mediocrity’, sistem yang ada didisain bahwa semua sukses; bukan wajib belajar, namun yang terjadi wajib lulus. Konon ini memang target pemerataan berhubung daerah belum berkembang, jadi prioritas masih belum ke arah kualitas. Keadaan ini menyebabkan makin pragmatis, apalagi disadari bahwa dari siswa yang lulus ternyata hanya sekitar 10% saja yang melanjutkan studi, dari yang 10% pun belum tentu masuk ke jurusan sains dan teknik. Sehingga terus mempertanyakan untuk apa pelajaran kimia kalau kondisinya seperti itu?

Pos ini dipublikasikan di Guru. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pekerjaan Sebelumnya

  1. Ping balik: PERJALANAN KARIR MENJADI GURU | Padepokan Guru Indonesia (PaGI)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s