<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Catatan Ngejar Setoran</title>
	<atom:link href="http://deceng2.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://deceng2.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 05:19:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='deceng2.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blog Catatan Ngejar Setoran</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://deceng2.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Catatan Ngejar Setoran" />
	<atom:link rel='hub' href='http://deceng2.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Desain Pendidikan Malaysia kedepan</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/09/30/desain-pendidikan-malaysia-kedepan/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/09/30/desain-pendidikan-malaysia-kedepan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 04:07:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Selama dua hari di awal minggu ini (27-28 September 2011) saya mengikuti acara seminar Majelis Dekan-Dekan Pendidikan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Serdang, Selangor (sekitar 5 km selatan Kuala Lumpur). Acara seminar diadakan oleh forum fakultas-fakultas pendidikan universitas negeri di &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/09/30/desain-pendidikan-malaysia-kedepan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=805&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama dua hari di awal minggu ini (27-28 September 2011) saya mengikuti acara seminar Majelis Dekan-Dekan Pendidikan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Serdang, Selangor (sekitar 5 km selatan Kuala Lumpur). Acara seminar diadakan oleh forum fakultas-fakultas pendidikan universitas negeri di Malaysia, yang tidak lain adalah lembaga-lembaga penghasil guru sekolah menengah di Malaysia karena universitas swasta disini memang tidak  diberikan ijin untuk mendirikannya. Sedangkan untuk guru sekolah dasar dipasok oleh institut pendidikan guru (IPG) yang berada di bawah kementrian pendidikan. Seperti biasa di satu konferensi, ditampilkan berbagai hasil riset yang sedang atau telah dikerjakan oleh mahasiswa pascasarjana dan staf dosen dalam sesi paralel di ruang kelas; disamping itu juga terdapat acara beberapa kuliah umum untuk semua peserta yang menampilkan hasil riset dengan kualitas berbeda atau ide-ide baru dari pakarnya. Tulisan ini menampilkan apa yang saya baca dan dengar dari dikusi di seminar khususnya tentang desain pendidikan Malaysia yang jadi wacana, terbagi dalam dua hal saja yaitu tentang rekonfigurasi sistem sekolah dan pendidikan serta karir guru. Moga-moga bisa memberikan gambaran sekilas bagi anda tentang pendidikan di negeri jiran ini.</p>
<p><span id="more-805"></span>Dari segi populasi orang yang berkecimpung dalam sistem persekolahan di Malaysia, hampir jumlahnya adalah 10% dari yang ada di Indonesia. Jumlah total murid di Indonesia yang mencapai 50 juta lebih, maka di Malaysia jumlahnya sekitar 5 juta jiwa lebih; demikian juga untuk guru di Malaysia yang mencapai 400 ribu orang dan jumlah sekolah yang 10 ribu buah. Artinya memang beban anggaran dan kompleksitas mengurus yang 10% dari kita tersebut memang tidak sebanding dengan yang biasa dihadapi Indonesia. Malaysia menganggap bahwa sistem pendidikan yang dijalankannya telah berhasil dan memberikan keuntungan yang bernilai pada negara sejak mereka merdeka tahun 1957 lalu. Misalnya dalam hal pendapatan perkapita yang sudah diatas rata-rata negara berkembang lain (US$ 7500 per tahun, sedangkan Indonesia masih US$ 3500), fasilitas kesehatan yang lebih bagus ataupun konektivitas sistem transportasi yang lebih efektif. Malaysia juga dianggap sebagai contoh negara dengan mayoritas berpenduduk muslim yang menunjukkan kemajuan signifikan dan jadi patokan bagi negara Islam lain, dengan tampilan ikonik seperti menara kembar Petronas atau pusat pemerintahan baru di Putrajaya.</p>
<p>Seperti biasa, Malaysia ingin menjadi lebih baik lagi; dan mereka menetapkan bahwa tahun 2020 harus menjadi negara maju (dengan target pendapatan perkapita menjadi US$ 15 ribu), disertai beberapa indikator lain seperti partisipasi warga negara dalam pendidikan tinggi yang melebihi 50% (saat ini sudah mencapai angka 41%, sedangkan Indonesia masih di bawah 20%); jumlah siswa sekolah menengah yang mengambil jurusan sains lebih dari 50% (mereka menargetkan 60% sejak dua tahun lalu, namun angkanya saat ini masih berkutat di 26%). Salah satu cara strategis untuk mencapai mimpi negara maju tentu melakukan transformasi secara besar-besaran sistem pendidikan publik yang ada. Sejak dahulu Malaysia melanjutkan sistem pendidikan yang merupakan warisan Inggris, mulai dari sistem sekolah sampai kepada menjadikan siswa yang berprestasi menjadi pengawas bagi teman-temannya (biasa disebut <em>prefect</em> di negara asalnya). Alasan perlunya perubahan diantaranya adalah menyusun kembali pengaturan yang telah ada; mengatur aliran kegiatan dan aksi; memperbarui supaya sesuai dengan kebutuhan di masa depan; dan tentu untuk melakukan perbaikan menyeluruh terhadap keadaan yang ada.</p>
<p>Yang pertama adalah melakukan rekonfigurasi sistem sekolah yang ada. Saat ini Malaysia meniru sistem yang diberlakukan Inggris dengan formulasi 6-5-2(1)-4; maksudnya adalah enam tahun sekolah dasar, lima tahun sekolah menengah, dua atau satu tahun pendidikan pra-universitas dan empat tahun untuk S1. Bila dilihat bagian antara sekolah dasar dan sekolah menengah (termasuk didalamnya pra-universitas) terdapat dua kelompok besar yang sangat kaku, yaitu satu kelompok siswa usia 7-12 tahun (sekolah dasar) dan satu lagi murid di usia 13-19 tahun (sekolah menengah). Artinya terdapat jurang perbedaan yang besar yang menyebabkan tidak terlayaninya kebutuhan siswa secara khusus berdasar perkembangan kognitif dan emosional mereka. Pengalaman saya mengunjungi berbagai sekolah menengah negeri di Malaysia (yang merupakan gabungan SMP dan SMA kalau di kita), maka dengan populasi siswa yang besar (dua ribu murid lebih) dan beragam kelas yang harus dilayani, mempunyai potensi masalah disiplin dan pengaturan yang lebih kompleks (apalagi siswa yang dihadapi pada usia remaja yang dinamis dan tempramental). Pengelompokkan yang terlalu kontras ini memang terlalu besar untuk bisa dilayani sesuai dengan kondisinya, apalagi menggunakan jurus &#8220;<em>one size fits all</em>&#8221; bagi manusia yang berusia muda akan mempunyai dampak yang sifatnya<em> irreversible</em>. [catatan tambahan: sekolah di Malaysia tidak mengenal tinggal kelas, jadi dia akan terus naik sampai ke taraf kelas 11 untuk ujian akhir pendidikan wajib (disebut SPM); terdapat pula ujian nasional yaitu pada kelas 6 (disebut UPSR) dan kelas 9 (disebut PMR), namun hasil ujian yang jelek (gagal) tidak membuat mereka tinggal kelas, resiko yang didapat adalah susah mendapat sekolah yang diinginkan oleh mereka]</p>
<p>Usulan yang muncul adalah melakukan pengelompokkan siswa yang disesuaikan dengan perkembangannya; dua kelompok besar di atas, disusun ulang menjadi empat kelompok lebih kecil, yaitu<em> first school</em> (usia siswa 5-9 tahun), <em>middle school</em> (usia 10-13 tahun), <em>junior high school</em> (usia 14-16 tahun) dan terakhir <em>high school</em> (17-19 tahun). Saat ini Malaysia secara ketat menerapkan batas usia tujuh tahun memulai sekolah dasar (ada toleransi tujuh tahun kurang 1-2 bulan masih bisa), namun usia tujuh tahun dianggap sedikit lambat untuk masuk pendidikan formal dan dianggap terlalu besar untuk tetap berada di taman kanak-kanak (disini disebut tadika). Pengelompokkan usia sekolah menjadi empat kategori yang relatif tidak jauh beda tentu diharapkan memudahkan guru untuk menyesuaikan cara pelayanan sesuai perkembangan siswa. Diantara keempat kelompok usia sekolah itu nantinya akan dikembangkan test formatif untuk menguji pencapaian hasil belajar yang diinginkan, yaitu dalam hal <em>social skills</em> untuk siswa yang telah selesai dalam <em>first school</em>, ujian baca-tulis-hitung untuk yang <em>middle school</em>, sedangkan bagi  <em>junior high school</em> adalah <em>content subjects knowledge </em>dan terakhir untuk <em>high school</em> adalah sesuai dangan jurusan dan spesialisasinya (misalnya sains, bahasa, sains sosial dll). Rancangan ini memang secara sengaja meniadakan ujian negara (<em>public examination</em>), dimana Malaysia seperti halnya Indonesia dan negara Asia lainnya, sistem sekolahnya <em>exam oriented,</em> dimana semacam ujian akhir nasional menjadi rujukan utama dan alat ukur yang dianggap paling valid untuk menentukan keberhasilan siswa dan memprediksi kesuksesannya di masa depan.</p>
<p>Hal selanjutnya yang ingin diubah dalam hal konfigurasi sistem sekolah adalah sehubungan dengan sesi sekolah, maksudnya adalah sekolah yang membuka jam belajar siswa di pagi hari saja (sampai siang) alias satu sesi (biasanya dimulai pukul 7.30 pagi sampai pukul 13.00 siang); ada juga sekolah yang membuka dua sesi dimana ada kelompok siswa lain yang datang ke sekolah dan belajar dari siang sampai sore (pukul 13.00 sampai 18.00) [catatan tambahan: guru di Malaysia biasanya diwajibkan datang 30 menit sebelum jam awal sekolah, dan baru boleh pulang sekitar satu jam setelah sekolah usai]. Saat ini terdapat sekitar 2000 sekolah (20%) di Malaysia yang masih menggunakan dua sesi, 80% lainnya sudah satu sesi saja. Bagaimanapun mengadakan dua sesi bisa berati menghemat sumber daya negara untuk membuat gedung sekolah baru dan rekrutmen gurunya, namun sudah lama disadari bahwa kualitas waktu yang dialami oleh siswa akan berbeda bila semua siswa masuk dalam satu sesi saja. Bila rancangan satu sesi sekolah diterapkan, maka susunan jam pelajaran yang nantinya akan diberikan kepada siswa adalah seperti berikut: mata pelajaran-1 (8-10 pagi), istirahat-1 (10.00-10.30), mata pelajaran-2 (10.30-12.00), klub pelajar (12-13), istirahat-2 (13.00-14.30), pelajaran bahasa dan agama (14.30-15.30), dan terakhir aktivitas ko-kurikulum (15.30-17.00).</p>
<p>Satu hal yang juga mencuat dalam ajang diskusi adalah adanya sistem sekolah berdasar bahasa ibu yang berbeda (disini disebut <em>vernacular school system</em>) yang ada di jenjang sekolah dasar di Malaysia. Disamping ada sekolah kebangsaan (sekolah dasar negeri yang menggunakan bahasa Malaysia), terdapat juga sekolah jenis kebangsaan cina (menggunakan bahasa Cina) dan sekolah jenis kebangsaan tamil (bahasa Tamil). Penggabungan (atau lebih tepatnya penghapusan dua jenis sekolah lain) ketiga jenis sekolah menjadi satu sekolah kebangsaan merupakan hal yang belum terwujud juga setelah lebih 54 tahun Malaysia merdeka; apalagi khususnya dari segi sumber daya yang digunakan (guru, dana rutin, kurikulum dll) semua berasal dari pemerintah pusat. Pelestarian bahasa dan budaya tentu bisa dilakukan dengan cara yang lain tanpa harus membuat struktur sistem sekolah yang menjadi rumit dan terlihat Malaysia sebagai komunitas yang terpecah-belah.</p>
<p>Bagian kedua yang menjadi isu hangat adalah rekonfigurasi pendidikan guru di Malaysia. Seperti sudah disebutkan bahwa di Malaysia, untuk guru SD dipasok oleh Institut Pendidikan Guru (IPG); sedangkan guru sekolah menengah oleh fakultas pendidikan di universitas (keduanya pendidikan tinggi negeri/milik pemerintah). Sekolah di Malaysia mempunyai berbagai bentuk dan kompleks, ada sekolah kebangsaan dan jenis kebangsaan di pendidikan dasar; di taraf pendidikan menengah ada sekolah harian, sekolah asrama sekolah khusus sains, sekolah khusus untuk bumiputera (sekolah MARA) juga sekolah keterampilan. Dengan beragamnya jenis sekolah tersebut, namun kebutuhan guru hanya dipasok dari IPG dan universitas saja; dengan kata lain akan terdapat jurang keahlian dan keterampilan guru saat harus menangani siswa dengan kondisi yang khusus, artinya guru dituntut lebih dan menyesuaikan diri dalam konteks sekolah dimana dia ditempatkan saat pendidikan sebelumnya tidak memberikan bekal yang sesuai.</p>
<p>Salah satu usulan yang dikemukakan adalah berdasar kepada usulan jenjang sekolah yang disebutkan sebelumnya; dan ini berarti bahwa pengkhususan pendidikan guru seperti oleh IPG dan fakultas pendidikan di universitas dalam taraf S1 tidak perlu dilakukan lagi. Malah diusulkan bahwa calon guru berasal dari semua lulusan S1 umum terbaik untuk kemudian dilanjutkan dengan pendidikan tambahan dua tahun (setara magister atau S2)  oleh fakultas pendidikan untuk disiapkan sesuai dengan minat dan jenjang sekolah yang akan menjadi tugas mereka. Artinya kualifikasi dan keahlian guru malaysia akan berubah dratis, yaitu lulusan S2 dan mempunyai prestasi akademik yang cemerlang. Oleh karena jenjang pendidikan akan berubah, maka sistem pendidikan guru pun harus mengikutinya; sehingga untuk yang <em> first school</em> (yang berisi keahlian dasar/<em>fundamental skills</em>) maka kurikulum pendidikan guru mencakup psikologi anak, sosiologi, psikologi sosial, antropologi, pendidikan jasmani, bahasa, aritmetika, pendidikan sains, pendidikan seni, pendidikan kesehatan, pendidikan agama dan moral dan lainnya; bagi <em>middle school</em> (pengetahuan dasar/<em>basic knowledge</em>) isi pendidikan guru mencakup konseling, evaluasi, bahasa, pendidikan sosial, pendidikan sains, menajemen kelas dll;  bagi guru di <em>junior high school</em> (<em>liberal arts</em>) adalah pendidikan dalam ilmu-ilmu murni dan pengetahuan budaya; sedangkan untuk yang akan mengajar di <em>high school</em>  (spesialisasi dan pengkhususan/ <em>streaming</em>) mereka mempelajari pedagogi dan andragogi, studi kurikulum, penilaian dan evaluasi, spesialisasi disiplin ilmu dll.</p>
<p>Bila melihat penjelasan di atas terlihat rumitnya perubahan struktur pendidikan guru yang akan di lakukan di Malaysia nantinya. Misal untuk mendapatkan guru di <em>high school </em>maka mereka hanya akan merekrut calon guru yang memang terbukti punya prestasi akademik yang bagus dalam satu disiplin ilmu tertentu (misal S1 dalam matematika, atau S1 ekonomi, S1 bahasa Inggris atau lainnya), baru mereka diperbolehkan untuk ikut pendidikan menjadi guru selama dua tahun. Sesuatu yang memang sudah diterapkan di negara yang menjadi juara dalam taraf pendidikan internasional seperti Finlandia. Pengkhususan ini juga akan mengidentifikasi calon guru yang cocok untuk taraf jenjang tertentu, misal lulusan S1 dalam sosiologi dan psikologi akan dinilai layak untuk jenjang <em>first school </em>dan <em>middle school. </em>Tentu diharapkan  guru-guru yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam mengajar dan fasilitasi pengetahuan akan membuat siswa yang diajarnya lebih efektif, juga akrab dengan pemanfaatan teknologi  dan media untuk pengajaran.</p>
<p>Hal berikutnya dalam hal rekonfigurasi guru adalah mengenai status dan jabatan guru. Untuk kedepan Malaysia akan menerapkan tiga buah jenjang status bagi guru yaitu, <em>asistant teacher</em>,  <em>master teacher</em> dan <em>chartered teacher</em>.  Guru yang sudah lulus dengan gelar magister dan diterima bekerja di satu sekolah, maka statusnya adalah sebagai <em>asistant teacher, </em>guru tersebut harus menjalani masa &#8216;inkubasi&#8217; minimal selama dua tahun, dimana tugasnya adalah menjadi guru bantu di dalam kelas bagi guru lainnya. Dengan cara ini sang <em>asistant teacher </em>menjalani magang sebagai guru dan menimba pengalaman berharga untuk menjadi guru profesional. Di dalam kelas terdapat satu orang guru yang mengajar, namun akan terdapat lebih dari satu orang yang membantu guru tersebut. Hasil riset menunjukkan pengalaman kerja dua tahun pertama sebagai guru adalah waktu yang sangat kritis dan menentukan efektivas kerjanya ke depan; sehingga penyiapan mereka sebagai &#8216;guru bantu&#8217; akan membentuk mereka menjadi lebih siap. Setelah magang diselesaikan dan dianggap siap sebagai guru, maka dia bisa mulai mengajar dan juga siap mengalami &#8216;proses sertifikasi&#8217;  yang menunjukkan keprofesionalan dia sebagai guru untuk kemudian diuji secara independen yang melibatkan pihak sekolah tempat dia bekerja menjadi seorang  <em>master teacher</em>. Kenaikan status ini juga bersamaan dengan promosi dan meningkatnya pendapatan, sehingga menjadi insentif yang menguntungkan bagi guru. Setelah  dalam satu periode tertentu maka sang <em>master teacher</em>  bisa meminta untuk diuji taraf profesionalitasnya yang sudah lintas sekolah penilainya yang akan menjadi <em>chartered teacher. </em></p>
<p>Bila melihat rekonfigurasi yang diusulkan, sangat terlihat betapa ambisiusnya negara jiran kita itu ingin melakukan perubahan dalam sistem pendidikan mereka. <em></em>Malaysia menyadari bahwa negara tetangga lain pun sedang melakukan berbagai perbaikan dalam sistem pendidikan mereka, dan dalam beberapa hal bisa menyaingi (yang berarti negara itu menjadi lebih baik, atau Malaysia sendiri mengalami stagnasi ataupun kemunduran). Bila rancangan ini diterima, tentu akan terjadi perubahan struktur yang sangat mendasar dan berdampak hiruk-pikuk, bahkan mungkin ketegangan di berbagai pelosok negeri. Kalau dilihat secara sepintas, rasanya sulit untuk tidak setuju bahwa usulan yang diajukan memang pas dan cocok untuk dikerjakan khususnya dalam menghadapi persaingan global yang akan makin menentukan keberlangsungan suatu bangsa nantinya.</p>
<p>Sumber: Abdul Rashid Mohamed, &#8220;Time To Reconfigure The Malaysian Education System&#8221; Seminar Majelis Dekan-Dekan Pendidikan 2011, UPM.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/805/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=805&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/09/30/desain-pendidikan-malaysia-kedepan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita studi di Flinders</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/15/cerita-studi-di-flinders/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/15/cerita-studi-di-flinders/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 17:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Student]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=791</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman studi pasca sarjana S2 di Flinders dulu (1999-2001) merupakan hal unik berhubung benar-benar pertama kali melihat luar negeri. Banyak kejutan budaya (culture shock) terjadi, baik dalam hal yang berkutat dengan studi, adaptasi dengan cuaca, maupun  kehidupan  dengan &#8216;pola barat&#8217;. &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/08/15/cerita-studi-di-flinders/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=791&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengalaman studi pasca sarjana S2 di Flinders dulu (1999-2001) merupakan hal unik berhubung benar-benar pertama kali melihat luar negeri. Banyak kejutan budaya (<em>culture shock</em>) terjadi, baik dalam hal yang berkutat dengan studi, adaptasi dengan cuaca, maupun  kehidupan  dengan &#8216;pola barat&#8217;. Ini hanya sekedar catatan yang tertinggal setelah sepuluh tahun berlalu yang tentu masih diingat dan meninggalkan kesan yang masih enak untuk dikenang.</p>
<p><span id="more-791"></span>Pertama kali ke luar negeri dan tentu saja pertama kali menggunakan passport, adalah saat ke Australia untuk tugas belajar. Mendarat di bulan Juli 1999 artinya datang saat musim dingin (<em>winter</em>) yang tidak pernah dialami sebelumnya sepanjang hidup. Di airport ternyata tidak ada yang menjemput, maka inisiatif menelpon ke universitas dan diberi tahu untuk naik taksi saja ke kampus. Sepanjang perjalanan supir taksi ngajak ngobrol dengan aksen Inggris-Australia yang aneh dan susah dimengerti sambil memberikan ceramah pentingnya menggunakan sabuk pengaman (<em>safety belt</em>), juga hal yang pertama kali menggunakan. Sepanjang perjalanan ke kampus, maka didapati kota Adelaide yang sepi dan lebih tepat &#8216;kota mati&#8217; karena khususnya tidak ada nampak anak-anak berlalu-lalang (teman yang orang Filipina di kesempatan lain mendapati hal yang sama, dan refleks mengatakan ke supir taksi bahwa harus berhenti karena pasti ada sesuatu yang serius; yang kemudian diejek oleh supir dengan mengatakan &#8220;ini hal wajar, dan kita tidak menyimpan anak-anak di lemari es supaya mereka tidak berkeliaran di jalan&#8221;).</p>
<p>Sesampai di kampus menjumpai pelayanan yang baru dirasakan juga: di kasih minuman hangat, ongkos taksi diganti dan diantarkan ke tempat penginapan dengan mobil. Penginapan yang sudah diatur sebelumnya adalah dengan mahasiswa dari Indonesia lainnya yaitu di kompleks apartemen yang disebut &#8216;kampung melayu&#8217; (karena dulunya didominasi oleh penyewa mahasiswa Malaysia). Mulailah kehidupan sebagai mahasiswa pasca sarjana di negara orang. Dua minggu pertama adalah program pengenalan kampus yang meliputi mengenal budaya setempat dengan tinggal dengan keluarga Australia saat <em>weekend</em>, pelatihan komputer, English for academic purpose, informasi tentang fasilitas yang tersedia di kampus (klinik, transportasi, penitipan anak dll), pemanfaatan perpustakaan sampai kepada diajak wisata ke Hahndorf, yang merupakan &#8216;kampung&#8217; Jerman yang terletak di Adelaide Hills. Hal yang &#8216;menyiksa&#8217; di bulan pertama adalah usaha untuk badan bisa hangat karena suhu sering mendekati nol derajat celsius, menggunakan baju berlapis ataupun posisi dekat <em>heater</em> tidak banyak membantu. Baru belakangan mengetahui perlu memakai baju ketat (<em>long john</em>) supaya bisa terus nyaman.</p>
<p>Adaptasi dengan kehidupan negara maju tentu suatu yang nyaman. Mulai mengenal bagaimana menggunakan transportasi umum, dimana perlu satu jenis karcis saja yang dapat digunakan sekaligus untuk bis, trem dan kereta api. Berbelanja mingguan saat akhir pekan ke Adelaide Central Market, yang merupakan wisata belanja yang dinanti-nanti khususnya ke toko Thuan Phat yang isinya tidak jauh beda dengan toko kelontong di Indonesia karena berbagai produk tanah leluhur tersedia, dan menunggu saat pasar mau tutup dimana pedagang menawarkan buah dan sayur dengan aksen yang khas dan harga yang sangat miring (seperti anggur satu kotak, sekitar dua kilogram, cuman Aus$ 2). Ataupun ada kejadian yang tidak mengenakkan dimana diajak makan, dan saya kira itu di traktir, ternyata bayar masing-masing berhubung dia memang menggunakan kalimat ajakan yang umum, untung ada teman Indonesia yang bisa dipinjami duit saat itu (terngiang selalu ucapan English instructor saat di IALF Jakarta dulu yang berpesan &#8220;<em>always bring money</em>&#8220;).</p>
<p>Memulai studi di jurusan administrasi pendidikan di Flinders dengan mengambil metoda <em>taught course</em>, yaitu full kuliah selama empat semester; beban riset hanya skala kecil saja yang setara dengan enam kredit yang diambil pada dua semester terakhir dengan membuat karya tulis sekitar 12 ribu kata. Mengikuti perkuliahan di Finders ternyata di luar dugaan sebelumnya, waktu kuliah kebanyakan pada sore hari karena mahasiswa yang orang Australia yang mengikutinya rata-rata telah bekerja. Banyaknya mata kuliah yang diambil pun tidak banyak, hanya tiga buah (dengan beban masing-masing tiga kredit) per semester (saat D3 atau S1 dulu, minimal enam mata kuliah per semester; pernah ada teman yang menunjukkan transkrip S1-nya ke pembimbing dan dikomentari bahwa mahasiswa di Indonesia rata-rata &#8216;jenius&#8217;, karena sanggup mempelajari banyak hal). Suasana perkuliahan pun santai, lebih banyak berbagi cerita baik oleh dosen maupun antar mahasiswa, dan karena masih demam suasana belajar negara maju, lebih banyak mengangguk dan tersenyum supaya kelihatan mengikuti. Tentu saja dengan banyak diam tidak berarti emas dalam ruang kuliah di Australia, mau tidak mau harus ngomong; dan tentu ini perjuangan berat, baik mengungkapkan dalam English maupun memahami materi kuliah yang diluar bidang saya sebelumnya. Uniknya berpendapat apapun selalu dihargai, tidak untuk ditertawakan, kadang malah &#8216;dipuji&#8217; dengan ungkapan, bagaimana pandangan dari negara berkembang tentang isu ini? Yang terasa berbeda adalah bekerjaran mengerjakan tugas membaca yang diberikan, si dosen mengenal dengan baik karakteristik mahasiswa dari negara berkembang yang ada di kelasnya (dari Indonesia, Filipina, Laos, Kamboja, Thailand dan Vietnam) yang tidak tahu banyak kepustakaan terbaru, sehingga diberikan tugas khusus dengan memberikan daftar bacaan untuk setiap topik bahasan yang akan dijelaskan per minggu-nya, lengkap dengan judul buku/jurnal dan halamannya. Sebelumnya teman yang sudah duluan studi menasehatkan beberapa hal yang dibahas di kelas di luar kontek pengetahuan dan masalah negara berkembang saat ini, berbagai bahan bacaan yang diberikan mengkonfirmasi hal ini.</p>
<p>Kuliah satu semester dilaksanakan sekitar tiga belas minggu, yang tidak diduga tidak adanya ujian di akhir semester. Penilaian hanya ditentukan dari<em> assignment</em> yang diserahkan ke dosen sesuai dengan syarat yang telah ditentukan sebelumnya; misalnya karya tulis minimal 2000 kata yang membahas beberapa pilihan topik yang diberikan ataupun kita bisa mengajukan topik pilihan sendiri. Rata-rata setiap mata kuliah harus menulis dua assignment antara dua ribu sampai tiga ribu kata dengan deadline di pertengahan semester dan satunya lagi akhir semester. Dengan membuat tugas menulis jelas tidak bisa dikerjakan dengan sistem kebut semalam seperti yang dikenal sebelumnya. Pada saat ditanyakan kenapa harus assignment berbentuk karya tulis bukannya ujian? Sang dosen tidak menjawab dan meminta mahasiswa orang Australia yang menjelaskan. Jawaban yang diberikan menunjukkan argumen yang kuat, dia mengatakan lebih senang dinilai dari karya tulis yang dibuat karena menunjukkan kerja keras dan proses pencarian pengetahuan dan kreativitas yang menunjukkan identitas penulisnya, dibandingkan dengan ujian yang selalunya dilupakan apa yang ditanyakan setelah hal itu usai.</p>
<p>Pada semester awal, mengerjakan <em>assignment</em> jelas tidak berpengalaman dan bertanya kanan-kiri harus seperti apa hasilnya nanti. Untung ada lembaga <a title="Student Learning Center - Flinders" href="http://www.flinders.edu.au/current-students/slc//" target="_blank">student learning centre</a>, yang secara telaten membantu menjelaskan mahluk seperti apakah assignment itu, dan bagaimana membuat hal itu dengan bagus. Bantuan menulis paper ini pun dimanfaatkan untuk membereskan tulisan English denga jatah satu jam per minggu, memang dirasa kurang namun itu memberikan petunjuk penting dan rambu yang harus dipatuhi seperti menghindari plagiarisme. Yang mengherankan adalah setelah semua assignment bisa diselesaikan dengan tepat waktu, dan hasil semester pertama tidak mengecewakan, maka terdapat kesan bahwa ternyata kuliah pasca sarjana di Australian ternyata tidak susah-susah amat, malah bisa dikatakan lebih mudah dibandingkan kuliah yang pernah dialami sebelumnya. Tentu kesan seperti ini perlu &#8216;diverifikasi&#8217;, dan teman-teman seangkatan saat persiapan English di Jakarta dulu yang kuliah di berbagai universitas di kota lain di Australian pun mendapati hal yang sama. Artinya memang dengan rajin ikut kuliah, disiplin belajar dan mengirimkan assignment, maka tidak susah untuk bisa <em>survive</em> dalam program <em>taught course</em> di Australia. Seperti biasa ada teman lain yang memberi pandangan berbeda, kalau sekedar ngejar target lulus saja maka itu memang tidak susah, yang berat menurutnya adalah mengembangkan pola pikir, bersikap kritis terhadap bacaan dan melihat alternatif kepustakaan secara kreatif, serta  tentu membuat karya tulis yang orisinal.</p>
<p>Di semester-semester berikutnya berbagai mata kuliah menjadi pelatihan untuk mengetahui banyak hal dan menilai gaya kuliah yang diberikan oleh tiap dosen. Ada dosen yang polanya kaku seperti yang mengajar <em>Human Resource Management</em>, maupun yang jagoan bercerita di kelas seperti pada kuliah <em>International Education Issues</em>; ada yang mengajak untuk belajar berargumen seperti pada mata kuliah <em>Selected Management Approaches</em>, ada pula dosen yang mengenalkan aktivitas akademik secara lengkap melalui kuliah, presentasi sampai ikut konferensi pendidikan yaitu yang mengajar <em>Organisation in Action</em>. Beberapa mata kuliah yang terlihat biasa saja ternyata mengungkap lebih jauh tentang dunia administrasi pendidikan seperti pada mata kuliah <em>Human Communication</em> dan juga mata kuliah <em>Planning and Management</em>. Bila melihat keadaan sekarang, beruntung dulu mengambil mode yang<em> full</em> kuliah, berhubung banyak hal perlu diketahui tentang administrasi pendidikan, sehingga berbagai topik bahasan menjadi lebih dikenal dan bisa melihat gambaran besarnya (<em>big picture</em>) dari bidang yang dipelajari.</p>
<p>Di fakultas, terdapat satu kebiasaan yang selalu saya nanti-nanti, yaitu pertemuan setiap kamis pagi. Nama acara resminya adalah <em>Thursday morning tea</em>, dimana staf dosen dan para mahasiswa pasca sarjana berkumpul di Sturt Building bagian utara di lantai dasar yang dimulai pada pukul 9 pagi. Di mulai dengan mengobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal diselingi oleh minum kopi atau teh, dan  yang datang tidak lupa untuk membawa kueh untuk dinikmati bersama. Setelah itu, satu orang kemudian menjadi moderator yang menjelaskan perkembangan terkini yang ada di fakultas, semisal kedatangan mahasiswa baru, berita publikasi oleh staf, program yang akan dijalankan oleh fakultas; dan setiap orang secara terbuka untuk menyampaikan sesuatu pada yang hadir. Acara ngopi dan negteh ini biasanya selesai dalam waktu 30-45 menit, yang kemudian dilanjutkan dengan seminar di gedung bersebelahan. Acara seminar disampaikan secara bergantian oleh staf dan mahasiswa pasca sarjana yang menceritakan tentang proyek riset yang dia kerjakan. Kegiatan seperti ini jelas sangat positif untuk membuka perasaan isolasi bagi periset, khususnya yang mahasiswa, dimana sangat susah untuk mengkomunikasikan apa yang dikerjakan terhadap orang lain. Pada saat yang sama, pihak lain yang hadir pun terbantu mendapatkan info terbaru tentang perkembangan pengetahuan yang terjadi di fakultas dan bisa menjadi inspirasi untuk menjadi ide riset lainnya. Dalam banyak hal kegiatan seminar banyak membantu pihak yang aktif mengikuti, dimana secara &#8216;kebetulan&#8217; mereka mendapati sesuatu yang bisa berguna bagi orang lain yang telah mempresentasikan ide risetnya, baik kepustakaan ataupun orang lain yang bisa dihubungi untuk mendapat informasi dan memberikan kritik.</p>
<p>Di samping berkutat di kampus, terdapat juga kesempatan untuk belajar tentang sistem pendidikan di Australia, dan itu merupakan bagian dari mata kuliah <em>Australian Education Issues</em>. Sistem perkuliahannya sangat <em>simple</em>, hanya empat kali temu muka di kelas, dua di minggu awal dan dua lagi di minggu akhir. Diantara keduanya adalah berkunjung ke berbagai sekolah di Australia, baik di tingkatan dasar dan menengah, maupun berkunjung ke sekolah negeri dan swasta yang elit. Setiap kunjungan di jadwal terlebih dahulu, kemudian menggunakan kendaraan van milik universitas dan disupiri oleh si dosennya, berangkat ke sekolah yang dituju. Pengalaman berkunjung ke berbagai sekolah ini amat berkesan dan mengubah pandangan saya pribadi mengenai sekolah dan pendidikan sampai saat ini. Di satu sekolah dasar di Victor Harbour, di dalam kelas dijumpai siswa yang cacat yang disatukan dengan yang normal, oleh kepala sekolah dijelaskan ini adalah cara pendidikan yang paling efektif bagi siswa normal tentang bagaimana menghayati kehidupan orang lain yang cacat. Di satu sekolah dasar yang berada di lingkungan berpendapatan rendah di Adelaide, diberitahukan kasus dimana sulitnya guru mengajar satu orang siswa laki-laki yang latar belakang keluarganya kurang beruntung dimana mulai dari bapak, paman hingga kakeknya tidak pernah bekerja secara permanen alias lebih banyak menganggur diam di rumah dan memperlakukan anaknya dengan cara yang kurang baik. Di satu sekolah menengah yang berlokasi di pusat kota, diajak ikut dalam praktikum kimia, namun dijumpai bahwa materi percobaan sangat lah sederhana walau setara kelas 2 SMA, si guru menunjukkan bahwa yang penting bukan hapal hal abstrak yang jlimet tentang ilmu kimia namun ketrampilan memecahkan masalah dengan eksperimen; di satu sekolah dasar di Noarlungga pun saya jumpai yang &#8216;mengherankan&#8217; dimana anak usia SD awal, di kelas lebih banyak dikasih cerita dan membaca, menghitung pun tidak lebih dari dua puluh (kontras dengan pemahaman saya tentang isi materi sekolah dasar di kita). Di Scotch College, sekolah swasta elit di Adelaide, siswanya malah lebih banyak dalam aktivitas &#8216;non-kelas&#8217;: seperti olahraga, merencanakan dan melaksanakan program  dan lainnya; saat ditanyakan dari sisi akademis, guru disana tersenyum, itu hal yang relatif mudah saat ini, buku teks tinggal di simpan di server dalam bentuk digital dan mudah diakses kapan saja oleh siswa, apalagi tiap siswa punya laptop; namun pendidikan bukan hanya itu saja, juga keterampilan memimpin, <em>critical thinking</em>, menjadi independen, bisa berempati dan juga berkomunikasi efektif dengan siapa saja.</p>
<p>Tahapan akhir yang harus diselesaikan adalah membuat karya tulis yang menjadi master project. Pencarian topik yang menarik ternyata memerlukan waktu yang cukup lama karena perlu menyesuaikan antara minat studi dan bahan kajian yang mendukung. Ide didapatkan dari mengikuti seminar kamis pagi itu, dimana mantan staf dosen Flinders yang jadi staf di University New England, New South Wales, mempresentasikan risetnya mengenai pendidikan sains yang lebih humanis. Akhirnya dipilih lah topik tentang manajemen pengajaran di laboratorium sains. Berbagai kajian yang ditemukan menunjukkan bahwa program pengajaran di lab yang biasa saya lakukan  di sekolah di Indonesia memang tidak punya rujukan teoritis yang kuat, lebih banyak merupakan implikasi dari teori belajar behavioris. Bagaimana pengajaran berbasis eksperimen efektif dilakukan ternyata baru tahu bahwa itu harus terbagi dalam tiga tahapan berbeda, yaitu pengenalan, pengalaman dan investigasi. Apa yang perlu dilakukan pun sebetulnya seperti yang saya amati saat kunjungan sekolah di Adelaide itu, tidak memerlukan suatu yang harus sesuai dengan ilmu kimia yang ada di perguruan tinggi, karena memang konteksnya berbeda (misal bagaimana mungkin siswa yang tidak berpengalaman, melakukan percobaan berdasar prosedur yang ada dalam waktu yang singkat selama dua jam pelajaran, dengan menggunakan bahan dan alat yang sederhana namun hasil akhirnya &#8216;menemukan&#8217; teori sains yang hebat, suatu simplifikasi yang keterlaluan). Berhubung ini pertama kalinya menulis dalam volume yang besar, maka proses penyusun memakan waktu yang panjang dan susah selesai; sampai akhirnya supervisor melihat gejala kejenuhan dan kelelahan studi, khususnya saat dia menemukan apa yang saya tulis lebih banyak kutipan-kutipan pendapat orang lain dari buku dan jurnal dibanding sintesis, komentar dan tulisan saya sendiri. Untungnya dia orang yang sabar, dan menunjukkan bagaimana hal tersebut diperbaiki.</p>
<p>Kehidupan di Flinders dan Adelaide pada masa itu bersama istri dan anak pertama. Hal yang berubah sejak tahun 2000 adalah makin banyaknya mahasiswa pasca sarjana dari Indonesia yang datang dengan beasiswa AusAID, karena Flinders dapat kontrak berhubung biaya kuliahnya besaing (baca: lebih murah) dibanding universitas lain di Australia. Dampak berikutnya adalah makin mudahnya berinteraksi dengan sesama orang Indonesia, sehingga yang relatif lebih lancar adalah berbahasa Indonesia dan bahasa daerah, dan bukannya berbahasa Inggris. Hal lainnya adalah, banyak mahasiswa dari Indonesia ataupun  keluarganya memanfaatkan kesempatan untuk bekerja sambilan dan menjadi &#8216;pemburu dollar sejati&#8217;, kadang sampai bekerja lewat tengah malam dan yang membuat tidak enak ini menjadi &#8216;persaingan terselubung&#8217; tentang sebarapa banyak uang dollar yang sudah dikumpulkan. Saya sendiri paling banter hanya kerja sambilan paling banyak sebulan sekali dengan ikut menjadi penghitung<em> stock</em> barang di supermarket, dan tentu tidak banyak nominal dollar yang dikumpulkan, itupun lebih banyak saya belanjakan untuk beli buku sains populer. Suasana seperti ini membuat saya bertekad, bila nanti punya kesempatan studi untuk S3, saya akan memilih tempat yang tidak banyak orang Indonesianya seperti di Flinders. Bagi saya dan keluarga, pengalaman hidup bersama di luar negeri ini dinikmati dengan lebih banyak wisata dan jalan-jalan seperti ke Adelaide Botanical Garden, Sunday market, kebun binatang, museum, bahkan ke Cleland Wildlife Park yang semuanya dapat dicapai dengan bis; atau sekedar jalan-jalan di Rundle Mall menikmati <em>fish and chips</em> yang murah meriah (dan sedikit mewah) ataupun menyantap nasi goreng sea food di Westfield Marion.</p>
<p>Bersama dengan Alan Larkin (<em>supervisor</em>), setelah dinyatakan lulus, depan Sturt Building-July 2001.</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/08/flinders.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-799" title="flinders" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/08/flinders.jpg?w=209&#038;h=300" alt="" width="209" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/791/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=791&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/15/cerita-studi-di-flinders/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/08/flinders.jpg?w=209" medium="image">
			<media:title type="html">flinders</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita menulis tesis-3</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/10/cerita-menulis-tesis-3/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/10/cerita-menulis-tesis-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 16:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Student]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Proses menyelesaikan proposal dan mengumpulkan data lapangan total menghabiskan waktu 10 bulan, artinya tersisa 26 bulan untuk menyelesaikan tesis. Ini adalah estimasi yang optimis. Bila direncanakan tesis terdiri dari delapan bab, maka sekitar tiga bulan dihabiskan untuk satu bab, dan &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/08/10/cerita-menulis-tesis-3/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=772&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Proses menyelesaikan proposal dan mengumpulkan data lapangan total menghabiskan waktu 10 bulan, artinya tersisa 26 bulan untuk menyelesaikan tesis. Ini adalah estimasi yang optimis. Bila direncanakan tesis terdiri dari delapan bab, maka sekitar tiga bulan dihabiskan untuk satu bab, dan sisa dua bulan untuk revisi secara keseluruhan. Tapi skenario yang terjadi tidak seperti itu, proses pengolahan data ternyata memakan waktu yang cukup lama juga (sampai 5 bulanan); menulis tesis dalam bahasa Inggris juga bukan kerjaan enteng dan tentu saja mencari pola yang cocok untuk menampilkan data, argumen dan bentuk yang bisa meyakinkan penguji bahwa ini tesis S3 yang layak lulus adalah proses yang melelahkan secara mental dan fisik. Bagian terakhir ini menceritakan lika-liku penulisan selama sisa waktu studi yang dua tahun lebih sedikit itu.</p>
<p><span id="more-772"></span>Untuk menganalisis data mentah tentu memerlukan alat yang tepat. Untuk data kuesioner, relatif lebih mudah karena cukup dengan mentabulasi hasil; namun untuk data wawancara perlakuannya sedikit berbeda. Yang pertama tentu melakukan transkripsi secara  lengkap untuk semua wawancara dengan responden. Terdapat <em>software</em> khusus yang bisa membantu untuk analisis data kualitatif, yaitu <a title="website NVivo" href="http://www.qsrinternational.com/products_nvivo.aspx" target="_blank">NVivo-2</a> yang merupakan versi lanjutan dari NUD*IST (<em>Non-numerical Unstructured Data Indexing, Searching and Theorizing</em>) yang merupakan produk dari QSR international. Perangkat lunak ini memang ada di perpustakaan untuk dipinjam, buku manual-nya pun tersedia; namun untuk mahir menggunakannya tentu memerlukan latihan. Bareng dengan dua orang penerima beasiswa NZAID lainnya meminta supaya diberikan kursus NVivo ke <em>liaison officer</em> dan diberikan pelatihan selama dua hari di SLSS. Cara kerja software NVivo ini sebenarnya sederhana,  upload  semua data teks dalam bentuk <em>softcop</em>y (wawancara, observasi, dokumen), kemudian dilihat segmen-segmen dari setiap file, diberi tanda pada bagian yang menarik; cara memberikan tanda pada awalnya &#8216;penuh pertimbangan&#8217; bahwa ini haruslah kode yang menarik, namun lama kelamaan semakin enak dilakukan karena yang &#8216;ditandai&#8217; akan teridentifikasi apakah jenis kodenya sudah ada atau belum. Saat semua <em>softcopy file</em> sudah selesai ditandai, maka kode yang ada bisa dilihat apakah ini bagian induk atau turunan; dilakukan berulang-ulang. Kerja terakhir yang perlu dilakukan adalah memeriksa satu kode tertentu, misalnya &#8216;perubahan peran komite sekolah&#8217; maka berbagai pendapat/pandangan/komentar dari berbagai responden langsung berjejer yang memudahkan untuk menganalisis dan menuliskan hal tersebut di bagian tesis nantinya.</p>
<p>Saya merencanakan tesis dalam delapan bab yang terdiri dari empat bagian, yaitu bagian satu yang terdiri dari pendahuluan (bab satu) dan kajian pustaka (dua bab); bagian dua berisi metodologi riset; bagian tiga analisis hasil dan pembahasan (tiga bab); dan terakhir kesimpulan. Masing-masing bagian mempunyai pola pengerjaan tersendiri, kesulitan dan kerumitan yang unik serta pencarian model harus seperti apa yang enak dan menarik untuk disajikan. Bekal mempelajari tiga buah tesis seperti sudah diceritakan sebelumnya, banyak sekali membantu untuk menyusun harus seperti apa isi, uraian dan argumentasi yang perlu ditampilkan. Seorang teman sebelumnya menjelaskan, dalam uraian tesis S3, tidak boleh terdapat satu jeda yang membuat si pembaca menjadi tertegun dan mempertanyakan isinya; semuanya harus tersusun secara logis, enak dibaca, didukung dengan argumen dan fakta yang relevan. Bila tidak jangan harap bisa lulus.</p>
<p>Bagian kajian pustaka saya bagi dua, satu bab khusus tentang pendidikan Indonesia dan satu lagi tentang <em>literature reviews</em> yang berhubungan dengan topik riset. Perlunya bab tentang tinjauan pendidikan negara kita atas alasan yang sederhana, penguji tesis nantinya kemungkinan bukan orang Indonesia dan dia akan sangat dibantu untuk paham tentang kondisi yang ada dan merefleksikan dengan bagian diskusi dan analisis. Apa yang perlu diceritakan? ini yang menimbulkan kebingungan juga, apakah perlu masa merdeka saja atau dari jaman penjajahan; dengan merujuk ke tesis tentang pengajaran bahasa Inggris di Indonesia akhirnya diputuskan untuk mereview sejak sekolah formal diperkenalkan oleh Belanda. Memberikan kajian historis punya keuntungan untuk menampilkan jalannya pendidikan yang terjadi dan mencatat peristiwa penting yang mengubah keadaan di masa depan. Tentu untuk menjadikannya relevan dan menarik harus ditampilkan dengan fakta-fakta dan rujukan yang valid. Berhubung saya hanya guru kimia dan bukan guru sejarah, maka proses memperoleh fakta-fakta sejarah yang relevan untuk penulisan tesis adalah petualangan berikutnya yang mengesankan. Membaca buku-buku &#8216;klasik&#8217; seperti karya Ricklefs (<em>A History of Modern Indonesia</em>), Kahin,  Adrian Vickers atau Herb Feith memberikan kenikmatan tersendiri; juga buku-buku yang berasal dari tesis seperti tulisan Lee Kam Hing (1995). Namun apa yang dinikmati tentu tidak bisa dituliskan sebanyak yang mau, menulis tesis adalah urusan lain dan kadang harus tega untuk menuliskan paling banyak menyumbangkan satu atau dua paragraf dari kerja membaca dan menelaah satu buku selama dua minggu lebih; malah kadang untuk sumber lain kontribusinya dalam tesis hanya satu kalimat saja. Untuk pendidikan masa Indonesia merdeka terdapat buku Poerbakawatja (suatu kejutan buku ini bisa ditemukan di perpustakaan universitas di Selandian Baru) yang memberikan fakta-fakta unik yang tidak akan didapatkan di pustaka lain. Pembahasan pendidikan masa Orde Baru adalah yang paling &#8216;seru&#8217;, karena banyak rujukan tersedia, seperti karya klasik dari Beeby (1979, &#8216;<em>Assessment of Indonesian Education&#8217;</em>) sampai yang kritis dari Dean Nielsen (&#8216;<em>Reforms to Teacher Education in Indonesia: does more mean better?</em>&#8216;). Konstruksi bab pun dibuat sesuai dengan pakem yang biasa terjadi: masa penjajahan belanda, pendudukan jepang, dan masa kemerdekaan yang terbagi tiga: orde lama, oder baru dan masa reformasi. Untuk menunjukkan benang merah, di setiap masa yang dibahas adalah konteks tentang sistem pemerintahan yang diberlakukan, pendidikan menengah dan isu partisipasi warga masyarakat dalam pendidikan.</p>
<p>Bab kajian pustaka berikutnya adalah mengenai isu desentralisasi pendidikan, manajemen berbasis sekolah dan berbagai seluk beluknya. Tidak seperti bab tentang pendidikan Indonesia yang perlu melihat contoh yang cocok, untuk bab kajian pustaka ini berbagai rujukan bagus banyak tersedia dan tinggal ambil pendekatan yang sesuai saja.  Berhubung tesis S3 harus menampilkan sesuatu yang sebisa mungkin harus baru dan asli, maka membandingkan berbagai pembahasan, pembagian topik dan uraian yang ada dan membuat sintesis yang baru ternyata bukan urusan enteng. Direka-reka bentuk yang baru namun &#8216;jejak&#8217;-nya memang tidak bisa dihilangkan, akhirnya diputuskan menggunakan pembagian topik bahasan yang sudah dibuat pakar saja, dengan konteks dan isi yang disesuaikan dengan situasi pendidikan di Indonesia. Misal untuk melihat konstruksi desentralisasi digunakan pembagian yang diramu dengan membaginya dalam empat dimensi yaitu: <em>degree of transfer, breadth of transfer, location of transfer</em>, dan<em> functions transferred</em>; pembagian ini jelas membuat tulisan dan pembahasan lebih fokus tentu dengan ilustrasi hasil riset pakar lain dan contoh dalam pendidikan di Indonesia. Berhubung isu desentralisasi erat hubungannya dengan ilmu politik, maka ngubek-ngubek kepustakaan tentang<em> power distribution</em> ini juga harus dilakukan untuk melihat tren yang terjadi dan seperti apa hal itu diimplementasikan dalam pendidikan. Suatu nasehat yang &#8216;mengagetkan&#8217; dari pembimbing utama adalah mengenai pola penulisan tesis di bab ini yang saya gunakan; dia mengkritik tulisan saya yang polanya selalu menampilkan nama pakar dahulu, diikuti dengan penjelasan berdasar apa yang saya pahami kemudian dengan di <em>back up</em> dengan pendapat pakar lainnya. Dia mengatakan bahwa pola seperti itu tidak menunjukkan keberanian berpendapat dan kecenderungan mengekor pada orang lain; itu perlu diubah katanya. Yang bagus menurutnya, tampilkan apa yang kamu pahami terlebih dahulu berdasar sintesis pendapat yang didapat, baru belakangan sebutkan pakar yang sesuai dengan pendapat itu; dengan begitu kamu menjelaskan kepada pembaca bahwa kamu adalah pakar dalam hal itu karena memang telah meramu berbagai ide dan pendapat orang. Suatu nasehat bijak yang saya ikuti sampai sekarang dan saya selalu sampaikan pada mahasiswa bimbingan. Walhasil, tahapan bagian pendahuluan tesis pun diselesaikan untuk memberikan konteks studi dan informasi yang relevan yang tentunya memberikan bingkai lengkap untuk bisa memahami bagian temuan riset nanti.</p>
<p>Bagian kedua yang berisi pembahasan tentang metodologi yang digunakan isinya relatif tidak ada yang &#8216;baru&#8217;. Menjelaskan tentang tinjauan filosofis kenapa metoda kuantitatif yang digunakan, tentu disebutkan kelebihan dan kelemahan serta argumen kenapa cara ini lebih cocok untuk dipakai dalam riset ini. Bagaimana riset dilaksanakan dijelaskan pilihan studi kasus yang tentunya cocok sesuatu dengan kondisi, kedalaman studi dan efisiensi sumber daya yang dimiliki (bila digunakan etnografi maka kemewahan waktu tidak dipunyai, tentu karena target menyelesaikan tesis yang harus tepat waktu). Berikutnya adalah penjelasan tentang instrumen, bagaimana data bisa didapatkan, bagaimana cara analisis dan isu etis dalam riset sehubungan dengan perlakukan pendapat responden. Tidak lupa juga dijelaskan tentang lokasi riset, mulai dari statistik dasar, kondisi geografis dan demografis kota Mataram maupun perubahan yang terjadi setelah era otonomi.</p>
<p>Bagian berikutnya adalah bagian hasil dan pembahasan yang terbagi dalam tiga bab; satu bab khusus menganalisis kebijakan di tingkat pusat yang menjadi landasan implementasi di lapangan; satu bab memotret apa yang terjadi di tingkat distrik (Kota Mataram); dan satu bab lagi membahas tentang respon di tingkat sekolah. Saat merancang isi bab yang menganalisis kebijakan, maka berburu lagi model seperti apa yang cocok untuk ditampilkan. Bila melihat berbagai tulisan di jurnal analisis kebijakan publik ataupun analisis kebijakan pendidikan maka didapati pola pembahasan yang sangat beragam dan &#8216;banyak tingkah&#8217;. Akhirnya disimpulkan memang tidak terdapat hal baku harus seperti apa, yang penting adalah bagaimana mengupas kebijakan dengan metoda yang tepat, menampilkan isinya sesuai dengan kerangka teoritis, disertai kritisi dan argumen yang logis, apalagi isi bab ini termasuk yang &#8216;kering&#8217; karena hanya melulu menggunakan analisis dokumen dan sumber-sumber tertulis lainnya.  Dari seorang teman saya diberi tahu bahwa salah satu perancang kebijakan MBS itu adalah seorang pakar pendidikan di Yogya yang paling berperan, maka kontak pun dibuat mulai dari secara elektronik sampai mengutus mantan murid yang jadi mahasiswa di Yogya untuk menemui beliau di kantornya. Sayangnya sampai saat yang dinantikan tidak ada respon sama sekali dan diputuskan tidak bisa menjadikannya sumber informasi. Pada saat yang sama saya pun berburu pakar, apakah memang ada yang pernah melakukan analisis terhadap kebijakan ini, dan itu dilakukan dengan searching internet secara reguler, ikut hadir dalam diskusi berbagai milis dan ngintip forum-forum diskusi yang jlimet di internet. Didapat pendapat dari seorang milister yang menarik untuk ditelaah, dihubungi dan secara cepat memberikan respon yang dinantikan. Namanya Bapak Abdul Malik, dan beliau saat itu bertugas di BPPT walaupun instansi induknya adalah Bappenas. Maka diminta kesediaan beliau untuk mengkritisi bab yang khusus tentang analisis kebijakan ini, dan kritik dan pendapat yang disampaikan sangat berharga dan memberikan bobot tesis yang diharapkan. Untuk memberikan gambaran betapa sentralnya kebijakan pendidikan ini dianalisis, disertakan potongan pidato menteri pendidikan saat itu mengenai hal ini; tinjauan historis kenapa kebijakan perlu dibuat yang merupakan buah pemikiran dari tim yang dibentuk dan didanai oleh Bank Dunia (malah mereka disebut<em> forty best brain</em>s) di akhir 1990-an; sampai kepada berbagai kutipan dari pejabat teras depdiknas di media cetak yang berhubungan dengan isu kebijakan itu dan berbagai rilis resmi dari Dedpiknas. Setelah buram (<em>draft)</em> bab ini selesai, masih terasa sangsi apakah ini memang memenuhi standar kualitas untuk tesis S3 atau tidak; komentar dari pembimbing tidak menjawab rasa ingin tahu itu, artinya harus menunggu penilaian dari penguji tesis nantinya, karena mereka lah yang memutuskan nantinya.</p>
<p>Bab analisis berikutnya yang mencoba menjawab pertanyaan riset mengenai implementasi di tingkat Kota Mataram; maka aktornya pun jelas dan sudah selesai diwawancara dan ditranskripsi (serta beberapa tema yang menonjol pun sudah muncul dengan NVivo), serta didukung dengan wawancara dari lapis bawah (sekolah dan komite sekolah). Untuk memudahkan penjelasan, maka isi bab dibagai kepada kebijakan di tingkat kepala daerah dan DPRD, kemudian peran yang dimainkan oleh dinas pendidikan, dan terakhir kiprah lembaga baru yang bernama Dewan Pendidikan (DP). Konstruksi bab seperti ini pun sifatnya &#8216;meraba-raba dan coba-coba&#8217;, karena saat membaca berbagai tesis yang relevan, tidak didapati model yang cocok harus seperti apa ini ditulis. Dengan kata lain tinggal tunggu penilaian dari penguji tesis saja sebagai vonis penentuan. Isi bab dimulai dengan kebijakan yang dilakukan oleh kepala daetah dan partnernya (DPRD), ternyata sejak otonomi tidak ada kebijakan khusus yang menyangkut pendidikan sama sekali, yang ada adalah deretan perda retribusi untuk menambah kas daerah (suatu gejala &#8216;umum&#8217; yang terjadi di berbagai daerah berhubung &#8216;ancaman&#8217; bahwa anggaran dari pusat/DAU tidak akan mencukupi di masa mendatang, yang ternyata hanya isapan jempol). Berhubung dokumen dari sekretariat dewan pun tidak ada, maka satu-satunya dokumen publik yang bisa ditelaah adalah APBD. Dan tentu saja melihat &#8216;jeroan&#8217; APBD ini banyak temuan menarik, dan terlihat dengan jelas seperti apa politik pendidikan yang diterapkan, misalnya didapati bahwa anggaran pembangunan dan renovasi fisik sekolah nominalnya sangat fantastis dibanding dengan pelatihan buat guru, apalagi untuk sosialisasi dan pelatihan bagi komite sekolah. Opini dan komentar dari wawancara melengkapi cerita untuk analisis hal ini. Bergerak kepada dinas pendidikan, didapati terjadinya &#8216;<em>power syndrome&#8217;</em> berhubung kekuasaan yang meningkat drastis dan menjadi pusat yang baru menggantikan Jakarta (<em>decentralized centralism)</em>, mereka tidak segan untuk membantah mantan atasannya yaitu dinas pendidikan provinsi (dahulu kantor wilayah P&amp;K) dalam berbagai isu yang muncul ke permukaan (di dokumentasikan dengan berita oleh koran lokal) yang sedang menikmati &#8216;<em>post-power syndrome</em>&#8216;. Yang unik, saat ditelaah apa yang dilakukan dan bukti dari wawancara, ternyata kelebihan kekuasana itu  hanya melaksanakan apa yang sudah biasa dilakukan, artinya memang tidak terdapat keberanian untuk melakukan sesuatu yang baru. Beralih ke cerita dewan pendidikan, maka yang muncul adalah cerita tentang &#8216;derita anak tiri&#8217;; sangat nampak mulai dari bagaimana dibentuk, fasilitas yang diberikan, komunikasi yang dilakukan dan tentu saja anggaran yang bisa digunakan. Berbagai anekdot yang relevan yang didengar dari guru, kepala sekolah, pengurus organisasi guru, pengawas melalui wawancara dengan mereka disentesis menjadi bahan cerita dengan plot yang menarik untuk menampilkan seperti apa perubahan yang terjadi di distrik tersebut sehubungan dengan otonomi daerah dan reaksi terhadap kebijakan baru yang dibuat oleh depdiknas.</p>
<p>Bab analisis yang terakhir menampilkan respon yang terjadi di tingkat sekolah. Untuk konstruksi bab ini, banyak contoh dan model bisa ditiru untuk menulis seperti apa bagusnya dikerjakan. Bab ini juga termasuk yang paling banyak lembarannya dibanding kedua bab analisis hasil sebelumnya, berhubung banyaknya metoda pengumpulan data yang digunakan (dokumen, observasi, kuesioner dan wawancara). Perlu dijelaskan dulu seperti apa sekolah menengah yang dijadikan objek riset, dimana datanya didapat dari observasi sekolah, mulai dari segi organisasional dan struktur, aktivitas pengajaran maupun pola hubungan birokrastis yang diterapkan. Untuk memudahkan objek kajian maka ini terbagi dalam kepala sekolah, guru dan pengurus komite sekolah (KS); typikal kepala sekolah adalah laki-laki, namun yang unik dalam postur pengurus KS pun didapati &#8216;<em>male dominated society</em>&#8216; dari lapis yang paling elit (semua lulusan S1, ada beberapa yang juga mempunyai gelar S2) sedangkan pada guru tidak ditemukan perbedaan jender yang mencolok. Pembahasan dilanjutkan dengan berbagai aspek yang berhubungan dengan isu desentralisasi di tingkat lokal dan respon dengan kemunculan lembaga baru yang bernama komite sekolah. Dari berbagai isu tersebut, yang selalu muncul lagi dan lagi adalah peran kepala sekolah; artinya perubahan menguntungkan posisi beliau karena semakin kuat dibanding aktor di tingkat lokal lainnya. Isu sentralnya apalagi kalau bukan pengelolaan dana yang diperoleh bukan dari pemerintah, yaitu dari orang tua murid. Yang menarik adalah bagaimana mekanisme pemungutan, pengumpulan dan pemberian dana tersebut ke pihak sekolah, suatu hal yang tidak masuk akal saat mendapati duit yang nominalnya ratusan juta rupiah diserahkan seperti dana shadaqah, yang berdampak minim transparansi dan akuntabilitas. Pengumpulan dana pun seolah-olah sandiwara yang dipaksakan oleh satu pihak sesuai dengan agenda yang dibuatnya sendiri melalui acara yang namanya rapat komite dimana yang diundang kelompok eksklusif yang tidak banyak tahu tentang keadaan sekolah (ortu siswa baru) dan lainnya. Saat mendiskusikan berbagai hal ini ke pembimbing, dia pun sedikit heran dan bertanya-tanya terus mengenai status &#8220;sumbangan komite&#8221; itu, apakah ini <em>another form of taxation</em>? dia tahu sendiri itu lembaga publik, tapi jelas namanya bukan kantor pajak tapi sekolah. Terdapat juga berbagai temuan-temuan lain yang bila dicoba diakurkan dengan tinjauan di kajian pustaka, memang hanya terdapat di negara kita adanya. Proses menulis bab ini memakan waktu yang paling lama, karena harus mensinkronkan temuan di lapangan dari berbagai metoda pengumpulan data, dan disaat yang sama harus menemukan rujukan yang cocok untuk menjelaskan fenomena yang terjadi. Tidak aneh, menulis untuk bab ini membutuhkan waktu lebih lama dan membuat target beres tiga tahun studi pun meleset.</p>
<p>Bab terakhir yang berisi kesimpulan riset, tadinya mau mengikuti pola yang baku, dimana dijejerkan pertanyaan riset, terus dijawab satu demi satu berdasar berbagai fakta yang muncul dalam bab hasil dan pembahasan. Namun setelah dipikir lagi, tentu akan menarik untuk menuliskannya seperti plot cerita tentang otonomi daerah yang berkelindan dengan perubahan kebijakan pendidikan dalam hal pelibatan komunitas dan desentralisasi kekuasaan yang terjadi. Diharapkan penceritaan ini lebih memberikan kesan mendalam dan menguatkan pesan tentang perubahan yang terjadi di Indonesia di masa reformasi dalam hal desentralisasi pendidikan.</p>
<p>Pada saat selesainya bab terakhir ini dituliskan dalam bentuk buram, maka jatah studi (April 2006) sudah dilewati, namun pihak pembimbing mendukung saya dengan melaporkan progres studi yang telah terjadi, disertai argumentasi memang susahnya menulis tesis dalam bahasa Inggris untuk taraf S3 bagi yang English-nya merupakan bahasa asing kepada sponsor beasiswa. Maka dengan itu saya dapat bonus masa studi tiga bulan untuk melakukan perbaikan tesis dan penyempurnaan sebelum secara resmi diserahkan ke fakulti. Pembimbing ternyata memerlukan waktu lama juga untuk dua kali perbaikan secara menyeluruh, dan terakhir diminta untuk meminta seorang <em>proof reader</em> (dibayar oleh NZAID) yang akan memperbaiki kualitas English tesis dalam hal tata bahasa dan ekspresinya. Maka secara resmi pada 20 Juni 2006 tesis diserahkan sebanyak tiga buah eksemplar ke fakulti (serta masing-masing satu ke tiap pembimbing), setelah itu mengurus kepulangan ke tanah air sambil menunggu laporan dari penguji tesis yang diperkirakan akan diberikan sekitar tiga bulan kemudian.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;oOo&#8212;</p>
<p>Berita itu akhirnya datang juga melalui email, dari kantor fakultas mengirimkan laporan hasil pengujian tesis. Isinya singkat saja, bahwa tesis diterima dan perlu perbaikan kecil yang akan diperiksa oleh pembimbing utama. Proses penilaian tesis memang sederhana, dikirimkan ke tiga orang pakar, dua dari New Zealand, dan satu orang di luar Selandia Baru; para penguji kemudian akan memberikan evaluasi tertulis mengenai tesis dan menyatakan apakah diterima, diterima dengan perbaikan atau ditolak. Sesuatu yang tidak saya duga, tiga orang pakar tersebut (seorang professor dari Massey University dan seorang associate professor dari Victoria University of Wellington, keduanya dari New Zealand; dan seorang lagi associate professor dari Sydney University, Australia) menyatakan tidak keberatan gelar doktor diberikan, dan menyarankan perbaikan kecil saja sehubungan terdapat beberapa ekspresi dalam English yang kurang tepat. Beberapa keraguan pribadi mengenai konstruksi beberapa bab dalam tesis yang sifatnya &#8216;eksperimen&#8217; tidak menjadi keberatan mereka, dan menganggapnya hal yang biasa saja. Malah saat membaca laporan lengkap pengujian tesis, saya melihat ini peluang yang bisa dipergunakan untuk bekal masa depan nanti.</p>
<p>Hasil yang tidak dikira ini ternyata menutup kemungkinan untuk melakukan perbaikan tesis paling tidak satu bulan penuh di Wellington yang akan dibiayai oleh NZAID, yang tadinya juga akan saya pergunakan untuk berpetualang dari pulau utara sampai ke ujung selatan Selandia Baru di Bluff tidak bisa terjadi. Berhubung saran perbaikan yang disyaratkan oleh <em>supervisor</em> sebagai <em>final refinement</em> tesis ternyata hanya perlu waktu 12 menit saja, tidak memakan masa sampai satu bulan. Setelah itu si <em>supervisor</em> sendiri yang melakukan kerja bakti buat mahasiswa-nya dengan cara mencetak dan menjilid <em>hardcover</em>, malah beberapa eksemplar dikirimkan ke rumah segala.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/772/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/772/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/772/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=772&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/10/cerita-menulis-tesis-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita menulis tesis-2</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/08/cerita-menulis-tesis-2/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/08/cerita-menulis-tesis-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 16:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Student]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=765</guid>
		<description><![CDATA[Untuk bisa menulis tesis tentu diperlukan data lapangan khususnya dalam kelompok ilmu sosial. Dengan mendapatkan data dari lapangan maka bisa mengetahui apa yang terjadi dengan bantuan analisis berdasar kerangka konseptual dari tinjauan pustaka, dan biasanya ini akan menghasilkan temuan yang &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/08/08/cerita-menulis-tesis-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=765&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk bisa menulis tesis tentu diperlukan data lapangan khususnya dalam kelompok ilmu sosial. Dengan mendapatkan data dari lapangan maka bisa mengetahui apa yang terjadi dengan bantuan analisis berdasar kerangka konseptual dari tinjauan pustaka, dan biasanya ini akan menghasilkan temuan yang baru yang menyumbangkan seuatu pada &#8216;tubuh pengetahuan&#8217; (<em>body of knowledge</em>). Disamping itu dengan memiliki data lapangan yang valid, maka temuan riset yang ada mempunyai argumentasi yang kuat yang tidak mudah dipatahkan (kalau pun mau dibantah dengan elok, tentu harus dengan riset lapangan tandingan). Bagian ini menjelaskan tahapan pengumpulan data lapangan dan serba-serbinya.</p>
<p><span id="more-765"></span>Ada yang sedikit terlupa untuk dijelaskan di bagian sebelumnya yaitu mengenai bantuan yang diperoleh dari <a title="VUW Student Learning Support Service" href="http://www.victoria.ac.nz/st_services/slss/" target="_blank">Student Learning Support Service</a> (SLSS). Lembaga ini memberikan bantuan bagi mahasiswa VUW dalam berbagai hal yang berhubungan dengan keterampilan belajar (<em>learning skills</em>). Setiap semester secara reguler SLSS memberikan bantuan bagi mahasiswa secara berbeda, ada yang khusus untuk mahasiswa S1 (bagaimana menyiapkan laporan, mencatat kuliah, membuat presentasi), mahasiswa S2 dan S3 yang full riset (menyiapkan proposal, metodologi riset, pengolahan data), ataupun mahasiswa kelompok khusus seperti mahasiswa internsional (khususnya English dalam diskusi dan menulis), maupun mahasiswa penduduk asli Selandia Baru yaitu orang Maori (dukungan sosial dan adaptasi dalam dunia perguruan tinggi). Jasa ketrampilan studi seperti ini belum banyak diberikan di berbagai universitas di Indonesia maupun di Malaysia. Dua jenis jasa yang saya nikmati di SLSS adalah: mengikuti seminar yang diadakan per dua minggu, yang isinya tidak lain penjelasan hal teknis tentang seluk beluk riset disertai berbagi pengalaman antar mahasiswa riset; yang kedua jatah konsultasi satu jam per minggu dengan staf disana untuk membantu memperbaiki kualitas tulisan proposal yang dibuat. Pada awal-awal selalu menggunakan jatah konsultasi tersebut, namun lama-lama mendapati bahwa hasil dari saran perbaikan tulisan English-nya tidak lebih bagus dari yang saya buat, hal ini karena isi proposal yang spesifik dalam bidang tertentu dimana si &#8216;konsultan&#8217; memang tidak punya latar belakang keilmuan yang sama.</p>
<p>Kembali ke cerita pengumpulan data. Riset saya menganalisis tentang perubahan sistem kebijakan pendidikan yang terjadi di Indonesia dengan adanya otonomi daerah, dan secara khusus meneliti tentang manajemen berbasis sekolah (MBS). Kalau menelaah isu MBS ini seolah tidak begitu jelas seperti apa mahluk ini sebenarnya; karena menelaah dari sisi kebijakan maka sasarannya haruslah regulasi khusus tentang hal itu dan didapati bahwa yang berhubungan erat dengan hal itu adalah kepmen tentang dewan pendidikan (DP) dan komite sekolah (KS). Karena Indonesia begitu besar, luas dan kompleks, tentu diperlukan strategi khusus untuk melihat ini dari skala yang memang bisa dikerjakan, makanya dipilih studi kasus pada satu distrik. Kota Mataram di Nusa Tenggara Barat dipilih karena berada di Indonesia bagian Timur, juga sebagai ibukota provinsi yang menunjukkan dinamika lebih kompleks dan bisa mengindikasikan apa yang terjadi setelah era otonomi yang relatif jauh dari pusat kekuasaan (Jakarta). Unit analisis yang dipilih adalah sekolah menengah atas negeri, dengan alasan pengelolaan SMAN lebih kompleks dan dengan latar belakang staf pengajarnya yang lebih terdidik dan cenderung kritis akan menampilkan potret tersendiri, disamping sekolah publik lah sasaran utama regulasi pemerintah. Urusan ijin dimintakan bantuan pada teman, dan itu bisa diselesaikan sebelum saya datang kesana dari Bappeda setempat.</p>
<p>Data yang dikumpulkan terdiri dari empat hal yaitu: dokumen (APBD, Perda, surat keputusan dan berbagai dokumen yang berhubungan dengan DP dan KS); kuesioner yang terbagi untuk guru, kepala sekolah dan pengurus komite sekolah; wawancara terhadap <em>stakeholders</em> pendidikan (dinas pendidikan, staf pemda, anggota DPRD, kepala sekolah, guru, pengurus komite sekolah, pengurus dewan pendidikan, wakil organisasi guru dan orang tua); terakhir observasi aktivitas di dua sekolah berbeda kecamatan (rapat, suasana sekolah, kegiatan belajar mengajar) dan kegiatan komite sekolah. Setiap jenis data yang dikumpulkan mempunyai tantangan tersendiri dan perlu penanganan berbeda. Waktu tiga bulan tadinya dianggap memadai untuk mendapatkan semua hal itu, namun kondisi di lapangan memang sulit untuk diprediksi. Jadwal kegiatan yang sudah diperhitungkan dengan matang, harus menyerah dengan berbagai perubahan mendadak dan mengalah dengan berbagai kepentingan responden yang dijumpai.</p>
<p>Tahap pertama adalah menemui dinas pendidikan, ini penting karena mereka lah boss baru yang mempunyai kewenangan luas secara tiba-tiba dengan adanya otonomi daerah. Ternyata ijin dari Bappeda tidak &#8216;bergigi&#8217;, menurut mereka untuk bisa masuk ke sekolah harus ada ijin khusus dari mereka, sehingga ijin dari Bappeda adalah rekomendasi saja menurut mereka. Ijin dari dinas lah yang berlaku, baru langkah awal saja terdapat <em>power-game</em> yang harus dipahami. Upaya mencari waktu bertemu dengan kepala dinas ternyata tidak bisa dipastikan; sehingga alternatifnya adalah dengan kepala bagian pendidikan menengah yang menangani SMA, dan seperti atasannya, dia pun tidak bisa memastikan kapan bisa ditemui untuk wawancara. Untungnya proses ijin mudah, sehingga untuk datang ke sekolah sifatnya sudah legal (sambil berharap tidak perlu lagi proses birokrasi ijin di tingkat sekolah).</p>
<p>Sesuai jadwal yang dibuat, minggu pertama adalah menyebarkan kuesioner ke sekolah dan ditargetkan dalam dua minggu sudah terkumpul. Bila sudah terkumpul, maka mudah dilakukan tabulasi dan mengetik pendapat tertulis yang dibuat oleh responden (terdapat beberapa pertanyaan terbuka dimana responden bisa menulis komentar dan pendapatnya) dan dari sana bisa mengetahui <em>trend</em> jawaban dan hal krusial yang perlu ditelaah lebih lanjut dengan wawancara. Untuk memudahkan mobilitas maka perlu menyewa sepeda motor, dan dilakukanlah keliling kota Mataram ke semua SMA negeri yang ada.  Semua sekolah yang ditemui menyambut dengan ramah dan terbuka serta membantu sepenuhnya. Kuesioner untuk guru dan kepala sekolah relatif tidak masalah dalam hal penyebaran dan pengumpulannya, cukup minta bantuan kepada kepala sekolah maka semua berjalan sesuai dengan yang diinginkan (menunjukkan pengaruh dan kekuasaan kepala sekolah).</p>
<p>Yang repot adalah penyebaran kuesioner untuk pengurus komite sekolah, berhubung mereka memang tidak <em>stand by</em> di sekolah maka berbagai cara dilakukan. Kebetulan beberapa pengurus KS adalah guru, maka ini relatif mudah; ada beberapa yang orang tua siswa, maka dicoba dititipkan ke anaknya dengan pesan supaya diisi oleh bapak/ibunya dan dikembalikan melalui guru yang saya mintakan bantuan; selain itu pengurus KS yang memang harus didatangi sendiri ke rumah atau tempat kerjanya. Yang terakhir ini sesuatu yang tidak disangka sebelumnya dan memberikan kesulitan akses, juga berdampak tingkat pengembalian kuesioner paling rendah dibanding yang diisi oleh kepala sekolah dan guru. Beberapa responden jelas harus ditemui di rumahnya setelah dikontak dengan SMS atau telepon seluler, dan kadang itu dilakukan lebih dari dua kali; sebagian walau sudah ditemui ternyata lupa untuk mengisi atau kuesionernya hilang entah kemana. Beberapa malah &#8216;tidak tersentuh&#8217; karena memang tidak pernah ada di rumah karena sibuk berhubung tingginya posisi mereka di instansinya (ada yang komisari bank, ada pimpinan polisi); tentu ini menimbulkan &#8216;firasat&#8217; bila ditemui saja susah, bagaimana mereka memberikan kontribusi bagi komite sekolah. Satu hal yang nampak, dengan memasang orang-orang penting yang &#8216;tidak tersentuh&#8217; ini menunjukkan posisi sekolah (kepala sekolah) yang kuat kepada pihak lain.</p>
<p>Berikutnya adalah mengumpulkan dokumen. Inipun menunjukkan keunikan lainnya. Di sekretariat DPRD setempat, setelah melobi dan merayu kiri-kanan supaya mendapatkan dokumen apa saja yang berhubungan dengan isu pendidikan, ternyata hasilnya nol besar. Bisa jadi memang dokumen publik seperti notulen rapat, jadwal <em>hearing</em> dan sejenisnya sifatnya &#8216;<em>confidential&#8217;</em> sehingga disimpan di tempat yang rahasia dan saat dicari pun tidak bisa ditemukan. Sedangkan di pemda, metode menunjukkan ke orang yang tepat adalah hal yang lumrah yang berujung kepada kembali ke orang semula untuk konfirmasi bahwa yang ditunjukkan tidak bisa menunjukkan yang diinginkan. Pada lain kesempatan malah diberikan akses kepada dokumen yang berjibun, khususnya saat mencari dokumen APBD dan daftar Perda yang telah dibuat, berhubung tidak mau mengganggu pegawai yang waktunya sangat berharga itu, maka difotocopy saja apa yang diberikan; sayangnya pas balik ke tempat kos dan membaca isinya, memang tidak nyambung dengan yang diinginkan. Belakangan, melalui akses informal, yaitu teman yang membantu menguruskan ijin ke Bappeda, karena dia memang staf disana,  malah didapatkan apa yang dicari, sangat lengkap dan malah dalam bentuk <em>softcopy</em>. Tentu ini menunjukkan betapa pentingnya informasi dan akses dari orang dalam (tidak hanya untuk riset, suksesnya kerja penyelidikan oleh polisi, penyelidikan kasus korupsi, bahkan membongkar jaringan teroris pun sebenarnya bisa terjadi karena orang dalam; kecanggihan alat tidak selalu utama sebenarnya) . Cerita menggembirakan saat mengumpulkan dokumen di sekolah, komite sekolah dan dewan pendidikan; tidak banyak &#8216;birokrasi&#8217; harus dihadapi ataupun menggunakan jurus merayu tingkat tinggi, mereka terbuka hampir untuk semuanya kecuali untuk RAPBS. Namun hal terakhir ini pun tidak terlalu sulit untuk didapatkan berhubung terdapat banyak teman guru yang memberikan salinannya, karena yang biasa membuat RAPBS adalah guru dan bukannya pimpinan sekolah.</p>
<p>Dalam hal mengumpulkan data observasi termasuk yang paling lancar dibanding yang lainnya. Dua sekolah yang diminta tidak keberatan untuk disambangi dalam hal rapat, aktivitas di ruang guru, kegiatan mengajar di kelas ataupun untuk diskusi informal. Dalam satu rapat dewan guru di satu sekolah saya malah disangka guru baru; di ruang guru keberadaan saya pun disambut sebagai teman lama dengan hangatnya. Data observasi berguna untuk meneguhkan dan memberikan ilustrasi lebih lengkap tentang apa yang terjadi di lapangan. Di dua sekolah tersebut total masing-masing menghabiskan waktu tiga minggu di satu sekolah dan mencatat apa saja yang terjadi pada saat berkunjung. Hal ini tentu bertujuan untuk melihat konsistensi tentang apa yang terjadi di sekolah sehubungan dengan konteks pertanyaan riset yang dicari; bila sekedar menyempatkan waktu 1-2 hari maka sandiwara untuk menampilkan suasana yang <em>sophisticated</em> bisa dilakukan,  namun bila kita menyambangi sampai tiga minggu, maka wajah asli lah yang nampak. Sesuatu yang tidak disangka saat observasi adalah diskusi spontan yang justru mengindikasikan jawaban dari pertanyaan riset yang dicari, baik itu dari mulut kepala sekolah atau guru, dan pada saat itu menghidupkan alat perekam menjadi sesuatu yang terlambat, mengandalkan ingatan untuk menuliskan apa yang dibincangkan kadang tidak puas karena memang harus sifatnya <em>verbatim </em>(saat ini dengan MP4 <em>player</em> atau <em>handphone</em> bisa mengatasinya tentu dilakukan setelah ijin dengan responden). Yang kurang dalam observasi ini adalah mengikuti rapat pengurus komite sekolah, sampai waktu pengumpulan data selesai, tidak satu sekolah pun mengadakan rapat KS (hal ini juga menunjukkan ritme kerja komite sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah).</p>
<p>Yang terakhir, yaitu wawancara, adalah yang paling banyak menyita waktu dan energi. Di lingkungan sekolah, mewawancarai guru dan kepala sekolah mudah untuk dilakukan, khususnya mereka punya waktu luang sedang tidak mengajar atau tidak menerima tamu. Namun bila dibandingkan mewawancarai pendidik ini di sekolah dengan di rumah atau di tempat lain, maka jawaban yang diberikan sangat berbeda. Di rumah dimana mereka berada di &#8216;daerah kekuasaannya sendiri&#8217;, menjadikan mereka lebih rileks, terbuka dan tidak birokratis; tapi dampaknya adalah banyak hal diceritakan dan kadang ngak nyambung dengan pertanyaan (dan sebagai pewawancara yang baik tidak enak terlalu banyak memotong pembicaraan tuan rumah). Bila di kantor memang dibatasi oleh suasana birokratis (baju seragam, rutinitas dan dipotong oleh urusan yang muncul tiba-tiba). Akhirnya diputuskan sebisa mungkin wawancara di rumah kepada berbagai <em>stakeholders</em> pendidikan ini. Meminta waktu untuk wawancara memerlukan keterampilan negosiasi tersendiri, beberapa menghindar (seperti anggota DPRD), yang lain baru bisa punya akses melalui orang kepercayaannya (staf dinas pendidikan, pengurus dewan pendidikan dan komite sekolah); dan hampir semua bisanya setelah waktu magrib.</p>
<p>Karena wawancara dilaksanakan di dua bulan terakhir saat pengumpulan data, maka berbagai kecenderungan yang didapat dari kuesioner dan observasi menjadi data awal yang berharga untuk didalami dengan metoda ini. Beberapa responden sangat semangat menceritakan apa yang terjadi, sehingga wawancara menyebabkan kaset yang disediakan pun habis (waktu itu masih menggunakan <em>tape recorder</em> analog); banyaknya waktu tersedia juga pernah menyebabkan baterai <em>tape recorder</em> habis, dan perlu meminjam baterai sama responden untuk bisa meneruskan wawancara. Ada pula responden yang menjawab formal dan normatif, namun saat <em>tape</em> dimatikan, munculah jawaban yang ditunggu-tunggu. Secara keseluruhan terdapat dua puluh empat responden yang diwawancara, dan rata-rata menghabiskan waktu satu jam, tugas berat berikutnya adalah mentraskripsikannya, yang sampai saat selesai studi lapang tidak semuanya sempat dilakukan.</p>
<p>Secara keseluruhan pengumpulan data ini dapat diselesaikan sesuai dengan target yang diinginkan dari segi materi, walau dari segi jadwal dan kerja nguber responden merupakan suatu pengalaman yang benar-benar baru. Langkah berikutnya tentu membawa semua ini kembali ke Wellington, untuk dianalisis dan ditulis menjadi bagian tesis. Beberapa perkiraan isi tulisan sudah mulai nampak akan seperti apa isinya nanti, namun ternyata ini bukan lah skenario yang bakalan terjadi; proses menganalisis data dan menulis tesis menjumpai berbagai kejutan lainnya. [bersambung lagi]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/765/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=765&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/08/cerita-menulis-tesis-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita menulis tesis-1</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/05/cerita-menulis-tesis-1/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/05/cerita-menulis-tesis-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 16:09:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Student]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Mulai semester ini mahasiswa bimbingan S3 meningkat menjadi 10 orang (peningkatan 150%) dari tahun lalu. Uniknya mereka mayoritas orang Indonesia, dari segi komunikasi jelas tidak bermasalah karena sama-sama paham Bahasa Indonesia, yang jadi kendala tentu hal yang klasik: kesiapan melakukan &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/08/05/cerita-menulis-tesis-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=720&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mulai semester ini mahasiswa bimbingan S3 meningkat menjadi 10 orang (peningkatan 150%) dari tahun lalu. Uniknya mereka mayoritas orang Indonesia, dari segi komunikasi jelas tidak bermasalah karena sama-sama paham Bahasa Indonesia, yang jadi kendala tentu hal yang klasik: kesiapan melakukan studi di tingkat doktoral. Maka acara berbagi pengalaman saat saya mengerjakan tesis dulu (walaupun konteksnya berbeda), menjadi hal yang diulang-ulang diceritakan ke mereka dengan harapan bisa punya gambaran dan mengambil pelajaran berharga serta tidak melakukan kekeliruan yang sama. Cara lain  adalah dengan menuliskan pengalaman menulis tesis dulu di blog ini (dengan harapan mereka juga membacanya sehingga tidak perlu sampai meningkatkan dosis &#8216;ceramah motivasi&#8217; yang memang akan membosankan kedua pihak).</p>
<p><span id="more-720"></span>Secara resmi saya memulai studi S3 pada April 2003, dapat beasiswa dari NZAID yang menyatakan bahwa tiga tahun harus selesai. Dosen pembimbing (<em>supervisor</em>) pun sudah ditentukan, yaitu dipilih berdasar bidang kepakaran yang akan diteliti dan sebisa mungkin punya pengalaman dalam dunia pendidikan di negara berkembang. Fakultas memilih Dr. Kabini Sangat sebagai pembimbing utama (namun setiap komunikasi tatap muka/elektronik cukup nyebut nama depannya saja tanpa perlu embel-embel Mr. Sanga atau Dr Kabini Sanga). Dia berasal dari negara Solomon Islands [relatif terbelakang dibanding Indonesia], punya pengalaman bekerja sebagai kepala sekolah, birokrat pendidikan dan peneliti di Canada sebelum akhirnya kerja sebagai dosen di Victoria University of Wellington (VUW) di Selandia Baru. Pertemuan pertama dengannya bertukar pengalaman dan menjelaskan topik riset yang akan saya lakukan, serta menjelaskan tentang Indonesia dan dunia pendidikannya. Sarannya singkat saja, siapkan proposal dan dia akan cari pembimbing kedua yang akan ikut membantu.</p>
<p>Studi S3 di universitas di Selandia Baru (juga Australia dan tentu saja di Malaysia) sifatnya<em> full research</em>, dimana tidak ada kelas yang harus diikuti. Sejak pertama kali secara resmi terdaftar, maka semua hal dilakukan sendiri, biasanya kontak dengan <em>supervisor</em> bila memang ada masalah. Kalau pun banyak meminta nasehat dan petatah-petitih dalam menyelesaikan masalah, maka pembimbing pun akan menilai bahwa kita memang tidak siap untuk studi doktoral, dan dianggap tidak independen dalam studi.  Sebagai mahasiswa S3, kita dianggap setara dengan staf dosen, atau lebih tepatnya sedang menjalani magang sebagai peneliti. Maka fasilitas untuk studi pun diberikan mirip seperti dosen, dikasih ruangan kerja, komputer dan akses internet, akses ke mesin fotocopy, jumlah buku yang bisa dipinjam di perpustakaan sampai kepada dana riset untuk pengumpulan data di lapangan.</p>
<p>Dalam keadaan yang &#8216;linglung&#8217; dan dianggap mandiri dalam melakukan kerja, maka cara yang dilakukan adalah membaca buku ringan tentang bagaimana supaya sukses dalam studi PhD. Dua nasehat yang terus membekas sampai sekarang adalah: pertama, untuk bisa menyusun tesis dalam bidang riset kita, maka pelajari lah dengan seksama tesis yang telah dinyatakan lulus dalam bidang tersebut; kedua, jaga hubungan baik dan lakukan lah kontak secara teratur dengan pembimbing, dan dokumentasikan segala hal itu dengan baik [untuk sebagai bukti bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan].</p>
<p>Sesuai dengan nasihat bijak tersebut, maka dimulai lah perburuan mencari tesis dalam bidang riset kita yang bisa dijadikan pedoman bagi penulisan tesis nantinya. Saat ini untuk mendapatkan info mengenai tesis tidak begitu sulit, <em>database</em> di perpustakaan bisa memberikan daftar judul tesis berdasarkan kata kunci yang diberikan dalam hitungan detik. Namun laman web favorit adalah dengan mengandalkan <a title="New Zealand National Library" href="http://webdirectory.natlib.govt.nz/" target="_blank">Te Puna,</a> yaitu website National Library of New Zealand; berhubung dengan akses Te Puna maka semua karya tulis seluruh New Zealand terpangpang dengan mudah dan <em>hard copy</em>-nya pun bisa didapatkan dengan cara pemesanan <em>Inter-library loan</em>. Pernah mendapati beberapa hasil penelitian yang menarik ternyata menjadi koleksi di satu perpustakaan di universitas di Australia, namun untuk mendapatkan aksesnya disamping mahal juga lelet (menunggu sampai tiga bulanan), malah ada beberapa yang tidak boleh dipinjam keluar Australia sama sekali [walaupun New Zealand adalah sekutu paling terpercaya, namun dalam urusan riset tidak menjadikan hal itu 'akrab' dan bebas berbagi].</p>
<p>Setelah baca berbagai tesis dengan perkiraan menarik dari judulnya, akhirnya didapati tiga buah tesis S3 dijadikan rujukan. Yang pertama adalah tesis mengenai riset pengajaran bahasa Inggris di Indonesia, yang kedua  penelitian tentang devolusi pendidikan di satu negara kepulauan pasifik dan ketiga adalah disertasi mengenai perubahan radikal kebijakan penilaian pendidikan yang terjadi di Selandia Baru. Secara teliti dipelajari lah tiga tesis berbahasa Inggris itu untuk didapatkan strukturnya, cara mereka menuliskan pertanyaan riset, metodologi yang dipakai, bahasa ekspresi dan argumen yang dipakai, style penulisan dan pengutipan dan hal detail lainnya. Bisa dikatakan mempelajari ini diperlukan waktu hampir dua bulan penuh (disamping juga membaca rujukan untuk kajian pustaka), sampai dikira paham dengan sepenuhnya dan bisa menuliskan karya saya sendiri seperti ketiga tesis tersebut (tentu kemudian didapati bahwa apa yang disebut &#8216;paham&#8217; masih dalam taraf awal, saat mulai menulis draft tesis kesulitan mengeksplorasi dan sesuai standar untuk tesis S3 terjadi di berbagai kesempatan; untungnya ada referensi yang bisa terus digunakan, yaitu membaca kembali ketiga tesis itu).</p>
<p>Mengenai pembimbing kedua yang saya sangka urusannya enteng ternyata bertele-tele dan kadang bikin repot, malah akhirnya sampai mengalami tiga orang dosen lain sebagai <em>second supervisor</em> ini. Yang pertama, lelaki orang kulit putih (di New Zealand disebut pakeha) ternyata hanya sempat diskusi bersama satu kali saja, berhubung bulan berikutnya dia memilih kerja sebagai dosen di Irlandia; yang kedua perempuan (pakeha), beliau malah tahu sejarah Indonesia dan beberapa kali pergi ke Sumatera Utara karena dia aktivis kristen, namun di tengah jalan beliau tidak bisa melanjutkan membimbing berhubung memilih pensiun. Yang ketiga dan terakhir, lelaki pakeha juga, walaupun kepakarannya beda namun sedikit bawel dan banyak mengkritisi (lebih tepatnya mengejek) tulisan English saya (yang memang jelek). Bila disuruh memilih, saya menyukai kerja dengan pembimbing yang perempuan, walaupun saat diskusi selalu dipojokan, dan mengkritisi hebat pola pikir saya, namun saya belajar banyak dari beliau tentang bagaimana menulis dalam English, dan selalu mengingatkan melalui email secara reguler tentang apa yang dikerjakan dan seberapa jauh kemajuan studi yang didapat. Keberadaan pembimbing keduanya tentu membantu kalau yang pertama &#8216;kerepotan&#8217;, namun pernah dalam tempo selama empat bulan, tidak bertemu dengan kedua pembimbing sekaligus berhubung yang pertama sedang cuti sabatikal dengan mengajar di universitas di Canada dan yang kedua melakukan tugas sebagai aktivitis-nya di India, sehingga satu-satunya tetap kontak adalah berkirim email tentang apa yang saya kerjakan (kemudahan yang lima belas tahun dulu belum ada).</p>
<p>Mulailah pada bulan Mei 2003 merancang proposal dan menuliskan isinya. Di fakultas tempat saya terdaftar, rata-rata mahasiswa menyelesaikan proposal dalam waktu satu semester (6 bulanan), dan isi proposal nantinya adalah bab pertama dari tesis. Isinya pun kurang lebih harus menunjukkan kajian literatur yang &#8216;terlihat bentuknya&#8217; untuk dikembangkan menjadi bab kajian pustaka dan metodologi. Proses menulis proposal tentu tidak sekaligus, namun dicicil dengan mencomot dari berbagai sumber bacaan yang relevan, dituliskan, dikirim via email untuk minta komentar dan kritik; selanjutnya diskusi tatap muka (paling tidak sebulan sekali) dan hasil akhirnya adalah dicorat-coret, perbaikan, revisi dan perbaikan lagi. Pada waktu bulan ke-empat bentuk proposal sudah nampak yang tidak lain merupakan upaya revisi sampai dua belas kali dari pertama kali dibuat.</p>
<p>Pada saat itu, kedua dosen pembimbing memutuskan bahwa proposal sudah dianggap matang, dan perlu disiapkan instrumen riset yang sesuai dengan apa yang dituliskan di proposal. Di mulailah perburuan melengkapi dan mencari bentuk instrumen riset yang pas, yaitu melalui kuesioner dan wawancara, khususnya detail pertanyaan dan prosedur pengumpulan data. Beberapa kali <em>draft</em> diajukan, dan diakhiri dengan coretan ketidaksetujuan dan singkatnya ditolak, sampai akhirnya didapati model kuesioner yang cocok dan daftar pertayaan untuk wawancara yang tepat. Proposal lengkap dengan instrumen riset itu diajukan ke komisi etik fakultas untuk mendapatkan persetujuan boleh tidaknya pengumpulan data lapangan dilakukan, dalam hal ini mahasiswa tidak perlu tampil untuk presentasi, cukup diwakili oleh supervisor saja (sistem yang simpel dan berdasar kepercayaan).</p>
<p>Komisi etik menilai apakah isi riset dan prosedur pengumpulan datanya mengandung hal yang &#8216;berbahaya&#8217;, maksudnya apakah isinya sensitif, diskriminatif atau sejenisnya. Terus juga menanyakan bagaimana memperlakukan pendapat yang didapat dari responden, dalam hal ini kebijakan universitas sangat tegas, bahwa responden berhak atas <em>consent</em> (dengan ijin) untuk berpartisipasi, <em>confidential</em> (rahasianya dijaga dengan baik) dan <em>anonymous</em> (tidak ada satu hal yang bisa mengindikasikan identitas responden). Dalam waktu satu minggu keputusan persetujuan sudah didapat dan supervisor mengatakan bahwa secara resmi saya sekarang adalah <em>doctorate candidate</em>. Dan proposal yang diajukan bisa dikatakan adalah &#8216;kontrak tertulis&#8217; tantara si mahasiswa dengan universitas. Maka tahapan pertama menulis tesis berhasil dijalani. [bersambung]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/720/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=720&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/05/cerita-menulis-tesis-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita dosen tamu dari Wellesley College: pengembangan mahasiswa di kampusnya</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/02/cerita-dosen-tamu-dari-wellesley-college-pengembangan-mahasiswa-di-kampusnya/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/02/cerita-dosen-tamu-dari-wellesley-college-pengembangan-mahasiswa-di-kampusnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 16:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Student]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=745</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu seorang dosen tamu (visiting professor) yang diundang khusus untuk berbagi pengalaman dan kegiatan ilmiahnya ke UTM memberikan seminar mengenai pengembangan/pembangunan mahasiswa (student development) di kampusnya. Sebelumnya saya sudah pernah menulis hal yang sama di blog ini juga, oleh &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/08/02/cerita-dosen-tamu-dari-wellesley-college-pengembangan-mahasiswa-di-kampusnya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=745&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu seorang dosen tamu (<em>visiting professor</em>) yang diundang khusus untuk berbagi pengalaman dan kegiatan ilmiahnya ke UTM memberikan seminar mengenai pengembangan/pembangunan mahasiswa (<em>student development</em>) di kampusnya. Sebelumnya saya sudah pernah menulis <a title="Membantu pengembangan mahasiswa" href="http://deceng2.wordpress.com/2011/05/23/membantu-pengembangan-mahasiswa/" target="_blank">hal yang sama di blog ini juga</a>, oleh karena itu tulisan ini dibuat untuk menampilkan perspektif lain tentang hal tersebut.</p>
<p><span id="more-745"></span>Dr. Donald Leach, sang dosen tamu tersebut, memberikan penjelasan mengenai <a title="Wellesley College official website" href="http://web.wellesley.edu/web" target="_blank">Wellesley College</a> secara singkat seperti statistik, sejarah dan menampilkan foto-foto pemadangan indah sekitar kampusnya dalam berbagai musim. Berbagai data yang dikemukakan jelas menunjukkan kelas yang berbeda dan menunjukkan elitnya perguruan tinggi yang berfokus pada studi <em>undergraduate</em> (S1) ini. College yang berdiri 140 tahun lalu, luasnya mencapai 200 hektar dengan tujuh buah kompleks asrama mahasiswa ini terletak 19 km sebelah barat Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia juga menyebutkan terdapat tiga identitas utama dari Wellesley, yaitu sebagai college khusus untuk perempuan, jurusan <em>liberal arts</em> dan <em>research university</em>. Sebagai kampus tua, Wellesley College tentu mempunyai keuntungan dalam hal alumni dan jaringan yang dimiliki. Dua orang mentri luar negeri (<em>secretary of the state</em>) Amerika Serikat memang lulusan sana, yaitu Madeliene Albright dan Hilary Clinton; juga astronot Pam Melroy. Yang menjadi daya tarik bagi mahasiswa China adalah madame Chiang Kai Shek pun lulusan sana juga.</p>
<p>Populasi mahasiswa di Wellesley College sebanyak 2300 orang dan sekitar 11%-nya adalah <em>internasional student</em> (mahasiswa asing) yang berasal dari 80 negara. Dosen tamu mengungkapkan bahwa sedari awal, calon mahasiswa yang masuk harus menunjukkan kemandirian dengan memberikan hasil test prestasi akademik semacam <a title="penjelasan tentang SAT" href="http://en.wikipedia.org/wiki/SAT" target="_blank">SAT</a>, yang tidak lain adalah bukti tanggung jawab mereka dalam melanjutkan pendidikan tinggi disamping  juga adanya ujian wawancara. Bila dilihat dari biaya kuliah (<em>tuition fee</em>) yang sangat besar yaitu US$ 51 ribu/tahun, maka ini adalah perguruan tinggi untuk kalangan yang sangat kaya saja; namun bila memang penghasilan keluarga mahasiswa memang tidak mampu, maka kampus memberikan keringanan biaya kuliah dimana mahasiswa cukup membayar maksimal US$ 4000/tahun. Tentu jadi pertanyaan, darimana perguruan tinggi swasta macam begini bisa ngasih subsidi bagi mahasiswa, dengan cukup membayar 8% saja dari biaya kuliah yang sesungguhnya? Jawabannya adalah terdapat dana abadi (<em>endowment fund</em>) yang memang diperuntukkan bagi pengembangan perguruan tinggi dan membantu mahasiswa yang tidak mampu, yang <a title="Wellesley College di Wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Wellesley_College" target="_blank">jumlahnya mencapai</a> US $ 1,27 miliar. Ini tentu cerita berbeda dengan heboh biaya masuk dan biaya kuliah perguruan tinggi di Indonesia yang selalu menjadi kabar menyakitkan bagi banyak lapisan masyarakat; universitas negeri di Malaysia pun sudah mulai secara perlahan untuk menabung bagi <em>endowment fund</em>, sehingga diproyeksikan dalam waktu sepuluh tahun mahasiswa S1 tidak perlu bayar biaya kuliah sama sekali, yang berdampak pihak universitas hanya akan merekrut mahasiswa yang terbaik secara akademik saja.</p>
<p>Fasilitas buat student dengan biaya kuliah yang besar tentu sangat berkualitas. Dia menyebutkan bahwa jumlah mahasiswa per kelas antara 15-18 orang saja; secara total rasio antara dosen dan mahasiswa pun sangat rendah 1:8.  Secara total terdapat seribu lebih mata kuliah dan 50 lebih jurusan di tingkat S1 yang di berikan oleh 300 lebih dosen (50% lebih adalah perempuan). Satu jaminan keistimewaan yang diberikan dalam hal staf pengajar adalah mahasiswa tidak akan pernah diajar di kelas oleh asisten dosen. Hal ini tentu upaya penjaminan mutudan perlunya pengelolaan yang efektif, karena di saat yang sama dosen maksimal hanya mengajar dua mata kuliah saja per semester (karena dia juga mendapat beban kerja untuk melakukan riset dan target publikasi).</p>
<p>Bagaimana proses pengembangan mahasiswa di Wellesley College? Dr. Leach menjawab secara sederhana bahwa &#8220;kami percaya dengan mahasiswa&#8221;. Suatu pernyataan yang menunjukkan nilai dan budaya barat yang sudah melembaga di institusinya. Mahasiswi diberi kebebasan untuk ikut bergabung dalam klub mahasiswa yang jumlahnya mencapai 180 organisasi lebih (mulai dari seni, olahraga, debat sampai klub robot serta teknologi informasi). Bahkan mahasiswa pun diberikan tempat (perwakilan) dan punya hak suara dalam berbagai lembaga yang mengatur kampus seperti badan penerimaan mahasiswa baru, komite seleksi staf pengajar, komite kurikulum dan dewan tertinggi kampus (<em>board of trustees</em>). Saat menjelaskan hal ini, dia beralih dengan bertanya bagaimana yang terjadi di kampus UTM? Beberapa dosen yang hadir menjelaskan dengan sedikit malu-malu bahwa kondisi yang liberal di Amerika berbeda dengan di Malaysia. Ada dosen yang balik bertanya bagaimana untuk membuat mahasiswa menjadi lebih kreatif dan inisiatif? Sang dosen tamu menjawab dengan sedikit muter dengan mengatakan, &#8220;anything worthwhile take time &#8220;, dan itu harus dimulai dengan investasi kepercayaan bahwa mahasiswa bisa mencapainya, dan sarana yang tepat adalah dengan membuat mereka berinteraksi dalam asrama dan kegiatan mahasiswa.</p>
<p>Lebih jauh pembicara juga mengilustrasikan bagaimana hal itu bisa dimulai di kampusnya. Dimana setiap mahasiswa ditempatkan di asrama dengan orang lain yang bermaksud untuk saling mengenal dan berkomunikasi. Ini khususnya hal yang unik pada usia mulai dewasa seperti pada mahasiswa, dimana rata-rata menganggap bahwa orang lain tahu tanpa perlu diberi tahu terlebih dahulu. Terlebih dengan perkembangan teknologi yang disebutnya membentuk &#8216;<em>e-mail culture</em>&#8216;, dimana interaksi elektronik begitu mendominasi. Hal yang tidak terelakkan bila terjadi salah pengertian; sehingga komunikasi tatap muka hal yang wajib dilakukan dan digunakan untuk mengungkapkan kesulitan, perbedaan maupun keinginan antar sesama warga kampus.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/745/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=745&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/08/02/cerita-dosen-tamu-dari-wellesley-college-pengembangan-mahasiswa-di-kampusnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita kunjungan ke Indonesia</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/26/cerita-kunjungan-ke-indonesia/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/26/cerita-kunjungan-ke-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 10:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Selama lima hari penuh pada minggu ketiga Juli 2011, saya mengikuti rombongan Fakulti Pendidikan UTM ke Indonesia. Yang dikunjungi adalah universitas-universitas di kota besar yang mempunyai &#8216;core business&#8216; yang sama: pendidikan. Terdapat berbagai pengalaman menarik dan unik selama berkunjung ke &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/07/26/cerita-kunjungan-ke-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=712&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama lima hari penuh pada minggu ketiga Juli 2011, saya mengikuti rombongan Fakulti Pendidikan UTM ke Indonesia. Yang dikunjungi adalah universitas-universitas di kota besar yang mempunyai &#8216;<em>core business</em>&#8216; yang sama: pendidikan. Terdapat berbagai pengalaman menarik dan unik selama berkunjung ke lima perguruan tinggi dan menemani mereka jalan-jalan. Ini hanya sekedar catatan pengalaman ngejar setoran lainnya.</p>
<p><span id="more-712"></span></p>
<p>Kunjungan ke Indonesia dilaksanakan di empat kota antara tanggal 17-23 July 2011, yaitu di Jakarta ke Universitas Negeri Jakarta atau UNJ; terus ke Semarang (IKIP PGRI Semarang dan IAIN Walisongo, Semarang); berlanjut ke Yogyakarta (Universitas Negeri Yogyakarta atau UNY); dan terakhir ke Surabaya (Universitas Negeri Surabaya atau Unesa). Rancangan kunjungan ini diajukan pada bulan Maret tahun ini, yang merupakan kunjungan balasan dari berbagai universitas yang sebelumnya sudah mengunjungi UTM.</p>
<p>Tahun sebelumnya seorang dosen dari jurusan matematika, Fakultas MIPA UNJ magang riset di UTM selama tiga bulan; dari IKIP PGRI Semarang pun dua kali melakukan lawatan ke UTM di tahun 2011 ini yang mengajak pimpinan dan stafnya, serta melakukan penandatanganan <em>Letter of Cooperation</em> (LoC); dengan pihak IAIN Walisongo, tahun lalu sudah mempunyai MoU (<em>memorandum of understanding</em>) antara kedua perguruan tinggi, dan tahun ini juga mengirim rombongan dari Fakultas Tarbiyah (pendidikan) selain itu beberapa dosennya juga studi pasca sarjana di UTM; sedangan dengan UNY, tahun lalu tiga dosennya selama sepuluh hari melakukan studi banding ke UTM tentang kurikulum pendidikan matematika antara dua universitas. Berbagai aktivitas ini jelas memberikan alasan kuat untuk melakukan lawatan balasan disamping ada beberapa agenda penting yang perlu dilakukan seperti penandatangannya LoC dengan Fakultas Tarbiyah, IAIN Walisongo, dan MoU dengan rektor UNY.</p>
<p>Terdapat enam orang yang bepergian dari UTM, yaitu dekan, wakil dekan, dan tiga orang ketua jurusan serta saya sendiri yang secara resmi hanya disebut sebagai bagian kerjasama di tingkat fakultas. Namun secara tidak resmi juga adalah sebagai &#8216;penterjemah&#8217;. Ini adalah peran tidak resmi kedua yang saya alami dalam hal kunjungan kerja ke Indonesia. Sebelumnya pernah menjadi bagian dalam perundingan tentang MoU antara UTM dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), dimana terdapat pengalaman unik menjadi wakil Malaysia. Perjanjiannya adalah tentang satu ayat dalam MoU tentang mahasiswa penerima beasiswa dari Kepri, dimana disyaratkan bila lulus harus segera balik ke Kepri; oleh pejabat Dinas Pendidikan Kepri dikomentari: &#8220;Jangan seperti Bambang, yang akhirnya kerja di Malaysia&#8221;.</p>
<p>Secara khusus dengan dua perguruan tinggi, yaitu IKIP PGRI Semarang dan UNY, dilakukan pembicaraan mengenai latihan mengajar mahasiswa UTM. Ini merupakan perkembangan baru, dimana kedua pihak mengimplementasikan perjanjian kerjasama yang telah dibuat (LoC dan MoU) dalam hal ini. Bagi mahasiswa UTM ini merupakan sarana bagi mereka untuk mengetahui konteks dan kompleksitas kerja guru di negara lain, dan tentu pengalaman berharga bagi mereka. Kedua perguruan tinggi partner pun ternyata tertarik untuk melakukan hal yang sama, apalagi mereka punya program khusus yang disebutnya menyiapkan guru untuk sekolah yang pengantarnya bahasa Inggris dan praktek mengajar di sekolah di Malaysia menjadi hal yang cocok karena pengajaran sains dan matematika masih menggunakan English di semua tingkatan sekolah. Perundingan yang dibahas diantaranya adalah kemudahan pemondokan (dimana perguruan tinggi yang menerima harus menyediakan tempat kost yang gratis sehingga mahasiswa dari Indonesia atau Malaysia tidak terlalu terbebani secara finansial); proses pendampingan mahasiswa di sekolah; penilaian praktek mengajar dan teknis administratif lainnya.</p>
<p>Berhubung menjadi tamu, maka seperti biasa agenda acara menjadi kewenangan tuan rumah. Tentu sebelumnya meminta beberapa hal menjadi topik perbincangan ataupun siapa yang terlibat dalam pertemuan, dalam kontek universitas ex-IKIP misalnya (UNJ, UNY dan Unesa), maka kita meminta yang menjadi partner adalah fakultas MIPA, fakultas ilmu pendidikan dan fakultas pasca sarjana. Tentu dengan maksud supaya fokus dalam hal kerjasama yang dibuat dan disesuaikan dengan anggota rombongan dari UTM yang ikut. Hal yang menguntungkan saat ini, berbagai agenda dan rancangan acara bisa terus dikomunikasikan memalui email dan SMS hingga menit-menit terakhir, suatu kemudahan yang banyak menghemat waktu dan energi antara kedua belah pihak.</p>
<p>Perbincangan yang selalu menjadi menu utama dalam setiap kunjungan adalah mengenai infrastruktur akademik antara kedua universitas. Dari kelima perguruan tinggi (PT) yang dilawati terlihat bahwa dari segi jumlah dosen dan mahasiswa yang ditangani volumenya lebih besar dan tentu lebih kompleks (misal di UNY diberi tahu praktek mengajar per tahunnya mengatur sampai 4300 mahasiswa, sedangkan di UTM hanya 10%-nya dari jumlah itu). Fokus studi pun menunjukkan proporsi S1 sangat dominan, terlihat dari jumlah mahasiswa dan program yang ditawarkan, namun untuk peringkat pasca sarjana lima PT yang dikunjungi tidak seberagam UTM. Untuk tahun ini, proporsi mahasiswa pasca sarjana di UTM sudah melebihi yang S1 yang jumlahnya 1100 orang; mahasiswa S2 dan S3 di UTM mencapai 1600 orang lebih (300 mahasiswa S3)  yang terbagi dalam <a title="jurusan S2 dan S3 di UTM" href="http://www.fp.utm.my/academic/bipostgrad/index.HTM" target="_blank">dua belas program studi</a>, yang dikelola oleh 55 dosen yang sudah S3 (dari total dosen di fakultas yang ada 122 orang). Informasi terakhir ini relatif &#8216;baru&#8217; bari PT di Indonesia yang menunjukkan fokus universitas dalam bidang riset dan pengembangan ilmu.</p>
<p>Perbincangan selanjutnya adalah berbagai kemungkinan kerjasama seperti pertukaran staf pengajar dan mahasiswa, <em>visiting lecturer/professor</em>, <em>external examiner</em>, praktek mengajar, riset dan publikasi bersama. Menu kerjasama &#8216;dasar&#8217; itu adalah untuk memberikan keuntungan bagi kedua universitas, misalnya dalam hal external examiner, di UTM ini akan memudahkan mencari penguji luar bagi tesis mahasiswa S3, dan saat yang sama dia menguji juga diperlakukan sebagai visiting profesor yang memberikan pencerahan mengenai riset yang dia kerjakan atau trend pengetahuan dalam bidangnya. Di beberapa universitas malah mendapat tawaran agresif lainnya seperti <em>double degre</em>e ataupun <em>sandwich program</em>,  yang menunjukkan ekspansifnya universitas di Indonesia dalam mencari peluang pasar mahasiswa perguruan tinggi.</p>
<p>Perbincangan dengan kelima perguruan tinggi karena warga serumpun pun menggunakan bahasa masing-masing. Dan bagi saya yang memahami kedua bahasa kadang tersenyum kecil dan berusaha untuk tidak terbahak-bahak khususnya bila ada lelucon yang disampaikan dan satu pihak &#8216;terpaksa&#8217; tertawa. Kejadian Ini banyak terjadi saat kunjungan di luar Jakarta, dimana perguruan tinggi yang dikunjungi dengan maksud menghargai tamu, tidak lupa untuk menampilkan lelucon, yang sayangnya sangat kental konteks daerah dan tentu sukar dipahami, tapi selalu dijawab dengan tertawa juga. Di dua PT, rombongan dari UTM memberikan presentasi yaitu, di kuliah umum di IKIP PGRI Semarang dengan menggunakan Bahasa Malaysia dan campuran Bahasa Inggris; dan seminar tentang perkembangan pendidikan matematika di Malaysia di UNY dengan English dalam rangka konferensi pendidikan matematika nasional ke-4. Bisa dikatakan bahwa bahasa pengantar memang menjadi kendala untuk bisa memahami dengan baik apa yang disampaikan.</p>
<p>Disamping diskusi yang bikin kening berkerut, terdapat juga selingan-selingan lain yang mungkin menarik untuk diceritakan. Yang pertama tentu adalah <em>shopping</em>, di setiap kota yang dikunjungi dosen Malaysia memang sudah gatal untuk berbelanja, seleranya pun beragam. Mulai dari cari koleksi barang yang elit, semisal membeli baju kaos yang eksklusif di Hard Rock Cafe Jakarta; ataupun cendera mata yang unik, untuk hal ini mereka berkunjung ke Mangga Dua di Jakarta, Malioboro di Yogya dan Jembatan Merah di Surabaya, yang dibeli pun beragam mulai dari gantungan kunci, baju batik dan magnet lemari es (<em>fridge magnet</em>). Kontak dengan pedagang pun terjadi dan banyak cerita unik, semisal ketidaktahuan pedagang bagaimana membujuk pembeli yang orang Malaysia, yang akhirnya menggunakan &#8216;kamus Upin-Ipin&#8217; dengan menyebut &#8216;pakcik&#8217; atau &#8216;atuk&#8217;, yang jelas bukan merayu malah membuat kurang simpatik (&#8216;pakcik&#8217; sebutan untuk laki-laki yang sudah tua, sedangkan &#8216;atuk&#8217; untuk menunjukkan laki-laki sangat tua), beda reaksi tentunya kalau menggunakan kalimat &#8216;abang handsome&#8217; (walaupun orangnya jelas sudah tua). Di Borobudur malah lebih mengagetkan lagi, dimana militansi pedagang asongan sangat agresif dan maju tak gentar sampai rombongan ngacir dengan mobil, sehingga membuat suasana tidak nyaman dan jelas tidak dinikmati.</p>
<p>Pada saat pertama kali mendarat di Indonesia di Jakarta dan berkunjung ke berbagai tempat, maka kesan yang muncul di benak rekan dari Malaysia adalah suasana yang hiruk pikuk dan tidak bersahabat; terlebih saat menikmati makan malam di pinggir jalan maka kedatangan pemusik jalanan yang berganti-ganti dan tidak bisa dinasehati bahwa itu sudah cukup. Namun kesan yang berbeda didapati saat di Semarang, dimana dijumpai suasana kota yang teratur, warganya ramah dan bersahabat. Lebih mengesankan lagi saat di Yogyakarta, dimana terdapat waktu satu hari untuk berwisata dan dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat eksotis: rumah Mbah Maridjan. Dengan menggunakan taksi dan dilanjutkan dengan ojeg, sampailah ke lokasi; terlebih nama Mbah Maridjan pun terkenal di Malaysia dan jadi simbol &#8216;lelaki sejati&#8217; sehingga membuat penasaran mereka seperti apa kampung Mbah Maridjan yang kena bencana Gunung Merapi itu. Menampilkan lelaki gaek sebagai simbol &#8216;keperkasaan&#8217; ternyata tidak hanya dominasi Indonesia saja, di Malaysia pun terjadi seperti kedua foto di bawah ini:</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/mbah-maridjan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-733" title="Mbah-maridjan" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/mbah-maridjan.jpg?w=640" alt=""   /></a>               <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/jantan1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-732" title="jantan1" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/jantan1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /><br />
</a></p>
<p>Hal unik lainnya bagi orang Malaysia yang saya dampingi adalah moda transportasi yang digunakan. Di Jakarta mereka &#8216;heran&#8217; dengan bajay, dan ingin mencobanya; di Yogyakarta, mereka menjumpai becak-ojek (becak dengan sepeda motor dipinggirnya).  Hal yang unik menurut mereka adalah angkutan kota (angkot), sistem transportasi umum yang memang tidak terdapat di Malaysia. Potret kemiskinan yang dijumpai di berbagai kota adalah pengemis dengan berbagai penampilan, ada yang membuat rasa belas kasihan seperti menggendong anak kecil atau bayi, sesuatu yang juga tidak dijumpai di Malaysia.</p>
<p>Bagi saya sendiri, kunjungan ini disamping kerja juga suatu piknik gratis. Di berbagai tempat dijamu dengan bermacam makanan leluhur yang nyaris lupa rasa aslinya, tentu dengan tidak menyia-nyiakan kebaikan hati tuan rumah. Saat yang sama juga mengembangkan potensi kerjasama antara perguruan tinggi di Indonesia dengan Malaysia yang akan memberikan keuntungan bersama bagi kedua negara di masa depan.</p>
<p>Foto dibawah ini beberapa kenangan saat kunjungan: di UNJ dan IKIP PGRI Semarang</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/unj.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-735" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/unj.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>       <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/ikip-pgri.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-731" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/ikip-pgri.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" />  </a></p>
<p>Di IAIN Walisosongo Semarang dan di kawasan Candi Borobudur</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/iain-walisongo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-730" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/iain-walisongo.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>      <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/borobudur.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-729" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/borobudur.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" />  </a></p>
<p>Di UNY dan Unesa</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/uny.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-736" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/uny.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>       <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/unesa.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-734" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/unesa.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=712&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/26/cerita-kunjungan-ke-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/mbah-maridjan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mbah-maridjan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/jantan1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jantan1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/unj.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/ikip-pgri.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/iain-walisongo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/borobudur.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/uny.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/unesa.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa tahun pertama</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/15/mahasiswa-tahun-pertama/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/15/mahasiswa-tahun-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2011 09:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Student]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Minggu ini mewakili boss untuk ikut dalam workshop tentang mahasiswa tahun pertama (first year experience atau FYE) di UTM.  Sekitar enam puluh dosen/pensyarah menghadiri acara sehari penuh yang merupakan perwakilan dari berbagai fakultas dan asrama mahasiswa (kolej kediaman). Topik mahasiswa &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/07/15/mahasiswa-tahun-pertama/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=703&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu ini mewakili boss untuk ikut dalam workshop tentang mahasiswa tahun pertama (<em>first year experience</em> atau FYE) di UTM.  Sekitar enam puluh dosen/pensyarah menghadiri acara sehari penuh yang merupakan perwakilan dari berbagai fakultas dan asrama mahasiswa (kolej kediaman). Topik mahasiswa tahun pertama menjadi isu yang penting terutama hal ini berhubungan dengan pembentukan rasa percaya diri mahasiswa (<em>building confidence)</em> dan upaya awal untuk mencapai prestasi yang bagus yang akan menjadi patokan untuk tahun berikutnya (<em>good grade maintenance</em>). Tentu kampus perguruan tinggi manapun tidak mau mendapati mahasiswanya berprestasi ala kadarnya yang berujung pada kadar <em>drop out</em> yang tinggi, sehingga pengetahuan dan strategi yang tepat bagi mahasiswa tahun pertama sangat diperlukan. Tulisan ini akan mencoba membahas tentang sistem masuk universitas di Malaysia, sedikit profil mahasiswa orang Malaysia yang masuk UTM, prestasi mereka di tahun pertama dan berbagai isu yang mengemuka di dalamnya.</p>
<p><span id="more-703"></span>Untuk masuk universitas di Malaysia, sistem yang digunakan berbeda dengan yang ada di Indonesia. Universistas di Malaysia percaya sepenuhnya dengan ujian negara (<em>public examination</em>) yang dilakukan dalam sistem pendidikan menengahnya sendiri, dimana hasil ujian menjadi alat seleksi untuk menentukan diterima atau tidaknya sebagai mahasiswa. Sitem sekolah dimulai pada usia siswa tujuh tahun tepat yang disebut sekolah rendah selama enam tahun; kemudian dilanjutkan dengan lima tahun pendidikan menengah, yang diakhiri dengan ujian SPM (Sijil Pelajaran Malaysia atau O level) dan menandai batas wajib belajar (setara dengan kelas 11 atau kelas 2 SMA di Indonesia). Sistem yang berlaku ini memang warisan dari Inggris. Setelah mendapat SPM, terdapat dua alternatif bila ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, yaitu mengikuti kursus matrikulasi setahun penuh (setiap negara bagian paling tidak mempunyai satu buah kampus matrikulasi dengan sistem asrama) atau belajar untuk ujian negara berikutnya, yaitu STPM (Sijil Tinggi Pelajaran Malaysia yang setara dengan A level), dimana siswa bersekolah di sekolah menengah yang menyelenggarakannya selama dua tahun. Terdapat juga pilihan untuk mengikuti kursus diploma (berbagai keahlian seperti akuntansi, komputer, perkantoran dll.) selama satu sampai tiga tahun, baru kemudian melamar sebagai mahasiswa ke universitas, namun jumlahnya memang tidak sebanyak yang dua cara sebelumnya.</p>
<p>Perlu juga ditambahkan, berhubung suka ada yang menanyakan, bagaimana kalau siswa dari SMA di Indonesia mau belajar S1 di universitas di Malaysia. Maka caranya pun sama, yaitu seleksi administrasi dengan mengirim fotocopy raport dilegalisir sampai semester terakhir (kalau belum lulus sampai semester ganjil kelas terakhir; kalau sudah lulus juga menyertakan ijasah dan nilai UN), isi formulir, pas foto, fotocopy passport dan bayar uang pendaftaran (sekitar US$ 30). Selebihnya adalah berdoa semoga jurusan yang dituju tidak banyak mahasiswa internasional yang berminat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Biasanya proses seleksi administratif mahasiswa baru ini mengambil waktu tiga sampai empat bulan (termasuk juga untuk mahasiswa non-Malaysia). Hasilnya bisa diketahui melalui website kementrian pengajian tinggi Malaysia ataupun website universitas. Ini dalam konteks universitas negeri/publik; untuk universitas swasta di Malaysia caranya kurang lebih sama namun waktunya biasanya sedikit belakangan. Seperti halnya di Indonesia, universitas negeri/publik sangat diminati di Malaysia karena mutu yang bagus dan biaya kuliah yang murah (perbandingan uang kuliah antara universitas negeri dan swasta di Malaysia bisa mencapai 1:10)</p>
<p>Ada baiknya diceritakan juga tentang profil mahasiswa baru UTM, yang menjadi info pendukung penting. Survey ini dilakukan tahun akademik 2009/2010 dimana 983 mahasiswa tahun pertama berpartisipasi (30% dari total mahasiswa baru). Data demografis yang didapat menunjukkan 86,7% mahasiswa baru UTM berasal dari keluarga yang masih ada ibu-bapaknya; dari segi dukungan finansial untuk studi, 67,4% mendapatkannya dari pinjaman <a title="website PTPTN" href="http://www.ptptn.gov.my/" target="_blank">PTPTN</a> (Perbadanan Tabung Pendidikan Tinggi Nasional, semacam lembaga negara yang memberikan <em>student loan</em>), 11,3% dari orang tua dan 19,9% mahasiswa mendapatkannya dari beasiswa. Berdasarkan domisili 44,8% mahasiswa baru ternyata tempat tinggal di desa, serta 42,9% di daerah sub-urban, dan 11,4% berasal dari kota besar.</p>
<p>Bila melihat kombinasi banyaknya mahasiswa yang berhutang kepada PTPTN dan tempat tinggal, berhubungan dengan penghasilan keluarga: 32,1% pendapatan keluarga mahasiswa baru di bawah RM 1000/bulan (sekitar Rp. 2,8 juta), 41% pendapatan keluarganya antara RM 1000 &#8211; RM 2999 per bulan; sedangkan yang penghasilan keluarga tiap bulannya antara RM 3 ribu &#8211; RM 4,9 ribu ada 15.1%.  Gambaran ini menunjukkan bahwa mahasiswa baru di UTM memang berasal dari rata-rata keluarga Malaysia (<em>income perkapita</em> saat ini di Malaysia sekitar RM 1875/bulan). Hanya 10,7% mahasiswa baru yang pendapatan keluarganya lebih dari RM 5 ribu/bulan (sekitar Rp 14 juta), bisa jadi memang kelompok ini memilih untuk studi di tempat yang memang lebih mahal ataupun di luar negeri.</p>
<p>Bila ditanyakan alasan memilih UTM, mayoritas setuju bahwa UTM adalah universitas favorit dengan reputasi yang baik, lulusanya mendapat karir yang prestisius dan diterima di universitas top lainnya. Hal ini pula tercermin penempatan pilihan universitas (dimana calon mahasiswa di Malaysia bisa memilih sampai 8 dari 20 universitas negeri yang ada), 78,2% menyatakan UTM termasuk dalam pilihan universitas ke-1 sampai 3; dilihat dari jurusan yang didapatkan pun, 72,4% menjawab bahwa jurusan yang didapatkannya di UTMadalah pilihan ke-1 sampai 3. Kedua hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa baru yang masuk memang bermotivasi dan menginginkan studi di UTM. Bila ditanyakan apa kelebihan mereka dibanding teman sebaya saat sekolah, mayoritas menyatakan kemampuan matematik mereka lah yang berbeda, hal yang umum untuk yang mau studi di jurusan teknik.</p>
<p>Dari berbagai latar belakang di atas, kemudian dalam workshop ditampilkan hasil prestasi mahasiswa tahun pertama di UTM. Satu hal yang mencolok adalah, latar belakang pendidikan yang ditempuh mahasiswa sebelum masuk universitas (<em>pre-university education</em>) secara agregat menjadi indikator tingginya prestasi yang dicapainya. Dijumpai bahwa mahasiswa yang menempuh jenjang STPM berprestasi lebih tinggi dibanding yang melalui jenjang lain seperti matrikulasi atau diploma. Hal ini pun menjadi topik bahasan yang menarik, kenapa bisa begitu? Satu hal yang nampak, adalah persiapan yang dilalui; STPM dilaksanakan dalam rentang dua tahun (setelah SPM) dan siswanya mengikuti rutinitas seperti sekolah biasa (tinggal dengan orang tua dll) yang artinya mereka lebih matang dan secara psikologis lebih siap; sedangkan yang matrikulasi belajar secara padat selama satu tahun, di-asrama-kan dan tentu segala aktivitasnya lebih banyak diatur pihak lain. Dari segi beban belajar, bisa dikatakan matrikulasi lebih siap untuk disuapi, hal ini berhubung pendeknya waktu maka berbagai modul dibuat secara lengkap menjadikan siswa fokus dengan bahan belajar yang ada. Sedangkan dalam STPM, ada beberapa ujian yang sifatnya pengetahuan umum (<em>general exam paper</em>), yang membuat mereka harus mempersiapkan diri dalam berbagai bidang, dan kreatif mengoleksi bahan dan mengujinya secara mandiri (sesuatu yang tidak ada di sistem matrikulasi karena materi dan jenis ujian pun sudah diketahui jauh-jauh hari). Yang juga merisaukan bila di telaah lebih jauh, prestasi menonjol ini banyak dimiliki oleh etnis Cina (jenjang STPM); sedangkan mahasiwa baru yang etnis Melayu memang lebih banyak memilih jalur matrikulasi.</p>
<p>Disamping ditampilkan capaian prestasi berdasar latar belakang pendidikan <em>pre-university</em>, ditampilkan juga prestasi berdasar fakultas. Beberapa fakultas yang favorit di UTM dimana calon mahasiswa yang masuk adalah yang terpintar se Malaysia dengan indeks prestasi diatas 3,5 (dalam skala 0-4) seperti fakultas teknik elektro, teknik mesin, teknik kimia dan teknik sipil; ternyata didapati prestasi mereka di tahun pertama tidak menunjukkan konsistensi yang diinginkan. Hal ini tentu mengherankan, karena di tahun pertama, mata kuliah yang harus diambil bersifat umum, dan kadang hanya 1-2 mata kuliah saja yang berasal dari fakulas/jurusan-nya. Sedangkan ada  fakulti lain yang tidak se-favorit dan tidak menerima mahasiswa secemerlang yang disebutkan sebelumnya malah menunjukkan prestasi yang mengagumkan secara keseluruhan.</p>
<p>Hal ini tentu menunjukkan ada yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi yang ada. Disini lah perancangan dan strategi bagaimana membantu mahasiswa tahun pertama secara efektif diperlukan. Sebagai contoh, penanganan mahasiswa tahun pertama di beberapa universitas di luar negeri dilakukan dengan sangat serius, contohnya seperti terlihat di website <a title="FYE at University of Wisconsin" href="http://www.newstudent.wisc.edu/" target="_blank">Wisconsin University</a> Amerika Serikat, <a title="FYE at Queensland University of Technology" href="http://www.fyhe.qut.edu.au/" target="_blank">Queensland University of Technology</a> Australia, dan <a title="FYE at Glasgow University" href="http://www.gla.ac.uk/services/learningteaching/goodpracticeresources/firstyearexperience/" target="_blank">Glasgow University</a> Inggris. Di  berbagai universitas tersebut malah pengalaman tahun pertama di universitas menjadi bidang kajian tersendiri. Ini tidak lain menunjukkan kondisi kritis bagi mahasiswa saat memulai studi di perguruan tinggi, khususnya perpindahan &#8216;alam&#8217; dari sekolah ke universitas. Misalnya di sekolah menengah, kegiatan belajar siswa diatur secara ketat oleh guru yang juga  mempunyai hubungan dekat yang memotivasi siswa; siswa sering diuji dengan bahan pelajaran yang sedikit; pandangan siswa tentang belajar umumnya adalah mengingat sebanyak mungkin dan pengetahuan didapat dari guru; namun semua itu berubah saat mereka mulai studi di perguruan tinggi.</p>
<p>Berhubung UTM tidak bisa melakukan perubahan terhadap sistem pendidikan pra-universitas, maka lingkup yang bisa dilakukan adalah pengkondisian di dalam universitas sendiri. Beberapa strategi yang didiskusikan dalam workshop untuk mendukung mahasiswa tahun pertama ini adalah orientasi, advis yang fokus terhadap kondisi unik mereka, kebersaman komunitas belajar dan asrama (berhubung semua mahasisa tinggal di kolej kediaman), mentor sebaya, suplemen dengan tutor dan pengajaran, dan pengalaman studi tahun pertama. Berbagai strategi itu pada dasarnya sudah dilaksanakan, namun memang tidak menjamin bahwa itu bisa berhasil.</p>
<p>Cerita dari fakultas yang sukses dalam pengelolaan prestasi mahasiswa tahun pertama menarik untuk dikaji. Yang pertama adalah pola seleksi masuk yang diterapkan juga dilengkapi dengan wawancara calon mahasiswa (tidak hanya sekedar seleksi administratif), cara ini ampuh untuk mengetahui kematangan intelektual dan bakat yang dipunyai (ini diterapkan di Fakultas Alam Bina [artistektur &amp; perencanaan wilayah] dan Fakultas Pendidikan). Yang kedua adalah pelaksanakan sistem dukungan di fakultas, prestasi belajar tahun pertama bisa digenjot melalui pemberian kuliah dalam kelas kecil, kelompok belajar dan tutorial, serta pemantapan akan jurusan dan prospek karir mereka nantinya (ini diterapkan di Fakultas Geoinformasi).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/703/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=703&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/15/mahasiswa-tahun-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Workshop dengan Petrosains</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/workshop-dengan-petrosains/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/workshop-dengan-petrosains/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 05:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu selama tiga hari penuh mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Petrosains tentang pembelajaran inquiri. Ada beberapa cerita menarik yang perlu dituliskan di blog sebagai sarana berbagi. Dari namanya terlihat bahwa Petrosains memang punya hubungan dengan perusahaan minyak negara Malaysia, &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/workshop-dengan-petrosains/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=685&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu selama tiga hari penuh mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Petrosains tentang pembelajaran inquiri. Ada beberapa cerita menarik yang perlu dituliskan di blog sebagai sarana berbagi. Dari namanya terlihat bahwa Petrosains memang punya hubungan dengan perusahaan minyak negara Malaysia, yakni Petronas; namun yang unik Petrosains tidak sekedar menawarkan &#8216;wisata ilmiah&#8217; saja, bahkan lebih dari itu, Petrosains telah menjadi kelompok penekan (<em>pressure group</em>) dalam berbagai isu tentang pendidikan sains di Malaysia (sesuatu yang mungkin bisa ditiru oleh Pertamina, tentu kalau mau). Karena dalam konteks <em>workshop</em>, ada baiknya juga bercerita sedikit mengenai berbagai pelatihan yang pernah didapat selama kerja di Malaysia ini.</p>
<p><span id="more-685"></span>Pada pekerjaan sebelumnya sebagai guru, berbagai pelatihan yang diberikan (<em>in-service training</em>) sifatnya sporadis. Yang paling lama adalah pelatihan pra-jabatan selama seminggu penuh, yang isinya model indoktrinasi orde baru; selain itu juga sempat mencicipi pelatihan tentang perpustakaan dan pendidikan sains dalam kerangka PKG/MGMP. Menurut teman guru yang ditempatkan di Jawa Barat,  saya termasuk beruntung bisa terpanggil ikut pelatihan, berhubung mereka tidak mendapatkannya karena panjangnya antrian yang akan mengikuti. Hal yang terbalik saat kerja sebagai TKI di Malaysia, kebijakan universitas menyebutkan bahwa setiap dosen harus mengikuti berbagai pelatihan untuk peningkatan profesionalitas dengan total 80 jam per tahun (atau 10 hari kerja). Tidak aneh makanya pada tahun pertama kerja sebagai dosen di UTM, setiap bulannya sibuk mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari kursus induksi untuk dosen baru (selama satu minggu), pelatihan sebagai staf dosen internasional (lima hari), kursus e-learning pemula dan lanjutan (total 3 hari), kursus multimedia, pengolahan data statistik-kuantitatif (SPSS), pengolahan data kualitatif (NVivo) dan lainnya.</p>
<p>Ada beberapa kursus yang diselenggarakan oleh universitas sendiri, dimana satu lembaga memang tugasnya melatih para dosen, yaitu <a title="center for teaching and learning UTM" href="http://www.ctl.utm.my/" target="_blank">centre for teaching and learning</a>. Namun bila dirasa ada kursus lanjutan di tempat lain yang perlu diikuti, maka hal itu bisa dilakukan dengan mengundang mereka ke UTM (seperti pelatihan oleh Petrosains), atau mengikutinya di tempat lain (luar kota atau luar negara). Berhubung keterbatasan dana (masalah klasik), maka biasanya para dosen menggunakan dana riset yang dimiliki untuk mengikuti kursus yang diperlukan tersebut. Tentu yang diharapkan makin terdedah dosen dengan berbagai pelatihan, akan membuat dia tetap segar dan tidak mudah jenuh (khususnya bagi mahasiswa yang dia ajar).</p>
<p>Balik ke cerita pelatihan oleh <a title="website Petrosains" href="http://www.petrosains.com.my/" target="_blank">Petrosains</a>. Pelatihan selama tiga hari itu adalah upaya penyegaran bagi para dosen di fakulti pendidikan UTM tentang pola pengajaran yang sedikit berbeda dari yang biasa terjadi di kelas. Hari pertama dikenalkan berbagai jenis pendekatan (yaitu: <em>direct teaching, challenges</em> dan <em>investigation</em>) dengan materi percobaan <em>spining top</em>. Tentu ini menjadi keceriaan bagi para staf pengajar untuk bermain seperti anak kecil (kembali) dan dilakukan secara serius untuk menjadi juara (karena akan diberikan hadiah). Hari kedua bermain dengan balon dan es batu, <em>doing science</em> dengan pura-pura menjadi peneliti untuk mengetahui sesuatu dengan hanya berbagai peralatan yang tersedia [tentu tidak boleh menjustifikasi teori canggih atau alat yang ada di lab]. Hari terakhir adalah bermain dengan lampu, cahaya dan bayang-bayang. Beberapa foto kegiatan seperti di bawah ini:</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288005.jpg"><img class="size-medium wp-image-688 alignnone" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288005.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>  <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298126.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-691" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298126.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288032.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-689" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288032.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>              <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288004.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-687" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288004.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Bagi saya sendiri, dari segi kandungan materi tidak ada hal yang baru, sebelumnya saya pernah menuliskannya di blog yang lain (<a title="Blog Pengajaran Sains" href="http://deceng.wordpress.com/" target="_blank">blog pengajaran sains</a>) khususnya beberapa artikel yang membahas tentang pengajaran sains di laboratorium. Petrosains pun sebenarnya tidak membuat sendiri berbagai kegiatan percobaan itu, mereka mendapatkannya dengan cara mengunduh dari laman web: <a href="http://www.exploratorium.edu/ifi" target="_blank">Institute for Inquiry. </a>Sehingga dari segi materi percobaan/pelatihan pun saya kira <a title="Rumah Sains Ilma" href="http://rumahsainsilma.wordpress.com/" target="_blank">Rumah Sains Ilma</a>-nya Pak Muzi lebih orisinil dan beragam.</p>
<p>Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kenapa Petrosains (atau Petronas) mau cape-cape melakukan pelatihan semacam ini? Jawabannya memang tidak sederhana. Sistem pendidikan di Malaysia, mirip seperti negara Asia lainnya, yaitu<em> exam oriented</em>. Maka siswa mencurahkan energinya selama studi di sekolah melulu untuk persiapan ujian (<em>public exam</em>), atau dalam dalam  konteks kita adalah UN. Cara guru mengajar pun di-disain khusus untuk prestasi tinggi dalam ujian, sehingga selalu terjadi pola ngajar yang mengerucut untuk mendapatkan satu jawaban pasti. <em>Mindset</em> guru seperti ini tentu berat untuk diubah, apalagi ukuran kesuksesan di mata orang tua dan pemerintah hanya melulu dari hasil ujian. Contoh yang nyata adalah siswa jadinya hanya mau mendapat jawaban yang benar saja (dan takut kalau salah) artinya keinginan eksplorasi pengetahuan menjadi tidak terlatih; juga berimplikasi pada keberanian bertanya yang kurang.</p>
<p>Hal yang terparah terjadi pada pelajaran sains. Pemerintah Malaysia menginginkan bahwa jurusan yang diambil oleh siswa di level sekolah menengah (setara SMA di kita) perbandingannya adalah 60% sains dan 40% ilmu sosial. Namun fakta yang ada, hanya 26% saja siswa di Malaysia yang memilih jurusan sains di sekolah menengah; yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah siswa yang lulus setara SMA dan ikut persiapan masuk ke perguruan tinggi (di Malaysia disebut matrikulasi dan STPM) ternyata hanya 22%-nya lelaki. Kurangnya populasi warga masyarakat/generasi muda yang berminat terhadap sains tentu bakal jadi masalah di masa depan, misalnya susah untuk mendapatkan peneliti yang berbakat, pengembangan produk dll. Beberapa riset menunjukkan bahwa murid di Malaysia bukan tidak menyukai atau takut dengan pelajaran sains, namun mereka memilih ilmu sosial karena tantangan ujiannya relatif lebih mereka kuasai. Tentu penyebab ini sangat relevan dengan bagaimana guru mengajar di kelas pada tingkatan sebelumnya.</p>
<p>Melihat kondisi seperti itu maka Petrosains (atau Petronas) terpanggil berperan untuk mengubah persepsi tentang pengajaran sains di sekolah. Mudah diduga target mereka adalah guru-guru di sekolah dasar dan menengah, serta lembaga pendidikan guru (pencetak guru SD di Malaysia). Dari diskusi selama pelatihan, mereka mengakui bahwa perubahan yang ada masih lambat. Misalnya dalam satu pertemuan yang membahas tentang materi ujian nasional pelajaran sains dimana Petrosains dilibatkan, wakil dari guru sangat mendominasi jenis pertanyaan apa yang perlu muncul di dalam soal ujian, alternatif lain yang ditawarkan nyaris tidak diakomodasi. Tidak aneh akhirnya mereka mengubah strategi sedikit yaitu dengan juga mengajak pelatihan pada dosen di universitas yang juga merupakan pelatih guru di tingkat sekolah menengah disamping peneliti dan pengembang kurikulum sains di Malaysia.</p>
<p>Salah satu materi pelatihan yang banyak diberikan oleh Petrosains adalah pelatihan inkuiri yang berdasar dari <em>hands-on</em>, tentu dengan maksud supaya keterlibatan peserta secara menyenangkan,  melakukan sendiri kemudian menampilkan hasilnya akan memberikan pencerahan dan sekaligus peneguhan akan perlunya hal ini diterapkan pada calon guru. Bermain dengan inkuiri walaupun dengan materi yang sederhana dan remeh-temeh, tentu suatu pengalaman belajar yang &#8216;membahayakan&#8217; (apalagi bila pesertanya para doktor pendidikan), dimana kewibawaan pengetahuan dipertaruhkan untuk mencoba hal baru dan tidak pernah terpikir sebelumnya (karena isi materinya buat murid sekolah). Namun tanggapan selama tiga hari, walaupun melelahkan, penuh dengan keceriaan dan tertawa lepas akan berbagai tantangan eksperimen &#8216;jadi-jadi-an&#8217; itu. Hal yang &#8216;serius&#8217; dalam pelatihan adalah aspek komunikasi dalam pengajara inkuiri, bukan suatu yang aneh karena memang siswa kita di sekolah (baik di Malaysia ataupun di Indonesia) tidak terlatih (atau dilatih) untuk melakukannya.</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298146.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-692" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298146.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>  <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288074.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-690" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288074.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dalam kerangka yang terbatas saya dulu pernah memberikan pelatihan kepada guru sains mengenai hal ini dan lebih kurang menjumpai reaksi yang sama pada guru-guru di Indonesia. Dugaan saya pun lebih kurang sama seperti yang dilakukan Petrosains sekarang, yaitu perlunya mengenalkan pelatihan inkuiri yang &#8216;main-main&#8217; ini kepada dosen-dosen pendidik guru di Universitas. Bila mereka terdedahkan, paling tidak mereka punya pengalaman dan mau mencobanya kepada calon guru akan sisi lain dari pelajaran sains yang memang ternyata menyenangkan.</p>
<p>Bila melihat acara &#8216;main-main&#8217; oleh Petrosains, terlihat bahwa Petronas punya arah yang jelas dalam hal kegiatan CSR-nya (<em>corporate social responsibility</em>). Kalau anda sempat ke Kuala Lumpur dan mengunjungi kompleks Menara Petronas, di gedung KLCC lantai 4, Petronas menyediakan hampir setengah hektar (daerah prestisius dan paling mahal se Malaysia) ruang khusus untuk peragaan sains yang dikelola oleh Petrosains. Yang fenomenal dari pajangan yang ada di Petrosains adalah <em>Oil Rig</em> (pengeboran minyak) yang ditampilkan dalam ukuran sebenarnya. Pihak Petrosains pun menyediakan fasilitas khusus bila anda menjadi anggota Petrosains (RM 50/tahun per keluarga dengan dua anak), dimana salah satu keuntungannya adalah bisa mengunjungi pusat sains di luar Malaysia (Singapura, Amerika atau Eropa) dengan harga miring.</p>
<p>Sebagai penutup, dulu saya punya teman dekat yang dapat amanah menjadi salah seorang pengurus yayasan Pertamina, beliau tadinya mau mengubah imej Pertamina, dari sekedar perusahaan yang mensponsori berbagai balap mobil yang tidak jelas, kepada sesuatu yang lebih edukatif dan mencerahkan bagi bangsa; sayang tidak tahu lagi perkembangannya saat ini, apakah memang sudah berjalan atau malah mampet. Kalau mau Pertamina bisa belajar banyak ke Petronas dengan Petrosains-nya.</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298175.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-693" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298175.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/685/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=685&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/workshop-dengan-petrosains/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288005.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298126.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288032.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288004.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298146.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6288074.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p6298175.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asrama mahasiswa di universitas di Malaysia</title>
		<link>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/asrama-mahasiswa-di-universitas-di-malaysia/</link>
		<comments>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/asrama-mahasiswa-di-universitas-di-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 16:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>deceng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Student]]></category>
		<category><![CDATA[UTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deceng2.wordpress.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat satu perbedaaan nyata antara kampus universitas negeri di Indonesia dan di Malaysia, yaitu dalam hal asrama mahasiswa. Universitas publik di Malaysia mempunyai kebijakan mewajibkan mahasiswa di tingkat S1 untuk paling tidak selama tahun pertama studi tinggal di dalam lingkungan &#8230; <a href="http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/asrama-mahasiswa-di-universitas-di-malaysia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=516&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terdapat satu perbedaaan nyata antara kampus universitas negeri di Indonesia dan di Malaysia, yaitu dalam hal asrama mahasiswa. Universitas publik di Malaysia mempunyai kebijakan mewajibkan mahasiswa di tingkat S1 untuk paling tidak selama tahun pertama studi tinggal di dalam lingkungan kampus yaitu di asrama (sedangkan bagi mahasiswa S2 dan S3 itu  sifatnya pilihan). Beberapa kampus, seperti UTM malah menetapkan slama studi S1 harus tinggal  di asrama secara penuh. Dulu saat masih menjadi mahasiswa IPB, asrama untuk mahasiswa terbatas kapasitasnya, sehingga alat seleksi untuk bisa menjadi penghuni adalah prestasi akademik. Tinggal di asrama milik IPB jelas mendapat banyak kemudahan seperti biaya sewa jauh lebih murah, serta listrik dan air gratis; namun saat itu harus puas untuk kost di rumah penduduk di belakang kampus IPB Baranang Siang. Karena besarnya proporsi waktu yang dihabiskan oleh mahasiswa S1 di Malaysia di kamarnya dan lingkungan asrama (istirahat, belajar, olahraga, makan, diskusi dll), tentu hal ini menjadikan asrama mahasiswa dapat dianggap sebagai ‘rumah kedua’ mereka. Tentu menjadi menarik untuk mengetahui seperti apa situasi dan gaya hidup di rumah kedua ini. Tulisan ini mencoba menjelaskan kehidupan yang saya lihat di asrama mahasiswa di kampus UTM, dimana saya juga tinggal di lingkungan yang berdekatan bersama keluarga (di perumahan untuk staf dan dosen) selama dua tahun ini.</p>
<p><span id="more-516"></span>Seperti biasa, lingkungan asrama mahasiswa tentu dirancang secara khusus yang mencerminkan keinginan pendisainnya. Ruang kehidupan di asrama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari universitas untuk memberikan lingkungan yang optimal bagi mahasiswa untuk studi dan tinggal. Sudah selayaknya bahwa asrama dirancang untuk memberikan tempat yang aman sekaligus sehat yang dapat mendukung keperluan studi dan kurikuler mahasiswa, juga membantu kemajuan dalam hal akademik, kehidupan sosial dan emosionalnya. Terlebih kehidupan di universitas kenyataannya lebih menekankan ikatan komunitas dan interaksi sosial.</p>
<p>Terdapat <a title="kolej kediaman (asrama mahasiswa)" href="http://web.utm.my/hep2/student-accommodation.html" target="_blank">tiga belas komplek asrama mahasiswa</a> di dalam kampus UTM yang disini disebut dengan istilah Kolej Kediaman. Nama-mana kolej sebagian besar berasal dari pimpinan politik Malaysia untuk melambangkan patriotisme, yaitu nama-nama perdana menteri, wakilnya atau tokoh penting lainnya. Ada kolej yang berisi mahasiswa saja seperti Kolej Tun Gafar Baba dan Kolej Datuk Onn Jafar; ada yang khusus mahasiswi saja, seperti Kolej Tun Fatimah dan Kolej Datin Seri Endon; maupun kolej yang menampung kedua jenis jender, tapi ditempatkan secara terpisah, seperti Kolej Rahman Putera dan Kolej Tun Dr Ismail. Daya tampung maksimal mahasiswa di satu kolej bisa mencapai 1500-1800 orang. Secara total jumlah mahasiswa yang bisa ditampung di seluruh kolej dalam kampus adalah 20 ribu orang, jadi kampus lebih mirip suatu kota kecil yang isinya kaum intelek.</p>
<p>Secara umum terdapat tiga buah jenis kamar asrama mahasiswa, yaitu kamar untuk sendiri, berdua dan model apartemen. Untuk yang model apartemen hanya terdapat di satu kolej saja, yaitu Kolej Perdana dan dialokasikan untuk mahasiswa yang sudah berkeluarga (umumnya mahasiswa pasca sarjana). Di beberapa kolej lain secara terbatas juga terdapat unit untuk mahasiswa yang berkeluarga (istilah yang digunakan rada unik yaitu ‘rumah kelamin’ maksudnya rumah untuk yang sudah berkeluarga). Sedangkan kamar single atau double terdapat di hampir semua kolej yang ada, dengan kondisi yang kurang lebih seragam.</p>
<p>Harga sewa kamar kolej kediaman (asrama mahasiswa) dapat dikategorikan murah, berhubung biayanya memang sebagian disubsidi pemerintah (detailnya ada <a title="harga sewa kamar asrama" href="http://www.utm.my/currentstudent/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=76&amp;Itemid=123" target="_blank">disini</a>); dengan rentang RM 3.50 &#8211; RM 5 per malam untuk orang Malaysia (sekitar Rp 10 ribu &#8211; 14 ribu), dan perlu ditambah RM 1 untuk setiap jenis kamar yang disewa bila anda mahasiswa internasional. Harga tersebut termasuk biaya penggunaan listrik dan air, serta sewa perabotan (meja belajar plus kursi, tempat tidur, lemari pakaian dan ruang bersama untuk kegiatan hiburan); termasuk juga akses internet dengan wifi dan jasa kebersihan sekitar asrama. Dua foto dibawah menunjukkan jasa yang diberikan ke mahasiswa di asrama, yaitu akses wifi (foto kiri) dan air minum (foto kanan):</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267739.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-681" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267739.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>    <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267741.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-683" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267741.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Untuk menilai kondisi fisik kamar di asrama, maka berbagai aspek yang berhubungan dengan kenyamanan kondisi bangunan seperti hal tata letak spasial, sirkulasi udara,pencahayaan, ukuran kamar dan pengaturannya, ventilasi dan lainnya menunjukkan kualitas asrama. Hal pertama kali saat kita masuk ke asrama mahasiswa adalah koridor dimana terdapat deretan kamar-kamar. Koridor berlantai semen dengan panjang sekitar 2,3 m dimana pintu kamar saling berhadapan seperti terdapat pada foto dibawah; tanpa lampu penerangan  maka koridor akan terkesan gelap.</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/koridor.jpg"><img class="size-full wp-image-666 alignnone" title="koridor" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/koridor.jpg?w=640" alt=""   /></a>              <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267736.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-680" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267736.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Bila melihat kondisi ini terlihat bahwa biaya perawatan yang cukup mahal karena koridor harus dibersihkan setiap hari untuk memberikan lingkungan yang nyaman dan sehat bagi penghuninya. Pintu-pintu kamar di koridor terlihat saling berhadapan, yang tentu menimbulkan masalah privasi karena bila kedua pintu terbuka, maka dari kedua ruangan akan saling mengetahui yang lainnya. Aklibatnya lebih sering pintu-pintu kamar dalam keadaan tertutup yang menyebabkan sirkulasi udara tidak terjadi dalam koridor (stagnan), sehingga menyebabkan bau yang sukar untuk hilang (khususnya bau sepatu yang disimpan di koridor).</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/kamar1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-665" title="kamar1" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/kamar1.jpg?w=300&#038;h=186" alt="" width="300" height="186" /></a></p>
<p>Bila melihat ruangan kamar, di foto  atas (ukuran dalam mili meter), ditampilkan denah untuk kamar yang berisi dua orang, terlihat bawah disainnya sangat sederhana, namun juga tidak memberikan ruang yang cukup luas. Luas setengah ruangan dipenuhi oleh perabotan (meja, tempat tidur dan lemari pakaian). Namun bila melihat denah untuk kamar yang disewa satu orang, maka terlihat lebih layak proporsi ruangnya; apalagi mulai tahun akademik 2011-2012 nanti di beberapa asrama, berhubung berkurangnya populasi mahasiswa S1, maka ruangan untuk dua orang ini akan menjadi kamar single bagi mahasiswa pasca sarjana.</p>
<p>Sesuatu yang menunjukkan kemakmuran Malaysia, terlihat dari dua foto dibawah ini (tumpukan meja belajar, lemari pakaian dan kursi bekas). Dimana perabotan di kamar asrama mahasiswa yang sudah dipakai selama enam tahun lebih sudah dianggap afkir dan perlu diganti dengan yang baru. Proses pembuangan perabotan pun memerlukan waktu lebih dari seminggu untuk pengumpulan dan evakuasinya dari kampus, berhubung jumlah perabotan dan kamar mahasiswa yang banyak.</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267726.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-678" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267726.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>  <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267735.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-670" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267735.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Dalam lingkungan asrama ada beberapa detail kecil yang terlupa oleh perancangnya, yaitu tersedianya tempat yang luas untuk menjemur pakaian dan tempat parkir sepeda. Kedua hal itu tentu menyebabkan pemandangan yang kurang menyenangkan untuk dilihat di lingkungan asrama seperti terlihat dari dua foto di bawah. Dalam hal menjemur pakaian, maka cara yang mudah untuk dilakukan oleh mahasiswa adalah menjemur di berbagai tempat yang &#8216;strategis&#8217; yang tersisa; sedangkan ketiadaan tempat menyimpan sepeda bisa menunjukkan perancangnya tidak pernah menggunakannya dan tidak mendorong mahasiswa untuk memakai teknologi hijau sederhana yang menyehatkan.</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/jemuran2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-664" title="jemuran2" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/jemuran2.jpg?w=640" alt=""   /></a>               <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/sepeda.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-667" title="sepeda" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/sepeda.jpg?w=640" alt=""   /></a></p>
<p>Satu hal keunggulan yang terdapat di lingkungan kampus UTM, termasuk asrama mahasiswa di dalamnya adalah lingkungan kampus yang hijau dan dikelilingi taman yang menyejukkan. Ini tentu menguntungkan bagi mahasiswa untuk sekedar refreshing dari rutinitas aktivitas di kampus dan selingan dengan meneduhkan pemandangan yang dilihat. Hal ini tidak aneh dengan kampus yang luasnya lebih dari seribu hektar ini lebih dari setengahnya adalah hutan dan kebun kelapa sawit yang mengelilingi kompleks berbagai fakultas. Dua foto di bawah menjadi gambarannya.</p>
<p><a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/gedung.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-662" title="gedung" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/gedung.jpg?w=640" alt=""   /></a>   <a href="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/taman1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-668" title="taman1" src="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/taman1.jpg?w=300&#038;h=216" alt="" width="300" height="216" /></a></p>
<p>Salah satu manfaat yang terasa dengan disediakannya asrama bagi seluruh mahasiswa adalah menurunnya secara dratis aktivitas yang tidak diinginkan terjadi pada mahasiswa. Saat sebelum semua mahasiswa diwajibkan tinggal di dalam kampus, mereka tinggal di kompleks perumahan yang berdekatan dan menyewa rumah penduduk sekitar secara berkelompok. Salah satu ekses yang dapat terjadi adalah yang berhubungan dengan jiwa muda mereka seperti obat terlarang, hubungan dengan lawan jenis yang tidak terkontrol ataupun aktivitas ugal-ugalan. Ketersediaan asrama untuk menampung semua mahasiswa menyebabkan berbagai ekses ini menurun secara drastis, juga membawa dampak positif meningkatkan prestasi mahasiswa dan menurunkan angka gagal kuliah.</p>
<p>sebagian foto diambil dari paper: &#8220;A Study of Living Spaces in UTM Hostel&#8221; oleh Alice S. Ismail et. al.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deceng2.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deceng2.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deceng2.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deceng2.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deceng2.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deceng2.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deceng2.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deceng2.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deceng2.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deceng2.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deceng2.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deceng2.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deceng2.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deceng2.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deceng2.wordpress.com&amp;blog=13492383&amp;post=516&amp;subd=deceng2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deceng2.wordpress.com/2011/07/14/asrama-mahasiswa-di-universitas-di-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b7f10a198d4a4c06d5dd93214462033d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">deceng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267739.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267741.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/koridor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">koridor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267736.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/kamar1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kamar1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267726.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/p5267735.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/jemuran2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jemuran2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/sepeda.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sepeda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/gedung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gedung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deceng2.files.wordpress.com/2011/07/taman1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">taman1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
